Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
25. Tepat Waktu


__ADS_3

Di dalam ruang rawat khusus Vip ini terdengar cukup berisik. Hal itu tercipta lantaran sang penghuni tengah berdebat argumen. Lihat saja bagaimana kekehnya sang pasien dalam menanggapi ucapan ibunya itu.


"Kenapa kau bersikeras untuk menyembunyikan hal ini dari ayah dan saudaramu?"


Sedangkan yang diajak ngobrol malah diam saja. "Coba katakan alasannya." Desak sang ibu kepada anaknya itu.


Bukannya menjawab, sang anak malah memalingkan mukanya kearah lain. Melihat respon tersebut membuat Jasmine menghela napas panjang.


"Dengar, Wil." ucapnya sambil menatap lurus kearah sang anak. "Menyembunyikan suatu hal bukan berarti tidak akan terungkap. Tapi, menjelaskan apa yang coba kau sembunyikan lebih baik daripada ayah dan saudaramu tahu hal itu dari orang lain."


"Kau tentu tahu, betapa sayangnya ayah dan kedua saudaramu itu padamu, kan?" Wilson masih bergeming di posisinya tadi.


Helaan napas panjang kembali Jasmine keluarkan. Dia tidak tahu apa alasanya Wilson kekeh untuk tidak memberitahukan hal ini pada keluarganya. Padahal bila Wilson mau cerita. Pasti untu kedepannya, dia tidak akan mendapat billy seperti ini.


"Baiklah, kalau kau maunya seperti itu. Aku tidak akan memaksa." putus Jasmine pada akhirnya. "Kalau begitu, aku keluar sebentar." sambungnya sambil melangkah menuju pintu.


Setelah Jasmine keluar, Wilson baru menoleh kearah dimana Jasmine keluar. Helaan napas berat keluar dari mulut Wilson. Ada perasaan sesak yang dirasakan oleh Wilson.


Kalau bisa, Wilson sudah sejak dulu jujur pada keluarganya. Tapi keadaan membuatnya harus menutup rapat - rapat mulutnya terkait apa yang terjadi padanya.


"Aku, harus apa?" gumamnya lirih.


***


Seminggu berlalu dari kejadian waktu itu. Kini kondisi Wilson sudah lebih baik daripada sebelumnya. Awalnya dia sempat gugup ketika ditanyai oleh ayahnya terkait luka yang ada di tubuhnya.


Hal itu terjadi sehari setelah dia keluar dari rumah sakit. Dan kalian pasti bertanya, kenapa Venson baru tahu kondisi anaknya setelah Wilson keluar dari rumah sakit.


Jawabnya karena, Venson sedang sibuk dengan urusan kantor. Makanya dia tidak tahu kalau anaknya ada yang terluka. Sedangkan kedua saudara Wilson tengah sibuk dengan urusan mereka masing - masing.


Hari ini Jasmine memutuskan untuk mengantar Wilson ke sekolah bersama sang suami. Walaupun sempat tidak disetujui oleh Aurora yang beranggapan bahwa Jasmine sedang cari muka  didepan ayahnya.


Kini sampailah mereka berempat di depan sekolahan. Kedua anak remaja ini pun keluar dari dalam mobil. Sebelum masuk kedalam sekolahan, keduanya berpamitan dengan kedua orangtua mereka.


Walaupun terlihat jelas raut wajah ogah - ogahan milik Aurora itu ketika dirinya akan menyalimi Jasmine. Kalau bukan di depan sang ayah, Aurora tidak sudi berpamitan dengan istri muda ayahnya itu.


"Kami berdua masuk dulu, Yah." ucap keduanya sambil melangkah menuju gerbang sekolah. Sebelum masuk, Wilson kembali menatap belakangnya dan tersenyum kearah mamanya itu.


Jasmine yang melihat senyuman itupun langsung membalasnya dengan senyum manis. Dan tak lupa dengan balasan lambaian tangan yang di balas serupa oleh Wilson.


Begitu tak lagi melihat keberadaan keduanya, mobil yang di kendari oleh Venson perlahan mulai meninggalkan area sekolah. Disela perjalanan, keduanya belum membuka pembicaraan.


Hingga suara Venson terdengar membuat Jasmine menoleh kearahnya. "Tampaknya Wil sudah mulai bisa menerimamu, sayang." Jasmine tersenyum kearah Venson.


"Kau benar, sayang. Dan aku bersyukur Wilson sudah mau menerimaku." Venson juga ikut tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.

__ADS_1


Dengan pelan, Venson mulai meraih tangan Jasmine dan mulai mengecil punggung tangan milik istrinya itu. "Aku berharap ini juga berlaku untuk Jackson dan Aura."


Masih dengan senyuman, Jasmine mengangguk sambil mengamini ucapan Venson tadi.


"Aku juga berharap seperti itu."


***


Jasmine melambaikan tangannya kearah Venson yang kini mulai berlalu menjauh darinya. Setelah tak lagi melihat keberadaan mobil sang suami, Jasmine memutuskan untuk masuk kedalam rumah sahabatnya itu.


Setelah mengucap salam dan mendapat sahutan dari dalam membuat Jasmine perlahan masuk kedalam rumah tersebut. Tak lupa dia menutup kembali pintu tersebut sebelum menghampiri sosok sahabatnya yang sedang berada di dapur.


Diperhatikannya Cessie yang sedang sibuk membuat kue. Sahabatnya yang ini memang suka sekali memasak. Diluar tampilannya yang terlihat tomboy, sebenarnya Cessie pandai memasak.


Hanya saja kalau dia tidak mager, pasti sudah ada tumpukan toples kue di setiap titik rumah. Seperti saat ini, Jasmine sudah bisa melihat 9 toples di meja dapur, 5 toples di ruang tamu, 3 toples di ruang santai dan 3 toples diatas dipan.


"Kau tidak mau menyambut tamumu ini, heh?" tanya Jasmine sambil melangkah menuju ruang santai milik sahabatnya ini.


Dan tanpa permisi, Jasmine sudah membuka toples kue dan memakannya dengan tenang. Sedangkan sang pemilik rumah hanya mendengus pelan. "Tanpa ku sambut pun kau sudah seperti tuan rumah disini." sindir Cessie pada Jasmine.


Bukannya marah, Jasmine malah tertawa pelan. Memang Jasmine sering kesini dan Cessie membebaskan Jasmine untuk berbuat sesukanya dan menganggapnya seperti di rumah sendiri.


Cessie menghampiri Jasmine sambil membawa nampan yang berisi minuman. Diletakan nampan itu di atas meja, setelahnya dia duduk di depan Jasmine.


Cessie mendengus mendengarnya. Tapi dia tidak menanggapi godaaan sahabatnya itu. "Tentu saja enak, aku yang buat pastilah enak." Sekarang Jasmine lah yang mendengus mendengar ucapan Cessie itu.


Seakan mengingat akan maksud kedatangannya kemari, Jasmine langsung menatap kearah Cessie. "Jadi kau ingin menyampaikan apa?"


Sebelum bicara, Cessie meminum minuman yang sudah dia buat itu. "Beberapa hari yang lalu, aku melihat anak keduamu itu di tempatnya Naki."


"Apa?" kaget Jasmine mendengar hal itu. "Dengan siapa dia kesana? Dan untuk apa?" Jasmine masih tidak percaya kalau Aurora bisa ke tempat seperti itu.


Cessie menyenderkan badannya ke sandaran sofa. "Aku hanya melihatnya dengan seorang pria. Tapi entah siapa pria itu."


Jasmine kira, Aurora pergi ke tempat seperti itu dengan ketiga temannya itu. Tapi kali ini malah dengan teman prianya. Apakah Jasmine terlalu membebaskan Aurora, sampai dia bisa pergi ke tempat seperti itu sebebas itu.


"Tapi dia tidak melakukan hal aneh - aneh, kan?" tanyanya yang berharap kalau Aurora tidak melakukan hal aneh disana.


Sebelum menjawab,  Cessie tampak mengingat kejadian beberapa hari lalu. "Sepertinya tidak. Sepertinya anakmu itu baru ke tempat seperti itu. Tingkahnya bukan seperti orang yang sering keluar masuk club malam."


Jasmine sedikit menghela napas. Setidaknya apa yang dia takutkan tidak terjadi pada Aurora. "Kalau dia datang ke tempatmu atau tempat Naki, tolong kabari aku, ya."


Cessie mengangguk pelan sambil memakan kue buatannya itu. Keduanya kembali membahas hal lain. Selain itu juga, Cessie menanyakan keadaan neneknya pada Jasmine yang kemarin berkunjung kesana.


***

__ADS_1


Setelah pulang dari rumah Cessie, Jasmine pergi kerumah panti untuk memberikan titipan kue dari Cessie untuk ibu dan adik - adiknya di panti. Setelah melepas rindu dengan keluarganya itu, Jasmine memutuskan untuk menjemput anak - anaknya.


Terlebih lagi, sekarang sudah saatnya jam pulang. Jasmine kini sudah ada di depan sekolahannya Aurora dan Wilson. Tapi sudah 10 menit menunggu, namun yang di tunggu belum keluar, membuat Jasmine sedikit gelisah.


"Pak, saya masuk kedalam dulu. Kalau Aura ataupun Wilson sudah datang. Bilang ke mereka suruh tunggu disini sebentar, ya." ucapnya pada supirnya itu.


Sang sulit mengiyakan perkataan majikannya itu. "Baik, Nya." Jasmine memberikan senyum sebelum berlalu menghampiri gedung sekolah anaknya itu.


Tapi terlebih dulu, Jasmine menuju gedung sekolah Wilson. Sebab dirinya tidak tahu ruang kelasnya Aurora. Jadi Jasmine memutuskan untuk menemui Wilson terlebih dahulu barulah menemui Aurora.


Akhirnya Jasmine tiba juga di depan kelasnya Wilson. Suasana sekolah tidak begitu ramai sebab sudah hampir 20 menit yang lalu bel pulang berbunyi.


Jasmine melongok kearah dalam ruang kelas itu dan menemukan beberapa siswa termasuk Wilson ada di dalamnya. Dan yang membuat Jasmine kaget adalah keberadaan ketiga orang yang menjadi dalang pembullyan Wilson beberapa minggu yang lalu.


"Wil, ayo pulang." ucapan itu membuat beberapa siswa menoleh kearah pintu kelas dan menemukan keberadaan Jasmine disana.


Dengan segera, Wilson mengambil tasnya dan melangkah terburu - buru menuju kearah Jasmine. Terlihat jelas raut kesal di wajah salah satu siswa, yang menganggap keberadaan Jasmine membuat mangsanya lepas.


Wilson bersyukur atas kedatangan Jasmine, sehingga dia tidak harus menahan sakit di tubuhnya. Jasmine tersenyum melihat raut wajah lega yang ditampilkan Wilson itu.


"Kalau begitu kami pergi dulu. Kalian juga sebaiknya pulang kerumah kalian. Pasti orangtua kalian sedang menunggu di rumah."


Ucapan Jasmine tak mendapat respon dari ketiga siswa itu. Begitu keduanya menghilang, barunya umpatan kesal di layangkan oleh sang ketua. "Sial, gara - gara dia, mangsa kita jadi terlepas. Awas saja kau, Wil!"


Wilson dan Jasmine kini berjalan menuju kearah gedung sekolahannya Aurora. "Terimakasih sudah datang tepat waktu dan sudah menolongku dari mereka."


"Itu sudah menjadi tugasku untuk melindungi anak - anakku. Jadi kau tidak perlu berterima kasih." ucap Jasmine sembari memgusap pelan kepala anak ketiganya itu.


Perasaan menghangat kembali hadir di hati Wilson. Mendapat perlakukan seperti adalah impian Wilson sejak dulu. Diantara mereka bertiga, Wilson lah yang hanya sedikit mendapat kesempatan bersama dengan ibu kandungnya.


Sebab sang ibu pergi jauh saat dia masih berumur 6 tahun. Usia dimana seharusnya dia mendapatkan banyak kasih sayang dari orangtuanya. Walaupun Wilson di manjakan dan disayang oleh keluarganya, tapi rasanya ada yang kurang.


Kasih sayang dari seorang ibulah yang paling ingin Wilson rasakan. Terlepas dari banyaknya kasih sayang keluarganya untuknya. Saat sedang kangen dengan ibunya, Wilson hanya bisa memandangi foto ibunya.


Setidaknya itu bisa sedikit mengobati kerinduannya pada ibunya. Dan sekarang dia bisa merasakan lembutnya usapan di kepalanya. Perhatian saat dimana dia tengah tidak dalam keadaan baik. Serta mendapat perlindungan saat dimana dia membutuhkan pertolongan.


Dan itu semua dia temukan di sosok Jasmine. Sosok yang baik menurutnya dan ketulusannya yang membuat Wilson merasa dekat dengan ibunya. Walaupun Wilson tahu, kalau Jasmine bukanlah sosok ibunya.


Tapi dengan kehadiran Jasmine sebagai ibu sambungnya, membuat Wilson bisa merasakan bagaimana di sayang, di perhatikan, di lindungi serta di beri ketulusan tanpa ke pura - puraan.


...Rasanya menyenangkan dan membahagiakan❤....


...🍁🌿🍁...


...🍁 Terimakasih sudah menanti cerita ini💖🍁 ...

__ADS_1


__ADS_2