Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
6. Sebuah Ancamam


__ADS_3

...๐Ÿ’–...MDBT...๐Ÿ’–...


.......


.......


Jasmine kini tengah mencari jalan keluar dari komplek elit ini. Sudah beberapa menit sejak dirinya keluar dari rumah kedua 'penculiknya' itu. Hatinya masih dongkol akibat dari ucapan yang dilontarkan oleh Aurora tadi.


Lagipula enak sekali dia bicara seperti itu padanya. Dia pikir dia siapa? "Mentang - mentang anak orang kaya, dia bisa seenaknya padaku," gerutu Jasmine disela langkahnya itu.


Cukup jauh perjalanan menuju gerbang komplek, apalagi dengan kondisi Jasmine yang berjalan kaki. Namun hal itu tak membuat Jasmine mengeluh capek, sebab dia sudah sejak dulu merasakan apa itu capek.


Akhirnya perjalanan tadi tak dia - sia. Kini Jasmine sudah sampai di dekat pos security. Namun Jasmine merasa aneh ketika melihat sikap siaga dari kedua security ini. Mereka berdua seolah menatap Jasmine dengan tatapan seolah dirinya tengah tertangkap mencuri sesuatu.


Merasa itu hanya perasaannya saja, Jasmine lebih memilih mengabaikan tatapan kedua security itu. Dengan sopan Jasmine melemparkan senyum pada keduanya, namun jangankan membalas senyuman Jasmine. Keduanya malah menghalanginya untuk berjalan keluar gerbang.


"Maaf nona. Kamu mendapat laporan bahwa Anda telah mencuri barang milik salah satu penghuni di kawasan ini."


Mata Jasmine terbelalak mendengar perkataan atau lebih tepatnya tuduhan itu. Dia sama sekali tidak merasa mencuri apapun disini. Bagaimana bisa ada yang menuduhnya seperti itu.


"Tapi, pak. Saya tidak mencuri apapun. Bahkan saya disinipun karena sudah di culik paksa oleh salah satu penghuni sini."


Kedua security itu saling pandang dan menampilkan raut tak percaya. "Anda jangan menyangkalnya." Keduanya bergerak mendekat kearah Jasmine.


Reflek, Jasmine memilih memundurkan langkahnya. Dia tidak bersalah, kenapa kedua satpam ini tidak mau percaya pada ucapannya.


"Tapi, pak. Saya berkata jujur." Sungguh Jasmine sama sekali tidak mencuri apapun. Sekeluarnya dia dari rumah Aurora tadi. Jasmine sibuk menemukan jalan menuju ke pintu gerbang.


Tapi apa ini, kenapa dia di tuduh mencuri sesuatu. Barang apa yang dia curi dari komplek ini. Dan kenapa kedua satpam ini tak mempercayai ucapan Jasmine.


"Nanti kita selesaikan saja di kantor polisi." Mendengar kata polisi, membuat Jasmine menggeleng keras.


Jasmine semakin beringsut menjauh dari posisi kedua satpam tadi. "Saya tidak melakukan kesalahan itu, pak. Tolong percaya pada saya. Saya ini korban penculikan." Jasmine berkata jujur, tapi sayangnya kedua satpam ini tidak mau mempercayai ucapannya.


Salah satu satpam mulai menarik tangan kanan Jasmine untuk di bawa ke kantor polisi. Jasmine tentu saja berontak. Toh dia merasa tidak bersalah. Jasmine berusaha melepaskan tangan satpam itu di lengannya.


Walaupun tidak bersalah, tetap saja Jasmine tidak mau dibawa ke polisi. Jelas dirinya akan semakin tertuduh, bila nanti kedua satpam ini menyangkal ucapannya di kantor polisi nanti.


Dan polisi biasanya akan mudah percaya pada ucapan satpam tadi dibandingkan ucapannya. Jelas saja, Jasmine kalau jumlah dari kedua satpam ini.


Satpam yang satunya lagi, menarik tangan kiri Jasmine. Sebab sejak tadi rekannya tampak kesulitan menarik Jasmine untuk dibawa ke kantor polisi. Di tengah adegan tarik menarik ini, tiba - tiba datang sebuah mobil di arah belakang Jasmine.


Kedua satpam yang mengenali sang pemilik mobil, semakin mempererat genggaman mereka di tangan Jasmine. Seolah tak membiarkannya untuk lolos sedikitpun.


Mobil itu berhenti tepat di sisi kanan dari posisi ketiga orang ini. Dan pintu depan dari kedua sisi mobil terbuka, menampilkan kedua sosok gander yang berbeda namun terhubung erat oleh ikatan darah.

__ADS_1


"Tuan Jackson dan nona Aurora." Sapa keduanya membuat Jasmine seketika menoleh kearah yang disapa. Matanya kembali melebar begitu melihat kedatangan kedua orang yang membuatnya kesal itu.


Otak Jasmine mulai merangkai tiap kejadian yang terjadi padanya hari ini. Terlebih ketika kedua satpam ini menuduhnya mencuri sesuatu. Dan kehadiran dua anak muda ini, semakin memperjelas asumsinya bahwa kejadian ini sengaja dibuat.


...Dan dalang dari semua ini adalah ......


"Tuan ini adalah pencuri yang telah mencuri barang milik tuan."


...Mereka berdua!...


"Terimakasih, pak. Bapak sudah mengamankan pencuri ini. Saya dan adik saya yang akan membawa dia ke kantor polisi sekarang juga."


Kekesalan yang bahkan belum mereda, kembali di sulut akan rencana kedua kakak beradik ini. Hal itu semakin membuat Jasmine ingin meledak rasanya.


"Dia berbohong, pak. Jangan percaya pada mereka berdua. Bahkan mereka berdua telah menculik saya!"


Bukannya mengungkap kebenarannya, Jackson malah menampilkan raut wajah tak berdosa. "Pak satpam percaya dengan ucapan gadis ini? Bukannya kalian berdua sudah mengenal saya dan keluarga saya. Jadi mana mungkin saya menuduh orang lain begitu saja."


Sepertinya kedua satpam itu percaya dengan ucapan Jackson. Buktinya keduanya malah mendorong Jasmine untuk dibawa oleh Jackson dan Aurora ke kantor polisi.


Diam - diam, Aurora mengulas senyum puas begitu melihat respon dari kedua satpam ini. Jasmine menggeleng keras. "Jangan percaya perkataan dia, pak. Dia itu hanya membual. Aku sama sekali tidak mencuri apapun darinya!"


Jasmine merasa tidak terima dengan perlakuan kedua satpam ini, yang langsung percaya begitu saja dengan perkataan Jackson itu. Bahkan keduanya tidak menanyakan seputar bukti atas pencurian itu.


"Apa perlu kami saya yang bawa dia ke kantor polisi. Karena bagaimanapun juga, ini urusan kami sebagai pihak keamanan di komplek ini."


Gelengan dari Jackson membuat kedua satpam tadi mengangguk pelan. "Tidak perlu, pak satpam. Biar aku yang urus sendiri masalah ini."


Kedua satpam itu hanya mengangguk kecil. Aurora mengambil alih tangan Jasmine untuk dibawanya menuju ke dalam mobil. Jackson tersenyum sekilas begitu kode lirikannya di mengerti oleh adiknya itu.


"Baiklah, pak. Kami permisi dulu dan terima kasih sudah mau mencegah dia kabur dari sini." Setelah memgatak hal itu, Jackson langsung menuju ke mobilnya dan segera masuk kedalam mobil.


Diliriknya kaca spion depan yang menampilkan sosok Jasmine yang duduk di bangku belakang. Jasmine balas melirik Jackson yang tersenyum miring kearahnya itu.


Mobil pun mulai bergerak menjauh dari pos satpam. Dan kini mobil sudah melaju di jalan utama. "Bagaimana, tawaran tadi masih berlaku untukmu. Kalaupun kau menolaknya, siap - siap terkurung di jeruji besi."


Jasmine sama sekali tidak memberikan respon. Dia hanya sedang berusaha berpikir dan mencari solusi dari permasalahan ini.


Senyum sinis di bibir Aurora memudar di gantikan dengan gerutuan kesal, karena ucapannya itu tidak dipedulikan oleh Jasmine.


Melihat Jasmine yang sama sekali tidak bergeming atas pertanyaan sang adik membuat Jackson akhirnya turun tangan. "Baiklah, kita buat ini semakin mudah."


Jasmine menatap kearah kedua kakak adik ini dengan alis tartaut. Tak ingin membuang waktu, Jackson kembali meneruskan ucapannya. "Kau terima tawaran kami atau kau akan melihat adik - adikmu itu sengsara."


Mendengar adik - adiknya di sangkut pautkan, membuat Jasmine menatap tajam kearah Jackson. "Jangan berani mengusik keluargaku!" Tekannya di setiap ucapannya itu.

__ADS_1


Jackson terkekeh pelan. "Itu gampang. Kau tinggal menuruti apa yang kami mau dan keselamatan adikmu itu akan aman terkendali."


Jasmine berusaha menimbang akan jawaban apa yang harus dia pilih. Sebab dia tidak mau melakukan seperti keinginan mereka. Tapi itu artinya dia bisa membahayakan keselamatan para adiknya dan ibu panti.


Dan Jasmine yakin 100%, kalau apa yang diucapkan oleh Jackson bisa dilakukannya dengan mudah. Mengingat dia bisa tahu kalau dirinya itu memilik adik yang banyak.


Tidak mengherankan apabila Jackson bisa mengetahui hal itu dengan mudah. Dia pasti menyuruh orang untuk mencari tahu semua tentangnya. Tentu saja itu hal mudah bagi mereka yang berdompet tebal.


"Jadi kau pilih yang mana?" Sebelum menjawabnya, Jasmine lebih dulu menghembuskan napas berat.


"Aku lebih memilih ...."


...OoO...


Disinilah ketiga anak muda beda usia itu berada. Disebuah rumah sakit terkenal akan lengkapnya fasilitas yang ada. Belum lagi, para tenaga medis yang sudah berkompeten di bidangnya, siap melayani para pasiennya dengan baik.


Tentu saja ketiga anak manusia itu adalah Jasmine, Aurora dan Jackson. Pilihan yang diambil oleh Jasmine tadi, telah mengantarnya kembali ke rumah sakit ini.


Entah harus menyesal sekarang atau nanti. Jasmine sudah mempersiapkan dirinya mulai dari sekarang. Dia melakukan semua ini, agar keselamatan para adiknya dan ibu panti terjamin.


Anggap saja Jasmine lebih memilih keluarganya daripada dirinya sendiri. Dia tidak bisa egois dengan masalah ini. Apalagi bisa berimbas pada keluarnya itu. Terlebih lagi, dia baru saja kedatangan dua adik baru di panti.


Aurora masuk terlebih dahulu kedalam kamar rawat daddynya itu. "Hai, daddy." Sapa Aurora pada sang ayah yang sedang bersama adiknya itu.


Venson tersenyum melihat keberadaan putrinya itu. Langsung saja dia menyuruh putrinya itu untuk mendekat kearahnya.


"Kau datang sendiri? Mana kakakmu?" Venson bertanya seperti itu sebab tidak melihat keberadaan putra sulungnya itu.


Terlebih tadi ketika dia bertanya pada putra bungsunya mengenai keberadaan Jackson. Hanya dibalas dengan mengatakan kalau Jackson ada dirumah dengan Aurora.


Walaupun sedikit enggan untuk menyampaikan hal ini pada sang ayah. Tapi tetap saja dia harus mengatakannya.


"Kakak ada di luar. Dan kami membawa seseorang untuk bertemu dengan daddy." Alis Venson terangkat satu begitu mendengar ucapan Aurora.


"Siapa?"


"Nanti daddy juga tahu. Kak, masuklah!" Teriakan dari Aurora itu membuat dua anak manusia yang tadi berdiri di depan pintu, kini mulai membuka pintu tersebut dan memasukinya.


Wajah terkejut sekaligus senang tergambar jelas di wajah Venson begitu melihat siapa yang dibawa dan dimaksud oleh Aurora tadi.


"Kau," sedangkan yang di tatap hanya tersenyum kecil.


...OoO...


...๐Ÿ’–Terimakasih sudah mau mampir di cerita ini๐Ÿ’™๐Ÿ’–...

__ADS_1


__ADS_2