Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
27. Kekesalan Aurora


__ADS_3

"Jadi begitu ceritanya." jelas Venson ketika mereka berdua sudah berada di rumah.


Jasmine menatap lama kearah suaminya itu. Takutnya suaminya ini berkata bohong padanya. "Kau berkata jujur, kan?"


Venson langsung mengangguk. Tadi dia bercerita kalau wanita tadi asal masuk kedalam ruangannya. Begitu dia usir, bukannya pergi wanita tadi malah memeluknya sembari memanggilnya sayang.


Dan hal itu bertepatan dengan kedatangan Jasmine ke ruangannya. Hal itu tentu saja membuat Jasmine salah paham padanya.


"Baiklah aku percaya. Tapi awas saja kalau benar wanita itu adalah pacarmu. Aku tidak akan memaafkanmu."


Venson tersenyum sambil memeluk tubuh istrinya itu. "Iya, ya. Lagipula kamu sudah cukup bagiku. Jadi untuk apa aku harus punya yang lain."


Sungguh Jasmine merasa bingung atas sikap gombal Venson akhir - akhir ini. Darimana dia belajar menggombal begitu. Walaupun tak bisa dipungkiri kalau Jasmine senang mendengarnya.


Karena penasaran akan sikap dingin suaminya itu, Jasmine lantas bertanya. "Lalu beberapa hari yang lalu kenapa kau bersikap dingin padaku?"


Mengingat hal itu membuat Venson menghela napas panjang. "Beberapa hari yang lalu aku menerima beberapa lembar foto."


"Foto?"


"Iya, fotomu bersama laki - laki lain. Makanya aku cemburu apalagi terlihat dari foto itu kau akrab sekali dengannya."


"Coba aku pengen lihat fotonya." Venson langsung mengambil ponselnya, sebab beberapa foto juga dikirim ke nomornya. "Ini." tunjuknya pada foto tersebut.


Tak lama terdengar suara tawa Jasmine hingga membuat Venson bingung. "Kenapa malah tertawa?"


Jasmine menunjuk foto itu, "Kau tahu siapa yang ada di foto tersebut?" Venson menggeleng pelan. "Dia itu teman smpku dulu. Dan sebenarnya itu bukan hanya berdua saja. Tapi ada Wilson di sampingku."


"Wilson?" Jasmine mengangguk. "Iya, aku bertemu dengannya di sekolah Aurora. Dan dia adalah guru disana, namanya itu Bagas."


"Lalu apa hubungannya dengan Wilson?"


"Jadi setelah menjemput Wilson di sekolahnya, kami berdua berniat menjemput Aura. Tapi setelah mencari kesana kemari, Aurora ternyata sudah pulang. Dan aku bertemu dengan Bagas disana. Kami mengobrol sebentar setelahnya aku dan Wilson pulang ke rumah." jelas Jasmine dengan jujur.


Venson tersenyum lega. Setidaknya istrinya itu tidak mengkhianatinya. Tapi siapa yang mengirim foto itu padanya atau ada yang tidak senang dengan hubungan mereka itu.


Masih dengan memeluk sang istri, Venson lalu berbisik ringan.


"Mumpung anak - anak tidak di rumah, kita bermain yuk."


Mendengarnya hal itu membuat pipi Jasmine memerah. Lama menunggu respon dari sang istri, dengan cepat Venson langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mereka.


🌾🌿


Suasana makan malam terasa hambar itu menurut Aurora . Tapi berbeda dengan ketiga anggota yang lain. Kini ketiganya terlihat obrolan ringan.


Dan entah sejak kapan, Wilson sudah mulai memanggil Jasmine dengan panggilan mama. Pertama kali mendengar hal itu, Jasmine merasakan perasaan terbaru.


Dia tidak menyangka kalau salah satu dari ketiga anaknya itu akan memanggilnya dengan sebutan mama. Dan rasanya itu membahagiakan hatinya.

__ADS_1


"Ooh, ya. Kakak kalian dimana?"


"Paling ada di kampus, Dad." ucap Aurora sambil mengaduk malas makanannya itu. Sedangkan Venson hanya ber'oh' ria.


"Kalian habiskan makanan kalian. Daddy ingin ke ruangan daddy dulu." Kedua anaknya mengangguk begitupun dengan Jasmine.


Melihat sekarang adiknya mulai akrab dengan istri baru ayahnya itu, membuat Aurora merasa muak. Dengan kesal di bantingnya sendok dan garpu yang di pakainya tadi.


Hal itu tentu saja membuat keduanya kaget. "Kau kenapa, Ra?" Aurora menatap sinis kearah Jasmine. Apalagi setelah mendengar pertanyaan yang menurutnya palsu itu.


"Kau tahu, aku muak melihatmu ada di rumah ini. Apalagi sekarang kau sudah bisa menghasut adikku."


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura - pura bodoh. Kau berniat membuat semua orang yang ada dirumah ini berpihak padamu, kan? Jadi kau bisa memanfaatkan mereka saat kau harus terusir dari sini, kan?"


Jujur saja, perkataan tadi sedikit membuat Jasmine kaget. Darimana Aurora bisa berpikiran seperti itu tentangnya? Apa selama ini dia dianggap hanya pura - pura.


"Kau salah paham. Aku tidak seperti itu." sangah Jasmine.


Aurora mendengus pelan. "Aku tidak akan pernah percaya padamu. Dan seharusnya kau masih mengingat tentang perjanjian kita."


Masalah perjanjian itu kembali Aurora ingatkan, membuat Jasmine sedikit merasa gusar. Tentu saja dia tidak akan lupa dengan perjanjian itu. Bagaimana bisa lupa, kalau setiap dia berdebat dengan Aurora. Dia pasti akan mengingatkan Jasmine akan perjanjian itu.


Malas berdebat dengan Jasmine, Aurora lebih memilih untuk pergi ke kamarnya. Jasmine menatapnya dengan sendu. Wilson yang sejak tadi melihat perdebatan itupun mulai mengelus lembut pundak Jasmine.


"Jangan sedih begitu, Ma. disini. Wil yakin kakak hanya butuh waktu untuk bisa menerima keberadaan mama disini." ucapnya mencoba menenangkan.


Jasmine tersenyum kecil begitu merasakan perhatian dari anak ketiganya itu. "Terimakasih, Wil."


***


Suara deru motor yang baru memasuki garasi itu mulai terdengar. Sang pengendara perlahan mematikan kesini motornya. Setelahnya dia turun dari motornya dan beranjak masuk kedalam rumah.


Di bukannya pintu rumahnya dengan kunci cadangan. Sebab pasti orang rumah sudah tidur jam segini. Sekarang saja juga sudah jam 2 dini hari.


Benar saja, lampu di ruang tamu dan ruang tengah sudah dipadamkan. Dengan pelan dia melangkah menuju ke kamarnya. Tapi sebelumya dia telah kembali menutup pintu rumah.


Dengan langkah pelan, sosok tadi berjalan. Tapi saat akan naik ke tangga, lampu tengah tiba - tiba menyala. Hal itu tentu saja membuat langkahnya sosok tadi terhenti mendadak.


"Kamu darimana saja, Jack?" tanya Jasmine begitu melihat keberadaan anak pertamanya itu.


Sosok tadi pun menoleh kearah kirinya. Dan benar saja, suara itu berasal dari istri muda ayahnya itu. Tanpa berniat menjawab pertanyaan itu, Jackson kembali meneruskan langkahnya.


Jasmine hanya membiarkan Jackson kembali ke kamarnya. Sebenarnya dia penasaran kenapa Jackson baru pulang jam segini.


Mencoba berpikir positif, Jasmine kini juga mulai melangkah ke kamarnya. Tadi dia terbangun karena tiba - tiba merasa haus. Jasmine langsung pergi ke dapur.


Tapi sekeluarga dari dapur, malah melihat anaknya itu baru pulang. Dan melihat raut lelah di wajah Jackson membuat Jasmine mengurungkan niatnya untuk bertanya - tanya.

__ADS_1


        


Pagi hari telah datang, kini Jasmine tengah sibuk memasangkan dasi di kerah leher suaminya itu. Hari ini, Venson ada meeting penting. Makanya jam setengah 6 sudah siap untuk berangkat.


Padahal bila tidak ada meeting, jam setengah 8 atau jam 8 baru berangkat ke kantor. "Kamu hati - hati di jalan, Mas."


Venson mengangguk sambil mencium kening Jasmine singkat. "Mas pergi dulu, ya." pamitnya pada Jasmine.


Baru beberapa langkah, Venson kembali berbalik menatap Jasmine. Hal itu tentu saja membuat Jasmine mengernyit bingung. "Ada yang terlu--"


...Chup...


"Ternyata memang ada yang tertinggal." ucapnya setelah mengecup ringan bibir Jasmine itu. Setelahnya kembali melangkah menuju ke teras sambil berseru "Mas kerja dulu, sayang. Doain Mas pulang bawa banyak uang, ya." 


Jasmine terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya itu. "Tentu, Mas." balasnya dengan senyum tercetak di bibirnya itu.


...🌿 🌿 🌿...


Aurora menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Kemudian dia balik menatap ke arah Jasmine dengan pandangan seolah berkata 'Seriously?'


"Kenapa menatapku seperti itu? Ini, ambillah uang sakumu." Jasmine masih menyodorkan uang di tangannya kearah Aurora.


"Are You Kidding Me?" ucapnya dengan nada sinis. Sedangkan Jasmine hanya menggeleng pelan. "Ambillah uang ini. Sebentar lagi bel masuk."


Bukannya mengambil uang tersebut, Aurora malah menatap tajam kearah Jasmine. "Kau pikir aku anak sd, huh? Uang segitu mana cukup!"


Jasmine bersikap tenang atas kemarahan Aurora itu. "Aku yakin ini cukup. Bahkan lebih dari cukup kalau menurutku."


"Cukup kau bilang? Bisa buat apa uang segitu? Makan di kantin saja itu masih kurang." Mata Jasmine membulat mendengar ucapan Aurora.


Bagaimana mungkin uang 200 ribu dirasa masih kurang, hanya untuk membeli makanan di kantin. Memangnya berapa harga satu makanan ditambah minuman disana? Semahal itukah?


"Aku dan ayahmu sepakat untuk mrmberimu uang saku segitu perharinya. Untuk ongkos tentu saja kamu tidak memerlukannya, karena setiap hari diantar jemput oleh supir."


Aurora menatap kesal kearah Jasmine. "Ini pasti karena ulahmu, kan?! Kau berhasil memghasut ayahku untuk memotong jatah uang sakuku. Dan sisanya bisa kau pakai sendiri. Licik sekali caramu itu." sindir Aurora pedas.


"Bukan begitu. Lagi - lagi kau salah paham padaku. Aku tidak pernah menghasut ayahmu. Aku--"


"Diam! Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Sekarang aku ingin uang sakuku full seperti sebelumnya." tekan Aurora.


Jasmine menghela napas panjang. "Ini sudah kesepakatannya. Kalau kamu mau protes, silahkan protes pada ayahmu. Kalau kau tidak mau ambil, aku juga tidak akan memaksa."


Berselang 5 menit, Aurora masih belum mau mengambil uang ditangan Jasmine itu. Baru saja Jasmine berniat menarik kembali yang tangannya, tapi lebih dulu diambil oleh Aurora.


Tanpa permisi, Aurora langsung berlalu pergi dari sana. Melihat sikap Aurora yang masih belum ada kemajuan membuat Jasmine kembali menghela napas panjang.


"Sampai kapan begini terus." gumamnya lirih sebelum masuk kembali kedalam mobil.


...❤  ❤  ❤...

__ADS_1


...Terimakasih untuk kalian semua💖...


__ADS_2