
Teriakan Cessie mengundang banyak pasang mata menuju kearah yang Cessie tatap. Mereka yang ada disana juga terpaku begitu melihat mobil hitam itu melesat dengan cepat kearah Jasmine.
...Brak...
...Bruk...
..."Arghhh ..."...
Semua yang menyaksikan peristiwa itu terpaku dan membulatkan mata ketika menyadari adanya korban dari tabrakan itu.
...[ *ย _ย * ]...
"SHIFAH!!" teriak Cessie begitu sadar kalau adik sepupunya lah yang baru saja tertabrak mobil karena menolong Jasmine.
Dengan langkah cepat, Cessie segera mendekat kearah Shifah yang kini meringis sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Dek, bangun dek." Cessie dengan cemas segera mengangkat kepala adiknya keatas pahanya itu. Tak dia perdulikan noda darah yang kini mengotori celana putihnya itu.
Jasmine yang tadi di selamatkan oleh Shifah dengan cara di tarik ke belakang pun, langsung mendekat kearah Shifah dan Cessie.
"Shifah, bangun. Jangan tutup matamu!" Suruh Jasmine yang kini ada di sebelah Cessie.
Keduanya begitu panik saat melihat Shifah yang akan menutup kedua matanya. Shifah yang masih bisa mendengar ucapan kakak - kakaknya itupun mengulas senyum tipis.
"Ss..Shi...fah ng...nggak...ap...apa..." ujarnya dengan suara lirih. Bahkan Shifah masih sempat - sempatnya menggoda kedua kakaknya itu.
"Ka...kak ber..dua je...lek kalau na...nangis gini." ucapnya dibarengi dengan kekehan lucu. Tapi sedetik setelahnya, Shifah meringis akibat kepalanya yang berdenyut nyeri. Rasanya sangat sakit sekali bagi Shifah.
"Shifah, pokoknya kamu jangan tutup mata dulu. Mbak bakalan marah banget sama kamu, kalau kamu nggak nurutin apa kata mbak!"
Pandangan mata Shifah mulai mengabur, bahkan wajah kedua orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu mulai memburam dimatanya.
Telinganya berdengung, Shifah merasa semua tulang yang ada di tubuhnya seolah ditarik paksa. Shifah tersenyum sebelum benar - benar menutup mata, namun sebelum itu Shifah memandang kedua kakaknya dengan senyum lembut.
"Ma...tur...nu...wun.." gumamnya lirih sebelum kesadaran mulai terengut darinya.
Baik Jasmine maupun Cessie menangis keras begitu melihat keadaan Shifah yang melemas. Keduanya tak memperdulikan keadaan sekitar yang mulai ramai dipadati oleh orang - orang yang penasaran akan keadaan si korban.
__ADS_1
Keduanya baru mau menyingkir setelah mobil ambulance tiba di lokasi. Keduanya memaksa untuk ikut naik di mobil ambulance itu.
Kepergian mobil ambulance tadi dibarengi dengan perginya para masa yang tadi memadati area kejadian. Bahkan polisi kini mulai mengamankan tempat dan meminta keterangan beberapa saksi yang melihat langsung kejadian tadi.
Sedangkan disisi lain, tepatnya di dalam mobil hitam tadi. Sang pengemudi memukul kencang setir mobil milik Yoela itu. Tapi tatapannya bergetar begitu menyadari bahwa dia salah sasaran.
Tangannya sudah gemetar hebat. Pikirannya mendadak tersadarkan dengan apa yang telah dia perbuat. Bagaimana bisa dia melakukan perbuatan kejam seperti ini.
"Argh!!" teriaknya seolah menyalurkan kekalutan yang tengah dia rasakan saat ini.
Rasa cemas, takut, marah dan kecewa melebur jadi satu. Dia menoleh kearah sahabatnya yang barusan mengelus bahunya pelan.
"Are you oke?" tanya Yoela sambil menatap lurus kearah Aurora. Aurora sendiri tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan mengangguk pelan.
Yoela menggeleng pelan. "Sepertinya tidak begitu. Aku merasa kau tidak sedang baik - baik saja. Sebaiknya biar aku yang menyetir."
Dengan pandangan kosong, Aurora hanya mengangguk. Kini keduanya bertukar posisi. Aurora berusaha mengendalikan rasa cemasnya itu.
Mobilpun mulai kembali melaju dengan sesekali Yoela mengajak bicara Aurora. Tapi sayangnya hanya ditanggapi singkat oleh Aurora.
...( * .... * )...
Keduanya masih berdiri di depan pintu yang tertutup, dengan perasaan berkecamuk. Rasa cemas, panik, kalut dan takut hinggap dihati keduanya.
Rasa tak tenang begitu kuat mengikat keduanya, apalagi sejak Shifah dibawa ambulan sampai ke ICU belum juga membuka mata.
Cessie yang melihat kekalutan Jasmine mulai menyuruh Jasmine untuk duduk disampingnya. Sejujurnya Cessie lah yang paling cemas. Dia tidak mau kehilangan adik sepupunya itu.
"Ini salahku. Ini semua salahku. Salahku!" Cessie menoleh kearah sahabatnya yang terlihat kacau itu.
Ditariknya pelan kedua tangan Jasmine yang baru saja menjambak rambutnya sendiri. "Ini bukan salahmu. Ini semua adalah takdir." ujarnya yang berusaha menghibur Jasmine agar tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.
Jasmine memeluk erat tubuh Cessie, menyalurkan segala kecemasan dan ketakutan akan keadaan Shifah di dalam sana. "Tenanglah, Shifah bukan anak yang lemah. Dia itu kuat! Jadi jangan menangis seperti ini."
"Shifah tidak akan suka melihatmu seperti ini." lanjutnya sambil menepuk pelan punggung Jasmine.
Walaupun berusaha menguatkan sahabatnya, tapi tak urung perasaan cemas dan takut kehilangan terus mendera batin Cessie.
__ADS_1
Tapi dirinya harus bisa menguatkan, sebab kalau mereka berdua terpuruk seperti ini. Siapa yang akan mencoba menguatkan Shifah yang kini tengah berjuang didalam sana.
๐ฟ ๐พ๐ฟ ๐พย
4 jam lamanya Jasmine dan Cessie menunggu di depan ruang ICU. Tapi kini bukan hanya mereka berdua saja yang ada disana, melainkan sang nenek dari Cessie dan Shifah juga ikut menunggu dengan perasan cemas.
Tadi Cessie mengabari sang nenek terkait kondisi Shifah yang masih berada di ruang ICU pasca kecelakaan yang dialaminya itu. Nenek Asha tentu saja segera meluncur ke rumah sakit.Perasan cemas, gelisah dan takut kehilangan jelas di rasakan oleh nenek Asha.
Bagaimanapun juga, Shifah merupakan cucunya yang selalu menemaninya selama ini. Terlebih setelah kepergian orangtua Shifah, membuatnya harus diurus oleh nenek Asha.
Lampu ruang ICU berganti jadi warna hijau. Dan tak lama, keluar 3 orang dari dalam ruangan. Satu dokter dan 2 perawat. Melihat kedatangan dokter itu, semua yang sejak tadi sudah menunggu kabar tentang Shifah pun langsung menghampirinya.
"Jadi gimana keadaan cucu saya, Dok?" Sang dokter menatap ketiga orang di depannya itu. "Kondisi pasien sudah melewati masa kritis. Sekarang kita tinggal menunggu pasien sadar dari pengaruh obatnya."
Ucapan itu melegakan hati ketiganya, namun perkatakan sang dokter selanjutnya membuat ekspresi mereka berubah seketika. "Pasien mengalami pergeseran tulang kaki dan tangan. Jadi butuh waktu untuk mengembalikannya sepertinya semula."
"Tapi adik saya bisa sembuh kan, Dok?" "Tentu saja bisa, setelah nanti pasien siuman, usahakan agar dia jangan banyak bergerak dulu. Supaya kondisinya bisa berangsur baik."
Ketiganya mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada sang dokter dan kedua perawat tadi. Kini Shifah sudah dipindahkan keruang rawat. Namun Shifah belum siuman, mungkin karena itu pengaruh dari bius yang disuntikkan oleh dokter.
"Sebaiknya kau pulang saja, Mine. Biar aku yang jaga Shifah disini." ucap Cessie pada sahabatnya itu. Lagipula Cessie menyuruh Jasmine pulang karena Jasmine itu sudah berkeluarga.
Bagaimanapun juga Jasmine memiliki kewajiban terhadap suami dan anak - anaknya. Lagipula kasihan kalau sampai Jasmine tidur disini, pasti itu tidak akan nyaman.
"Tapi, " Baru saja akan menolak hal itu. Ucapan nenek Asha lebih dulu menyahuti. "Benar apa kata Cessie. Kamu kan sudah berkeluarga, sebaiknya pulang saja. Kasihan anak dan suamimu, pasti nungguin kamu pulang."
"Besok kamu bisa kesini lagi buat nengokin Shifah. Kan sudah ada nenek dan Cessie yang jaga Shifah disini." Pada akhirnya Jasmine izin pulang kerumah. Benar apa kata nenek dan Cessie. Sekarang ini dia adalah seorang ibu dan juga istri untuk keluarganya.
Sudah sejak tadi juga Venson menelponnya dan menanyakan keberadaannya karena belum pulang. Tidak enak juga membuat sang suami menunggunya pulang seperti ini.
Tadinya Venson kekeh untuk menjemput Jasmine, tapi di tolak halus oleh Jasmine karena dia sudah lebih dulu memesan taxi online. Sejujurnya ada hal yang masih mengganjal di hati Jasmine. Dan ini berkaitan dengan kejadian tabrakan tadi.
Padahal jelas - jelas tadi Jasmine sudah memastikan kalau jalanan sepi, tapi kenapa mendadak ada mobil yang menuju ke arahnya. Apakah ini semua sudah terencana?
ย ย
...๐๐๐...
__ADS_1
...Selamat menunggu๐...