Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Rumah Sakit


__ADS_3

Mata seorang wanita mulai membuka kala kesadaraannya mulai muncul. Beberapa kerjapan membuat si empunyanya dapat memfokuskan pandangannya. Tak begitu lama, akhirnya wanita itu tersadar sepenuhnya. Dirinya menatap kesegala arah begitu mendapati kalau dirinya berada diruangan yang asing.


"Dimana aku?" gumamnya lirih yang hanya di dengar olehnya seorang.


Tak di dapatinya orang yang ada diruangan ini selain dirinya. Tiba - tiba ingatannya tertuju pada kejadian yang sempat menimpanya itu. Tangannya langsung mengarah pada perutnya untuk merasakan kehidupan lain di dalam perutnya itu.


Airmatanya lolos begitu saja saat tak merasakan adanya detakan di perutnya. "Anakku," isakannya pilu. Ketakutan terbesarnya adalah kehilangan calon bayinya dan dia tak bisa membayangkan kalau dirinya harus kehilangan calon anaknya yang bahkan beluk lahir ke dunia.


Suara pintu terbuka menyadarkan wanita itu hingga membuatnya menoleh. "Shifah, an - anak mbak gimana, hiks" Shifah yang barusaja datang langsung dibuat kaget dengan tangisan Jasmine. Dirinya langsung mendekati Jasmine untuk menenangkannya.


"Mbak, tenang dulu, ya. Jangan nangis. Dedek bayi baik - baik saja kok, Mbak. Mendengar apa yang diucapkan oleh Shifah membuat Jasmine menatap perutnya tak percaya.


"Jadi... " Jasmine tak bisa meneruskan perkataannya karena rasa syukur dan bahagia saat tahu kalau bayinya masih terselamatkan. Tangisan pilu yang sebelumnya berganti menjadi tangis bahagia. Dielusnya perutnya dengan sayang seakan yang dia elus itu adalah sosok bayinya.


"Alhamdulillah, Mbak. Dedek bayinya kuat, jadi sekarang dia baik - baik aja. Tapi Mbak nggak boleh banyak pikiran dan jangan sampai kelelahan." Shifah mengatakannya dengan nada seperti seorang ibu yang menasehati anaknya.


Keberadaan seseorang yang tadi datang bersama dengan Shifah, seperti tak dianggap. Terlebih orang itu terlihat shock dengan apa yang keduanya bicarakan. Terlebih pada kabar kehamilan Jasmine saat ini.


Jasmine yang tadi memeluk Shifah itupun mulai melepaskan pelukan mereka. Rasanya dia merasa di perhatiakan, makanya dia menoleh kearah pintu masuk. Dan benar saja, ada yang tengah memperhatikannya saat ini.


"Wilson?" Jasmine menatap tak percaya atas kehadiran anak ketiganya itu disini. Dan yang membuat Jasmine tambah kaget adalah Wilson jadi tahu kalau saat ini dia tengah hamil. Entah itu bisa dianggap hal baik atau hal buruk untuk kedepannya.


Wilson masih berdiri di tempatnya. Fakta tentang kehamilan Jasmine membuatnya terkejut. Entah bagaimana Wilson menggambarkan perasaannya saat ini, tapi yang jelas ada perasaan bahagia dalam hati Wilson. Jadi tak lama lagi dia akan punya adik dan berarti dia akan jadi seorang kakak.


Shifah menatap aneh pada Wilson yang hanya diam saja. Walaupun tak begitu tahu akan urusan rumah tangga dari kak Jasmine itu. Tapi Shifah sadar ada permasalah yang belum usai diantara keluarga baru kak jasmine itu.


Geregetan akan diamnya Wilson dan Jasmine, membuat Shifah berdehem cukup keras. "Ehem." Jasmine dan Wilson menatap Shifah yang barusan berdehem cukup keras. "Ooh, ya. Kalau nggak salah si Mas itu anaknya Mbak Jasmine, kan?"


Shifah menunjuk kearah Wilson yang berada di dekat pintu. Kalau ditanya dimana mereka bertemu adalah saat di supermarket. Itupun keduanya tak sengaja bertemu. Untuk kronologinya, biar nanti Shifah sendiri yang menceritakannya.


"Sini, Mas Milson." Shifah dengan pedenya menyebut nama Wilson, walaupun dengan huruf awalan yang salah. Wilson tak masalah akan namanya yang salah ucap itu. Dengan langkah pelan, dia mendekati ranjang Jasmine.


Jasmine masih memperhatikan Wilson yang mendekat kearahnya. Hening melanda ketiga manusia ini. Bahkan Shifah dibuat gemas dengan keduanya yang lebih memilih untuk diam. Sekali lagi Shifah berdehem pelan.

__ADS_1


"Ehem, kalau gitu Shifah tinggal keluar sebentar, ya. Ada yang ingin Shifah beli. Mbak sama Mas Milson ngobrol - ngobrol dulu aja."


Setelah mengatakan hal itu, Shifah memberi ruang pada keduanya. Dia melakukan itu agar bisa membuat hubungan keduanya membaik, sebab dia tahu kalau keduanya punya ikatan antara ibu dan anak. Meskipun keduanya bukan ibu dan anak kandung.


Shifah berjalan di lorong rumah sakit yang mulai menggelap. Sebab ini sudah jam 2 malam. Dijam segini memang enaknya adalah untuk tidur. Tapi dalam kondisi yang seperti tadi, Shifah bahkan tak bisa memejamkan matanya.


Rasa ketakutan yang sempat melandanya tadi, tak ingin Shifah rasakan kembali. Bahkan Shifah tak berani membayangkan kalau seandainya dia sampai di telat menolong kakaknya itu. Entah rasa bersalah seperti apa yang akan Shifah rasakan.


Setidaknya semuanya telah baik - baik saja. Meski sejujurnya dia cukup kesal atas kejadian yang menimpa kak Jasmine itu. Dan ini semua akibat dari si 2 nenek lampir itu. Kalau sampai dia ketemu lagi dengan mereka, Shifah tak akan tinggal diam. Kalau perlu, dia bikin mereka kayak perkedel.


"Awas saja, kalau ketemu mereka lagi. Aku kasih ke mbak kun!" ucap Shifah dengan mengebu - ngebu. Dia bahkan sampai menendang angin di koridor yang panjang ini. Namun seketika bulu romanya merinding, begitu mendengar suara tawa yang cukup jauh.


Seharusnya itu tak jadi masalah, kalau seandainya Shifah tak ingat akan sesuatu hal. Terlebih lagi tempatnya sekarang berpijak. Konon katanya kalau tawa itu terdengar jauh, berarti sosok itu berada di dekat kita. Begitupun sebaliknya. Dan Shifah tak berani menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Bahkan menoleh ke depan saja dia tidak berani.


Tubuhnya semakin mengigil kala merasakan hembusan angin yang terasa sangat dingin dan menusuk ketulangnya. Rasa takut itu di perkuat dengan adanya hembusan napas di sisi kirinya. Tanpa menoleh, dia langsung berlari menuju ke kamar rawat Jasmine.


Tanpa permisi, Shifah langsung masuk kedalam dan mendekat kearah Jasmine dan Wilson yang saat ini tengah berpelukan. Jadi lah kini ketiganya berpelukan, dengan Shifah yang mengeratkan pelukannya.


"Mbak, pokoke nak mbak wis mari. Dhewe langsung bali. Ojo ngenteni ngko - ngko dhisek." ucap Shifah dengan nada medhoknya. (Kak, Pokoknya setelah kakak sembuh. Kita langsung pulang. Nggak usah nunggu - nunggu lagi.)


Langsung saja Jasmine melepaskan pelukan itu. "Eh, sampurane Mas e, kula boten ngeh nak nyikep sampeane." Wilson hanya mengangguk saja, sebab dia tak tahu apa yang diucapkan oleh Shifah barusan. (Eh, maaf kak, saya nggak sengaja meluk kakak.)


Jasmine tertawa pelan begitu melihat raut panik diwajah Shifah. Ditambah lagi, ada sedikit semburat kemerahan di wajah adik sepupu dari Cessie itu. Keadaan benar - benar awkward, membuat Jasmine tak tahan untuk bertanya.


"Kamu kenapa panik gitu tadi, Shif? Kayak yang di kejar setan aja."


"Emang iya, kak." jawab Shifah sambil mengeratkan posisi pada Jasmine. Jawaban itu membuat Jasmine dan Wilson cukup kaget. "Beneran?" Shifah langsung mengangguk. "Iya, kak. Tadi di lorong depan sana, aku denger suara tawa. ihh seremmm."


"Mungkin tawa para perawat atau keluarga pasien kali." Jawaban yang Jasmine ucapkan memang ada benarnya, kalau suara itu datang dalam jam normal. "Masa jam segini ada yang ketawa kayak gitu. Ini jam 2 malem loh, Mbak." Apa yang dibilang Shifah juga ada benarnya. Mana ada jam segini ketawa - tawa, terlebih lagi di rumah sakit yang suasananya cukup sepi.


Jasmine memeluk Shifah dengan erat, teringat akan peristiwa di rumah Cessie waktu itu. Dimana dia melihat sendiri sosok yang di sebut mbak Kun sedang duduk di atas pohon sambil ketawa - tawa menatap dirinya. "Kok jadi horor begini suasananya, ya."


"Mbak ojo medeni. Aku wedi ki." Shifah semakin bergetar karena masih mengingat dengan jelas, bagaimana suara itu terdengar di telingannya. Wilson menatap kedua perempuan beda usia itu dengan tatapan lurus.

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka membuat ketiganya berjengit kaget. "Aaaa!!!," teriak Jasmine dan Shifah cukup lantang. Berbeda dengan Wilson yang hanya sedikit terlonjak kaget.


Si pembuka pintu juga ikutan kaget mendengar suara teriakan kedua orang di dalam ruangan itu. "Kalian kenapa sih?" mendengar suara yang cukup familiar di telinga keduanya, membuat mereka membuka matanya yang sempat terpejam.


"Mbak / Cessie," ujar Shifah dan Jasmine berbarengan.


"Apa?" tanya Cessie bingung saat keduanya menatapnya dengan raut antara kesal dan lega. Arah tatapan Cessie jatuh pada Wilson yang juga menatap kearahnya. Seingat Cessie, Wilson ini adalah adik dari Jackson yang berarti adalah anak sambung dari Jasmine.


"Mbak ngapain tiba - tiba buka pintu kayak tadi. Mana nggak pakai salam lagi."


"Mbak yang harusnya bilang gitu, tadi ngapain kamu lari saat mbak panggil nama kamu?" Ucapan itu membuat Shifah mengernyitkan dahinya bingung. Perasaan sejak tadi Shifah tak merasa ada yang manggil namanya.


"Kapan?" Cessie menatap adik sepupunya itu. "Waktu kamu di koridor. Mbak baru nyampe mau nepuk bahu kamu. Tapi kamu dah lari." Shifah mencoba mengingat - ingat kejadian di koridor tadi. Jadi yang dia rasakan itu adalah hembusan kakaknya. Bukan mahluk halus seperti dugaannya.


"Hehe," Shifah hanya tersenyum malu. Sangking nggak beraninya noleh, dia sampai nggak sadar kalau tadi itu adalah kakaknya sendiri. "Cengengesan kau, huh. Capek aku ngejar kamu. Mana nyari - nyari ruangan ini nggak ketemu - ketemu." gerutu Cessie yang membuat Shifah merasa bersalah.


"Ya maaf, Mbak. Kan aku nggak tahu."


Cessie tak menanggapi apa yang diucapkan oleh Shifah. Tatapannya kini beralih ke Jasmine yang sedang duduk di bangkar. "Kau baik - baik saja, kan?" tanyanya dengan nada khawatir.


Sungguh Cessie begitu panik begitu di beri tahu oleh Shifah kalau Jasmine sampai masuk rumah sakit. Bahkan Shifah sempat mengatakan kalau Jasmine hampir saja keguguran. Untung saja bayi Jasmine masih sempat tertolong. Sungguh, Tuhan masih sayang pada Jasmine dan calon anaknya itu.


Jasmine tersenyum manis sambil mengelus pelan perutnya yang sedikit membuncit. "Untung saja Tuhan masih baik padamu." Cessie merasa lega karena Jasmine dan calon bayinya baik - baik saja.


Cessie balik menatap pada Shifah yang merasa bingung di tatap seperti itu. "Kenapa sih, Mbak?" Cessie tak menjawab pertanyaan itu, dirinya malah mengajukan pertanyaan yang membuat suasana agak berubah.


Kira - kira apa yang akan Cessie tanyakan, ya?


...OoOoOoOoOoO...


Selamat Malam menjelang pagi, semuanya.


Terimakasih sudah menunggu aku Up lagi :-)

__ADS_1


......See you again, My Friends......


__ADS_2