
Dua resepsionis tadi segera membungkukkan badannya, ketika tahu siapa yang baru saja bersuara itu. Siapa lagi kalau bukan bos mereka yang tak lain adalah Mr. Stevenson.
"Kenapa masih disini?" Jasmine melirik sebentar kearah kedua resepsionis itu. Tampak jelas keduanya membeku dan gelisah begitu tahu kalau orang yang ingin mereka usir itu adalah tamu dari bosnya.
"Maaf, aku baru sampai." Ucapnya sambil tersenyum kecil. Lagipula Jasmine terlalu malas untuk mengadukan sikap kedua resepsionis itu pada Venson. Memangnya apa untungnya bagi Jasmine? Tidak ada, kan?
Melihat senyum di bibir sang kekasih membuat Venson juga ikut tersenyum. "Kalau begitu, sekarang kau ikut aku, ya."
"Kemana?"
Bukannya menjawab, Venson malah mengait tangan Jasmine untuk ikut bersamanya. Jasmine tidak menolak, tapi pikirannya mengelana tentang akan kemana Venson itu membawanya itu.
Sedangkan kedua resepsionis tadi menghela napas lega, begitu tahu mereka tidak diadukan kepada bos mereka. Kalau hal itu sampai terjadi, mungkin bisa saja keduanya langsung dipecat detik itu juga.
...❇ 💥 ❇...
Ternyata Venson membawa Jasmine menuju ke sebuah untuk ternama. Saat di mobil tadi, Venson sama sekali tidak memberitahu kemana tujuan mereka pergi. Dan sekarang Jasmine tahu kemana Venson membawanya pergi.
"Pilihlah yang kau suka." Jasmine menatap kearah Venson.
"Memangnya kita mau kemana? Dan untuk apa aku memilih gaun disini?" Jasmine menanyakan hal itu sambil berbisik. Sebab salah satu pelayan yang tadi menyambut mereka, tengah berada tak jauh dari keduanya.
"Aku ingin membawamu ke pertemuan penting."
"Pertemuan penting apa?"
Venson menghela napas sebentar begitu menyadari kalau kekasihnya itu tipe orang yang banyak bertanya. Venson memegang baju Jasmine dan mengarahkannya menuju ke salah satu gaun yang ada disana.
"Nanti kau juga tahu. Sekarang kau pilih gaun saja. Mau yang ini?" tawaranya sambil menunjuk gaun di depannya itu.
Jasmine menatap gaun di depannya yang terlihat seperti gaun pengantin. "Untuk apa gaun seperti itu. Aku kan tidak ingin menikah sekarang."
Gaun yang ada di depan Jasmine saat ini memanglah gaun pernikahan dengan model mengembang dibagian pinggang kebawah.
"Benar juga, ya. Ya, sudah. Kau mau pilih yang mana." Setelah itu Jasmine mulai menyusuri rak - rak yang tergantung pakaian bermerk.
Walaupun Jasmine bukan fashionista. Tapi sedikitnya dia tahu benda - benda branded itu. Sekilas jasmine menoleh pada harga yang tertera di setiap pakaiannya.
Dirinya dibuat shok dengan harga yang dituligs disana. Rata - rata berdigit 6 atau 7. Bisa bayangkan berapa mahalnya pakaian disini.
Bahkan gajinya selama sebulan pun rasanya hanya bisa membeli 1 pakaian saja disini. Bahkan Jasmine terus dibuat terkejut dengan harga yang dia lihat.
Tiba - tiba matanya tertuju pada satu gaun berwarna biru dongker. Gaun itu terlihat lebih sederhana dari gaun yang lain. Namun secara bersamaan terlihat elegan.
"Kau mau yang itu?" Tunjuknya pada gaun yang saat ini tengah Jasmine perhatikan. Jasmine langsung menatap kearah Venson yang barusan bersuara itu.
"Tidak u--" belum sempat Jasmine melanjutkan ucapannya. Venson sudah menyuruh pelayan tadi untuk memberikan gaun itu pada Jasmine.
Jasmine hanya diam ketika Venson sama sekali tidak menanggapi kodenya agar tidak membeli gaun itu.
...❇ 💥 ❇...
Sebuah nama hotel terkenal terpampang nyata dihadapan Jasmine. Tanpa diberi waktu untuk berfikir kenapa malah pergi kesini. Tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Venson.
__ADS_1
Kini keduanya mulai melangkah menuju kedalam hotel tadi. Banyak pertanyaan yang ingin Jasmine ajukan pada Venson. Tapi mengingat kedekataan keduanya yang tak lebih karena kesalahpahaman, membuat Jasmine mengurungkan niatnya.
Lagipula kalau Venson berniat macam - macam padanya. Jasmine pasti akan melawan dan meninjunya. Gini - gini, Jasmine lumayan bisa bela diri.
Kini keduanya berada di dalam lift. Venson memperhatikan Jasmine yang terlihat sangat manis ini. Senyum simpul terbit di bibir Venson ketika mengingat kejadian tadi. Dimana Jasmine berulang kali mengodenya agar memberitahu kemana tujuan mereka. Tapi diacuhkan olehnya.
Tanpa aba - aba, Venson langsung menggenggam tangan Jasmine yang terlihat kecil di telapak tangannya itu.
Merasakan genggaman di telapak tangannya membuat Jasmine menoleh dan menatap kearah tangannya itu.
Disana dia melihat kalau Venson tengah mengenggam telapak tangannya. Sebenarnya Jasmine tidak nyaman dengan posisinya saat ini.
Dengan banyaknya pikiran yang dia pikirkan dan belum menemukan jawabannya. Ditambah lagi dengan skinskip yang dilakukan oleh Venson padanya itu.
"Masih marah?" tanya Venson pada Jasmine.
"Tidak."
Jasmine mengucapkan hal itu sambil menatap lurus kearah depan. Venson melepaskan genggaman tadi ketika pintu lift sudah terbuka.
Baru saja Jasmine ingin melangkah, tapi ditahan oleh Venson. Lantas Jasmine berbalik menatap kearah Venson.
"Apa?" tanyanya tak mengerti.
Venson langsung membuat sikap seperti setengah berkacak pinggang, mengode Jasmine agar melingkarkan tangannya di lengannya itu.
Jasmine yang memang tidak ngeh pun, kembali mengulang pertanyaannya itu.
"Apa sih?"
Lantas Jasmine mengikuti langkah sang kekasihnya itu, sambil mencerna apa maksud dari tatapan Venson tadi. Dan begitu tahu apa yang diinginkan Venson tadi. Jasmine menambah kecepatan langkahnya agar bisa mengimbangi langkah Venson itu.
Venson memang berjalan lebih dulu. Tapi bukan berarti dia meninggalkan Jasmine begitu saja. Lagipula langkah keduanya hanya terpaut 1 meter.
Saat hampir sampai di tempat tujuan, Venson merasakan kalau ada tangan yang memegang lengannya itu. Baru saja dia ingin bersuara. Tapi keduluan oleh Jasmine.
"Harusnya langsung bilang saja kalau mau digandeng. Nggak perlu pakai kode - kode segala."
Venson tersenyum mendengar suara Jasmine yang saat ini sedang menggenggam lengannya itu. Sangking gemasnya dengan calon istrinya itu, Venson langsung mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Jasmine.
Jasmine tersentak kaget akibat kelakuan tak terduga dari Venson ini. Sekali lagi, Jasmine itu jarang sekali skinskip dengan lawan jenis. Paling kalau lawan jenis hanya pada adik - adiknya saja. Bukan dengan duda beranak tiga begini.
"Sebenarnya kita mau apa disini?" Jasmine menanyakan hal itu untuk mengalihkan perhatiannya akibat kejadian tadi.
Dan lagi, kenapa jantungnya harus berdetak begitu cepat begini. Hanya gara - gara sebuah kecupan itu.
"Kau akan tahu nanti. Tetap bersamaku saat di dalam sana. Jangan berani melirik laki - laki lain." ucapnya sambil mengeratkan genggaman Jasmine di lengannya itu.
Jasmine hanya mengangguk pelan. Jasmine juga sudah mulai terbiasa dengan sikap posesif yang Venson tujukan padanya itu.
Bahkan beberapa hari yang lalu, ketika keduanya makan malam bersama di kafe. Jasmine diceramahi panjang lebar oleh Venson, hanya gara - gara Jasmine membalas senyum pelayan di kafe tersebut.
Sungguh meresahkan sekali sikap posesifnya itu.
__ADS_1
Pintu didepan mereka terbuka oleh seorang pegawai yang memang bertugas sebagai penjaga pintu depan. Setelah dipersilahkan, Venson dan Jasmine melangkah memasuki ruangan tersebut.
Ternyata didalam ruangan ini sudah banyak orang. Dan Jasmine tebak, kalau mereka semua ini adalah kolega dari Venson.
Mata Jasmine tak sengaja menemukan keberadaan ketiga orang dengan pakaian yang elegan yang mana makin menambah ketampanan dan kecantikan mereka.
Yups, ketiganya tak lain adalah anak dari pria disampingnya itu. "Itu anak - anak." bisik Jasmine pelan. Lagipula kenapa semua orang menatapnya begitu sih.
Memang setelah masuk tadi, keduanya langsung menjadi pusat perhatian. Dan hal itu membuat Jasmine merasa tidak nyaman.
Venson menoleh kearah Jasmine, bisa dia lihat kalau Jasmine terlihat risih dengan pandangan tamu yang ada di ruangan ini.
Tiba - tiba Venson berdehem cukup keras membuat banyak pasang mata mulai mengalihkan pandangan mereka ke lain arah. Mereka tahu, kalau deheman tadi ditujukan pada mereka agar tidak lagi menatap kearah sang pemilih acara.
"Tidak perlu di memperdulikan." Venson membawa Jasmine mendekat kearah ketiga anaknya itu. Setelah berada di depan sang anak. Venson mulai mendudukan Jasmine di sebelah Wilson dan dirinya sendiri duduk disebelah Aurora.
"Sudah dari tadi?" tanyanya pada ketiga anaknya itu. Ketiganya mengangguk pelan. Tapi tatapan Aurora sangat tajam menatap kearah Jasmine. Posisi keduanya saling berhadapan. Sebab posisi duduk dan meja didepan mereka berbentuk lingkaran.
Jasmine yang memang tahu akan tatapan Aurora itupun hanya mengabaikannya. Lagipula apa untungnya kalau dia meladeni sikap sinis Aurora padanya itu.
Tiba - tiba Venson berdiri sambil memukul pelan gelas dengan sendok itu. Hal itu mengalihkan eksistensi para tamu menjadi kearah Venson.
"Selamat malam semuanya. Sebelumnya saya mau mengucapkan terimakasih atas kehadiran kalian semua disini. Acara ini sebagai perayaan ke 25 tahun berdirinya perusahaan."
Semua hadirin bertepuk tangan mendengarnya. Venson kembali melanjutkan ucapannya. "Selain itu juga, saya ingin memberitahukan pada kalian semua, bahwa dalam waktu dekat ini saya akan menikah dengan seseorang yang sangat saya sayangi. Tentu saja setelah ketiga anak saya."
Keempat orang yang duduk disekitar Venson pun tersentak kaget. Apalagi ketika tangan Venson terulur kearah Jasmine. Dengan kikuk Jasmine meraihnya dan mulai berdiri dari posisinya itu.
"Dan inilah calon istri saya." Senyuman di bibir Venson tertuju pada calon istrinya itu. Sedangkan Jasmine membalasnya dengan senyum tipis.
Kembali tepuk tangan itu terdengar dengan diiringi ucapan selamat dari mulut kolega Venson itu.
Sejujurnya Jasmine masih terkejut dengan ucapan Venson tadi. Apa Jasmine salah dengar, ya? Kalau tadi Venson bilang akan melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat?
Dalam waktu dekat loh, ya?!
Setelah diperkenalkan pada beberapa kolega, Jasmine memilih undur diri dengan alasan berniat ke toilet. Sebenarnya itu hanya alibi dirinya saja agar tidak terlalu lama terjebak dalam suasana canggung itu.
Ketika akan memasuki kamar mandi. Sebuah tangan menarik tangannya kasar. Hal itu membuat Jasmine menoleh kearah sang pelaku. Dan ternyata sang pelakunya adalah calon anak tirinya itu.
Memikirkan saja membuat Jasmine bergidik.
"Ada apa?" tanyanya pada satu - satunya putri seorang Stevenson itu.
Bukannya menjawab. Aurora malah menyeret Jasmine untuk ikut dengannya. Ingin rasanya Jasmine menarik paksa tanyanya itu. Tapi sepertinya ada hal serius yang ingin dikatakan oleh Aurora itu.
Kira - kira apa yang ingin di bicarakan oleh Aurora itu?
........OoO........
__ADS_1