Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Mencari Tahu


__ADS_3

...OoOoOoOoOo...


Setibanya Jackson di sebuah tempat yang mungkin anak baik - baik tidak akan datangi. Bahkan terlintas di pikiran mereka pun tidak. Jackson sudah ada di sebuah bar yang mana menjadi tujuannya saat ini. Jackson ingin menemui seseorang yang sangat dekat dengan mama Jasmine. Siapa lagi kalau bukan Cessie.


Begitu masuk, mata Jackson langsung tertuju pada tempat bartander dan dia menemukan keberadaan Cessie yang tengah mengobrol dengan seorang pemuda yang Jackson tidak kenal. Apalagi keduanya terlihat begitu akrab hingga membuat Jackson panas melihat kedekatan keduanya.


Di langkahkannya kakinya menuju kearah mereka yang masih mengobrol ria. "Ehem!" Jackson berdehem cukup keras yang membuat keduanya hentikan sejenak pembicaraan mereka.


Cessie menatap kearah Jackson dengan pandangan malas, sedangkan cowok disampingnya memandang Jackson dengan pandangan bertanya. "Anda ingin memesan apa, Tuan?" tanyanya ramah. Jackson tak menanggapi pertanyaan itu, sebab matanya masih tertuju pada Cessie yang kini mulai menyibukkan diri dengan mengelap gelas yang ada di meja.


"Tuan, Anda ingin memesan apa?" Pertanyaan kedua yang ditujukan untuk Jackson, membuat Jackson mengalihkan atensinya dari Cessie. " Red Wine 1," ucapnya yang diangguki oleh cowok yang tak lain adalah si Naki.


Naki memang tidak bekerja disini, tapi dia hanya berkunjung untuk menemui Cessie dan sang pemilik bar ini juga kenal baik dengan Naki. Makanya hal itu tak menjadi masalah bagi si pemilik bar, bahkan dia juga membiarkan Naki berada di balik meja bar untuk membantu Cessie.


Melihat Naki sibuk dengan urusannya, membuat Jackson duduk di kursi depan Cessie. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ujarnya sambil menatap Cessie yang bahkan mengabaikan keberadaannya.


Jackson menghela napas sabar, "Bisa kita bicara berdu--,".


"Aku sibuk, kau nggak lihat." ucapnya yang seakan mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin berbicara apapun dengan Jackson. Terlebih setelah dia tahu kalau Jasmine itu sudah tidak tinggal lagi di rumah keluarga Jackson.


Cessie tentu saja kesal dan keluarga si Jackson yang tidak mau percaya pada sahabatnya itu. Padahal sahabatnya itu bisa saja disebut pahlawan bagi keluarga barunya itu, karena telah menyelamatkan reputasi anak gadisnya. Tapi sayangnya apa yang Jasmine dapatkan? Bukannya mendapat respon positif, Jasmine malah dituduh melalaikan tugas dan kewajiban yang sudah diembannya itu.


Kalau ditanya Cessie tahu darimana, dirinya bahkan mendengar sendiri saat Venson menuduh sahabatnya itu berselingkuh. Jelas - jelas yang terlihat berselingkuh itu ya si suami tak tahu diri.


Saat itu, Cessie berniat mengunjungi Jasmine di panti. Namun kata ibu panti, Jasmine sudah pulang ke rumahnya. Itu artinya Jasmine pulang ke rumah Venson. Setelah berpamitan, Cessie langsung meluncur kerumah Jackson. Tapi malah kejadian itu yang dia dengar. Walaupun Cessie tak melihat secara langsung, karena waktu itu dia sempat melihat Aura tengah menguping pembicaraan Venson, Jasmine dan Martha.


Dan Cessie lah yang memberi tumpangan pada Jasmine saat dia keluar dari rumah itu. Cessie jelas mendukung keputusan Jasmine untuk pergi dari rumah itu. Bahkan masih sempat - sempatnya, Cessie mengumpati si pemilik rumah. Untung saja, Jasmine langsung menarik Cessie menjauh, kalau tidak pasti suara Cessie akan terdengar sampai dalam.


Respon acuh yang Cessie berikan tak membuat Jackson gentar untuk mengajaknya bicara. "Hanya sebentar saja. Tolong, ya." Cessie dengan malas menggeleng, menolak ajakan Jackson untuk bicara dengannya.


Tanpa aba - aba, Jackson menarik tangan Cessie yang sedang mengelap meja. Tarikan itu membuat Cessie sedikit tersentak, namun tak sampai membuatnya memekik. "Lepaskan tanganmu itu sekarang juga."


Jackson tak menuruti apa yang Cessie katakan. "Apakah kau tahu alasan mama Jasmine pergi dari rumah. Kalau kau tahu, tolong beritahu aku. Aku mohon." ujarnya sambil memohon pada Cessie. Respon Cessie jauh dari dugaan, Cessie malah tertawa seakan apa yang didengarnya itu adalah hal yang lucu.

__ADS_1


Jackson menatap bingung atas respon yang Cessie berikan padanya. Baru akan bertanya, ucapan dingin Cessie membuat Jackson tertegun. "Mama Jasmine? Sejak kapan Jasmine dianggap sebagai mama kalian. Bukannya kalian sangat membencinya. Bahkan kalian ingin Jasmine cepat keluar dari rumah kalian. Giliran sudah keluar, kalian bersikap sok peduli. Ck, Bullshit!"


Terlibat raut marah di wajah Jasmine saat mengatakan hal itu. Dengan kasar, Cessie menyentak tangan Jackson hingga pegangan itu terlepas. Sejenak Jackson diam sambil memikirkan ucapan dari Cessie barusan. Ada sentilan kecil yang Jackson rasakan tepat di hatinya, begitu mendengar fakta yang Cessie beberkan padanya.


Tapi, kenapa Jackson engan untuk mengakui fakta itu sekarang. "Seharusnya kalian puas. Belum sampai setahun, Jasmine sudah keluar dari rumah kalian." Perkataan itu seharusnya benar adanya, namun kenapa Jackson tidak merasa puas, ya.


Jackson menatap Cessie dengan pandangan lurus saat sadar akan maksud ucapan Cessie tadi. "Bagaimana kau bisa tahu?" Cessie tertawa sinis, "Memangnya kenapa kalau aku tahu? Kau ingin menuntut Jasmine begitu, karena membicarakan isi perjanjian pada orang lain."


Memang itu adalah salah satu isi perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh Jasmine, dilarang memberitahukan perjanjian ini pada orang lain. Dan kini Jackson tak lagi peduli akan perjanjian itu. Sebab dari sanalah semua masalah ini timbul. Jackson hanya menggeleng lemah atas tuduhan Cessie barusan.


"Aku tahu, ini semula bermula dari surat perjanjian itu. Tapi, bisakah kau beritahu aku tentang alasan mama Jasmine pergi dari rumah. Dan aku yakin kau tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."


Mungkin Jackson ini tipe orang yang kalau sudah penasaran, mendadak jadi tak tahu malu. Bahkan bisa jadi tak berpikiran panjang. "Apa untungnya itu untukku. Hanya buang - buang waktuku saja." Ucapan itu terdengar sinis di telinga Jackson.


Tapi Jackson tak ingin menyerah begitu saja, dia ingin tahu kebenaran yang ada. Dan apa salahnya kalau Cessie memberitahukannya. Baru saja akan bertanya kembali, Naki datang sambil membawa pesanan Jackson di tangannya. "Silahkan, Tuan." kata Naki sambil meletakan minuman itu di depan Jackson.


Jackson hanya melirik sejenak, kemudian kembali menatap Cessie untuk kembali bertanya. Cessie yang sudah muak melihat kebisingan yang dibuat oleh Jackson pun mendengus kesal. Untungnya tak sampai membuat keributan di bar ini.


"Bukannya kau orang kaya, ya. Kenapa tak menyuruh orang untuk menyelidiki semuanya. Jadi tak perlu repot ngemis - ngemis info gini." Tatapan remeh dilayangkan oleh Cessie untuk Jackson.


Cessie sejenak melirik kearah Jackson karena tadi dia sibuk mengelap gelas. Dari apa yang dia lihat, Jackson nampak frustasi. Bahkan saat ini Jackson tengah mengacak rambutnya sendiri. Batin Cessie berkecamuk, antara memberitahu atau diam saja.


Helaan napas kasar Cessie keluarkan dari celah bibirnya. Dia meletakan gelas yang baru di lapnya dengan kasar, untungnya tak sampai pecah. Dentingan gelas dengan meja mengalihkan ekstensi Jackson yang kini mulai menghadap kearah Cessie.


"Kau itu bodoh atau nggak punya otak sih. Rumahmu kan mewah begitu, pasti setiap sisinya sudah diawasi. Kenapa kau tak cek semuanya, untuk mencari tahu apa yang ingin kau tahu itu."


"Diawasi," Butuh beberapa detik sampai Jackson paham apa maksud perkataan Cessie barusan. Jackson langsung bangkit dari posisi duduknya, setelah itu Jackson langsung berterimakasih pada Cessie. "Terimakasih, aku benar - benar tidak kepikiran kesana."


Cessie memutar bola matanya malas begitu mendengar ucapan itu. "Itu karena kau bodoh." Jackson tak ambil hati atas ejekan Cessie barusan padanya. Setelah meletakan beberapa lembar uang, Jackson langsung bergegas pulang, tentunya setelah pamit pada Cessie yang sama sekali tak ditanggapi oleh Cessie.


Naki memperhatikan Jackson yang sudah menghilang di balik pintu bar. "Bukannya dia itu salah satu anaknya Jasmine, ya?" tanyanya yang dibalas anggukan oleh Cessie. Naki ikut mengangguk, "Dia bertanya tentang Jasmine padamu?"


Sekali lagi Cessie mengangguk, "Iya, dia itu bodoh atau gimana sih. Di rumahnya banyak CCTV tapi tak kepikiran untuk ngecek kesana." Cessie gregetan dengan pola pikir Jackson yang terlalu lamban menurutnya itu. Naki hanya terkekeh pelan begitu melihat ekspresi Cessie. "Jangan terlalu kesal, nanti kau malah suka padanya." ucapnya dengan nada bercanda. Namun ditanggapi serius oleh Cessie.

__ADS_1


"Mustahil!" sentaknya dengan menggelengkan kepalanya cepat. Naki hanya tertawa kecil saja.


...OoOoOoOoOo...


Dengan langkah lebar, Jackson sudah masuk ke rumahnya. Tujuannya hanya satu yaitu ruang CCTV di rumahnya. Dan ruangan itu ada di lantai satu rumahnya. Kedatangan Jackson ke ruangan itu untuk memastikan kebenaran akan kejadian dan alasan Jasmine pergi dari rumah.


Ruangan ini memang sengaja tak dijaga ketat. Bahkan hanya dicek 2 kali selama seminggu. Itupun hanya mengecek apakah ada masalah pada CCCT di tiap sudut rumah. Dan kali ini bukan jadwal kontrol CCTV, jadi Jackson aman masuk kesana tanpa harus ketahuan.


Dirinya mulai mengecek file sesuai tanggal kejadian. Untung dia masih ingat tanggal berapa kejadian yang hampir menimpa Aura itu. Walaupun begitu, Jackson harus memperhatikan tiap jam dari kejadian itu, sebab dia sendiri tak tahu mulai jam berapa Aura pergi dari rumah.


Butuh beberapa Jam hingga Jackson mendapatkan fakta yang membuatnya terkejut. Terlebih pada peristiwa sebelum kepergian Jasmine dari rumah ini. "Ini...Aura," Jackson tak sanggup mengatakan fakta apa yang dia dapatkan. Dari ini dia sudah mulai tahu, kalau kejadian dan tuduhan itu tidak benar adanya.


...OoOoOoOoOo...


Diruangan lain, terlihat seorang pria berusia matang tengah menatap bingkai foto di depannya dengan pandangan rumit. Suara dering ponselnya membuat ekstensinya sejenak berubah. Diangkatnya panggilan itu dan mulai mendengarkan apa yang dikabarkan padanya itu.


"Semuanya aman terkendali, Tuan. Keberadaan Nyonya juga baik - baik saja. Tak perlu ada yang dikhawatirkan."


Sosok pria tadi tersenyum tipis begitu mendengar ucapan dari anak buahnya itu. "Tapi, ada kejadian tak terduga." Sosok tadi mengernyitkan dahi. "Apa?"


"Tuan muda mulai menyelidiki kasus ini. Dan sepertinya Tuan muda sudah tahu tentang fakta yang ada." Ekspresi wajah dari pria ini tak menampilkan keterkejutan, sebab dia sudah memprediksikan kalau cepat atau lambat putranya itu akan tahu kebenarannya.


"Biarkan dia tahu. Tugasmu, hanya awasi Nyonya. Jangan sampai lengah. Kalau itu terjadi, kau pasti tahu apa yang akan kau terima." Sosok di seberang sana menelan ludahnya gugup. "Baik, Tuan." ujarnya dengan lugas.


Tanpa mau basi - basi, pria itu lebih dulu mematikan sambungan panggilan itu. Diambilnya bingkai foto yang sudah sejak tadi dia amati itu. Diusapnya bagian wajah dari sosok di samping fotonya itu. "Maaf," gumamnya lirih yang pastinya hanya dia saja yang mendengarnya.


...OoOoOoOoOo...


Hai, kalian apa kabar? Selalu baik, kan? Harus dong! Apakah sampai sini sudah mulai ketebak alurnya? Ku harap sih tidak ya, WkwkšŸ˜†


Hari ini Double Up, Kalau tak ada halangan.


... See you later Guys **šŸ‘€...

__ADS_1


...ā„ā•ā„ā•ā˜€ā•ā„ā•ā„...


...( 1666 Words** )...


__ADS_2