
...( * _ * )...
Pagi - pagi sekali, seorang pemuda nampak berjalan dengan tergesa - gesa menuju ke sebuah kamar hotel. Begitu sampai di depan pintu kamar no. 312, pemuda tadi tampak ragu untuk membunyikan bel.
Namun apabila dia tidak bergegas memberitahukan masalah ini pada sang pemilik kamar, bisa - bisa nyawanya yang jadi taruhannya. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
Dengan memantapkan hati dan pikirannya. Pemuda tadi mulai menekan bel tersebut. Detak jantungnya semakin menggila tiap detiknya. Pemuda itu mulai merapalkan dia agar nyawanya tidak jadi taruhannya.
Tak butuh waktu lama, pintu itu terbuka menampilkan seorang pria matang dengan wajah mudanya itu. "Ada apa pagi - pagi kemari?" tanya sosok itu sambil menatap sekertarisnya itu.
Pemuda tadi tampak gugup, bahkan untuk menjelaskan alasanya sampai harus membangunkan bosnya itu di pagi buta pun begitu susah dia utarakan.
"Apa apa, Drian? Ada masalah?"
Adrian, selaku sekertaris dari Stevenson pun mengangguk. "Iya, Pak Steve. Ini menyangkut putri Bapak." Mendengar hal itu membuat raut wajah Venson berubah. Ada kecemasan yang tergambar jelas di wajah Venson.
"Masalah apa?" tanyanya tak sabaran.
Sebelum itu, Drian mengambil napas panjang dan menjelaskan masalah apa yang menyangkut nona mudanya itu. Raut kearah langsung tergambar jelas diwajah Venson. Bahkan dia tak lagi mendengarkan penjelasan dari sekretarisnya itu.
"Kita pulang sekarang juga." ucap Venson dingin. Mata Drian terbelalak mendengar perintah itu. "Tapi bagaimana dengan meeting bersama Mr. Kim?"
Pasalnya meeting yang akan dihadiri oleh Venson beberapa jam lagi itu akan membahas proyek yang bernilai jutaan dollar. "Reschedule, kalau tidak bisa maka batalkan saja." Ucapan itu bernada tajam dan tak terbantahkan, membuat Drian mengangguk kaku.
...{ ¥ }• {✓}...
Tak berbeda jauh dari kondisi Jackson yang dari pagi - pagi buta langsung bergegas kembali menuju rumahnya. Kabar yang dia dapat cukup membuat Jackson begitu khawatir dan marah pada saat bersamaan.
Semalam dia mendapat telpon dari salah satu orang kepercayaannya yang mengatakan kalau Aura baru saja mengalami tindakan pelecehan.
Terkejut tentu saja menjadI hal pertama yang Jackson alami. Sebelum rasa amarah berkobar di dadanya. Terlebih lagi pelaku pelecehan itu adalah orang yang sangat dia kenal.
Setelah menerima kabar itu, niat hati Jackson langsung ingin kembali ke rumahnya. Namun hal itu tersurutkan, lantaran posisinya saat ini yang berada jauh dari tempat tinggalnya. Bahkan untuk akses jalannya saja sulit untuk dilewati saat siang hari. Apalagi dalam kondisi matahari yang belum terbit.
Jackson harus menahan kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran serta amarahnya selama lebih dari 4 jam. Beberapa kali dia berniat menghubungi ibu sambungnya, namun di tempatnya berada mengalami susah sinyal.
__ADS_1
Tadipun dia mendapat kabar melalui alat seperti HT, namun dengan performa yang lebih canggih. Bahkan jarak hubungannya bisa beratus - ratus kilometer. Tentu saja itu bukan benda berharga murah.
Sebelum fajar, Jackson sudah lebih dulu pamit pada teman - temannya untuk kembali ke rumahnya. Tentu saja Jackson tak menjelaskan secara jujur alasan kenapa dia ingin pulang cepat.
Jackson masih memfokuskan pandangannya kearah jalanan sambil memikirkan sanksi apa yang akan dia berikan pada si pelaku. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam. Ini sudah menyangkut adiknya, maka Jackson akan pastikan orang itu tersiksa seumur hidupnya.
Sama halnya dengan kondisi seseorang yang berada dirumah tahanan. Sejak bangun dari pingsannya, orang itu memberontak minta dilepaskan. Namun tak satupun polisi yang mengubrisnya. Orang tadi kini terdiam sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil setelah ini.
"Pak, boleh saya meminjam telpon. Saya ingin mengabari keluarga saya." ucapnya pada salah satu polisi yang duduk tak jauh dari selnya itu.
Polisi tadi nampak menimbang ingin meminjamkan atau tidak. Tapi pada akhirnya dia mengizinkan orang tadi menggunakan telpon. Setelah mendapat izin, orang tadi langsung menelpon keluarganya untuk meminta bantuan.
"Kenapa semalam kau tidak menolongku? Kau harus menolongku. Sekarang aku ada disel tahanan. Pokoknya aku nggak mau tahu, bagaimanapun caranya kau harus menolongku, atau namamu akan ikut terseret." ancam orang itu pada sosok yang ditelponnya itu.
6 menit berlalu, kini orang tadi menyerahkan telpon itu kepada sang pemilik. "Terimakasih, Pak." dibalas anggukan oleh pak polisi tadi. Seringai mulai terbit di bibir orang tadi, karena bantuannya akan segera datang.
...---------{ ¥ }• {✓}----------...
"Kenapa menatapku terus?" Pertanyaan itu membuat seorang gadis nampak salah tingkah. Bahkan dengan cepat dia menyangkalnya. "Siapa juga yang menatapmu, dasar ge-er." dengus gadis itu kearah sosok 'ibunya' itu.
Jasmine bukan tanpa alasan bertanya seperti itu. Sudah sejak tadi dia sadar kalau Aura beberapa kali menatap ke arahnya. Seakan ingin bertanya namun ragu dan akhirnya hanya meliriknya saja.
Bahkan sejak pulang dari apartemen Naki, Aura nampak memandangnya dengan pandangan rumit. Bahkan Jasmine tak bisa menyimpulkan tatapan apa yang Aura berikan padanya.
Kini keduanya sudah berada di kediaman Venson. Suasana cukup semi, mungkin hanya ada pada pekerja saja. Keluarga intinya sedang berada diluar rumah.
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, lebih baik kau istirahat. Dan jangan memikirkan yang berat - berat dulu." titahnya sambil tersenyum manis.
Baru satu langkah Jasmine beranjak dari ruang keluarga, suara pelan yang Aura keluarkan mampu membuat Jasmine terdiam tanpa membalikkan badan.
"Terimakasih." cicitnya sambil membuang pandangan dari arah Jasmine berada. Setelah berhasil menguasai dirinya, Jasmine lantas berbalik.
"Kau tak perlu berkata begitu. Ini semua aku lakukan karena kau sudah menjadi tanggung jawabku. Sebagai seorang ibu, pasti tak akan rela melihat anaknya terluka apalagi dilukai oleh orang lain."
Perasaan Aura langsung hangat mendengar kalimat panjang itu. Rasanya ada kebahagiaan yang mulai menyusupi hati Aura. Perasaan hangat yang sudah lama tidak dia rasakan. Perasaan dimana dirinya bersama ibu kandungnya.
__ADS_1
Dan sekarang dia merasakan itu dari sosok Jasmine, ibu tiri yang keberadaannya sangat dia benci bahkan dia berniat menyingkirkannya dari kehidupan keluarganya.
Perasaan hangat itu tergantikan oleh perasaan sesak yang membuat Aura tak tahan untuk menangis. Menangisi kebodohan dan tindakan jahatnya selama ini. Melihat Aura yang tiba - tiba menunduk sambil menangis membuat Jasmine panik.
Segera dia melangkah mendekat kearah Aura. "Kenapa menangis, apa aku menyakitimu?" tanya Jasmine gusar. Bagaimanapun trauma Aura masih tersisa dan kini dia malah menangis dihadapannya.
Apakah ada yang salah dari kata - katanya tadi, hingga melukai hati Aura. "Maafkan aku, kalau kata - kataku tadi melukaimu. Tolong jangan menangis." bujuknya agar Aura tak lagi menangis.
Bukannya mereda, tangisan itu semakin jelas terdengar membuat Jasmine memutuskan untuk memeluk Aura sambil memberikan kata penenang.
Aura yang merasakan dekapan hangatpun memilih untuk membalas pelukan itu. Entah apa yang akan terjadi di hari esok. Aura hanya berharap akan terus merasakan pelukan hangat seperti ini.
Bodohnya dia yang lebih mengutamakan emosi daripada hati nuraninya selama ini. Padahal sejak awal kehadiran Jasmine sudah membuat suasana dirumah ini hidup. Kenapa baru hari ini dia menyadarinya.
Bolehkah Aura mendapat maaf dari sosok ibu sambungnya ini. Apakah dia masih pantas menyandang kata anak di belakang namanya, kalau tingkahnya pada ibunya saja berlawanan dengan anak lainnya.
Pelukan itu terhenti akibat suara menggelegar yang terdengar dari ambang pintu. Keduanya secara bersamaan menoleh kearah sumber suara. Pancaran kebahagiaan tercipta di kedua pasang mata dari mereka berdua.
Kerinduan jelas terpancar dari wajah Jasmine dan Aura. "Daddy." seru Aura sambil berlari mendekat menuju kearah ayahnya yang sejak beberapa hari tak dia lihat itu.
Pelukan sepasang anak dan ayah membuat hati Jasmine menghangat. Bila ditanya apakah dia kangen dengan suaminya itu. Jelas jawabnya adalah Ya, bahkan dia begitu merindukan sosok Venson.
Entah sudah berapa minggu Venson bersikap dingin bahkan secara terang - terangan menjauhinya. Dan kini Jasmine bisa melihat sosok suaminya yang begitu dia rindukan.
Jasmine berjalan mendekati suami dan anak perempuannya itu. Tapi langkahnya terhenti begitu ucapan datar yang Venson layangkan padanya itu mulai terdengar ke penjuru ruangan.
"Diam disitu. Jangan berani - berani kau mendekat kemari." ucapnya dengan sorot wajah marah. Entah kenapa Venson tiba - tiba marah seperti ini. Dan ini baru pertama kalinya dia mendapati tatapan marah dari suaminya.
Terungkapnya perjanjian yang melibatkan pernikahan mereka, tatapan Venson bukan tatapan marah seperti ini, melainkan tatapan kecewa padanya. Lantas kenapa sekarang tatapan itu yang Jasmine dapatkan.
...-----------( * _ * )------------...
...Terimakasih...
__ADS_1