
...❇ ❇ ☀ ❇ ❇...
..."Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Itu adalah ucapan Jasmine di sela memapah laki - laki ini....
...❇ ❇ 🍁 ❇ ❇...
Jasmine tengah berada di depan ruang rawat. Dirinya baru saja mengurus administrasi dari orang yang dia tolong tadi. Mengingat hari cukup larut, Jasmine memutuskan untuk menginap di rumah sakit ini.
Sekaligus untuk menjaga laki - laki tadi yang sudah ditangani oleh dokter. Untungnya tidak ada luka serius yang di derita laki - laki tadi. Mungkin hanya rasa nyeri akibat pukulan yang didapatkannya dan sedikit memar di wajahnya.
Setelah masuk kedalam ruang rawat, Jasmine mulai mendudukan diri di kursi samping bangkar. Jasmine memilihkan tipe pelayanan kamar kelas 3. Sebab, uang yang dia punya hanya sanggup untuk menempati ruang kelas 3.
Jasmine juga belum menghubungi pihak keluarga dari si laki- laki ini. Mengingat dia tidak tahu siapa keluarga dari si laki - laki ini. Bisa dikatakan Jasmine merasa tidak asing dengan wajah orang yang ditolongnya itu.
Jasmine sudah memberitahu ibunya kalau dirinya tidak pulang hari ini. Hal itu dia lakukan agar ibunya itu tidak khawatir menunggu kepulangannya.
Lagipula, bisa saja Jasmine pulang dan meninggalkan laki - laki ini begitu saja dirumah sakit ini. Tapi hati nuraninya menolak keras hal itu.
Selama beberapa menit, Jasmine memandangi wajah laki - laki itu. Dirinya berusaha mengingat siapakah gerangan si laki - laki ini. Dari segi wajah, dia termasuk lelaki yang tampan. Tapi bukan itu yang menjadi objek pikiran Jasmine.
Dirinya hanya merasa pernah bertemu sebelumya dengan sosok yang tengah terbaring ini. Dan setelah cukup lama diamati, satu nama terlintas di pikiran Jasmine.
"Dia ini si Wilson? Adiknya si Aurora itu kan?" Seakan tidak yakin dengan jawaban, Jasmine mulai mencari tanda pengenal di tas yang sempat dipakai oleh laki - laki ini.
...Dan,...
...Ketemu....
Isi dari kartu pelajar itu bertuliskan nama 'Wilson Gryas Klein'. Itu artinya, laki - laki ini memang benar adik dari Aurora Lily Klein dan Jackson Zein Klein. Dan berarti, laki - laki ini adalah putra bungsu dari keluarga Venson.
Jasmine sampai dibuat terkejut dengan fakta yang ada. Terlebih lagi, seperti anak bungsu dari Venson ini mengalami tindak kekerasan dari temannya itu.
Pikiran Jasmine mulai bercabang. Di satu sisi, dirinya ingin memberitahu keluarga Wilson terkait keberadaannya saat ini yang ada di rumah sakit.
Tapi disisi yang lainnya, Jasmine menolak memberitahukan hal ini kepada keluarga Venson. Sebab seperti, Wilson tidak akan suka kalau sampai keluarganya tahu hal ini terjadi padanya.
Dan Jasmine lebih memilih opsi kedua. Lagipula menurut keterangan dokter. Wilson tidak terluka parah. Hanya efek dari pukulan yang akan terasa sedikit nyeri dan bekas yang ditimbulkan akibat pukulan yang didapatkannya itu.
...❇ ❇ ❇ ❇ ❇...
__ADS_1
Perlahan sinar hangat yang ditimbulkan dari pancaran matahari, membuat sosok yang terbaring di bangkar mulai membuka matanya. Sinar yang ditimbulkan terasa silau dimata orang tadi. Ditolehkannya kepalanya kearah samping kirinya. Dan ternyata bukan hanya dirinya yang menempati kamar ini.
Dari arah kanannya terdengar suara pintu yang baru saja dibuka. Hal itu membuat orang tadi perlahan mulai menoleh keasal sumber suara.
Respon terkejut di berikan oleh orang itu begitu dirinya melihat siapa yang baru saja membuka pintu.
"Kau sudah sadar? Apa masih sakit?" Pertanyaan itu diucapkan oleh Jasmine yang baru saja masuk ke ruang rawat.
Dirinya baru saja dari luar untuk membeli makanan. Sebelum pergi tadi, Jasmine masih melihat bahwa Wilson masih tertidur dibangkarnya itu.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya pada Jasmine yang saat ini meletakkan makanannya diatas nakas.
"Kau lupa kejadian semalam?" Seolah diingatkan, ingatan tentang kejadian semalam berputar secara otomatis di pikiran Wilson.
Setelah ingat, Wilson kembali menatap kearah Jasmine yang sudah duduk di kursi disebelah bangkarnya itu. "Jadi kau yang menolongku?"
Bukannya menjawab, Jasmine malah menyodorkan semangkuk bubur kearah Wilson. "Kau bisa makan sendiri atau perlu aku suapi?"
Wilson menggeleng pelan. Dan diartikan oleh Jasmine sebagai tidak untuk tawarannya tadi. "Baiklah. Nih dimakan dulu. Tadi dokter bilang, kau harus banyak istirahat dan harus minum obat."
Wilson menerima bubur yang disodorkan oleh Jasmine padanya itu. Bisa Wilson lihat, kalau itu adalah bubur khas rumah sakit. Soal rasa? Jelas jangan ditanya lagi.
Melihat Wilson yang hanya menatap bubur itu tak berselera pun, membuat Jasmine kembali buka suara. "Kenapa? Nggak mau makan?"
Tak ada jawaban dari Wilson. Jasmine kembali memakan makanannya yang sudah dibelinya itu. Keduanya larut dalam aktivitas mereka masing - masing. Bahkan Jasmine sudah membuang bekas sterofom yang tadi dia gunakan itu.
"Kau sudah minum obatnya?" Wilson hanya mengangguk sebagai respon. Melihat respon itu, Jasmine hanya mengendikan bahunya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya."
"Aku tebak ini bukan pertama kalinya kau terluka seperti ini." Entah itu pertanyaan atau pernyataan, yang jelas hal itu mampu membuat Wilson sedikit gelisah.
Gestur yang ditampilkan oleh Wilson tanpa disadarnya itu, membuat Jasmine mengangkat alisnya. Tanpa dijawab pun, Jasmine sudah tahu jawabannya.
"Tak perlu dijawab bila tidak mau menjawabnya."
Jasmine mulai mengambil ponselnya. Dia berniat memberitahukan hal ini pada Venson. Bagaimana pun juga, Venson harus tahu keadaan anaknya ini.
__ADS_1
"Kau mau apa?" Wilson bertanya seperti itu, sebab melihat Jasmine berkutat dengan ponselnya itu. "MenghubungI ayahmu." jawab Jasmine santai.
Tanpa aba - aba, Wilson langsung menyambar ponsel Jasmine dan menjauhkan ponsel itu dari tangan sang empunya. Jasmine tentu saja kaget, siapa juga yang akan menyangka kalau Wilson akan merebut ponselnya itu.
"Kembalikan ponselku." pinta Jasmine pada Wilson, agar mengembalikan ponselnya itu.
"Jangan beri tahu daddy ku." ucap Wilson disertai nada permohonan.
Tentu saja Jasmine dibuat tidak mengerti dengan maksud Wilson, menyembunyikan hal ini dari ayahnya sendiri. "Kenapa?"
Cukup satu kata yang ditanyakan oleh Jasmine pada Wilson. Tapi tak ada jawaban yang bisa didengar oleh Jasmine. Membuang napas panjang, akhirnya Jasmine mengangguk.
"Oke, aku tidak akan bilang pada ayahmu itu. Tapi tolong kembalikan ponselku sekarang."
Wilson masih belum memberikan ponsel itu pada Jasmine. Sebab, dirinya ragu akan perkataan Jasmine tadi. Gelagat ketidakpercayaan itu tertangkap jelas di pandangan Jasmine, membuat Jasmine kembali menghela napas sabar.
"Kalau kau tidak percaya, ya sudah. Tapi yang jelas, apa untungnya aku memberitahu ayahmu mengenai hal ini. Lagipula urusanku masih banyak dan aku nggak ada waktu untuk mengurusi hal yang bukan urusanku. Jadi tolong kembalikan ponselku."
Dengan gerakan pelan, Wilson mulai mengembalikan ponsel itu ke Jasmine. Lagipula, apa yang dikatakan Jasmine benar juga. Apa untungnya Jasmine memberitahu ayahnya tentang kondisinya saat ini.
Setelah menaruh ponselnya di dalam tas. Jasmine mulai bangkit dari posisi duduknya itu. "Aku pamit pergi dulu. Ada urusan yang harus aku urus."
Bukan Jasmine tidak peduli. Tapi dirinya harus berangkat kerja. Jadi dia tidak ada pilihan lain, selain meninggalkan Wilson dirumah sakit. Toh, Wilson pasti aman dibawah perlindungan rumah sakit ini.
Wilson tak mengatakan apa - apa. Dia hanya mengangguk sekilas. Sejujurnya dia ingin berterimakasih, tapi dirinya terlalu malu untuk mengatakan hal itu.
Baru beberapa langkah Jasmine berjalan. Dirinya kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Wilson yang juga tengah menatap kearahnya.
"Apapun masalahnya, sebaiknya kau ceritakan pada keluargamu. Bagaimanapun juga, keluargamu perlu tahu kondisimu saat ini. Setidaknya ceritakan masalahmu pada salah satu saudaramu, bila kau merasa takut bercerita pada ayahmu."
Jasmine memberikan senyum tipis kearah Wilson, sebelum dirinya kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti itu.
Wilson terdiam begitu kalimat panjang yang diucapkan oleh Jasmine tadi, berhasil masuk kedalam pikirannya. Entah alasan apa yang membuat Wilson tidak ingin memberitahu keadaanya pada keluarganya itu.
Walaupun Wilson tahu kalau ucapan Jasmine tadi itu benar. Tapi dirinya hanya merasa belum siap memberitahukan masalahnya pada ayah dan kedua kakaknya itu.
...❇ ❇ 💖 ❇ ❇...
...Terimakasih ❤...
__ADS_1