Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
7. Menjenguk


__ADS_3

Keadaan cukup canggung bagi kelima orang di ruang rawat ini. Ekspresi yang ditampilkan pun bervariasi. Mulai dari kepala keluarga yang tersenyum ke arah seorang gadis yang usianya lebih tua dari anak pertamanya itu. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum canggung sebagai balasannya.


Terlebih lagi, dia tidak akrab dan hanya mengetahui nama sang kepala keluarga ini saja. Itupun karena diberitahu oleh Aurora.


"Sini," Venson menyuruh Jasminè untuk mendekat ke arahnya. Dengan gerakan canggung, Jasmine melangkah mendekati Venson yang masih dalam keadaan setengah berbaring.


Sejujurnya, Jasmine bingung ingin berbicara apa. Tapi lirikan tajam dari Aurora, mau tak mau membuat Jasmine akhirnya buka suara.


"Bagaimana keadaan Anda? Apakah sudah membaik?" Raut wajah Venson sempat berubah  begitu mendengar sapaan Anda dari kalimat Jasmine tadi.


"Kenapa harus pakai 'Anda'? Bukannya bisanya kau memanggilku dengan panggilan mesra."


Jasmine mencoba mempertahankan ekspresinya itu. Dia tidak mungkin begitu saja memanggil seseorang dengan panggilan mesra. Terlebih lagi bagi orang yang belum dia kenal dekat.


"Masih ada anak - anak." Ucapan itu mampu dimengerti oleh Venson. "Kenapa? Kau pasti malu, ya?" Dengan terpaksa Jasmine mengangguk.


Venson tertawa pelan melihat respon yang diberikan oleh Jasmine padanya itu. "Tidak perlu malu, sebentar lagi kau akan menjadi mama untuk mereka bertiga."


Jasmine hanya tertawa pelan, guna menghilangkan rasa gundah di hatinya itu. Jika saja kedua orang di sebelahnya itu tidak mengancam akan menyakiti keluarganya, Jasmine 100% akan menolak ide ini.


...❇ ❇ ❇...


Waktu berlalu begitu lambat bagi Jasmine. Saat ini dirinya sudah berada di depan pintu rumah yang ditinggalinya bersama keluarganya itu.


Hembusan napas kasar keluar dari celah bibir Jasmine, seolah pertanda betapa beratnya masalah yang datang di kehidupannya itu.


Setelah merasa lebih baik, diketuknya pintu itu dan tak lama terdengar sahutan dari dalam.


...Ceklek....


"Kak Jasmine." Sapaan itu berasal dari ayu, yang baru saja membuka pintu. "Hai, adik cantiknya kak Jasmine." balas Jasmine sambil mengulurkan tangannya kearah Ayu yang disambut baik oleh gadis kecil ini.


Dengan antusias, Ayu langsung menarik tangan Jasmine untuk masuk kedalam rumah. "Ayo, Kak masuk. Ibu baru saja membuat nasi goreng terenak yang pernah ada."


Jasmine tersenyum melihat raut antusias di wajah Ayu. Namun disisi lain, ada perasaan sesak yang timbul di hati Jasmine, mengingat dirinya jarang membelikan makanan enak untuk adik - adiknya itu.


Gajinya hanya cukup untuk biaya keperluan sehari - hari dan juga membeli bahan makanan seadanya. Bahkan Jasmine jarang membelikan pakaian untuk adik - adiknya itu.


Gajinya itu hanya 1,3 juta. Mungkin bagi kalian gaji itu sudah besar untuk taraf penjaga apotek. Namun mahalnya biaya hidup di kota dimana Jasmine itu tinggal, membuat Jasmine harus ekstra hemat guna menyisihkan uang gajinya itu untuk ditabung.


Namun Jasmine tetap bersyukur dengan keadaanya. Setidaknya dia ada pemasukan tiap bulannya. Dan adik - adiknya tidak perlu menahan lapar, meski dengan lauk seadanya.


"Kau sudah pulang, Nak?" Indera pendengaran Jasmine menangkap suara itu dengan baik. Jasmine langsung menyalimi ibunya itu.

__ADS_1


"Iya, bu. Jasmine baru saja pulang." Jasmine tersenyum kearah ibu angkatnya itu. Sudah lebih dari setengah usianya dia tinggal dengan ibu angkatnya ini.


Bu Lia balas tersenyum sambil menyuruh Jasmine untuk bergabung dengan adik - adiknya, yang sudah duduk di ruang tengah untuk makan malam bersama.


"Ibu dan adik - adik makan saja duluan. Jasmine mau bersih - bersih dulu." Bu Lia mengangguk. "Ya sudah. Tapi jangan lama - lama, kalau sudah selesai segera gabung untuk makan malam."


Setelah mengiyakan perkataan ibunya itu, Jasmine langsung melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


...❇ ❇ ❇ ❇...


4 hari berlalu dari terakhir kalinya Jasmine bertemu dengan Venson. Kini dirinya harus kembali bertemu dengannya atas kemauan darinya itu.


Tadi Aurora memberitahunya atau lebih tepatnya memaksa Jasmine untuk menemani ayahnya itu. Dan disinilah Jasmine berada.


Sebelum masuk kedalam ruang rawat. Lebih dulu Jasmine menghela napas panjang. Dirinya merasa sedikit gugup untuk bertemu dengan Venson. Bukan karena gugup karena suka. Tapi gugup kalau sandiwara yang dia lakukan ini akan semakin menjeratnya.


Setelah memantapkan diri, Jasmine mulai membuka pintu rawat itu. Seseorang yang sejak tadi menunggu kedatangannya langsung tersenyum manis kearah Jasmine.


"Kau datang?" Raut bahagia milik pria di depannya itu membuat Jasmine mengangguk pelan.


"Aurora bilang padaku, kalau kamu memintaku untuk datang kemari." jawab Jasmine sambil melangkah mendekat kearah pria itu, yang tak lain adalah Venson.


"Bukannya hari ini aku sudah boleh pulang?" Jasmine menanyakan hal itu, sebab tadi dia sudah diberitahu oleh Aurora, kalau ayahnya itu sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Aku senang kau mau datang kemari. Ku kira kau menghindariku." Alis Jasmine tertaut, pertanda dirinya yang merasa bingung dengan ucapan Venson itu.


..."Kenapa?"...


..."Apanya?"...


Jasmine menatap Venson yang masih belum melepaskan tautan di tangannya itu. "Kenapa berpikiran kalau aku menghindarimu?"


Sebelum menjawab, Venson lebih dulu menghembuskan napas panjang. "Kan sudah 4 hari kau sama sekali tidak datang untuk menjengukku."


Jasmine masih memproses perkataan yang barusan didengarnya itu. Sampai akhirnya dia bisa memahami perkataan itu.


"Bukannya aku menghindar, tapi aku agak sibuk. Makanya aku tidak datang menjengukmu."


"Sibuk apa?"


Pertanyaan itu mudah bagi Jasmine. Tapi dengan kondisinya saat ini, dia harus memikirkan matang - matang jawabannya itu. Sebenarnya bisa saja Jasmine jawab jujur. Tapi, kalau Venson curiga padanya. Pasti kedua anaknya itu tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Ooh, ya. Kamu belum makan, kan? Mau aku suapi?" Sebenarnya ini hanya sebagai bentuk pengalihan atas pertanyaanya tadi itu.

__ADS_1


Walaupun masih penasaran akan ketidakhadiran Jasmine selama beberapa hari ini, tapi Venson berusaha menekan rasa pemasarannya itu.


Lagipula, Venson lebih memilih di suapi oleh kekasihnya ini, dibandingkan harus mengetahui alasan Jasmine yang tidak menemaninya itu.


Kini Jasmine sudah duduk di depan Venson sambil menyangga mangkok berisikan bubur itu. "Buka mulutmu."


Venson tentu langsung menuruti perkataan Jasmine itu. "Kau sudah makan?" tanyanya disela suapan yang di berikan Jasmine padanya itu.


Anggukan yang diberikan Jasmine menjadi jawaban atas pertanyaannya tadi. Kedua kembali mengobrol disela adegan siap - siapkan itu.


Kini bubur di dalam mangkok tadi sudah berpindah ke perut Venson. "Dokter bilang bisa pulang jam berapa?" Jasmine menanyakan hal itu untuk mengatasi keheningan sempat melingkupi keduanya itu.


"Mungkin setelah ini." jawab Venson sambil memandangi Jasmine yang tengah membereskan peralatan makannya tadi.


"Sini." Venson menepuk pelan ranjang disampingnya. Menyuruh agar Jasmine duduk disampingnya. Dan itu artinya dia akan berbagi ranjang dengan Jasmine.


Keraguan muncul secara tiba - tiba di hati Jasmine. Bagaimanapun juga, dia belum pernah berinteraksi secara berlebihan dengan seorang pria.


Tadi belum sempat menjawab, tangannya sudah lebih dulu ditarik agar duduk disamping pasien ini. Siapa lagi kalau bukan Venson yang menarik tangan Jasmine.


"Kenapa?"


Bila tadi kata itu diucapkan oleh Jasmine, sekarang di ucapkan oleh Venson.


"Apanya?" Bingung Jasmine dengan pertanyaan kenapa dari pria di sampingnya itu.


"Kenapa aku merasa kalau kau tidak nyaman berada di dekatku. Padahal kau itu kan kekasihku. Apa kau tidak su---"


Jasmine meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Venson. Seolah menyuruhnya untuk berhenti bicara.


"Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku bukan tidak nyaman. Tapi kondisinya saja yang tidak pas. Kamu kan lagi sakit. Jadi kurang pas saja kalau aku bersikap manja padamu." Jelas Jasmine agar Venson tidak curiga padanya.


Dalam hati, Jasmine meminta maaf pada Tuhan karena sudah membohongi pria di depannya ini.


Senyum Venson terbit kembali setelah mendengar penjelasan dari bibir Jasmine itu. Tanpa aba - aba, Venson langsung memeluk Jasmine. Sedangkan Jasmine yang tidak memperkirakan akan di peluk, langsung membeku.


"Terimakasih sudah hadir di hidupku. Aku tak tahu kalau tidak ada kau disisiku." Ucapan bernada lembut itu mampu membuat jantung Jasmine berdegup kencang.


Ooh Jantungku, pikir Jasmine berusaha untuk tenang. 


...❇ ❇ ❇ ❇ ❇...


 

__ADS_1


__ADS_2