Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
30. Kelakuan Pak Steve


__ADS_3

Senyum dibibir Jasmine tak kunjung sirna. Setelah kemarin malam Cessie berhasil mendapatkan bukti bahwa Jackson tidak bersalah atas tuduhan yang di dapatkannya itu. Dan kini Jasmine sudah menunggu anaknya itu bebas.


Dalam posisinya saat ini, Jasmine bisa melihat keberadaan kedua orang yang melangkah menuju ke arahnya. Dia lantas berdiri dari posisi duduknya tadi. "Selamat siang, Bu."


"Selamat siang, Pak." balas Jasmine sambil tersenyum hangat. Kedua orang itu tak lain adalah si polisi dan anak pertamanya itu.


"Sebelumnya saya dan rekan saya minta maaf atas apa yang terjadi, sebab putra anda yang ternyata tidak bersalah atas tuduhan yang kami terima itu. Kami mohon maaf atas kesalahpahaman ini." ucap pak polisi itu kepada Jasmine.


Sejujurnya Jasmine juga bingung harus bilang apa. Makanya dia hanya mengangguk kecil sebagai bentuk respon. "Untuk itu, saudara Jackson bisa bebas. Dan untuk hasil tes pemeriksaan urin, ternyata putra anda dinyatakan bersih dari segala macam narkotika."


Jasmine masih setia mendengarkan ucapan dari orang di depannya itu. "Maka saudara Jackson bisa bebas dan beraktifitas seperti sebelumnya."


"Terimakasih, Pak. Kalau begitu saya dan anak saya pamit undur diri."


Setelahnya Jasmine dan Jackson berlalu dari sana. Sejak bebas dari penjara, Jackson hanya diam saja. Bahkan saat di dalam mobil, Jackson sama sekali tidak berbicara padanya.


Hingga sampai kedalam rumah pun, Jackson sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Jasmine pun tak mempermasalahkan hal itu. Baru saja dia akan melangkah ke kamarnya. Tapi suara panggilan dari Jackson membuat Jasmine menoleh.


"Terimakasih." ucapnya terkesan cepat dan memalingkan muka dari Jasmine. Untuk yang kedua kalinya, Jasmine tersenyum lembut begitu mendengar ucapan itu.


"Sama - sama. Lain kali hati - hati dalam memilih teman, ya." Nasihatnya sambil menatap kearah Jackson.


Jackson sendiri hanya mengangguk pelan. Sebenarnya setelah mengatakan terimakasih pada Jasmine, Jackson gugup setengah mati. Sebab dirinya merasa berhutang budi pada Jasmine karena telah membantunya bebas dari penjara.


Dan ada sedikit rasa kesal plus kecewa pada orang yang sudah dianggapnya sahabat itu. Jackson hanya tidak menyangka kalau sahabatnya itu tega menjebaknya, bahkan sampai masuk kedalam penjara.


"Terimakasih sudah mau membantuku." ujarnya sambil menunduk. Kembali Jasmine mengangguk. "Yang penting kau kan sudah tidak kenapa - napa."


"Aku ke kamar dulu, ya." pamitnya pada putra pertamanya itu.


"Bolehkah aku memanggilmu mama?" ucap Jackson ragu.


...Deg...


Langkah Jasmine langsung terhenti mendengar perkataan itu. Dengan gerakan kaku, Jasmine menoleh kearah Jackson tak percaya.


"Kau bilang apa tadi?" Jasmine hanya ingin memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.


Jackson sedikit mendongak kearah Jasmine. "Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan mama?"


Rasa terharu langsung mendera hati Jasmine. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kata - kata itu akan keluar dari mulut Jackson.


Ini Jackson loh. Sosok yang sejak awal menolak mentah - mentah kehadirannya di dalam keluarga ini. Bukan hanya Jackson saja sih, tapi Aurora juga. Tapi ada apa pada putra pertamanya itu sampai ingin memanggilnya begitu?


Tak kunjung mendapat respon dari Jasmine, membuat Jackson kembali tertunduk. Baru saja Jackson akan melangkah menuju ke kamarnya. Tapi kali ini gantian suara Jasmine yang membuatnya berhenti melangkah.


"Tentu saja boleh. Kau boleh memanggilku mama, sama seperti Wilson memanggilku." Tak bisa Jasmine tutupi senyum bahagia di bibirnya itu.


Senyum di bibir Jackson juga ikut tertarik begitu mendengar ucapan istri muda ayahnya itu, yang mulai sekarang akan dia panggil dengan sebutan mama itu.


...🍁🌿🍁...


Suasana meja makan kali ini tampak berbeda dari biasanya. Dan hal itu juga di rasakan oleh Venson. Sebab biasanya dia hanya mendapati istrinya itu berbicara padanya atau dengan Wilson. Tapi kali ini Jackson juga ikut serta dalam obrolan yang dibuat istri dan anaknya itu.


Walaupun Venson merasa kalau kebahagiaannya itu belum sempurna, karena putri satu - satunya itu tak ikut dalam obrolan. Mungkin Aurora masih butuh waktu untuk menerima kehadiran Jasmine.


Mengingat Aurora lah yang paling kekeh untuk menolak pernikahannya dengan Jasmine itu. Untuk kedepannya, Venson berharap Aurora bisa menerima Jasmine sama seperti kakak dan adiknya itu.


Berbeda dengan suasana di meja makan keluarga Venson. Kini di suatu tempat, Tampak seseorang yang tengah berteriak marah dengan apa yang tengah menimpanya itu.


"Argh, sial!! Kau akan dapatkan balasannya!" umpatnya kepada seseorang yang entah siapa. Tergambar jelas arti tatapan mata dari orang itu yang kini memancarkan kemarahan yang begitu besar.


Bahkan tak jarang umpatan bahkan makian terlontar dari mulutnya. Dia bahkan tidak perduli akan teguran orang lain yang merasa terganggu atas teriakannya itu tadi.


...🌿🍁🌿...


Dua minggu berlalu dengan cepat. Kini Jasmine berniat mengunjungi suaminya sekaligus memberikan makan siang untuk suami tercintanya itu.

__ADS_1


Apalagi dia sudah tiga hari tidak bertemu dengan Venson karena dirinya harus menginap di rumah panti. Hal itu dikarenakan Bu Lia sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya. Makanya, Jasmine sebagai anak tertua bertanggung jawab menjaga ibu angkatnya itu.


Di sepanjang jalan, sapaan dari karyawan terus bermunculan seiring kaki Jasmine melangkah. Dengan ramah dibacakannya sapaan itu dengan ulasan senyum hangat.


Kini Jasmine sedang menunggu lift terbuka. Namun tak sengaja bahu kanannya bersenggolan dengan bahu orang lain. Dengan sopan, Jasmine meminta maaf meskipun dia tidak salah.


"Maaf." Tapi ucapan itu tak mendapat balasan. Bahkan orang yang tadi menyenggolnya tampak tak bersalah sama sekali.


Jasmine tak mempermasalahkan hal itu. Lagipula dipikirannya mungkin orang ini tidak sengaja menyenggolnya. Jadi untuk apa memperpanjang masalah yang sebenarnya sepele ini.


Setibanya pintu lift terbuka, kini Jasmine dan orang tadi masuk kedalam lift. Sepanjang lift bergerak keatas, tak ada obrolan antara jasmine dan orang itu. Malahan orang itu sibuk memperbaiki riasan di wajahnya.


Ting


Lift kembali terbuka. Tapi yang Jasmine herankan adalah tentang orang itu yang juga ikut keluar dari lift. Bahkan saat ini sudah lebih dulu mendahuluinya.


Kenapa jasmine bisa heran? Sebab setahunya lantai ini hanya ada ruangan suaminya saja. Sebab suaminya itu lebih senang dengan ketenangan agar lebih privasi.


"Mungkin dia tekan bisnis mas Venson." pikir Jasmine sambil melangkah menuju ruangan suaminya.


Dia semakin dibuat keheranan karena orang tadi dihentikan oleh sekretaris Venson. Dan dari yang dia lihat, orang tadi tampak tak senang ketika harus di halang - halangi ketika ingin masuk ke ruangan Venson.


"Ada apa ini?"


Kedua orang itu menoleh kearah Jasmine. Si sekertaris tadi langsung membungkuk kecil. Jasmine pun membalasnya dengan senyum ramah.


"Jadi ada apa?"


"Begini, Bu. Wanita ini memaksa menemui pak Steve. Tapi tadi pak Steve sudah berpesan pada saya, kalau tidak ada yang boleh mengganggunya. Tapi wanita ini tidak ingin mendengarkan ucapan saya."


Penjelasan itu membuat Jasmine mengangguk pelan. Dia mengalihkan pandangan kearah orang tadi. "Kalau boleh tahu, kau ada keperluan apa dengan pak Steve?"


"Itu bukan urusanmu." ucapnya sedikit sinis.


Jasmine hanya tersenyum maklum. "Biarkan saja dia menemui pak Steve." Baru saja sang sekertaris ingin menyanggah, tapi di hentikan oleh Jasmine.


"Sekarang lepas tanganku." Si sekertaris tadi langsung melepaskan cekalannya di tangan wanita tadi. Dia melakukan itu untuk mencegah wanita ini masuk ke ruangan bosnya.


Tanpa permisi, wanita tadi langsung membuka pintu ruangan Venson. Meninggalkan jasmine dan sang sekertaris yang mendengus pelan.


"Dia itu sebenarnya siapa? Rekan bisnis mas Venson?" tanyanya pada sang sekertaris.


Pertanyaan dari Jasmine langsung di balas gelengan keras dari sekertaris itu. "Bukan, Nya. Tapi dia itu --" ucapan itu terhenti kala mereka berdua mendengar suara ribut - ribut dari dalam ruangan Venson.


Segera saja Jasmine dan si sekertaris tadi menyusul masuk kedalam ruangan. Dan apa yang mereka lihat malah dibuat melongo dengan apa yang tengah terjadi.


"Apa - apaam kau ini!" Marahnya ketika mendapati dirinya dipeluk bahkan dicium secara tiba - tiba. Sedangkan si wanita hanya bisa meringis kesakitan ketika tubuhnya dihempas begitu saja oleh Venson.


Belum reda rasa sakitnya, suara kekehan yang terdengar dari arah pintu membuat wanita itu mendelik marah. "Apa yang kau tertawakan, huh?!" marahnya sambil bangkit dari posisinya saat ini.


Sedangkan si sekertaris yang tadi terkikik seketika langsung diam. Bukan karena amarah si wanita tadi. Melainkan tatapan datar dati bosnya itu.


Tapi tatapan bosnya langsung berubah terkejut begitu melihat siapa yang berdiri di sebelahnya itu. "Sa-sayang." panggilnya sambil mendekat kearah Jasmine.


Mata si wanita tampak melebar begitu mendengar panggilan yang Venson tujukan untuk wanita lain. Apalagi wanita itu yang tadi berada satu lift dengannya. Dan sebenarnya ada hubungan apa diantara Venson dengan orang itu.


Tak ingin membuat keadaan semakin rumit, Venson langsung memerintahkan sekertaris itu untuk membawa pergi wanita yang dengan beraninya bertindak tak senonoh dengannya.


"Bawa dia pergi jauh dariku. Dan jangan biarkan dia menginjakkan kaki di kantor ini lagi."


Si sekertaris tadi langsung membawa wanita itu keluar dari ruangan Venson. Dia hanya tidak ingin, bosnya ini semakin marah karena dia mengabaikan perintahnya itu. Apalagi ucapan itu terdengar seperti siaga 1 yang harus dia lakukan.      


Setelah keduanya pergi, Venson mendekat kearah Jasmine. Dia menarik pelan tangan Jasmine untuk membawanya kearah sofa. Diamnya Jasmine malah membuat Venson merasa resah.


Dia takut kalau Jasmine akan salah paham dengannya. Apalagi sejak tadi, Venson belum mendengar satu kata pun dari mulut Jasmine.


"Sayang, jangan diam saja." Jasmine tak merespon hanya menatap sekilas kearah Venson.

__ADS_1


"Sayang, jangan marah." ucap Venson yang berusaha mengajak istrinya itu bicara. Sebab diamnya Jasmine malah membuat perasan Venson tidak tengah.


Venson malah lebih memilih kalau Jasmine mengomelinya daripada mendiamnya seperti ini. Apa jangan - jangan tadi Jasmine melihat dia dipeluk oleh wanita tadi.


"Say--"


"Dia siapa?"


Venson menggeleng sambil menatap kearah Jasmine. Jujur saja dia benar - benar tidak tahu siapa wanita tadi. Tapi agaknya Venson sedikit merasa familiar dengan wajah wanita tadi.


Kini Jasmine menatap tepat kearah mata suaminya itu. Dia ingin tahu apakan suaminya ini berbohong atau tidak padanya.


Tapi sepertinya Venson mamang berkata jujur.


"Kenapa dia bisa jatuh seperti tadi?" kali ini Jasmine berbicara sambil membuka rantang makanan. Namun jawaban yang di dengannya membuatnya menoleh.


"Kau mendorongnya? Kenapa?"


Venson tampak ragu mengungkap alasan dia mendorong wanita tadi. Dan sepertinya itu sedikit di salah artikan oleh Jasmine. Sebab sikap diamnya Venson itu.


"Kenapa?" tanyanya sekali lagi. Mau tak mau, Venson harus bilang atau kalau tidak, Jasmine malah akan salah paham nantinya.


"Dia tiba - tiba masuk keruanganku dan langsung memeluk sambil menciumku." saat di akhir kalimat, ucapan Venson memelan.


Pergerakan tangan Jasmine terhenti begitu saja, ketua dia mendengar apa yang suaminya itu katakan padanya.


"Dimana?" Venson tentu saja bingung atas pernyataan itu. Dan sepertinya, Jasmine menangkap hal itu.


Dengan helaan napas pelan, Jasmine kembali mengulang pertanyaannya dengan pertanyaan berikutnya. "Dimana dia menciumnya?"


Dengan ragu, tangan Venson menunjuk kearah bibirnya sendiri. Kembali belanja napas terdengar. Tapi kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya.


"Sayang jangan marah. Ini bukan keinginanku. Tapi dia tiba - tiba saja melakukan hal itu padaku. Ku mohon kau percaya, ya." kali ini Venson mengambil kedua telapak tangan Jasmine untuk dia gengam.


Jasmine tak menolak, lagipula dia tahu kalau ini bukanlah kesalahan suaminya. Tapi dia hanya bingung dengan identitas sebenarnya dari wanita tadi. Apa dia ada hubungannya dengan masa lalu Venson? Atau dia hanya orang yang berniat menganggu rumah tangganya dengan Venson.


Tatapan Jasmine jatuh kepada wajah suaminya itu. Apalagi ketika tangan yang tadi mengenggam telapak tanganya itu berubah menjadi menggosok bibirnya kasar.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil menarik menjauh tangan Venson dari bibirnya sendiri.


Venson menatap lurus kearah mata Jasmine, membuat yang di tatap berusaha keras menyembunyikan suara detak jantungnya itu. "Aku hanya ingin menghapus jejak wanita tadi. Aku hanya ingin milikmu saja yang berada disini."


Tanpa diminta, kedua pipi Jasmine memerah karena malu dangan apa yang Venson katakan. "Sudah, jangan kau gosok lagi. Nanti malah akan jadi merah."


"Tapi nanti akan koto, --"


Chup


Ucapan itu terhenti ketika Venson merasakan bibir manis milik istrinya itu yang kini berada di atas bibirnya sendiri. Tapi bibir itu tak bertahan lama. Dan hal itu malah membuat Venson merajuk.


"Lagi. Aku mau lagi." Pintanya sambil menatap penuh megah Jasmine. Sedangkan Jasmine tak merespon permintaan suaminya itu.


Dia kembali meneruskan membuka tantang makanan untuk suaminya itu. Tapi kegiatannya terganggu akibat rengekan dari suaminya itu.


"Aku mau lagi. Dan harus lebih lama dibandingkan yang tadi." karena Jasmine tak kunjung merespon membuat Venson langsung ambil tindakan.


Chup


Chup


Jasmine melepas paksa cium*n itu karena kehabisan napas. Dia bahkan belum mempersiapkan diri akan serangan mendadak yang dilakukan setelahnya oleh Venson padanya.


Dan sepertinya acara makan siang ini telah berganti menjadi 'makan' siang bersama.


...🌾🌿🌾🌿🌾...


...Salam Rindu untuk Kalian Semua😍...

__ADS_1


__ADS_2