
Suara dering ponsel mulai terdengar di sebuah kamar bernuansa elegan. Sedangkan sang pemilik mulai bertanya pada dirinya sendiri. "Siapa yang menelpon, ya?"
Lantas dirinya mengecek nama yang tertera di layar ponselnya itu. Ternyata Cessie lah yang menelponnya. "Selamat pagi, kenapa menelpon pagi - pagi begini?"
Cessie yang berada disebarang sana langsung berbicara to the point pada sahabatnya itu. "Kenapa kau memberitahukan nomorku pada anakmu itu?"
Pertanyaan itu di balas kernyitan tak mengerti dari Jasmine. "Apa maksudmu, Cess? Aku nggak merasa memberikan nomormu pada anakku."
Sedangkan Cessie hanya menghela napas kasar. "Lalu darimana anakmu itu dapat nomorku kalau bukan darimu Jasmineku sayang."
Lama - lama Cessie geregetan juga dengan sahabtnya itu. Setelah diganggu beberapa hari oleh anak sahabatnya itu, kini ponselnya malah diteror oleh puluhan pesan dari Jackson.
"Tapi aku nggak tahu darimana Jackson mendapat nomormu itu."
"Pokoknya aku mau dia tidak lagi mengangguku. Sudah cukup selama seminggu ini anakmu itu terus saja mengusik hidupku."
Jasmine diam mendengarkan perkataan sahabatnya itu. "Kau tahu? Anakmu itu terus menggangguku di tempat kerjaku. Rasanya aku seperti diteror oleh bocil."
Jasmine terkekeh mendengar keluhan Cessie terhadap anaknya itu. "Oke nanti aku akan bilang pada Jackson agar tidak menganggumu lagi."
"Oke, aku pegang kata - katamu itu. Tolong ingatkan dia untuk tidak sering mampir ketempat kerjaku."
"Perasaan aku tidak pernah melihatnya keluar malam. Sebelum aku tidur, aku sudah mengecek kamar anak - anakku."
Cessie mendengus pelan. "Itu artinya kau luput menjaganya. Dan kenapa juga dia bisa datang terus - terusan ke tempat kerjaku dan mengajakku ngobrol."
"Bukannya aku sudah bilang padamu, kalau Jackson ingin berterima kasih padamu. Aku yang bilang padanya bahwa kau yang telah membantunya."
"Oke. Katakan pada anakmu itu, ucapan terima kasihnya telah aku terima, tapi jangan biarkan dia kembali menganggu hidupku." melas Cessie pada Jasmine.
"Iya, ya. Nanti aku akan bilang padanya. Kau lanjutkan saja tidurmu. Aku tahu kau pasti lelah setelah semalaman berkerja."
Setelah itu panggilan pun berakhir. Jasmine hanya geleng - geleng kepala. Dirinya kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda itu.
Setelah membangunkan suaminya untuk bersiap - siap, Jasmine langsung turun ke lantai bawah untuk membuat sarapan.
Sarapanpun berjalan begitu cepat. Dan disinilah Jasmine berada, disamping sang suami yang akan berangkat kerja. Tentunya dengan keberadaan Wil dan Aura yang sudah berada di dalam mobil.
Selesai berpamitan, Venson langsung berangkat bersama kedua anaknya itu. Sedangkan Jackson menaiki motornya sendiri. Sebelum pergi, Jasmine sudah mewanti - wanti Jackson untuk tidak menganggu Cessie.
Dan hal itu diangguki oleh Jackson. Tapi entah Jackson akan mendengarkan ucapan Jasmine atau mengabaikan ucapan itu. Sebab permintaan Jasmine untuk menjauh dari Cessie membuat Jackson sedikit tidak rela.
Selesai mengantar suami dan ketiga putra putrinya, Jasmine kembali ke rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Namun dia bingung ingin melakukan apa di rumah sebesar ini, karena para pelayan yang ada di rumah akan melarangnya untuk melakukan pekerjaan berat.
Bosan
Itulah yang Jasmine rasakan saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, ketiga anaknya sedang bersekolah. Sedangkan suaminya tengah berkerja. Para pelayan juga sama. Jadi tidak ada yang bisa dia ajak ngobrol.
Karena bingung mau melakukan apa, jadi Jasmine memutuskan untuk pergi berkunjung kerumah Cessie. Sebenarnya dia juga merasa tidak enak pada Cessie, akibat ulah Jackson membuat Cessie jadi agak sensi pagi - pagi gini.
Siang hari ketika dirinya selesai berkunjung ke rumah Cessie, Jasmine singgah di salah satu tempat makan, karena dia akan membelikan makan siang untuk suaminya itu. Berhubung tadi dia tidak sempat masak, jadi dia pesan makanan jadi untuk suaminya itu.
Selesai dengan makanannya, Jasmine bergegas menuju ke kantor suaminya. Setibanya di depan kantor, dari kejauhan dia melihat keberadaan perempuan yang tengah menatap kearahnya.
Dan dia sedikit merasa familiar dengan wajah orang itu. Setelah diingat - ingat, ternyata perempuan itu adalah perempuan yang sama dengan tempo hari, ketika ia melihatnya memeluk suaminya itu.
"Sedang apa dia disana?" monolognya sambil memperhatikan perempuan itu yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
Belum sempat ia melangkah kedalam kantor, suara dari perempuan itu mulai terdengar memanggilnya.
"Hei, jangan pergi dulu." panggilnya membuat Jasmine diam di tempat.
Perempuan tadi sampai di depan Jasmine dengan nafas sedikit terengah - engah. Setelah mengatur napasnya, perempuan tadi langsung mengajukan pertanyaan tanpa berbasa - basi terlebih dulu.
"Kau ada hubungan apa dengan Steve?" Jasmine menatap lurus kearah perempuan itu. "Maksudmu mas Stevenso?" Perempuan tadi mengangguk.
"Aku istrinya." Mendengar ucapan itu membuat ekspresi perempuan tadi langsung berubah.
__ADS_1
"Kau jangan bercanda. Aku ini pacarnya Steve!" ucapnya yang membuat Jasmine sedikit terkejut.
Sebenarnya apakah perempuan ini berbicara sejujurnya atau sedang berbohong padanya. Walaupun Jasmine tidak mengetahui seperti apa masa lalu suaminya itu, tapi bukan alasan dia langsung bisa percaya begitu saja akan ucapan tadi.
"Sejak kapan kau menjadi pacar suamiku?"
Perempuan tadi tersenyum percaya diri. "Sudah sejak 3 tahun yang lalu."
Jasmine masih bersikap tenang. Dia sama sekali tidak cemburu, hanya sedikit terkejut kalau orang dihadapannya itu cukup lama kenal dengan suaminya.
"Apa buktinya kalau mas Venson itu adalah pacarmu?"
Orang tadi langsung mengambil ponselnya dan menunjukan beberapa foto, dimana isi foto tersebut sudah menjelaskan seperti apa hubungan diantara kedua orang di dalam foto tersebut.
Jasmine menghela napas sebentar sebelum membuka mulutnya. "Oke."
Si perempuan tadi terdiam mendengar jawaban singkat, bahkan sangat singkat dari mulut Jasmine. "Hanya oke?"
Alis Jasmine tertaut Pertanyaan itu. "Lalu kau mau aku bicara apa?"
"Kenapa responmu hanya seperti itu. Kau tidak percaya kalau aku ini pacarnya Steve?"
Menghela napas panjang. "Kau aku percaya atau nggak, itu urusanku bukan urusanmu."
"Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan padaku, aku pamit dulu." Setelah mengatakan hal itu, Jasmine langsung masuk kedalam kantor untuk menemui suaminya itu.
...*__*...
..."Sayang?"...
..."...."...
..."Jasmine sayang,"...
..."...."...
Hal itu tentu saja mengagetkan Jasmine yang sejak tiba diruangan suaminya itu hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ada apa, Mas?"
"Bukan Mas, tapi kau sedang memikirkan apa?" Jasmine menggeleng pelan. "Aku tidak ada masalah apa - apa."
Jawaban iya tentu saja tidak membuat Venson langsung percaya begitu saja. "Beneran?" Anggukan kembali Jasmine berikan padanya suaminya itu.
Setelah membersihkan bekas wadah yang Venson gunakan untuk makan, kini Jasmine tengah berada di sofa sambil berkutat dengan ponselnya.
Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponsel Jasmine membuat dia langsung membuka isi pesan tersebut. Ternyata pesan itu dari Cessie.
Cessie❤
Kau tahu? Hari ini aku senang sekali. Nenek akhirnya mau kemari. Dan nenek sedang dalam perjalan kesini. Pokoknya nanti malam kau harus datang kerumahku, ya. Jangan sampai lupa!
Ooh, ya. Tolong jangan bawa anakmu itu kesini. Aku tidak mau dia mengganggu quality timeku bersama nenekku. Ingat kedua pesanku ini.
See *you***😊
12.56**
Jasmine terkekeh pelan mendengar permintaan dari sahabatnya itu. Tapi dia senang akhirnya nenek mau datang kesini. Padahal sudah sejak lama dia dan Cessie membujuk nenek untuk menetap disini.
Tapi nenek selalu menolaknya dengan alasan yang sama. Sampai akhirnya mereka berdua pasrah untuk membujuk nenek agar tinggal disini. Tapi nggak ada hujan nggak ada angin, tiba - tiba nenek mau kesini.
Itu hal yang sangat menggembirakan khususnya untuk Cessie, sebab kalau kalian bertanya siapa orang yang paling kalian sayangi dan cintai, maka Cessie akan menjawab lantang kalau neneknya yang paling dia sayangi dan cintai.
Senyuman lebar itu tertangkap oleh retina Venson yang sejak beberapa menit lalu, asyik memandangi istrinya itu.
"Seperti kau senang sekali, ada apa?"
__ADS_1
Jasmine menoleh kearah Venson dan langsung menghampirinya. "Hari ini aku senang banget." ucapnya sambil tersenyum lebar.
Venson kini memutar kursinya untuk menghadap sang istri. Direngkuhnya tubuh Jasmine agar mendekat ke arahnya. "Istri ku ini senang karena apa, hem?"
"Nenek akan kesini!" ucap Jasmine sambil berseru riang.
"Nenek?"
"Iya, neneknya si Cessie yang waktu itu kita berkunjung ke rumahnya. Masa Mas lupa?"
Venson langsung menarik tubuh Jasmine agar duduk di pangkuannya. "Ingat kok. Kirain nenek siapa gitu."
"Nanti aku izin kerumah Cessie ya, Mas. Soalnya aku mau bertemu sama nenek."
"Ehm izinin nggak ya?" gumam Venson sambil menatap jahil kearah Jasmine. Jasmine yang melihat tatapan itupun tanpa sadar langsung merengek.
"Mas, izinin ya. Janji nggak akan lama kok." rengeknya sambil menggoyangkan tangan kanan suaminya itu. Hal itu tentu saja membuat Venson gemas terhadap melakukan istrinya itu.
"Tapi ada syaratnya."
Jasmine sedikit mempautkan bibirnya. "Memangnya apa syaratnya, Mas?"
Venson memyenderkan tubuhnya sambil menatap lekat istrinya itu. "Kiss me." ucap Venson dengan seringai khas miliknya itu.
Jasmine mendengus pelan begitu mengetahui apa syarat yang diajukan oleh suaminya itu. Setelah berpikir, Jasmine mulai mendekatkan wajahnya kearah wajah Venson.
Baru saja bibir mereka akan bersentuhan, tapi terhenti oleh suara bukaan pintu. Posisi Venson dan Jasmine saat ini, membuat orang yang membuka pintu itu terkejut dan perlahan mulai tersenyum kikuk begitu dirinya menyadari arti tatapan bosnya itu.
"Ma-maafkan atas sikap tidak sopan saya, Pak Steve dan Bu Jasmine." ucap Drian selaku sekertaris Venson itu.
Jasmine langsung bangkit dari posisinya itu. Pipinya mulai memerah karena tertangkap basah dalam kondisi yang tidak seharusnya dia lakukan di luar rumah.
Sedangkan Venson menatap datar kearah Drian, karena kedatangan sekertarisnya yang tidak tahu waktu itu. Jadi dia gagal mendapatkan ciu*an dari istri tercintanya itu.
"Lain kali ketuk pintu dulu, Drian." kata - kata yang biasa. Tapi efeknya sungguh luar tidak biasa bagi Drian. Bahkan bulu kuduknya dibuat berdiri hanya karena enam kata dari bosnya itu.
...*_*...
Makan malam di keluarga Venson sudah selesai. Dan kini sang kepala keluarga berniat menjemput sang istri yang sedang berada di rumahnya Cessie.
Setelah insiden kepergok oleh Drian, Jasmine meminta izin pada Venson untuk ke rumah Cessie. Awalnya Venson ingin mengantar, tapi dilarang oleh Jasmine lantaran Venson ada rapat yang harus dia hadiri.
Makanya dia hanya minta jemput saja pada sang suami. Dan kini Venson berniat untuk menjemput Jasmine. Tapi langkahnya terhenti akibat pertanyaan dari putrinya itu.
"Daddy mau kemana?"
Venson menatap anaknya lembut. "Daddy ingin menjemput mama Jasmine." Aurora yang mendengar hal itu berdecih pelan.
"Kenapa harus daddy yang menjemputnya? Memangnya dia tidak bisa pulang sendiri." Nada tak mengenakan itu keluar dari celah bibir Aurora.
Venson menghela napas pendek. "Daddy sendiri yang mau, bukan paksaan dari mama Jasmine." Venson mencoba merubah sedikit pandangan Aurora terhadap Jasmine.
Tapi sepertinya itu tidak mempan bagi Aurora yang sudah terlanjur membenci Jasmine. Bahkan Jasmine masuk kedalam peringkat pertama dari orang - orang yang dia blacklist.
"Kalau begitu daddy pamit dulu, ya. Kamu jangan lupa belajar, ya." Setelahnya Venson berlalu pergi, meninggalkan Aurora yang menatap kecewa ke arah daddynya itu.
Tatapan kecewa itu secepat kilat tergantikan dengan ekspresi marah yang begitu ketara. "Daddy berubah. Dan ini semua gara - gara dia!"
.......
.......
.......
...° Gimana kabar kalian semua? Selalu sehat, ya😍 Jangan sampai sakit😊...
...Luv U💜...
__ADS_1