Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
21. Kepulangan Venson


__ADS_3

...🌿  🌾...


Bi Iyah masih di landa kepanikan begitu melihat nyonyanya terjatuh dari tangga. Dia baru dari ruangan sepatu dan melihat majikannya sudah terjatuh dari tangga.


"Mana yang sakit, Nya?" tanya sambil berusaha menolong majikannya itu.


Jasmine yang sudah bisa mengatasi rasa sakitnya itupun langsung menggeleng pelan. "Aku nggak apa - apa, Bi." balasnya pelan.


"Kita kerumah sakit ya, Nya. Saya tidak ingin terjadi apa - apa pada nyonya."


Jasmine kembali menggeleng pelan. "Nggak usah, Bi. Bibi bantu saya berdiri saja." Bi Iyah langsung membantu majikannya itu untuk bangun dan membawanya ke meja makan sesuai arahan dari Jasmine itu.


"Terimakasih, Bi." ucapnya begitu sudah duduk di kursi. "Kalian bertiga makanlah. Nanti kalian bisa terlambat." Jasmine memberikan senyuman kepada ketiga anaknya itu.


Sedangkan Aurora mendengus pelan begitu melihat respon Jasmine yang biasa saja. Tidak sesuai dengan ekspektasinya. Entah Jasmine yang terlalu pintar menyembunyikan rasa sakitnya atau memang itu semua biasa saja dan tidak sakit.


Selesai sarapan, Aurora dan Wilson langsung berpamitan dengan kakaknya itu. Langkah kedua yang akan beranjak dari meja makan terhenti akibat ucapan Jasmine.


"Kalian berdua berangkat ke sekolahnya biar aku yang mengantar."


Aurora memutar bola matanya malas. Sejak ayahnya menyerahkan tanggung jawab mengantar dan mengawasinya kepada Jasmine, membuat pergerakan Aurora menjadi tidak bebas.


Bahkan dia harus pulang kerumah paling lama adalah pukul 9 malam. Itupun hanya untuk urusan sekolah saja. Karena hal itulah yang membuat Aurora tidak suka dengan keberadaan Jasmine di sekitarnya itu.


...🍁  🌿   🍁...


Selama di perjalanan, tak ada yang membuka suara. Sebab, ketiganya hanya diam. Jasmine sendiri tengah berusaha menahan rasa sakit di pergelangan kakinya itu.


Sejak jatuh tadi, rasa nyeri terus bersarang di pergelangan kakinya itu. Dan begitu dia lihat, ada semacam lebam yang menghiasi pergelangan kakinya.  Mungkin ini semua akibat keteledorannya yang tidak memperhatikan jalan saat itu.


Makanya dia bisa terpeleset dan jatuh. Dia menoleh kearah belakang. Dimana anak kedua dan ketiganya duduk tenang di kursi belakang.


"Kalian jangan lupa belajar yang rajin, ya. Dan jangan membuat masalah. Kalian dengar?" Wilson hanya mengangguk pelan. Sedangkan Aurora tak menjawab pertanyaan itu.


Masih dengan senyuman yang sama. Jasmine kembali menghadap kearah depan. "Mang, nanti jemput mereka tepat waktu, ya." ucapnya pada sang supir di sampingnya itu.


"Siap, Nya." balas sang supir.


Kini mobil telah sampai di depan gerbang sekolah. Berhubung keduanya berada di satu tempat sekolah yang sama. Memudahkan Jasmine untuk mengantar keduanya.


Namun gedung sekolah Smp dan Smanya berbeda gedung. Namun masih satu yayasan. Hal inilah yang menjadikan sekolahan Aurora dan Wilson favorit di kalangan pelajar.


"Kalian berdua jangan nakal - nakal. Apalagi sampai melanggar peraturan. Nanti kal---"


"Sudahlah. Jangan sok baik di depan kami." Potong Aurora kepada ucapan Jasmine itu. Dia sama sekali tidak ingin mendengar ocehan Jasmine.


Jasmine menghela napas panjang. "Baiklah, kalian masuk sana." Tanpa pamit, Aurora berlalu begitu saja. Sedangkan Wilson tampak menatap sejenak kearah Jasmine.

__ADS_1


Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Tapi tidak jadi. "Aku pamit." Setelah mengatakan hal itu, Wilson langsung menyusul langkah kakaknya itu.


Sedangkan Jasmine sedikit terpaku mendengar ucapan Wilson tadi. Dia tidak salah dengar, kan? Tadi Wilson berpamitan padanya, kan?


Kalau iya, apakah ini pertanda baik untuk hubungannya dan anak - anaknya ini. Dan bolehkah Jasmine berharap, kalau ketiganya akan menerima suatu hari nanti.


Dengan senyum di bibirnya, Jasmine kembali kedalam mobil dan mobilpun melaju kearah kediaman Venson.


...🍁 🍁 🍁...


Hari ini Venson akan pulang ke rumahnya setelah melakukan perjalanan bisnis selama 3 hari ini. Dia sudah membawakan oleh - oleh untuk anak dan istrinya.


Setibanya di rumah, Venson langsung bergegar mencari keberadaan istri dan anak - anaknya. "Daddy pulang." Sapanya yang membuat Aurora yang tadi fokus pada Hpnya langsung menoleh.


"Daddy." panggilnya sambil berlari kearah ayahnya itu.


Hap


Tubuh Aurora sudah dalam pelukan ayahnya itu. "Dad, Aura kangen banget sama daddy." ucapnya dengan senyum lebar.


Diantara ketiganya, memang Aurora lah yang paling manja. Entah karena dia satu - satunya anak perempuan atau karena ayahnya selalu memanjakannya sampai sebesar ini.


"Iya, Daddy juga tahu. Lagian Daddy juga kangen sama kamu."


Aurora tersenyum senang mendengar ucapan dari ayahnya itu. "Daddy bawain Aurora oleh - oleh?" Venson langsung mengangguk.


Ekspresi Aurora sedikit berubah begitu mendengar ucapan daddynya itu. "Mau ngapain ke kamar?" Venson tahu kalau anaknya ini belum sepenuhnya menerima Jasmine sebagai ibu mereka.


Dengan senyum kecil, Venson menjawabnya. "Daddy mau istirahat sebentar, soalnya daddy capek banget." Aurora mengangguk sekilas. Tanpa bertanya lagi, Aurora langsung berlari menuju kearah mobil daddy untuk mengambil hadiahnya.


Venson tersenyum pelan melihat kelakuan anaknya yang tidak berubah sama sekali itu. Dengan langkah panjang, Venson berjalan menuju kearah kamarnya.


Selama perjalanan menuju ke kamarnya, Venson bertemu dengan kedua anaknya. Dan dia menyuruh kedua anaknya untuk membantu Aurora mengambil oleh - oleh yang telah dia beli itu.


...Ceklek...


Jasmine yang tadi masih bersandar di kepala ranjang, seketika menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka. Dia langsung tersenyum bahagia begitu mendapati kehadiran suaminya itu.


"Mas, sudah pulang." Jasmine langsung menegakan posisinya. Sedangkan Venson tidak menjawab perkataan itu. Dia hanya berjalan mendekat kearah istrinya.


Dengan pelan dia duduk di samping Jasmine sambil memeluk tubuh Jasmine. Dengan lembut, Jasmine mulai mengelus pelan surai coklat milik suaminya itu.


"Pasti capek, kan?" Venson mengangguk pelan. Dia masih menikmati elusan di kepalanya itu. Entah kenapa rasa lelahnya tadi mulai terkikis. Dan rasanya dia ingin sekali tidur.


"Sudah bertemu dengan anak - anak?" Venson kembali mengangguk. "Tidur dulu kalau Mas capek. Nanti aku bangunin saat akan makan malam."


Baru saja elusan di kepalanya terlepas, Venson langsung menarik tangan Jasmine agar kembali mengelus kepalanya itu. "Elusin." pintanya manja.

__ADS_1


Jasmine terkekeh pelan, tapi tetap melakukan apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Dengan menyamankan posisinya, Jasmine terus mengelus kepala Venson sampai suaminya itu tertidur.


Melihat kalau sang suami sudah tertidur pulas, Jasmine mulai menarik tangannya pelan agar tidak membangunkan suaminya itu. "Pasti capek banget, sampai pulas gitu tidurnya." gumamnya pelan.


Setelah itu dia mulai berjalan meninggalkan Venson yang sudah tertidur pulas diatas ranjang itu. Jasmine berjalan pelan menuju kearah dapur, sebab dia ingin membuatkan puding untuk suaminya itu.


Dan Jasmine baru tahu kalau Venson dan anak - anaknya sangat menyukai puding buatan ibu mereka. Makanya Jasmine belajar membuat puding yang disukai oleh keluarga barunya ini.


Selesai membuat puding dan menaruh puding yang sudah dia buat ke dalam kulkas. Jasmine menoleh kearah Jam. Dimana sekarang ini sudah menunjukan pukul 17.19 P.M.


Dan Jasmine tidak melihat keberadaan ketiga anaknya. Merasa agak aneh, lantas Jasmine bertanya kepada Bi Iyah. "Bi, anak - anak dimana? Tumben Jam segini masih sepi."


Sepi disini adalah tentang suara ketiga anaknya yang biasanya terdengar namun malah tidak terdengar sama sekali.


Bi Iyah langsung menjawabnya. "Anak - anak sedang mencoba mobil baru yang tuan kasih ke non Aura, Nya." Jawaban itu tak membuat Jasmine kaget, malah cenderung biasa saja.


Beda lagi saat beberapa hari dia baru menyandang sebagai istrinya Venson. Dia di buat terkejut hanya karena hadiah pernikahan yang dia terima. Bagaimana tidak, kalau dia menerima paket honeymoon mewah dari ayah dan ibu mertuanya.


Selain itu juga semua kerabat dari suaminya itu memberikan kado pernikahan yang tidak main - main harganya. Dan karena itulah, Jasmine mulai sekarang harus membiasakan dirinya agar tidak mudah syok dengan apa yang ada di sekitarnya.


"Kalau mereka sudah pulang, langsung suruh mereka untuk ke meja makan ya, Bi."


Bi Iyah menganggukan kepalanya. Setelahnya Jasmine kembali menuju ke kamarnya untuk melihat apakah suaminya itu sudah bangun atau belum.


Dalam perjalanan menuju ke kamarnya saja, Jasmine membutuhkan tenaga ekstra. Sebab rasa sakit yang ada di pergelangan kakinya masih terasa nyeri. Walaupun lebamnya sudah tidak tak begitu kelihatan, tapi rasa nyerinya masihlah ada.


Akhirnya, Jasmine sampai juga di depan pintu kamarnya. Di bukannya pelan pintu itu agar dia bisa masuk kedalam. Begitu masuk, yang Jasmine lihat Venson masih tertidur hanya saja posisinya sudah agak berubah daripada sebelumnya.


Dengan gerakan pelan, Jasmine mulai mendekat kearah Ranjang. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap wajah suaminya itu. Dia akui kalau suaminya itu tampan walaupun usianya sudah kepala empat.


Aura Venson juga terlihat berwibawa dan suamiabel di mata Jasmine. Entah kenapa Venson terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya saat ini. Dan sepertinya Venson cocok menjadi sugar daddy. Belum lagi kekayaannya yang dia miliki membuatnya tampak nyata menjadi seorang sugar daddy.


Dan betapa beruntungnya Jasmine memiliki suami seperti Venson ini. Walaupun hubungan dengan anak tirinya masih belum jelas adanya. Tapi keberadaan Venson di hidupnya menjadi anugerah terindah yang pernah dia dapatkan.


Seandainya waktu itu dia tidak asal masuk kamar rawat. Apakah dia bisa bertemu dengan Venson secara langsung. Jasmine rasa dia tidak akan memiliki kesempatan bertemu dengan Venson. Sebab kasta keduanya terlalu berbeda jauh.


Dan Jasmine bersyukur telah di pertemukan dengan Venson, walaupun dia awali dengan hal yang tidak mengenakan itu. Bahkan sampai saat ini, Jasmine tidak akan lupa kalau dirinya masih terikat perjanjian dengan Jackson dan Aurora.


Apakah pada akhirnya nanti, Jasmine akan menuruti perjanjian itu sampai akhir atau malah berkelit dari perjanjian itu. Yang mana ini menyangkut hubungannya dengan Venson, sebagai suaminya.


Ada rasa sesak di hati Jasmine kala memikirkan kalau pada akhirnya dia harus pergi dari kehidupan Venson dan anak - anaknya. Dan kembali lagi ke kehidupannya semula. Dimana dia yang tinggal dengan ibu dan adik - adiknya di panti.


"Semoga semuanya berjalan dengan baik. Aku tidak ingin kehilanganmu, Mas. Bahkan aku sudah menganggap anak - anak seperti anakku sendiri." batin Jasmine sambil menatap kearah suaminya itu.


...❤  ❤  ❤...


...Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2