Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Kilas Balik


__ADS_3

Balik lagi nih :)


...° { < ¥ > } °...


"Apa maksudmu bicara begitu?"


Wilson yang tadi menatap pemandangan di depannya, jadi berbalik menatap kearah Shifah yang saat ini berdiri menghadapnya. "Apa ini ada kaitannya dengan ucapanku waktu itu? Makanya kau bersikap agak dingin padaku?"


Shifah tak kunjung menjawab karena apa yang Wilson katakan memang benar adanya. Dirinya memang sengaja memberi jarak agar bisa menjaga perasaan orang - orang, termaksud dengan perasaannya.


"Tolong jangan bicara omong kosong. Aku sama sekali tak menghindarimu." sanggahnya dengan membalikkan tubuhnya. Wilson yang merasa tak puas akan jawaban itupun, kembali buka suara.


"Apa semua ini karena pernyataanku waktu itu? Makanya kau bersikap berbeda padaku. Bukankah sudah mengatakan kalau aku itu menyukaimu. Aku tidak peduli kalau kau itu jauh lebih menyukai kakakku dibandingkan aku."


Pernyataan cinta yang kedua yang pernah Shifah dengar dari mulut Wilson. Setelah yang pertama kalinya di pesta ulangtahun Cessie. Walaupun begitu, agaknya Shifah masih merasa kaget akan pernyataan itu.


"Kau tak akan bisa mengerti." ujar Shifah pelan, namun masih bisa di dengar oleh Wilson.


"Bagian mananya yang aku tidak mengerti? Aku tahu kalau nama kakakku lah yang ada di hatimu." Napas Wilson terdengar sedikit memburu disertai dengan rasa sesak. Terlebih saat mengungkit akan rasa cinta yang Shifah miliki untuk kakaknya.


Shifah menunduk, perasaannya jadi tak enak karena ini kali keduanya akan kembali menolak perasaan Wilson terhadapnya. "Tolong mengertilah. Perasaan bukan hal yang bisa dipaksakan. Aku tak bi--"


Sebelum Shifah melanjutkan ucapannya, Wilson terlebih dulu memotongnya. "Kalau kau tahu bahwa perasaan tak bisa di paksakan. Kenapa kau malah setuju untuk menikah dengan orang yang tidak kau cintai!"


Pada akhir kalimatnya, Wilson sedikit menaikkan nada bicaranya. Bahkan membuat Shifah agak tersentak pelan. "Kenapa kau harus menyetujui menikah dengan si Dewo? Kalau kau sendiri sudah menyukai kakakku, Jack?"


Diberi pertanyaan seperti itu membuat Shifah lagi - lagi memilih bungkam. Benar apa yang dikatakan oleh Wilson. Dengan alasan apa dia harus menerima Dewo, kalau perasaannya sendiri jatuh pada Jackson.


Shifah menggeleng pelan. "Makanya aku bilang kalau kau tidak akan mengerti. Masalahku lebih rumit dari apa yang kau bayangkan." Airmata Shifah jatuh disertai isakan pelan. Wilson yang mendengarnya menjadi tak tega. Dihampirinya sang pujaan hati, dengan sekali tarikan Shifah sudah berada di dekapannya.


Tak ada pembicaraan lagi, keduanya hanya menikmati waktu dalam sebuah pelukan, tidak lebih. Ingatan Wilson tertuju pada malam pesta kemarin.


Flashback


Suasana agak mendingin kala Om Cakra kembali mengungkit masalah hutang keluarga Shifah di depan Shifahnya langsung. Hingga ucapan seseorang membuat perhatian semuanya teralih pada di pelaku.


"Kau bisa melunasi semuanya, asalkan kau mau menikah denganku." Semuanya berbalik menatap kearah orang yang barusan bersuara itu.


Shifah menatap tak percaya akan kehadiran orang yang bahkan tak ingin dia lihat. Orang yang telah dengan berani memberikan kenangan buruk di hidup Shifah, bahkan sebelum usia Shifah genap 12 tahun.


"Aku tidak akan pernah setuju kalau kau sampai berani menikah dengan adikku!" Nada tegas dalam ucapan Cessie membuat beberapa pasang mata menatap kearahnya dengan penasaran.

__ADS_1


Orang tadi yang tak lain adalah Si Dewo pun berjalan mendekat kearah keluarga Ardhinata. "Semua itu tergantung pilihan Shifah nantinya. Tinggal dia ingin menikah atau melunasi semua hutangnya malam ini juga."


Ekspresi Cessie semakin keruh karena mendengar ucapan santai yang Dewo keluarkan. "Kau tidak akan bisa menikah dengan Shifah. Aku sendiri yang akan melunasi semua hutang itu!"


Shifah menatap tak percaya akan ucapan kakaknya itu. Bagaimana caranya Cessie bisa melunasi hutang sebanyak itu dalam satu malam. Baru saja Cessie ingin memgeluarkan ponselnya, suara ayahnya lebih dulu terdengar.


"Ayah tak akan membiarkanmu mengeluarkan sepeserpun uang yang telah ayah berikan selama ini kepadamu!" Cessie menatap sengit kearah ayahnya yang tak berniat membantu semua ini.


Cakra menatap anak semata wayangnya itu dengan dingin. Ucapannya sama sekali tak di dengar oleh Cessie yang kini berusaha mengecek sisa saldo di tabungannya itu. Tapi matanya terbelalak begitu melihat notifikasi yang memberitahukan bahwa atm dan tabungannya sudah di bekukan.


"Apa yang sedang ayah rencanakan? Kembalikan atm dan seluruh tabunganku seperti semula." amuknya yang tak membuat Cakra luluh ataupun tergerak hatinya. "Sudah ayah bilang, kau harus menikah dengan Dewo untuk membantu adik kesayanganmu itu lepas dari masalah hutang."


Cessie menggeleng keras, dia tak akan membiarkan dirinya ataupun adiknya itu menikah dengan manusia seperti Dewo. Cessie semakin kalut dengan situasi yang ada. Ditambah lagi, Dewo semakin menambah runyam masalah ini.


"Pilihannya hanya itu, kalian lunasi semua hutang itu atau Shifah yang akan menikah denganku." Pilihan yang Dewo ajukan membuat raut wajah Cakra berubah. "Bukankah lebih baik kalau putri saya saja yang menikah dengan nak Dewo." Cakra kembali menyarankan untuk Dewo memilih Cessie bila dibandingkan dengan Shifah.


Dewo menyunggingkan senyum miring andalannya kepada Cakra. "Sayangnya saya sudah tidak tertarik untuk menikahi putri Anda. Saya lebih tertarik pada keponakan Anda."


Cessie berjalan mendekat kearah Dewo. Salah satu telunjuknya teracung kepada Dewo. "Sampai matipun aku tak akan rela melihat adikku bersanding dengan manusia tak punya adab sepertimu."


Terlihat jelas aura tajam yang sengaja Cessie tunjukan di depan Dewo, sebagai peringatan akan keseriusannya dalam menolak pernikahan itu. "Aku tidak perduli mau kau menerima atau tidak. Tapi yang jelas Shifah harus menikah denganku besok pagi, kalau malam ini dia tak bisa melunasi semua hutang keluarganya."


"Sinting! Dasar gila?! Kau memanfaatkan semua ini hanya untuk kepentinganmu semata, kan?!" marah Cessie saat mendengar apa yang Dewo katakan. Bagaimana dia bisa biasa saja saat orang di hadapannya ini tetap kekeh untuk menikahi Shifah.


Arah tatapannya Shifah tertuju pada Dewo yang kini tersenyum kearahnya. "Baiklah, aku akan menikah denganmu." putus Shifah yang membuat senyum Dewo semakin mengembang. "Asalakan kau tidak lagi membuat masalah dengan keluarga mbak Cessie."


"Oke, semua bisa diatur. Asalkan kau menepati ucapanmu itu." Shifah mengangguk sembari mengabaikan tatapan yang Cessie layangkan kepadanya.


"Dek, kenapa kau menerimanya?! Kau tidak lupa kan kalau dia ini yang hampir menyelakakanmu beberapa tahun yang lalu!"


Shifah tentu tidak akan pernah lupa akan tindak kejahatan yang Dewo lakukan kepadanya 3 tahun yang lalu. Tapi, Shifah bisa apa dengan kondisinya saat ini. Dia berpikir rasional saja, dirinya tak punya uang sebanyak itu untuk melunasi semua hutang keluargnya.


Dan Shifah amat tahu kalau Dewo adalah sosok yang tak akan pernah tinggal diam atas apa yang dia inginkan. Terlebih Shifah tahu sendiri bagaimana nekatnya seorang Dewonggo Arjuna itu. Kalau sampai Dewo nekat mencelakai keluarga Ardhinata, Shifah tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Disaat perasaan gembira dihati Dewo melambung, ada saja yang menganggu kesenangannya. "Aku akan melunasi semua hutang keluarganya Shifah malam ini juga."


Semua pasang mata menatap terkejut terlebih lagi Shifah yang menatap tak percaya pada orang yang barusan bersuara itu. "Apa maksudmu anak kecil!" dengus Dewo yang merasa tak senang bila rencananya untuk menikahi Shifah diganggu.


"Aku bilang, aku akan melunasi semua hutang keluarganya Shifah malam ini juga. Dan itu artinya kau tidak bisa memaksa Shifah untuk menikah denganmu."


"Kau serius, Wil?" Pertanyaan itu datang dari mulut kakaknya. Dia sungguh tak percaya kalau adiknya akan bicara seperti itu. Terlebih dia juga tidak tahu motif apa yang membuat Wilson berani bicara seperti itu.

__ADS_1


Wilson menatap kakak pertamanya itu dengan pandangan yakin. "Ya, aku serius saat aku bilang akan melunasi semua hutang - hutang itu. Apa kakak meragukan ucapanku?" Sejenak Jackson terdiam sebelum memberikan gelengan kepada adiknya ini.


Dewo menatap sengit kearah Wilson yang berniat menghalangi rencananya untuk mendapatkan Shifah. "Buktikan ucapanmu kalau kau memang ingin melunasi semua hutang keluaranya Shifah."


Wilson tetap bersikap tenang saat ditatap dengan aura permusuhan yang begitu besar dari Dewo itu. Tangannya merogoh kesaku jasnya dan mengeluarkan selembar cek yang berisi nominal 4,5 M itu. "Ini, sudah tertera sebanyak 4,5 M seperti yang kau minta tadi."


Meskipun enggan, Dewo tetap mengambil cek itu untuk membuktikan ucapan Wilson tadi. Tatapannya semakin menajam begitu menyadari kalau cek yang berada di dalam gengamannya ini adalah asli.


"Jadi urusannya sudah selesai, kan? Hutang keluarga Shifah sudah lunas. Dan kuharap Anda tidak lagi menganggu Shifah dan keluarganya." Dewo mengepalkan kedua telapak tangannya dengan ekspresi mengeras.


"Jangan kira aku akan menyerah sampai sini. Kedepannya kita lihat apa yang akan terjadi." Setelah mengatakan hal itu, Dewo langsung pergi tanpa pamit meninggalkan ruangan yang mendadak hening.


...( *  _  * )...


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau sampai bertindak sejauh ini. Uang sebanyak itu kenapa kau gunakan untuk melunasi hutang keluargaku? Kenapa kau melalukan itu?"


Jelas kalian tahu siapa yang barusan berbicara dan dengan siapa dia bicara.


"Itu semua aku lalukan karena aku tidak ingin kau menikah dengan laki - laki itu."


"Lalu apa masalahnya? Lagipula aku yang akan menikah dengan dia."


"Karena aku mencintaimu. Aku tidak rela kau menikah dengan laki - laki lain, selain aku."


Ucapan itu tentu saja memgejutkan Shifah yang tadi menarik Wilson untuk berbicara empat mata dengannya. "Kau mencintaiku? Sejak kapan?"


Wilson menggeleng pelan. "Aku sendiripun tak tahu perasaan itu sudah tumbuh sejak kapan. Tapi yang jelas aku sunguh mencintaimu." ucap Wilson dengan sorot kesungguhan dimatanya. Dan Shifah bisa melihatnya saat ini.


Namun hal itu malah semakin membuat Shifah merasa tak enak hati. Sebab saat ini hatinya telah diisi oleh orang lain. "Tapi tidak harus dengan cara seperti ini. Dengan kau yang membayar semua hutang itu, malah membuatku dalam posisi sulit."


"Kau tak perlu memikirkan masalah uang itu. Aku ikhlas membantumu dan aku juga tak mengharapkan balasan apapun darimu."


"Karena hal itulah yang membuatku merasa tak enak kepadamu. Terlebih aku tidak bisa membalas perasaanmu itu." Sungguh Shifah tak bermaksud untuk membuat Wilson sakit hati. Hanya saja perasaan tak bisa di paksakan begitu saja.


Sorot mata Wilson nampak sedikit meredup. Tersirat kekecewaan di balik matanya, begitu mendengar ucapan Shifah barusan. "Tidak perlu di pikirkan. Aku sendiripun tahu kalau perasaanmu saat ini tertuju pada kakakku."


Apa yang Wilson katakan tentu kembali mengejutkan Shifah. Dirinya tak menyangka kalau perasaan sukanya pada Jackson telah di ketahui oleh orang lain. Terlebih pada seseorang yang barusan mengatakan perasaannya kepadanya.


"Ku harap kita masih bisa berteman dan kau jangan menghindariku seakan aku ini musuh bagimu."


Pembicaraan mereka terhenti sampai sini, karena keduanya diajak pulang kerumah masing - masing. Meninggalkan dua perasaan yang entah akan berlabuh bagaimana nantinya.

__ADS_1


...OoOoOoOoOoO...


...Selesai deh part flashbacknya....


__ADS_2