Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
33. Kecelakaan


__ADS_3

Tampak seorang gadis berjalan dengan langkah lesu. Wajah cantiknya nampak kusut bagaikan memiliki beban berat di bahunya.


Setibanya di ruang kelas, gadis tadi mulai berjalan kearah mejanya. Dengan gerakan pelan, gadis tadi menaruh kepalanya diatas tas sekolahnya yang dia letakkan di meja.


Helaan napas panjang menjadi pengiring disunyinya ruang kelasnya ini. Tentu saja sunyi, sebab gadis ini sengaja berangkat terlalu awal. Padahal masih ada satu jam lagi untuk memulai jam pelajaran.


Air matanya meluruh begitu mengingat semua masalahnya akhir - akhir ini. Mulai dari ayahnya yang kecelakaan, perubahan sang ayah karena amnesia dan yang membuatnya bertambah sedih adalah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi.


Padahal dia sudah menolak keras gagasan itu. Tapi ayahnya masih kekeh untuk menikah. Dan sekarabg terbukti kalau ayahnya sudah tidak sayang lagi padanya. Bahkan sekarang adik dan kakaknya sudah terpengaruh oleh wanita jahat itu.


Adik yang sayang padanya, kakak yang mengabulkan semua permintaannya. Tapi kini semuanya sudah berubah. Tidak ada lagi yang sayang padanya. Dan semua ini gara - gara wanita jahat itu.


Setengah jam berlalu dengan cepat, kelas yang tadinya sunyi kini mulai ramai. Teman - teman sekelasnya mulai berdatangan. Namun hal itu tak membuat gadis tadi terusik.


Sayangnya tepukan pelan di bahunya itu membuat gadis tadi mendongak. "Kau kenapa? Apa ada masalah?" Pertanyaan itu datang dari mulut sahabatnya.


Gadis itu mengambil napas dalam sebelum menceritakan masalah yang menimpanya itu. Dan si penanya tadi diam mendengarkan secara seksama.


"Jadi dia berhasil mengambil semua perhatian dan kasih sayang dari keluargamu. Padahal seharusnya itu semua adalah milikmu!"


Gadis tadi mengangguk sambil menitihkan air matanya. Dengan pelan sahabatnya itu membawa tubuh gadis itu kedalam pelukan.


"Kau tenang saja, aku pasti akan membantumu untuk menyingkirkan wanita itu. Kau percaya padaku, kan?" Gadis tadi mengangguk sambil mengeratkan pelukan mereka.


Tanpa tahu kalau saat ini orang yang dia anggap sebagai sahabat tengah menyeringai. "Aku pasti akan membantumu menyingkirkannya... sekaligus menyingkirkanmu." ucapnya sambil menepuk punggung sahabatnya itu. Sayangnya dua kata diakhir kalimatnya, dia ucapkan di dalam hati.


...*{ ¥ }*...


Semenjak Jackson dan Wilson bersikap baik padanya, Jasmine malah merasa hubungannya dengan Aurora kian memburuk tiap harinya. Bahkan sekarang Aurora lebih terang - terangan menunjukkan sikap bencinya padanya.


Jasmine kadang berpikir, bisakah Aurora menerimanya? Bukannya makin dekat yang ada malah semakin jauh jarak diantara keduanya.


Padahal Jasmine mengira kalau sikap ketus Aurora padanya bisa berangsur hilang. Menatap pemandangan dihadapannya membuat Jasmine kembali mengingat awal pertemuannya dengan Venson.


Sungguh awal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, hanya gara - gara keteledorannya dia sampai memiliki nasib seperti ini. Anggap saja hidup Jasmine terlalu drama untuk jadi sebuah kiss nyata.


Dia yang bukan orang berada, tiba - tiba menikah dengan orang super kaya. Mungkin nasibnya hampir mirip dengan cinderella. Tapi bedanya dia tidak memiliki sepatu kaca.


Dan dia tidak akan tahu akhir dari kisah hidupnya ini. Apakah berakhir bahagia seperti si cinderella atau dia harus seperti si juliet yang kehilangan romeonya?


Suara dering menyita perhatiannya. Dengan gerakan pelan, Jasmine mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang telah menghubunginya.


My Husband💜


Dengan cepat, Jasmine menjawab panggilan itu. "Halo, Mas." Terdengar sahutan dari seberang sana.


Jasmine dengan seksama mendengarkan apa yang suaminya katakan. Dengan jawaban 'Iya, aku akan segera kesana. Aku tutup ya telponnya.' mengakhiri panggilan telpon itu.


Jasmine segera beranjak dari taman rumah sakit menuju kearah parkiran. Sebenarnya tadi dia menjenguk temannya yang dulu satu kerjaan dengannya. Dan dia sempat duduk di taman rumah sakit setelah selesai menjenguk sahabatnya itu.

__ADS_1


...[ 0_0 ]...


Saat sedang berjalan, Jasmine berpapasan dengan Drian yang baru saja dari ruangannya pak Steve. Dengan senyum ramah, Jasmine membalas sapaan dari sekertaris suaminya itu.


"Bapak ada di dalam?" tanyanya pada Drian yang dibalas anggukan oleh Drian.


Setelahnya Jasmine pamit pergi ke ruangan Venson setelah mengucap terimakasih pada Drian. Kedatangan Jasmine disambut antusias oleh Venson yang memang sudah menunggu kedatangannya itu.


"Sayang," panggilnya manja. Jasmine melangkah mendekati suaminya itu. Sebelum itu dia lebih dulu meletakkan makanan dan tasnya keatas meja. Baru setelahnya dia menghampiri sang suami yang terlihat sedikit lesu.


"Kenapa, hem?" tanyanya sambil berdiri didepan kursi Venson. Tanpa membalas ucapan Jasmine, Venson langsung merengkuh tubuh istrinya itu.


"Pusing," keluhnya sambil mengduselkan kepalanya di dada istrinya itu. Venson memang sengaja menelponnya istrinya untuk cepat kemari. Tapi dia tidak bilang alasannya menyuruh Jasmine untuk datang ke kantornya itu.


"Sejak kapan?" Jasmine mengelus lembut surai sang suami. Terkadang Jasmine dibuat penasaran kenapa rambut Venson bisa selembut ini. Rambutnya saja kalah lembut bila dibandingkan dengan milik suaminya itu.


Venson menikmati elusan lembut dari tangan istrinya. "Sejak tadi." Jasmine hanya mengangguk. "Diobati dulu, ya."


Jasmine mengeluarkan minyak aromaterapi untuk meredakan pusing di kepala suaminya itu. Dia juga selalu membawa beberapa jenis obat di dalam tasnya.


Tentu saja semua itu dia lakukan sebagai bentuk pertolongan pertama disaat - saat yang tidak terduga. Contohnya saja saat ini.


"Kau minum obat?" tawar Jasmine setelah mengoleskan minyak aromaterapi itu di sekitar dahi dan tengkuk suaminya itu.


Venson menggelengkan kepalanya. Walaupun pusing begini, Venson masih kuat menahannya. Lagipula dia ingin menikmati waktu berduaan dengan Jasmine.


"Makan dulu, ya." Perkataan itu diangguki oleh Venson. Jasmine meminta suaminya itu untuk pindah ke sofa, agar Venson bisa duduk dengan nyaman.


Jasmine merawat Venson dengan telaten. Dia menyuapi Venson, memijat pelan kepalanya dan memberikan obat sesuai dengan kondisinya saat ini.


...( * _  * )...


Anak kedua dari tiga bersaudara ini tengah menunggu seseorang yang akan membantunya untuk memperlancar rencana balas dendam terhadap ibu tirinya itu.


Tapi sudah 15 menit dia menunggu, kehadiran seseorang yang dia tunggu belum kunjung datang juga. Padahal sakitnya hanya ketoilet, tapi sampai sekarang belum datang juga.


Baru saja dia akan menelpon, suara di belakangnya itu membuatnya menoleh. "Kau darimana saja?" tanyanya yang dibalas cengiran polos.


"Maaf ya, soalnya tadi aku kebelet banget. Jadinya lama deh." sedangkan yang diajak bicara hanya mengangguk pelan.


"Ayo," ajaknya yang langsung dimengerti oleh sahabatnya itu.


Keduanya berlalu dari sekolahan menuju ke suatu tempat. Sesekali keduanya mengobrol dengan topik pembahasan mengenai rencana yang telah mereka susun sebelumya.


Tentu kalian sudah tahu dengan pasti, siapa kedua orang tadi. Dan memang benar tebakan kalian, kalau mereka adalah Aurora dan Yoela.


Seandainya saja Aurora lebih jeli, pasti dia akan berpikir 'Untuk alasan apa Yoela mau membantunya? Dan apa untungnya bagi Yoela?'


Sayangnya Aurora terlalu mudah  percaya begitu saja.

__ADS_1


...  ( *  _  * )...


"Kau yakin akan melalukan itu?" Tanyanya ragu. Bagaimana tidak ragu, kalau apa yang akan dilakukan sahabatnya ini bisa saja mengancam keselamatan mereka.


Sedangkan gadis yang berada dibalik kemudi mengangguk dengan mantab. Walaupun sekelebat ada kekhawatiran dibalik matanya itu. Tapi langsung melebur begitu melihat sosok yang dia benci ada didepan matanya.


"Kalau ini gagal, kita bisa saja terancam masuk penjara." Sang sahabat berusaha membujuknya agar memikirkan tindakannya ini.


Menoleh kearah Yoela yang ada di sampingnya itu, Aurora memberikan senyum yang seolah mengatakan 'Ini pasti akan berhasil'. "Kau percaya padaku, kan?"


Perlahan Yoela mengangguk walaupun raut wajahnya masih menunjukkan kecemasan. "Bagus, kalau kau percaya padaku."


Setelah mengatakan hal itu, Aurora kembali menghadap ke depan. Dimana disana ada sosok istri ayahnya itu. Dari jaraknya yang kurang dari 100 M ini, Aurora masih setia menatap buruannya.


Tapi sayangnya dia tidak bisa menyadari adanya mata yang sedang mengawasinya sambil tersenyum miring.


"Kita bergerak." Ucapan itu diiringi dengan deru mesin mobil yang mulai mendekat kearah Jasmine.  


Sedangkan di posisinya saat ini, Jasmine tengah memberikan makanan untuk anak jalanan yang berada tak jauh dari rumah Cessie.


Sejujurnya setelah kemarin Venson mengeluhkan pusing, Jasmine jadi menunda rencana berbagi makanan bersama dengan Cessie.


Dan hari inilah rencana itu baru terlaksana. Jasmine, Shifah dan Cessie mulai membagikan makanan kepada para anak jalanan, pengamen dan pemulung yang ada disitu.


Dan kini Jasmine berniat memberikan makanan kepada seorang ibu dengan anak kecil dalam gendongannya itu yang ada di seberang jalan.


Setelah memastikan jalanan cukup lenggang, Jasmine mulai berjalan sambil sesekali melempar senyuman kearah anak kecil itu.


Tapi teriakan dibelakangnya membuatnya menoleh. Bukan kearah belakang tapi kearah samping kanannya.


Matanya membulat begitu melihat mobil melaju ke arahnya dengan begitu kencangnya. Sangking terpakunya, Jasmine bahkan tidak bisa mendengar teriakan Cessie dibelakangnya.


"JASMINE AWASSSSSSSS!!!!"


Teriakan Cessie mengundang banyak pasang mata menuju kearah yang Cessie tatap. Mereka yang ada disana juga terpaku begitu melihat mobil hitam itu melesat dengan cepat kearah Jasmine.


Brak!!


Bruk!!


"Arghhh..."


Semua yang menyaksikan peristiwa itu terpaku dan membulatkan mata ketika menyadari adanya korban dari tabrakan itu.


  


...💜💜💜...


...° Gimana kabar kalian semua? Selalu sehat, ya😍 Jangan sampai sakit😊...

__ADS_1


...Kalian penasaran nggak nih sama scene yang tadi? Kalau iya, berarti harus mau baca part selanjutnya, ya....


...Selamat menunggu💖l...


__ADS_2