Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
28. Masalah Baru


__ADS_3

Mendadak sore ini, Venson harus pergi keluar kota untuk mengurusi kantor cabang. Berhubung ini dadakan, jadi Venson tidak sempat mengajak Jasmine untuk ikut bersamanya.


Dan Jasmine tentu saja memaklumi apa yang telah menjadi kesibukan suaminya itu. Lagipula dirinya juga tidak marah, hanya karena tidak diajak.


Dan karena Venson tidak ada dirumah, suasana rumah terbilang cukup sepi. Sebab setelah makan malam bersama, Aurora langsung kembali ke kamarnya. Sedangkan Jackson pergi keluar tanpa pamit padanya.


Jasmine pun hanya berdua dengan Wilson di ruang keluarga. Para pelayan dirumah sudah kembali ke rumah belakang. Sebab pekerjaan mereka sudah selesai.


"Kau lanjutkan dulu mengerjakan pr-nya. Mama mau bikin coklat panas dulu."


Wilson mengangguk pelan. "Tolong buatkan untukku sekalian, Ma." Ucapan itu dibalas anggukan oleh Jasmine.


Kini dirinya berjalan menuju dapur untuk membuat coklat panas. Dirinya membuat 3 gelas coklat panas untuknya dan kedua anaknya. Selesai membuat minuman, Jasmine langsung menuju ketempat Wilson berada.


"Silahkan diminum." Jasmine meletakkan segelas coklat panas di samping buku Wilson. "Terimakasih, Ma." balas Wilson kepada mamanya itu.


"Mama keatas dulu, ya." Wilson mengernyit pelan ditambah dengan membawa dua gelas coklat panas itu. "Kau ngapain, Ma?"


"Ngasihin ini ke kakakmu. Dia kan suka sekali dengan coklat panas." Wilson pun hanya ber'oh' ria.


Kini Jasmine naik ke lantai dua untuk bisa sampai ke kamar Aurora. Begitu sampai di depan kamar Aurora, segera saja Jasmine ketuk pintu di depannya itu.


"Aura, kau sudah tidur?" Tak ada sahutan dari dalam, membuat Jasmine sedikit bingung. Sebab setahunnya jam segini bukan jam tidurnya Aurora. Mungkin satu setengah jam lagi, baru memasuki jam tidurnya Aurora.


Diketukan ketiga pun masih sama, tidak adanya sahutan dari dalam kamar Aurora. Di bukannya knop pintu tersebut untuk memudahkan Jasmine masuk kedalam kamar Aurora.


Bisa Jasmine lihat kalau Aurora tengah fokus pada ponselnya. Dan jangan lupa dengan keberadaan earphone yang berada di kedua telinga Aurora itu.


"Ra, aku bawakan coklat panas untukmu. Diminum, ya." ucap Jasmine sambil meletakkan segelas coklat panas diatas balas samping ranjang.


Sepertinya Aurora terlalu asyik dengan dunianya itu, sampai - sampai panggilan darinya diacuhkan olehnya itu. "Ra, nanti coklat panasnya di minum, ya."


Perkataannya barusan mampu membuat Aurora menoleh ke arahnya. Dia langsung menatap datar kearah Jasmine yang sudah berani - beraninya masuk kedalam kamarnya itu.


"Ngapain kau disini?" Jasmine tersenyum maklum begitu mendengar nada datar dari anak keduanya itu.


"Nganterin ini." Aurora menatap kearah segelas coklat panas yang masih mengepul itu. "Bikinan siapa?" Jasmine kembali tersenyum kecil. "Bikinan bibi."


Mendengar hal itu, Aurora hanya mengangguk sekilas kemudian kembali kreatifitasnya tadi. "Jangan lupa diminum, ya." Aurora tak membalas ucapan itu, walaupun dia dengar apa yang diucapkan oleh Jasmine tadi.


Jasmine pun langsung melangkah menuju pintu dan kembali menutup pintu di depannya dengan pelan. Sebenarnya minuman tadi, Jasmine yang membuatnya. Tapi Jasmine sengaja bilang kalau itu buatan bibi, kalau tidak begitu. Pasti minuman itu malah akan dibuang oleh Aurora seperti beberapa waktu yang lalu.


***

__ADS_1


Telpon rumah berbunyi agak nyaring, hingga membuat tidur Jasmine sedikit terganggu. Perlahan Jasmine mulai membuka matanya. Dia mencoba memfokuskan pandangannya kearah telpon rumah yang berada di sisi ranjangnya itu.


Jasmine mengernyit bingung ketika tidak mendengar suara dering telpon. Padahal sependengarnnya tadi, dia mendengar suara telpon. Baru saja akan kembali tidur, suara dering kembali terdengar membuat Jasmine mengurungkan niatnya untuk kembali tidur.


"Siapa ya yang malam - malam begini telpon. Apa mungkin telpon dari Mas Venson?" gumam Jasmine sambil beranjak untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo," sapa Jasmine pada orang di seberang sana.


"Iya, saya sendiri. Ada perlu apa, ya? Apa?! Baiklah, saya akan segera kesana. Terimakasih atas infonya, pak."


Setelah itu panggilan di tutup. Kini Jasmine merasa cemas dengan penyebab si penelepon menelponnya malam - malam begini.


Diambilnya sebuah cardigan lengan panjang dan berlalu pergi dari kamarnya itu. Kini Jasmine tengah menuruti tangga untuk sampai ke lantai dasar. Tapi dia baru ingat kalau dia butuh supirnya untuk mengantarnya ke suatu tempat.


Tapi masalahnya ini sudah pukul setengah 1 dini hari. Dan Jasmine juga sungkan untuk menganggu jam tidur supirnya itu. Pilihan terakhirnya jatuh pada motor matic yang tempo hari di belikan oleh suaminya itu.


Diambilnya helm dan juga kunci motor dan Jasmine segera menstater motornya itu. Begitu sampai di depan gerbang, dia sempat di hentikan oleh kedua satpamnya.


"Nyonya mau kemana malam malam begini?"


"Saya ada perlu urusan sebentar. Bisakah kalian buka pintu gerbangnya sekarang juga. Saya sedang terburu - buru."


"Tapi, Nya."


Pada akhirnya kedua satpam itu mulai membuka pintu gerbang. Jasmine tersenyum hangat kearah kedua satpamnya itu. "Terimakasih. Dan tolong jangan katakan pada siapapun kalau saya pergi keluar." pintanya pada kedua satpam tersebut.


Keduanya hanya bisa mengangguk, walaupun sebenarnya keduanya bingung dan cemas, kalau sampai ada apa - apa dengan Nyonya itu. Pasti tuan besar akan sangat marah pada mereka berdua, karena lalai dalam menjaga istri majikannya itu.


Jasmine mengendarai motor itu dengan kecepatan rata - rata. Lagipula dia juga tidak ingin membahayakan dirinya sendiri bila berkendara dengan kecepatan diatas rata - rata.


Setelah hampir 30 menit, akhirnya Jasmine telah sampai di depan kantor polisi. Suasananya pun lumayan sepi, walaupun sudah menerapkan sistem pelayanan 24 jam. Tapi tetap saja, suasananya berbeda jauh ketika masih lagi atau siang hari.


Setelah bertanya pada beberapa polisi yang sedang bertugas, akhirnya Jasmine sampai juga di depan ruangan yang menanggani anak pertamanya itu.


"Jackson." panggil Jasmine yang membuat sang pemilik nama menoleh ke arahnya.


"Anda ibunya saudara Jackson?" Jasmine mengangguk pelan. Dia masih tidak percaya kalau Jackson benar - benar ada disini. Di kantor polisi!


"Silahkan duduk, Bu." Jasmine pun duduk di sebelah Jackson yang kini mengalihkan pandangannya dari Jasmine.


"Begini, Bu. Saudara Jackson tertangkap sedang melakukan transaksi jual beli narkoba di salah satu club malam. Dan kami menemukan 8 gram narkotika jenis ganja dan Shabu ada di tangan Jackson.


Lagi - lagi, Jasmine dibuat terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh pak polisi ini. Benarkah Jackson melakukan hal tadi? Untuk apa Jackson melakukan hal itu? apa karena uang? Rasanya tidak mungkin. Bahkan ketiga anaknya itu tidak pernah kekurangan uang.

__ADS_1


"Lalu bagaimana selanjutnya, Pak?"


"Kami akan meminta keterangan dari saudara Jackson, apa benar dia mengedarkan barang haram ini atau tidak. Dan kami akan melalukan tes urin pada Jackson untuk mengetahui apakah Jackson positif sebagai pengguna atau bukan."


"Untuk sementara saudara Jackson akan kami tahan sampai hasil tes dan keterangan dari beberapa saksi menemui titik terang. Saya harap Anda sebagai ibunya tidak menghalangi prosedur yang ada."


Penjelasan tadi sudah cukup mudah di pahami oleh Jasmine. "Baiklah, Pak. Kalau memang seperti itu prosedurnya. Tapi saya mohon, jangan berlaku kasar pada anak saya ini, Pak."


Sang polisi tadi hanya mengangguk. Tak lama dia memanggil posisi lain untuk membawa Jackson ke sel tahanan. Jackson pun tak berontak dan hanya mengikuti langkah polisi yang membawanya itu.


Jasmine menghela napas panjang. Dalam pikirnya saat ini penuh dengan masalah yang di timbulkan oleh anak pertamanya itu. Dan bagaimana dia menjelaskan keadaan Jackson pada suaminya itu.


Pasti cepat atau lambat, suaminya itu akan tahu kalau Jackson harus di tahan di kantor polisi atas dugaan pengedaran narkoba itu.


Kini Jasmine melangkah mendekat ke sel tahanan dimana Jackson berada di dalamnya. Tadi dia sempat meminta pada sang polisi untuk mengizinkannya mengunjungi Jackson. Dan polisi tadipun hanya mengiyakan saja.


"Jackson," panggil Jasmine begitu sampai di depan pintu sel. Jackson pun mendongak, karena saat ini posisi tengah duduk di lantai.


Merasa panggilannya tidak di gubris, membuat Jasmine kembali memanggil nama anak pertamanya itu. "Jack, aku memanggilmu."


"Apa?" sahutnya malas.


"Apa yang dibilang oleh polisi tadi itu benar?" Jackson tak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap entah kemana.


Melihat Jackson sama sekali tidak menjawab perkataannya membuat Jasmine semakin bingung. Benarkah Jackson melakukan itu? Kalau itu benar, kenapa Jackson bisa melakukan hal itu?


Merasa Jackson tak ingin menjelaskan apa yang terjadi kepadanya, Jasmine berniat untuk pamit.


"Kalau kau tidak ingin mengatakannya, tidak apa - apa. Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Dan untuk malam ini, kau tidurlah disini dulu. Besok aku akan kesini lagi."


Tak ada tanggapan dari Jackson membuat Jasmine menghembuskan napas berat. "Selamat malam." ucapnya kemudian berlalu dari sana. Jasmine tidak menyadari, ketika dia sudah agak jauh dari jeruji besi, Jackson diam - diam menatap ke arahnya.


Entah apa yang dirasakan oleh Jackson. Tapi Jackson tahu, kalau Jasmine tulis untuk membantunya. Dan Jackson tidak habis pikir, untuk apa Jasmine repot - repot datang kesini dan berkata akan mengeluarkannya dari sini.


Padahal bisa saja, Jasmine bersikap tidak peduli atas apa yang menimpanya saat ini. Lagipula tidak ada untungnya juga buat Jasmine untuk menolongnya.


Jackson sedikit merasa bersalah pada istri muda ayahnya itu. Apakah selama ini persepsinya tentang Jasmine itu keliru? Sungguh Jackson bingung dibuatnya.


...❤  ❤  ❤...


...Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini😊....


...Untuk yang bertanya kenapa aku lama dalam Up cerita ini. Krn aku agak sibuk dengan tugas akhir alias skripsiku ini. Jadi harap maklum, ya teman - teman....

__ADS_1


...Luv You💖...


__ADS_2