Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
'Terpisah Sementara'


__ADS_3

Setelah kejadian waktu itu, kini Jasmine menetap sementara di rumah panti tempatnya dulu pernah bernaung. Awalnya dirinya bingung harus tinggal dimana. Ditambah lagi dirinya tidak ingin sang Ibu jadi khawatir padanya, kalau dia tinggal di panti. Saat merasa kebingungan, Jasmine ternyata ditelepon oleh Bu Lia yang memintanya untuk menjaga panti selama beberapa hari, karena beliau sedang sakit.


Ada kelegaan di hati Jasmine begitu mendengar hal itu. Bukan perkara dimana Bu Lia sakit, melainkan lega karena bisa tinggal tanpa harus memberi penjelasan terkait alasannya ingin tinggal disana. Selama tiga hari itu, Jasmine tidak bertemu dengan sang suami. Padahal dia sudah mengirim banyak pesan pada suaminya. Namun tak ada satupun yang dibalas.


Perasaan sedih, gelisah, gundah dan kecewa masih menghinggapi batin Jasmine. Tetapi dirinya tak ingin berlarut dalam kesedihannya itu. Apalagi saat ini dia tengah mengandung. Tentunya seorang calon ibu harus memperhatikan kondisi tubuhnya dan janin yang ada di perutnya agar selalu sehat.


Tepukan halus dirasakan oleh Jasmine membuatnya menoleh. "Ibu sudah baikan?" Jasmine menatap kearah Bu Lia yang menghampiri dirinya di teras. Bu Lia duduk di samping Jasmine sambil meletakkan segelas susu ibu hamil di depannya. "Ibu merasa jauh lebih sehat setelah melihatmu." ucap Bu Lia sambil tersenyum hangat.


Jasmine balas tersenyum mendengar hal itu. "Ibu ada - ada saja sih. Masa hanya melihatku, bisa membuat ibu merasa lebih sehat. Memangnya aku ini obat." Jasmine memberikan candaan ringan pada sang ibu.


Bu Lia hanya tersenyum simpul. "Kau sudah minta izin suamimu, saat ingin menginap disini, kan?" Pertanyaan tiba - tiba itu membuat Jasmine terdiam. Jujur saja dirinya sudah meminta izin pada Venson, namun melalui ponsel. Sebab Venson masih belum mau bertemu ataupun berbicara dengannya.


Jasmine mengangguk pelan, "Tentu saja sudah. Mas Venson juga mengerti kondisi ibu saat ini yang tengah sakit. Dan Mas Venson juga menyuruhku untuk tinggal disini sampai ibu benar - benar sembuh." Mendengar jawaban itu, Bu Lia merasa lega. "Syukurlah, Ibu jadi lega mendengarnya."


Sempat hening selama beberapa saat, sebelum Jasmine mulai mengambil gelas yang berisikan susu hamil itu dan meminumnya. Ada perasaan sedih dihati Jasmine karena belum bisa memberitahukan kehamilannya pada sang suami. Apalagi kandunganya sudah memasuki 10 minggu. Tentu saja beberapa minggu lagi, perutnya akan terlihat semakin membuncit.


Niat hati dirinya ingin memberitahukan kabar bahagia ini setelah Venson pulang dari urusan bisnisnya itu. Tapi, malah seperti ini jadinya. Jangankan memberitahukannya, Venson malah menyuruhnya agar menjaga jarak dengannya. Ditambah lagi, sang bayi merasa sangat merindukan sosok ayahnya itu.


Bu Lia mengamati putrinya yang nampak melamun sambil memegang gelas susu yang baru diteguknya beberapa kali. Bu Lia merasa kalau putrinya itu tengah menutupi sesuatu darinya. Entah apa alasannya menutupi hal tersebut darinya. "Jasmine?" panggil Bu Lia yang membuat Jasmine terkesiap.


"Iya, Bu ada apa?" Sungguh Jasmine sedikit kaget hanya mendengar panggilan sang ibu. Padahal posisi keduanya bersebelahan. "Ada yang kau pikirkan? Atau mau ada masalah?" Sejenak Jasmine menatap ibunya, sebelum menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak ada masalah, Bu. Jasmine hanya sedang memikirkan soal persalinan Jasmine nanti." sangkalnya mencoba terlihat baik - baik saja.


Bu Lia menatap tak yakin kearah Jasmine. "Kau tidak menyembunyikan apapun dari ibumu ini, kan?" Jasmine masih menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak, Bu. Jasmine kan selalu berkata jujur pada ibu." Dalam hatinya, Jasmine mengucap beribu kata maaf, karena telah berbohong pada ibunya itu.


Alasanya kenapa dia tidak menceritakan masalah adalah agar tidak membebani pikiran sang ibu. Terlebih lagi, ibunya sedang dalam pemulihan. Jadi, tidak boleh memikirkan hal - hal yang berat lebih dulu. Selain itu, Jasmine belum siap melihat kesedihan di mata ibunya. Begitu dia menceritakan masalah rumah tangganya itu.

__ADS_1


Bahkan Jasmine belum bisa memprediksikan akan seperti apa pernikahannya ini kedepannya. Tentu saja, Jasmine selalu berdoa agar pernikahannya tetap baik - baik saja. Terlepas dari beratnya terpaan badai di dalam rumah tangganya saat ini.


"Kalau ada sesuatu yang menganggumu ataupun keluargamu. Kau bisa bercerita pada ibu. Pasti ibu akan membantumu semampu ibu." Ucapan itu malah membuat mata Jasmine berembun. Direngkuhnya tubuh Bu Lia kedalam pelukannya. "Terimakasih ibu telah hadir di hidupku. Tanpa kehadiranmu, Jasmine bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Sekali lagi terimakasih, Bu."


Airmata Jasmine jatuh berlinang dalam pelukan ibunya itu, bahkan dirinya terisak pelan. Saat ini dia hanya perlu pelukan yang bisa menguatkannya dari segala permasalahan yang menimpanya. Jasmine tak membutuhkan kata penyemangat, yang dia butuhkan hanya kehadiran seseorang yang mengerti dirinya, tanpa dia harus bilang apa - apa.


Bu Lia mengelus pelan kepala Jasmine. Dengan perasaan seorang ibu, Bu Lia yakin kalau anaknya ini sedang punya masalah. Namun, Bu Lia tidak akan memaksa Jasmine untuk bercerita, sampai Jasmine sendiri siap untuk mengatakan masalahnya kepadanya.


"Jangan nangis, nanti dedek bayinya juga ikutan nangis." Jasmine mengangguk pelan dalam pelukan sang ibu.


...-------( *  _  * )-------...


Disisi lain, Venson tengah berada diruang kerja yang ada di kantornya. Dirinya memutuskan untuk lembur, agar bisa mengalihkan pikirannya tentang masalah rumah tangganya itu. Anggap saja dirinya pengecut, karena tak kunjung menyelesaikan masalah yang ada didalam pernikahannya itu. Bukannya menyelesaikan dengan baik - baik , dirinya malah menjauh dari masalah yang ada.


Venson menaruh harapan besar pada Jasmine. Namun nyatanya harapan itu berhasil di porak porandakan kurang dari setahun pernikahan keduanya. Sejarah - marahnya Venson pada Jasmine, dirinya tidak bisa membenci Jasmine begitu saja.


Walaupun hubungan mereka terjalin belum cukup lama. Namun memberi kesan yang mendalam bagi Venson. Terlebih lagi, dirinya telah kehilangan cinta pertamanya itu cukup lama. Tadinya Venson berpikir kalau pernikahan keduanya ini akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Tapi, keraguan itu terus muncul bersamaan dengan banyaknya kebohongan yang disembunyikan oleh Jasmine darinya.


Saat tengah melamun, terdengar suara pesan masuk dari ponsel miliknya. Hal itu membuat Venson mencoba memeriksanya. Awalnya dia pikir pesan itu dari Jasmine yang memang sering mengirim pesan padanya, tapi sayangnya dia abaikan. Bahkan saat Jasmine meminta izin untuk menginap di panti pun, Venson memberikan izin melalui Drian, si sekertarisnya itu.


Pesan baru itu berasal dari nomor yang tak dia kenal. Bahkan tak ada nama dari si pengirim itu. Hanya ada beberapa foto tanpa kata yang dikirimkan oleh si pengirim kepada Venson. Setelah berhasil membuka foto - foto itu, mata Venson melebar dengan perasaan campur aduk.


Tangannya mengepal begitu melihat foto yang berisi sepasang kekasih yang tengah berada di bar. Walaupun gambar itu tak begitu jelas, namun Venson masih bisa mengenali siapa wanita yang ada dia dalam foto itu. Rasa amarahnya membuncak begitu matanya sampai di foto terakhir, dimana sepasang kekasih itu masuk kedalam kamar yang sama.


"Si*lan, beraninya kau memghianatiku! Inikah yang kau bilang tetap berada dirumah?!" marah Venson sambil melempar apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan ponselnya sudah menjadi korban lemparan dan berakhir mengenaskan.

__ADS_1


...Srekk...


...Ssrett...


...Brakk...


...Pyarr!!...


"Inikah yang kau sebut kesetiaan!" Rasa marah dan kekecewaan kembali Venson rasakan hanya dengan melihat


gambar - gambar itu. Tatapannya menajam dengan sorot dingin. Bahkan dirinya tak peduli dengan kondisi ruangannya yang sepertinya kapal pecah.


Bahkan laptop dengan logo apel tergigit pun sudah teronggok menyedihkan di sudut ruangan. Sungguh kondisi ruangan ini tak terlalu parah bila dibandingkan dengan kondisi hati si pemilik ruangan.


... -------( *  _  * )-------...


...Nggak jadi nunggu lama, Kan?😂...


...Tenang aja, nunggunya nggak sampai tahun depan loh😆....


...So, tunggu next partnya lagi ya....


...See you, Bye Bye💜...


...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...

__ADS_1


__ADS_2