Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Kian Memanas


__ADS_3

Bisa dikatakan bahwa hubungan keluarga yang Venson jaga mulai retak. Namun Jasmine masih berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.


Sekarang ini Jasmine sudah berada di kantor milik suaminya itu. Dia sengaja tidak memberitahukan kedatangannya ini pada suaminya itu. Senyum yang sejak tadi Jasmine torehkan pada beberapa karyawan yang menyapanya masih setia berada diwajahnya.


Setelah sampai dilantai yang dituju, Jasmine melangkah dengan gugup. Sebelum itu, Jasmine lebih dulu untuk menghela napas panjang guna merilekskan pikirannya. Setelah dirasa cukup, maka sapaan dia layangkan pada Drian selaku asisten dari Venson.


“Selamat siang.” sapanya sambil tersenyum.


“Selamat siang, Bu.”


“Pak Steve ada di dalam?” tanyanya yang disambut anggukan ragu oleh Drian.


“Kalau begitu saya masuk dulu, ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Drian, Jasmine lebih dulu membuka pintu ruang kerja suaminya itu.


Namun pemandangan pertama yang dia lihat malah membatnya terkejut. Bahkan sampai membuat Jasmine mematung.


Deg


“Sudah ku katakan untuk jangan masuk Dri...” Ucapan itu tak selesai karena sang pemilik menghentikan ucapannya begitu melihat kehadirian seseorang yang dia hindari.


“Sedang apa kau disana?” Perkataan itu membuat Jasmine tersadar akan apa yang dia lihat.


“Kenapa kau melakukan ini, Mas?” ucap Jasmine sambil melangkah mendekati sang suami yang saat ini kondisinya jauh dari kata baik.


Hati istri mana yang akan tenang saja melihat suaminya minum – minum seperti ini. Baru kali ini dia melihat suaminya bersikap seperti ini.


“Jangan mendekat. Lebih baik kau pergi dari sini.” usirnya dengan menunjuk kearah pintu.


Jasmine tak mengikuti suruhan suaminya itu. Dia tetap melangkah mendekati Venson dan menarik gelas yang berada di tangan suaminya itu.


“Mas, jangan seperti ini. Lebih baik Mas marah atau bahkan memakiku daripada merusak diri Mas seperti ini.”


Isak tangis mulai keluar dari bibir Jasmnie. Dia sama sekali tidak tega melihat kondisi suaminya itu. Dia akui dirinya salah, tapi bukan seperti ini hukuman yang ingin dia dapatkan.


Setelah membereskan kekacauan yang telah diperbuat oleh suaminya itu, kini Jasmine sudah memindahkan Venson kedalam ruangan khusus yang sering digunakan vanson untuk beristirahat dengan dibantu oleh Drian.


Setelah Drian kembali keluar, Jasmine menatap lekat kearah Venson. Dia sama sekali tidak mengira kalau kedatangannya kali ini akan disambut dengan hal yang seperti ini.


“Tolong jangan lakukan lagi, Mas. Aku benar – benar tidak tega melihatmu kacau seperti ini.” gumamnya sambil menyelimuti sang suami.


Setelah itu Jasmine keluar dari ruangan untuk menelpon sahabatnya. Sejujurnya dia bingung harus bagaimana. Menjelaskan semuanya pada Venson dalam kondisi seperti ini, malah akan semakin membuatnya tak dipercaya padanya. Tapi bila dia diam saja, kondisi rumah tangganya pasti tidak akan baik – baik saja.


Selesai menelpon, Jasmine kembali keruangan dimana Venson berada. Dia berniat menjaga Venson sampai dia bangun nanti.


...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...


Aura sejak pagi tadi tak melepaskan senyummannya, sebab cepat atau lambat Aura pasti akan mendengar berita perpisahan orangtuanya itu. Dan itulah yang dia nantikan selama ini. Lagipula sebentar lagi penganggu dirumahnya akan pergi. Apalagi sekarang ayahnya sudah mulai membenci istri mudanya itu. Dan hidupnya pasti akan tenang seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Hai, guys.” sapanya pada ketiga temannya yang kini sedang berada di kantin. Ketiganya balas tersenyum sambil memakan makanan mereka masing – masing.


“Kau kelihatan ceria sekali, ada apa?” tanya Neila pada temannya itu. Senyuman di bibir cantik Aura belum hilang.


Dengan gembira dia mengucapkan “Sebentar lagi rencanku akan perhasil.”


“Rencana apa?" tanya siska penasaran.


“Rencana membuat parasit itu keluar dari rumahku.” Ketiganya mengangguk paham dengan maksud kata parasif yang diucapkan oleh Aura tadi.


“Wah, selamat ya Ra. Sebentar lagi hidupmu pasti akan...” Ucapan itu terhenti karena ada seseorang yang memanggil nama Aura.


“Aura, bisa kita bicara sebentar?” Aura mengangguk dengan senyum malu - malu diwajahnya. Sebab orang yang baru saja memanggilnya itu adalah sang pujaan hatinya.


“Kalau gitu aku duluan ya, guys.” Ketiganya menangguk sambil meneruskan acara makan mereka.


Namun tak ada yang tahu kalau salah satu dari ketiganya tampak mengepalkan tangannya erat. “Aku tak akan membiarkan kau bahagia, Aura.”


...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...


Saat ini Jasmine tengah berada di rumahnya Cessie. Dia berniat mengujungi sahabatnya itu sekaligus bersilahturahmi. Lagian dia tidak ada kerjaan dirumah. Kalaupun dia dirumah yang ada dia malah akan bertambah kesepian.


Awalnya Jasmine pikir suaminya akan mau memaafkannya. Tapi sikap Venson makin mendingin setiap harinya.


Apalagi jackson sedang tidak berada dirumah semenjak 4 hari yang lalu karena ada kegiatan kuliah. Sikap Aura tentu saja masih sama seperti sebelumnya. Sedangkan Wilson sekarang lebih sering menghindarinya. Bahkan pertanyaannya kerap kali diabaikan oleh putra keduanya itu.


“Selamat siang, nek. Nenek apa kabar?”


“Nenek baik. Kamu kenapa jarang main kesini. Nenek kangen banget sama kamu, Nak.” Kini keduanya masuk kedalam rumah sambil berbincang.


Bisa Jasmine lihat keberadaaan sahabatnya itu yang tengah berkutat dengan bumbu dapur. Sepertinya sejak nenek Asha tinggal disini, sahabatnya itu jadi bertambah feminim. Jasmine menahan tawanya begitu melihat celemek yang dipakai oleh Cessie saat ini.


Sebenarnya Cessie bukanlah orang memfavoritkan satu warna manapun. Tapi dia paling tidak bisa bila harus mengenakan pakaian yang berwarna kuning. Padahal aslinya pakaian apapun yang dia kenakan pasti akan selalu bagus.


Melhat kehadiran Jasmine membuat Cessie mendengus pelan. Bukan karena dia tidak senang sahabatnya itu datang berkunjung, melainkan dia sedikit kesal begitu melihat Jasmine menahan tawa seperti itu saat melihatnya.


“Tertawalah sepuasmu.” ujarnya sambil menyajikan makanan keatas meja makan.


Jasmine tidak tertawa melainkan hanya tersenyum geli. Dia juga ikut membantu temannya itu meletakan makanan ke meja makan.


“Kamu belum makan siangkan, makan bareng sama kita, ya.” ajak nenek Asha yang diangguki oleh Jasmine. Kini ketiganya menikmati makan siang dengan tenang.


Selepas makan, Jasmine sempat berbincang sebentar dengan nenek Asha. Setelah itu barulah dia menemui Cessie yang saat ini berada di belakang rumah. Melihat kehadiran Jasmine tak menghentikan aktivitasnya yang sedang memberi makan ikan.


“Kau ada masalah?” tebaknya yang seakan tahu kalau Jasmine memang lagi punya masalah.


Jasmine duduk disamping Cessie. Arah tatapannya tertuju pada segerombolan ikan yang tengah makan itu. Namun tidak dengan pikirannya yang saat ini tengah tertuju pada keluarganya. Sejujurnya dia bingung harus cerita dari mana, mengingat masalah yang dia punya sudah terlalu panjang.

__ADS_1


“Sebenarnya aku bingung harus bercerita dari mana.”


“Apapun yang ingin kau ceritakan, pasti aku dengarkan.” Sebelum mulai bercerita, Jasmine tampak mengambil napas panjang.


“Pernikahan yang aku jalani sebenarnya bermula dari perjanjian.” Alis Cessie bertaut mendengarnya. “Maksudmu perjanjian?”.


“Aku menikah dengan suamiku atas kesepakatan yang aku buat dengan Jackson dan Aura. Dan itu tanpa sepengetahuan dari mas Venson.”


Raut terkejut tergambar diwajah Cessie.


“Jadi maksudmu kau menikah kontrak begitu?” Jasmine mengangguk lemah.


“kenapa kau sepakati?” Sungguh Cessie bingung dengan japan pikiran sahabatnya itu.


“Dulu mereka mengancam akan menyelakakan ibu dan anak – anak panti. Makanya aku menyetujui menikah dengan mas Venson, agar mereka tidak berbuat yang macam – macam pada keluargaku.”


“Kenapa kau tidak lapor polisi saja?”


“Mereka juga menjebakku dan mengatakan aku mencuri barang dirumah mereka pada satpam komplek. Bahkan aku hampir dibawa ke kantor polisi oleh satpam tersebut.”


“Memangnya kau pernah kerumah mereka sebelumnya?” Jasmine menggeleng tapi kemudian menangguk. Hal itu malah membuat Cessie bingung.


“Jadi maksudmu apa?”.


“Mereka pernah menyulikku dan membawaku ke rumah mereka. Awalnya mereka bicara baik – baik dengan memintaku menjadi pacar ayahnya. Namun mereka marah saat aku menolaknya. Dan mereka juga menghinaku, tentu aku juga ikut kepancing.”


“Saat aku keluar dari rumah mereka dan hampir sampai ke pos satpam. Satpam tadi malah menahanku atas tuduhan pencurian. Dan pelaku penfitnahan itu adalah mereka berdua.”


Sampai disini saja, Cessie sudah dibuat pusing dengan masalah yang dihadapi oleh Jasmine. “Dan sekarang mas Venson jadi tahu perihal perjanjian itu.”


“Astaga. Masalahmu begitu rumit ternyata.”


Jasmine hanya menatap sendu sahabatnya itu. Mau bagaimanapun keadaan tak bisa di putar kembali. Dan yang harus Jasmine hadapi adalah bagaimana menuntaskan masalah ini sampai ke akarnya.


“Lalu aku harus bagaimana. Mas Venson masih marah dan bahkan tidak mau menanggapi ucapanku.” Setetes air mata turun dari mata Jasmine. Dia menjadi lemah bila menyangkut masalah keluarganya yang tak kunjung usai ini.


“Jujur padaku, kau sudah menyukai suamimu itu?” Jasmine langsung mengangguk. Bahkan sebelum pernikahan, Jasmine sudah memantapkan hatinya untuk mencintai suaminya itu.


“Bahkan aku sudah sangat mencintainya, Cess. Apa yang harus aku lakukan?” Tak tega melihat Jasmine menangis di depannya, Cessie langsung merengkuh sang sahabat dalam dekapannya.


“Coba nanti kau jelaskan pelan – pelan padanya. Pasti dia akan paham alasanmu membuat kesepakatan seperti itu.” Cessie mencoba memberi saran agar Jasmine bisa menyelesaikan masalahnya. Walaupun dia sendiri belum yakin, sarannya itu apa akan berhasil.


...( *  _  * )...


...Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam kalian semua😊😇...


...Masih adakah yang menunggu cerita ini tuk berlanjut?👀...

__ADS_1


__ADS_2