
...OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo...
Keadaan mendadak hening, baik dari pihak Jackson ataupun Ramos. Hingga kekehan dari Ramos menjadi pemecah keheningan yang ada. Jackson menatap bingung kearah Ramos. "Kenapa kau tak tanya saja sama adik kesayanganmu itu."
Tanpa aba - aba, Jackson langsung menarik kaos Ramos yang ada di hadapannya. "Kau jangan macam - macam dengan adikku." Bukannya takut, Ramos malah memberikan ekspresi mengejek pada Jackson.
"Tenang dong, Bro. Lagipula adikku itu juga mau kali sama aku. Kau saja yang tidak mau mendukungku. Jadilah aku berbuat nekat." Jackson semakin mengeratkan gengamannya pada kaos yang Ramos kenakan.
"Jadi kau pelaku atas kejadian yang menimpa adikku itu!" gurat kemarahan terlihat jelas di wajah Jackson. Setelah mendengar kabar satu sahabatnya itu, Jackson sempat kepikiran kalau Ramoslah pelakunya. Walapun sempat dia tepis, tapi tak disangka dugaannya ternyata benar adanya.
"Memamg aku pelakunya! Lalu kau ingin apa, huh?" Tanpa menunggu lama, satu bogem mentah mengarah pada wajah Ramos.
Brakk
"Si*lan, kau! Bisa - bisanya kau lalukan hal itu pada adikku. Jangan harap setalah ini kau bisa bebas. Aku pastikan kau mendekam lama di penjara!" Petugas yang berada disana segera menjauhkan keduanya. Jackson sempat memberontak. Sebab dia masih kurang puas hanya menonjok Ramos sekali.
"Anda dimohon agar tidak melakukan tindak kekerasaan." titah petugas tadi pada Jackson yanh tampak masih dilingkupi oleh amarah. Berhasil memisahkan keduanya, kini petugas tadi mulai angkat bicara lagi.
"Waktu kunjungan Anda sudah berakhir. Jadi Anda diminta untuk meninggalkan tempat ini." Jackson merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Tatapan tajam masih menghujani Ramos yang memberikan senyum mengejek kearahnya
"Semoga kau betah di dalam sini!" Senyum sinis keluar dari bibir Jackson yang tak digubris oleh Ramos. Setelah iOoOoOoOoOoO
pergi dari sana. Setibanya diluar lapas, Jackson nampak menendang angin karena rasa marahnya itu.
"Arghh!" jeritnya tak memperdulikan dirinya ditatap aneh oleh para petugas lapas. Jackson butuh tempat untuk melampiaskan kemarahannya ini. Bisa - bisanya temannya sendiri yang melakukan hal itu pada adiknya.
"Tak akan ku biarkan kau bebas begitu saja dari sini!" ucapnya dengan sorot kemarahan yang begitu tajam.
...OoOoOoOoOoO...
Saat ini Jasmine sedang bersama dengan Shifah di salah satu supermarket. Keduanya ingin membeli beberapa bahan makanan dan keperluan lainnya. Shifah sudah sembuh walaupun tangan kanannya masih di gips. Mungkin beberapa hari lagi, Shifah sudah boleh lepaskan gips di tangannya itu.
"Kak, ini enak nggak sih?" Jasmine mengangguk pelan saat Shifah menunjukkannya sebuah produk mie kemasan padanya. Dengan semangat Shifah mengambil beberapa mie dan memasukannya ke troli.
Keduanya lanjut jalan lagi, hingga Jasmine memutuskan untuk berhenti sejenak si rak susu ibu hamil. Shifaj juga ikut berhenti. Dia memperhatikan Jasmine yang tengah membaca isian produk dari susu ibu hamil itu. Sudah beberapa hari belakangan ini Jasmine tinggal di rumah Cessie.
Sejujurnya Shifah penasaran akan alasan Jasmine tinggal dirumah kakaknya ini. Bukannya keberatan atau apa, hanya saja Shifah merasa kalau hubungan antara Jasmine dengan keluarga barunya itu kurang harmonis. Padahal terakhir kali Shifah lihat, kak Jasmine baik - baik saja dengan suaminya.
Tapi Shifah cukup tahu batasan, sehingga tak berani menanyakan langsung pada Jasmine. Ditambah lagi saat ini Jasmine tengah mengandung. Shifah tak sadar tengah di perhatikan oleh Jasmine yang sudah memasukan 2 box susu kedalam troli.
"Shifah?" panggilnya yang membuat Shifah menoleh. "Iya, kenapa mbak?". Jasmine menggeleng pelan. "Jangan dibiasain ngelamun gitu. Entar kemasukan hantu supermarket baru tahu rasa loh ya." Shifah memberengutkan bibirnya."
__ADS_1
"Yo ojo lah Mbak." Jasmine terkikik kecil dengan tingkah laku sepupu dari Cessie ini. Setelahnya keduanya memutuskan untuk lanjut belanja. Namun tak jauh dari posisi mereka berdua, ada satu sosok yang lumayan familiar untuk Jasmine.
"Shifah, nanti kamu ke kasir dulu, ya. Ini bayarnya pakai kartu atm kakak saja." ucapnya sambil menyerahkan kartu atmnya pada Shifah. Nampak Shifah kebingungan mendengar hal itu. "Lalu mbak Jasmine mau kemana?"
"Mbak, mau ke toilet sebentar. Nanti setelah dari toilet, Mbak nyusulin kamu."
"Nggak mau Shifah temenin aja, Mbak?" Perasaan Shifah sedikit tak enak bila harus meninggalkan Jasmine sendirian. Apalagi dalam kondisi Jasmine yang sedang hamil begini. Terlebih lagi, kakak sepupunya itu sudah mewanti - wantinya agar tidak meninggalkan Jasmine sendirian bila diluar rumah.
Jasmine menggeleng pelan. "Nggak usah, Shifah. Mbak cuma sebentar saja. Gini aja, nanti kalau 15 menit Mbak belum nyusulin kamu. Kamu bisa cari mbak di toilet, ya." Shifah hanya bisa mengiyakan apa yang Jasmine ucapkan.
Setelah berpisah arah, kini Jasmine mulai mengikuti orang yang sempat dicarinya itu. Dan ternyata orang itu mengarah ke toilet. Jasmine masih berada tak jauh dari posisi orang tadi. Saat sampai di toilet yang tak begitu ramai hari ini, memudahkan Jasmine dalam mengamati orang tadi.
Tampak orang tadi memperhatikan sekitarnya yang membuat Jasmine pura - pura mencuci tangan sambil menunduk. Dirasa orang itu tak curiga padanya membuat Jasmine bernapas lega. Tak begitu lama masuk seorang wanita yang tak lain adalah si Mertha.
Untung hari ini Jasmine memakai topi dan masker, jadi keberadaannya tak membuatnya dicurigai. Keduanya tampak mengobrolkan sesuatu yang membuat Jasmine cukup terkejut.
"Jadi gimana rencana kita kali ini. Nggak mungkin kita ngandelin si kakakmu itu. Dia aja sekarang di penjara."
"Kita jalankan saja rencana B." ucap orang di depam Mertha itu. Orang tadi mengoyangkan ponsel di tangannya yang berisi kunci keberhasilan rencana mereka.
"Maksud rencana membuat Si Aura menanggung malu akibat tindakan kakakmu itu." Jasmine kembali dibuat terkejut dengan rencana mereka. Jasmine hanya tak habis pikir, apa motif mereka membuat Aura harus menanggung malu itu.
"Rencanamu memang yang terbaik. Sudah lama anak itu membuat susah hidupku. Kalau saja dia tidak ikut campur dalam urusanku dan mas Steve. Pasti saat ini dia tak perlu menanggung semua ini." Nada itu terdengar prihatin, namun itu hanya dimulut mereka saja. Tak tulus dari hati keduanya.
Buktiny keduanya malah tertawa puas akan kesengsaraan hidup orang lain. Jasmine meremat ponselnya guna menyalurkan kekesalan pada kedua manusia tak punya adab itu. Bisa - bisanya mereka merencanakan hal seperti itu pada anak sambungnya itu.
Tak akan Jasmine biarkan keduanya berbuat macam - macam pada anaknya. Terlepas dari bagaimana Aura memperlakukannya selama ini. Tetap saja Aura adalah anak sambungnya yang harus dia rawat dan jaga sepenuh hatinya.
Jasmine membalikan tubuhnya kearah kedua orang yang masih tertawa puas. Keduanya menghentikan tawa mereka begitu melihat siapa yang sejak tadi ada di sekitar mereka. "Kalian berdua benar - benar jahat, ya."
Keduanya cukup terkejut melihat keberadaan Jasmine. Apalagi sejak tadi mereka sedang membicarkan rencana kejahatan mereka. Dan sekarang rencana itu sudah diketahui oleh orang lain. Terlebih orang itu ada kaitannya dengan Aura.
Yoela merubah mimik wajahnya menjadi datar kembali. "Lalu kau mau apa, huh? membocorkan rencana kami pada Aura begitu?" Yoela memberikan tatapan sinis pada Jasmine. "Kau pikir Aura akan percaya dengan apa yang kau bilang. Jangan harap! Dia sudah kemakan omonganku dan pasti akan lebih percaya padaku."
Apa yang Yoela katakan memang benar, kalau Aura tak akan percaya pada apa yang dia ucapkan. Salah - salah, malah dirinya yang di tuduh telah menfitnah Yoela. Tapi bagaimanapun juga, Aura harus tahu kebusukan dan sifat asli Yoela.
"Iya, kalaupun kau ingin mengadu pada mas Steve. Aku yakin 100%, dia tak akan lagi percaya padamu. Bahkan sebentar lagi dirimu pasti akan di ceraikan oleh mas Steve."
Jasmine tak merasa kaget apabila suaminya itu sampai menalak dirinya. Tapi bukan berarti Jasmine rela, dua manusia ini ingin menghancurkan orang - orang yang memiliki hubungan dengannya. Jangan harap!
"Apapun hasilnya nanti, aku tak peduli. Dan yang terpenting adalah mereka harus tahu rencana kalian ini. Jangan harap aku akan diam saja melihat kalian ingin mempermalukan keluargaku."
__ADS_1
Mertha melangkah mendekati Jasmine yang berada di samping washtafel. "Kau pikir kau bisa mencegah rencanaku ini, huh!" ujar Mertha di akhiri dengan sentakan. Mertha tertawa pelan sambil memegang rambut Jasmine yang langsung di tepis oleh Jasmine.
"Lagipula kau punya bukti apa sampai berani mengadukan kami pada keluargamu itu." Jasmine masih menatap lurus kearah Mertha. "Kau kira aku sebodoh itu. Lagipula aku yakin di penjuru supermarket ini ada CCTV yang bisa membuktikan ucapanku itu di depan mas Venson dan Aura."
"Sayangnya toilet ini tak ada CCTVnya. Jadi Jangan mempersulit dirimu sendiri karena berniat mengadukan kami." Yoela masih memperhatikan keduanya. Senyum miringpun masih menghiasi bibirnya. Apa yang di katakan oleh Mertha memang benar. Di toilet tak di lengkapi oleh CCTV, jadi mereka berdua bisa aman.
Sayangnya mereka tak menyadari keberadaan ponsel yang berada di gengaman Jasmine saat ini. Sudah sejak tadi Jasmine merekam pembicaraan mereka yang niatnya akan dia jadikan bukti dalam membongkar kejahatan Yoela dan Mertha.
Namun ternyata, pandangan Yoela jatuh kearah ponsel yang di pegang oleh Jasmine. "Bi, aku yakin pasti dia telah merekam pembicaraan kita. Ambil ponsel itu, Bi."
Mertha yang mendapat info seperti itupun berniat untuk merampas ponsel Jasmine, namun kalah cepat dengan gerakan tangan Jasmine yang menjauhkan ponsel itu dari Mertha. "Cepat berikan ponselmu padaku!" Jasmine tak akan memberikan ponselnya pada Mertha, karena ini satu -satunya bukti agar Venson dan Aura bisa percaya lagi padanya.
Yoela akhirnya ikut turun tangan lantaran melihat Mertha yang kesulitan merampas ponsel itu. Baru selangkah, tubuhnya jatuh karena ditubruk oleh badan Mertha yang sempat di dorong oleh Jasmine. "Aw, cepat menyingkir dari tubuhku!" tanpa berperikemanusiaan, Yoela mendorong Mertha agar menyingikir darinya.
Mertha meringis untuk kedua kalinya. Jasmine tak menyianyiakan kesempatan. Dengan cepat dia menjauh dari mereka berdua menuju kearah pintu toilet. Namun Mertha tak membiarkan Jasmine lolos begitu saja. Dia menarik salah satu kaki Jasmine, membuat Jasmine ikut jauh dan mendarat di lantai toilet.
Rasa sakit menyerang area perutnya membuat Jasmine meringis kesakitan. Tatapannya membola begitu melihat darah mulai mengalir di kakinya. Baik Yoela maupun Mertha cukup kaget melihat darah itu, ditambah lagi dengan sebuah teriakan terkejut dari arah pintu toilet.
"Mbak Jasmine!" teriaknya kaget dengan kondisi Jasmine saat ini. Ditambah lagi dengan darah yang masih mengalir, membuat Shifah panik bukan kepalang. Baru saja Yoela ingin mengambil ponsel yang ada di tangan Jasmine. Namun terhenti akibat dorongan dari Shifah.
"Mau apa kau, huh?! Menjauh dari kakakku!" sentak Shifah sambil mendorong Mertha dan Yoela menjauh dari Jasmine yang masih meringis kesakitan.
"Shi...fah, to...long...in, mhm..bak," pinta Jasmine ditengah kesakitan yang mendera perutnya.
"Tolong! Siapapun yang diluar, tolongin kakakku!" Teriaknya yang mengundang keributan. Tak lama datang 2 wanita berpakaian serupa yamg mulai menolong Jasmine. Shifah mulai bangkit sambil mengamankan semua barang milik kakaknya itu, termasuk ponsel yang sempat akan diambil oleh Yeola.
Kini Jasmine sudah ditolong dan akan segera dibawa kerumah sakit. Keadaan supermarket yang awalnya ramai, makin bertambah ramai begitu melihat Jasmine yang sedang di bopong sambil meringis pelan.
Bukan itu yang menjadi titik fokus para pengunjung, melainkan pada noda darah yang berceceran di lantai. Shifah masih berada di belakang Jasmine dan kedua penolong itu. Tapi tiba - tiba bahunya di tarik kebelakang, membuat Shifah membalikan tubuhnya.
...OoOoOoOoOoO...
...Hai, kalian semua. Gimana kabarnya? Semoga slalu sehat....
Cuma mau ngabarin aja, kalau beberapa hari kedepan belum bisa ngasih part lanjutannya. Soalnya sedang dalam masa penyembuhan dan harus banyak istirahat. Jadi dimohon Jangan minta next part-nya dulu, ya.
Untuk kapan Up-nya lagi, aku belum bisa memastikan. Doakan saja semoga cepat sembuh dan nggak buat kaliam nunggu lebih lama lagi :).
Kalau ada Typo, tolong ditandai ya. Terimakasih.
...So, See you next part!!!...
__ADS_1