
Kini keduanya berada di sebuah ruangan yang cukup sepi dan jarang dilalui oleh orang. Jasmine berdiri sambil menatap bertanya pada Aurora yang kini menatapnya datar.
"Tak ku sangka, ternyata kau cukup pintar juga, ya."
Jasmine menaikkan alisnya bingung. "Maksudmu?"
"Jangan pura - pura polos. Kau memang sengaja merencanakan ini, kan."
"Merencanakan apa?"
Aurora memutar bola malas. "Kau sengaja memaksa daddy untuk segera menikahimu, kan? Dan kau pasti senang dengan semua ini, kan?"
"Jadi kau pikir aku yang merencanakan ini semua. Kau salah besar. Bahkan aku terkejut mendengar ucapan daddymu itu.
"Hahaha, Bullshit. Kau pikir aku tidak tahu pikiran busukmu itu. Orang miskin sepertimu itu pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan emas seperti ini!" Nada bicara Aurora naik satu oktaf.
Jasmine mengatur napasnya agar tidak terbawa emosi. Lagipula hinaan seperti ini sudah sering Jasmine dengar. Dia tahu kalau ia hanya orang miskin. Lantas apa itu sebuah kesalahan? Tentu saja tidak.
"Terserah kau mau bilang apa. Apapun yang aku katakan akan selalu salah di matamu."
Jasmine berbalik memunggungi Aurora yang terlihat masih kesal padanya itu. Lagipula yang kesal kan si Aurora. Lalu apa hubungannya dengan Jasmine.
Baru beberapa langkah berkalat, suara Aurora kembali terdengar membuat langkah Jasmine terhenti.
"Batalkan semua rencana pernikahan daddy denganmu itu. Ingat perjanjian yang sudah kita sepakati ini. Kau hanya menjadi pacar pura - pura daddyku. Bukan jadi istri daddyku." Tekannya pada kata pura - pura itu.
Menghela napas panjang, Jasmine menjawab singkat. "Ya." Setelahnya Jasmine kembali melangkah untuk menemui Venson. Dan tentu saja membicarakan pembatalan rencana pernikahan ini.
...OoO...
Sudah beberapa hari terhitung dari kejadian kemarin. Kini Jasmine tengah melamun di tempat kerjanya itu. Untungnya ini adalah jam makan siang. Jadi dia ada waktu beberapa menit untuk istirahat.
Setelah pembicaraannya dengan Aurora waktu itu, Jasmine benar - benar bicara pada Venson tentang membatalkan rencana pernikahan yang dibuat oleh Venson itu.
Tapi penolakan keras didapatkan oleh Jasmine. Bahkan Venson langsung mendiaminya dan menyuruh supirnya untuk mengantar Jasmine pulang. Jasmine memang tidak masalah akan hal itu.
Tapi, kenapa rasanya sangat tidak nyaman sekali hanya karena abaian dari Venson itu. Padahal hubungan keduanya juga didasari oleh kesalahpahaman.
Seharusnya Jasmine senang tidak dihubungi lagi oleh Venson. Dan itu akan mempermudah pembatalan pernikahan. Itu memang seharusnya. Tapi kenapa ia merasa tak nyaman, ya.
Apa hanya karena merasa tidak enak kepada Venson. Makanya beberapa hari ini fokus Jasmine tertuju pada Venson. Jasmine sendiripun tak berani menghubungi Venson. Karena biasanya yang lebih dulu menghubungi adalah Venson.
Jangan bilang kalau Jasmine mulai ada rasa dengan ayah tiga anak itu?
Jasmine menggelang keras. Dia tidak akan semudah itu mencintai seseorang. Mungkin ini hanya perasaan tidak enak, karena sudah membuat seseorang marah sebab ucapannya itu.
__ADS_1
"Apa yang harus ku lakukan?" monolognya dalam hati.
...💥 ❇ 💥...
Disisi lain.
Seorang pria yang baru genap berusia 42 itupun tengah membaca beberapa berkas laporan yang baru saja di bawa oleh sekertarisnya. Namun tak lama terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Masuk."
Orang yang tadi mengetuk itupun segera membuka pintu tersebut dan melangkah masuk kedalam ruangan bosnya.
"Sudah dapat apa yang aku minta?" Orang tadi mengangguk sambil menyerahkan amplop coklat kepada bosnya itu.
"Didalamnya sudah berisi semua data yang tuan inginkan." ucap orang itu sesaat setelah menatap bosnya itu.
"Kau boleh pergi." Orang tadi langsung mengangguk sambil berlalu keluar dari ruangan bosnya ini.
Sedangkan si bos yang tak lain adalah Venson itupun segera membuka amplop tadi. Didalamnya sudah ada beberapa lembar kertas yang berisi data dari seorang gadis yang akan dia nikahi ini.
Senyum cerah mulai menghiasi bibir Venson begitu melihat deretan kalimat yang menyatakan kalau gadisnya itu belum pernah memiliki pacar. Itu artinya hanya dialah pacar pertama dari Jasmine itu.
Dibacanya kalimat selanjutnya yang menyatakan kalau Jasmine tengah bekerja disebuah apotek di dekat rumah sakit, dimana dia pernah dirawat disana.
Senyum cerahnya berubah ketika mengetahui bahwa kekasihnya itu sudah yatim piatu dan sekarang tinggal di sebuah panti bersama ibu angkat dan adik - adik angkatnya itu.
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Aku akan segera menikahimu. Apapun jawabanmu nanti aku pastikan kau tidak bisa lari dariku." ucapnya sambil menyeringai.
...❇ 💥 ❇...
Setelah melaksanakan shalat maghrib bersama. Kini Jasmine sudah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Namun untuk hari ini, menu makan malam hanya ada nasi dan 4 telur dadar.
Persediaan bahan makanan hanya tinggal itu saja. Bahkan bumbu dapur pun hanya ada garam dan micin. Gaji bulanan bulan kemarin sudah habis untuk kebutuhan sehari - hari. Dan bulan ini Jasmine belum gajian karena belum tanggalnya.
2 hari lagi dia baru bisa mendapat uang gajinya. Dan untuk 2 hari kedepan, Jasmine masih memikirkan apa yang bisa ibu dan adik - adiknya makan.
Saat sedang asyik melamun, tepukan pelan di bahunya membuat Jasmine menoleh. "Eh, ibu."
"Kenapa melamun begitu?" tanyanya pada Jasmine yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu.
Jasmine menggeleng pelan. "Tidak ada, Bu." Bu Lia tahu kalau putrinya itu berbohong. Tapi dia tidak bisa memaksa Jasmine untuk cerita tentang apa masalahnya itu padanya.
Dan arah pandangannya tertuju pada nasi dan lauk yang sudah dibuat oleh Jasmine itu. Helaan napas terdengar dari bibir bu Lia.
Mendengar helaan itu, membuat Jasmine mengikuti arah pandangan dari ibunya itu. Langsung saja dia berucap. "Ibu tidak perlu khawatir. Besok ibu dan adik - adik akan makan makanan yang enak. Jasmine janji akan membelikan itu semua untuk kalian."
__ADS_1
Mendengar perkataan itu malah membuat Bu Lia berkaca - kaca. Melihat hal itu membuat Jasmine segera memeluk ibunya itu. "Ibu jangan menangis. Jasmine sedih melihatnya."
Pelukan ibu dan anak itu tercipta. Dengan Bu Lia membalas pelukan yang Jasmine berikan padanya itu. "Terimakasih, Nak. Ibu tidak tahu lagi kalau seandainya kita tidak bertemu waktu itu."
Memori ingatan Jasmine langsung tertuju pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Dimana dirinya bisa bertemu dengan ibu yang sebaik ini. Padahal saat itu, kondisi bu Lia juga tidak dalam kondisi baik.
Bahkan walaupun dalam ekonomi sulit pun, Bu Lia masih mau menampung dan merawatnya sampai sekarang ini.
Pelukan itu terlepas, begitu Jasmine merasakan kalau ujung pakaiannya ada yang menarik. Dilihatnya si Micho yang barusan menarik pelan pakaiannya itu.
"Ada apa, sayang."
"Diluar ada yang ketuk pintu, Kak. Tapi kami semua nggak berani buka."
Bu Lia dan Jasmine memang mewanti - wanti pada semua anak dirumah ini. Bila ada yang ketuk pintu itu jangan langsung dibuka. Harus nunggu Bu Lia atau Jasmine yang buka.
"Ya, sudah. Kamu suruh yang lainnya ke tempat makan, ya. Kakak mau bukain pintunya dulu." Setelah mengatakan hal itu pada Micho, Jasmine langsung menatap kearah ibunya.
"Ibu juga ke tempat makan. Ibu bawa lauknya, biar Jasmine bawa nasinya." Setelah mengatakan hal itu, Jasmine melangkah ketempat makan. Dan meletakkan nasinya disana.
Dia lanjut menuju kearah pintu utama sambil menerka, siapa yang datang berkunjung. Dibukanya pelan pintu itu dan matanya langsung terbelalak, begitu tahu siapa yang saat ini berdiri di depannya.
"Kamu?"
Sedangkan orang tadi hanya tersenyum melihat wajah shyok dari sang kekasihnya itu. Dan kalian benar. Orang tadi adalah Venson.
"Aku tidak disuruh masuk?" Dengan rasa terkejutnya itu. Dia mempersilakan Venson untuk masuk kerumahnya itu. Dan Jasmine dibuat lebih terkejut lagi dengan kehadiran ketiga anak dari seseorang yang menyandang sebagai kekasihnya itu.
"Kalian semua kesini?" tanyanya tak percaya dengan yang dia lihat. Mungkin tadi sangking terkejut, Jasmine sampai tidak menyadari kehadiran ketiganya.
Belum selesai keterkejutannya. Tiba - tiba datang beberapa orang sambil membawa banyak kotak yang berisi makanan. Dan jangan lupakan beberapa kilo bahan makanan yang kini hampir memenuhi ruang tamu rumahnya itu.
"U--untuk apa semua ini?" Sempat terbata diawal ucapannya. Tapi Jasmine tak mengalihkan pandangan dari keempat orang yang kini ada di depannya itu.
"Siapa yang bertamu, Jasmine?" Suara itu milik bu Lia yang bertanya pada Jasmine, sebab dia dan yang lainnya mendengar suara benda - benda ditaruh di lantai.
Belum sempat Jasmine bicara, Bu Lia sudah ada dibelakangnya sambil menatap bingung pada semua bahan makanan dan puluhan kotak makanan itu.
"Maaf, kalian ini siapa, ya? Temannya Jasmine? Lalu untuk apa semua ini?" Pertanyaan bertubi - tubi itu dilayangkan oleh Bu Lia pada keempat tamunya itu.
"Perkenalkan, saya Venson dan ini anak - anak saya. Dan saya ini adalah ..."
...Nasib Jasmine gimana nih, Guys?...
......OoO......
__ADS_1
...Double Up💥...