
Sehari setelah mereka pulang dari rumah neneknya Cessie. Hubungan antara Jasmine dan ketiga anaknya tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Bahkan cenderung monoton dan biasa saja.
Paling hanya sekedar Jasmine jadi tahu apa makanan kesukaan dan makanan yang tidak disukai oleh ketiga anaknya itu. Kalau untuk hubungannya dengan sang suami, jelas saja ada perubahan. Tentu saja menjadi lebih dekat dari sebelumnya
Kalian bertanya dimana Jasmine dan keempat keluarga barunya itu? Kalau Jasmine tentu saja ada dirumah. Sedangkan suaminya tengah ada di kantor. Dan untuk ketiga anaknya tengah berada di sekolah mereka masing - masing.
Dan rencananya hari ini, Jasmine akan ke sekolah Wilson untuk mengambil hasil UTS. Seharusnya pengambilannya itu hari Senin. Berhubung saat itu mereka tengah berada di luar kota. Jadinya baru bisa di ambil hari ini.
Dan saat ini Jasmine sudah dalam perjalanan menuju ke sekolah Wilson yang satu yayasan dengan sekolahannya Aurora. Dan Jasmine sudah bicarakan hal ini dengan Wilson terkait dirinya lah yang akan mengambil hasil ujiannya.
Sesampainya disana, Jasmine langsung berpesan pada sang supir untuk menunggunya sebentar. Sebab dia tidak akan lama. Mungkin paling lama hanya sekitar setengah jam.
Kedatangan Jasmine bertepatan dengan jam istirahat pertama. Disepanjang perjalanan menuju ke ruang guru, banyak siswa maupun siswi yang menatap kearah Jasmine.
Dengan senyum ramah yang tak luntur dari bibirnya saat dirinya berpapasan dengan murid - murid disini. Akhirnya sampailah Jasmine di ruang guru.
Setelah masuk dan berbincang dengan wali kelas Wilson. Akhirnya urusan Jasmine sudah selesai. Bahkan dia sudah berpamitan dengan gurunya Wilson dan mengucap terimakasih.
Saat sedang berjalan menuju kearah parkiran sekolah. Jasmine melihat keberadaan ketiga siswa yang sebelumya pernah dia temui itu. Apalagi ketiganya terlihat senang dan puas. Seolah sudah melakukan hal yang membuat mereka begitu bahagia itu.
Jasmine memang berjalan memutar untuk sampai ke parkiran sekolah. Sebab dia ingin melihat - lihat gedung sekolah ini. Walaupun niat awalnya dia ingin menunjukkan hasil UTS ditangannya kepada sang pemilik.
Tapi malah tidak jadi, lantaran tidak menemukan keberadaan Wilson di dalam kelas. Jasmine berasumsi kalau Wilson tengah berada di kantin ataupun area sekolahan untuk beristirahat, sama seperti murid lainnya.
Tapi entah kenapa setelah melihat ketiga siswa tadi, perasaan Jasmine menjadi tidak enak. Apalagi setelah Jasmine melihat ketiga siswa itu, dia malah menemukan Wilson yang babak belur.
Memikirkan tentang Wilson membuat perasaan gelisah langsung muncul di hati Jasmine. Ditambah lagi, dia sama sekali belum melihat batang hidung anak ketiganya itu.
Dan dari tempat ketiga siswa tadi muncul itu berada di ujung koridor yang cukup sepi. Dengan perasaan gusar, Jasmine langsung menyusuri sekitaran koridor ini.
Sepertinya ujung koridor ini tidak berisi ruang kelas. Sebab tidak ada yang berlalu lalang disepanjang Jasmine lewat itu. Dan hal itu membuat Jasmine menjadi tidak tenang.
Akhirnya Jasmine tiba di ujung koridor. Dan ada satu pintu yang mana diatasnya bertuliskan gudang olahraga. Dan dari yang Jasmine dapat amati, seperti ruangan di depannya itu lama tidak terpakai.
Di bukannya pelan pintu itu agar dia bisa tahu apa yang ada di dalamnya. Begitu masuk, sudah tercium bau debu yang begitu menusuk hidung. Bahkan Jasmine sampai terbatuk - batuk.
"Apa ada orang di sini?" ucapnya sambil menghalau debu - debu agar tidak masuk kedalam mulut dan hidungnya.
Tidak ada sahutan dari ruangan ini. Dan baru saja Jasmine ingin keluar, tapi tidak jadi lantaran mendengar suara lirih dari pojok ruangan.
Dengan mencoba memberanikan diri, Jasmine mulai melangkah menuju kebalik tumpukan matras usang di pojok kanan ruangan ini. "Kau manusia, kan?"
Pertanyaan Jasmine mungkin terdengar absurd. Tapi yang dia khawatirkan adalah bila suara itu bukan bersumber dari manusia. Makanya untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan, lebih baik Jasmine menanyakannya secara langsung.
__ADS_1
"To...long,"
Jasmine semakin mendekat kearah sumber suara. Dan dengan tangan gemetar, dia menyingkap tumpukan matras itu. Dan apa yang dia lihat membuat matanya terbelalak lebar.
"WILSON!" Teriaknya begitu tahu siapa yang meminta tolong itu.
Dengan segera, Jasmine langsung menyingkirkan tumpukan matras yang menimpa badan Wilson itu. Dan perasaan khawatir secara alami dirasakan oleh Jasmine begitu melihat wajah anaknya lebam - lebam.
"Hei Wil, kau bisa mendengarku?"
Mata Wilson sedikit terbuka dan lagi - lagi dia bisa melihat tatapan khawatir yang terpancar dari orang lain untuk dirinya. Dan ini sudah kedua kalinya dia melihat keberadaan sosok istri muda ayahnya dalam kondisi dia seperti ini.
"Kau jangan pingsan dulu. Aku akan cari bantuan dulu." ucap Jasmine disela kepanikan yang melingkupi dirinya itu.
Tapi baru saja akan berlalu, tangan Jasmine lebih dulu di pegang oleh Wilson. "Kenapa?" tanya Jasmine sambil menatap kearah anak ketiganya itu.
Gelengan lemah diberikan oleh Wilson. "Jang ... an per ... gi." Jasmine mengurungkan niatnya untuk pergi mencari bantuan.
Hatinya mendadak terenyuh mendengar ucapan itu. Tapi melihat kondisi Wilson saat ini membuat Jasmine tidak tega. "Kau tunggu sebentar disini, ya. Aku akan segera kembali dengan membawa bantuan."
Sekali lagi gelengan lemah itu diberikan oleh Wilson kepada Jasmine. Melihatnya Jasmine malah semakin bimbang. "Baiklah, aku akan menggendongmu. Naiklah ke punggungku."
Mendengar hal itu semakin membuat Wilson terpaku. Benarkah sosok di depannya ini bukan orang baik, sama seperti apa yang di ucapkan oleh kakak - kakaknya itu.
Ditengah lamunannya, Wilson merasakan tangannya ditarik pelan agar berada di bahu Jasmine. Dan tak lama dia merasakan tubuhnya sudah dalam gendongan Jasmine.
Dapat Wilson rasakan kalau Jasmine tampak kesulitan untuk menggendongnya. Tentu saja sulit, Wilson sudah kelas 3 Smp dan pasti tubuhnya cukup berat untuk di gendong. Tapi gak terlihat Jasmine akan mengeluhkan hal tersebut.
"Kau tenang saja, kita akan segera ke rumah sakit. Jangan tutup matamu, ya." Jasmine masih mengajak bicara Wilson agar Wilson tidak menutup matanya.
Jasmine hanya takut kalau Wilson menutup mata, maka akan terjadi hal - hal buruk yang tidak diinginkannya. Dengan pelan, akhirnya Jasmine dan Wilson sudah keluar dari pintu gudang.
Tapi suasana sekitar nampak sepi. Dan yah, ternyata bel istirahat pertama sudah berakhir. Dan kini saja siswa sudah berada di kelas mereka masing - masing.
Niat ingin mencari bantuan diurungkannya. Sebab, dia tidak ingin memicu keributan yang nantinya malah akan membuatnya dan Wilson menjadi pusat perhatian.
"Aku akan langsung membawamu kerumah sakit saja, ya." Hanya anggukan pelan yang di berikan oleh Wilson atas ucapan Jasmine tadi.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, akhirnya Jasmine berhasil membawa Wilson menuju ke parkiran sekolah. Untungnya saja sang supir cepat menyadari keberadaan nyonya dan tuan mudanya itu.
"Kenapa dengan tuan Wilson, Nya?" tanyanya panik melihat keberadaan Wilson yang tengah di gendong oleh Jasmine itu.
Napas Jasmine terdengar agak memburu, dia berusaha kuat untuk membawa Wilson sampai kemari. Jujur saja, dia lelah harus menggendong Wilson yang tubuhnya hampir setara dengannya.
__ADS_1
Tapi dia tidak keberatan untuk menolong Wilson. Hanya kalau boleh jujur, Jasmine agak kelelahan saja. "Pak, tolong bukakan pintunya, biar saya yang taruh Wilson di kursi belakang."
Tanpa bantahan, sang supir dengan sigap membuka pintu belakang dan membantu Jasmine menaruh Wilson agar didapat tiduran disana. Tentu saja Jasmine duduk di samping Wilson. Dan kepalanya Wilson berada di pangkuan Jasmine.
"Kita segera ke rumah sakit ya, Pak."
Kini mobil keluarga Venson tengah melaju menuju ke rumah sakit terdekat agar Wilson bisa mendapatkan pertolongan pertama. Dalam hati tak henti Jasmine memohon agar Wilson cepat diberikan kesembuhan.
...❤❤❤...
Sudah semalaman Jasmine berada di rumah sakit. Sejak Wilson dibawa kesini dan mendapatkan perawatan. Sampai detik ini, Wilson belum sadar. Kata dokter itu karena pengaruh obat bius yang di suntikan kedalam tubuh Wilson.
Dari penjelasan dokter, Jasmine baru mengetahui kalau luka yang didapatkan oleh Wilson bukan hanya luka luar. Melainkan adanya luka dalam. Hal ini di sebabkan oleh pukulan benda tumpul yang mengenai beberapa rusuk dan persendian di tulang Wilson.
Hanya mendengar penjelasan itu saja membuat perasaan sesak hadir di hati Jasmine. Sebenarnya apa yang terjadi selama ini pada Wilson. Kenapa bisa dia mendapatkan luka seperti itu.
Terlebih lagi, keluarganya sendiri tidak ada yang mengetahui hal besar semacam ini. Dan Jasmine hanya tak habis pikir, kenapa Wilson sendiri lebih memilih untuk menyembunyikan hal ini dari keluarganya. Daripada bercerita pada keluarganya sendiri.
****
Sebelum pagi menjelang, Wilson yang tengah terbaring di bangkar rumah sakit mulai membuka matanya. Dari apa yang dia lihat pertama kali, dia sudah tahu ini tempat apa. Ditambah lagi bau yang khas disekitarnya itu.
Dan benar saja, dia ada di rumah sakit. Dan begitu dia ke sebelah kanannya, dia sudah menemukan keberadaan istri muda ayahnya. Perasaan asing yang terasa nyaman di rasakan oleh Wilson begitu menemukan keberadaan orang lain di sisinya kala dia tengah terbaring di ranjang rumah sakit.
Hatinya menghangat begitu mengingat kejadian kemarin. Dimana sosok di sampingnya inilah yang menolongnya. Dan untuk kedua kalinya, dia sudah di tolong oleh Jasmine.
Ada perasaan lega di hatinya, sebab dia masih bisa melihat dan merasakan udara pagi seperti ini. Sebelum di tolong oleh Jasmine. Wilson sudah pasrah bila dia harus menyusul ibunya di surga sana.
Tapi, begitu mendengar suara orang lain saat dia sudah pasrah akan keadaan. Dia tidak menyia - nyiakan kesempatan. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah suara itu berasal dari Jasmine. Istri muda ayahnya yang sudah pernah menyelamatkan hidupnya.
Secara tiba - tiba dia menangis pelan di iringin dengan isakan kecil. Walaupun kecil, hal itu mampu membuat Jasmine terbangun dari tidurnya. Terlebih dulu di memfokuskan pandangannya, setelahnya dia menatap bingung pada Wilson.
"Kau kenapa menangis, Wil?" tanyanya bingung bercampur khawatir. Khawatir bila alasan Wilson menangis adalah karena rasa sakit di tubuhnya itu.
Dengan sedikit panik, Jasmine bangun dari posisinya tadi. Dan berdiri di depan Wilson. "Mana yang sakit. Coba beritahukannya padaku."
Tak ada jawaban dari Wilson yang ada hanya suara tangisan itu malah semakin mengencang. Hal itu makin membuat Jasmine gusar. "Aku panggilkan dokter, ya."
Baru saja akan beranjak, tubuh Jasmine di buat terpaku akibat pelukan yang dia dapatkan dari anak ketiganya itu. "Maafkan aku." Kata itulah yang berhasil di tangkap oleh pendengaran Jasmine ketika Wilson memeluk sambil menangis itu.
Dengan pelan, Jasmine mengelus surai Wilson untuk menenangkannya itu. Dan Wilson bisa merasakan kehangatan disela usapan yang didapatkannya itu.
...Bisakah mulai saat ini, Wilson menganggap Jasmine sebagai sosok penganti ibunya?...
__ADS_1
...🍁 Terimakasih sudah menanti cerita ini💖🍁 ...