Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Tuduhan


__ADS_3

Sudah lebih dari 2 minggu Jasmine belum pulang ke rumahnya, lebih tepatnya belum memasuki rumahnya. Sejujurnya beberapa kali dia sempat datang berkunjung, walaupun hanya sampai di depan rumahnya saja. Jasmine memutuskan untuk tidak masuk karena dari pak satpam, dirinya mengetahui bahwa suaminya belum pulang. Ditambah lagi suasana hati serta hormonnya menolak untuk masuk kedalam rumahnya.


Untungnya kondisi Bu Lia sudah membaik dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Jadi selama 2 minggu itu juga Jasmine menyibukkan diri dengan beberapa macam hal yang membuat pikirannya teralihkan dari masalahnya saat ini. Kegiatab yang di lakukan seperti bermain dengan adik - adiknya, mengajari adik - adiknya belajar, mengajak mereka jalan-jalan, makan - makan dan melalukan sesuatu yang menyenangkan.


Kalau ditanya apakah Jasmine sudah menghubungi suaminya? Tentu saja sudah, tapi respon yang diberikan oleh suaminya itu tidak seperti yang Jasmine harapkan. Beberapa waktu yang lalu, Jasmine menelepon Venson, tapi dengan dingin dijawab oleh Venson. Apalagi kalimat yang Venson lontarkan cukup menyakitkan untuk Jasmine.


Padahal Jasmine hanya menanyakan kabar dan kesehatan Venson. Tapi dibalas acuh oleh sang suami. "Tidak usah sok peduli padaku dengan menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Bahkan aku hidup lebih baik dibandingkan dengan adanya dirimu." Itulah yang Venson katakan pada istrinya itu.


Jasmine tentu saja merasa sedih mendengar ucapan Venson yang jauh dari ekspektasinya. Jasmine kira Venson sudah tidak marah kepadanya. Namun ternyata hubungannya bukannya membaik, malah semakin memburuk. Bahkan pesan - pesan yang sudah dia kirimkan tak pernah mendapatkan balasan.


Jangan di pikir selama 2 minggu itu, Jasmine mengabaikan suaminya. Padahal kenyataannya Jasmine sudah beberapa kali mencoba menghubungi Aura, Wilson, bahkan Jackson, hanya untuk menanyakan kabar mereka. Bagaimanapun juga, dirinya masih bertanggung jawab menjadi seorang ibu yang baik untuk anak - anaknya.


Dirinya juga tidak bisa lepas tangan begitu saja untuk kewajibannya dalam mengurusi ketiga anaknya itu. Lagipula masalahnya dengan Venson, biarkan menjadi masalah mereka berdua dan tak perlu sampai mempengaruhi aktivitas apapun dari ketiga anak mereka.


Hari ini Jasmine memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah memastikan kondisi kesehatan sang ibu yang sudah benar - benar sehat. Bu Lia bahkan telah berpesan kepada dirinya agar membicarakan semua masalahnya dengan baik - baik. Terlebih lagi kondisinya saat ini yang sedang hamil serta hormon, emosi ataupun lainnya yang bisa mempengaruhi keadaan janin yang sedang dikandungnya.


Jasmine tentu saja mengiyakan ucapan itu. Jasmine senang karena Bu Lia sudah menjaganya selama ini dan menyayangi calon bayinya dengan penuh kasih sayang. Untuk masalah perjanjian pernikahan yang mengikat dirinya dan keluarga Venson, juga sudah dia bicarakan secara berterus terang dengan Bu Lia.


Respon awal yang Jasmine terima tentu saja kekecewaan di mata Bu Lia kepadanya, tapi setelah beberapa hari berlalu, sikap ibunya kembali membaik padanya. Bu Liq mau mencoba memaklumi apa yang di alami oleh. Jasmine. Banyak petuah yang diberikannya kepada kepada Jasmine, ditambah lagi beberapa nasehat serta saran untuk tetap menjaga hubungan harmonis antara suami istri. Bagaimanapun juga, Bu Lia lebih berpengalaman dalam urusan pernikahan dibandingkan dirinya.


Kini tibalah Jasmine di depan gerbang rumah suaminya. Dia sudah merasa kangen dengan rumah ini, begitu pun dengan para penghuninya. Padahal baru beberapa minggu dia tidak tinggal disini, tapi rasanya begitu lama dan ada yang kurang. Jasmine tidak bisa membayangkan kalau seadainya dia meninggalkan rumah ini dalam waktu lama. Pasti dirinya akan sangat rindu. Jasmine berharap, setelah dia masuk ke dalam rumah tersebut. Semua masalahnya bisa diatasinya dengan baik, apapun itu masalahnya. Itulah yang menjadi doa Jasmine saat ini.


Begitu masuk kedalam rumah, Jasmine sudah dibuat terkejut dengan keberadaan suaminya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Tapi sebenarnya bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan keberadaan wanita yang duduk disamping Venson. Jasmine pernah melihat wanita itu yang sempat dia temui di kantor Venson beberapa waktu yang lalu. Bahkan dia melihat sendiri saat wanita itu diusir oleh suaminya.

__ADS_1


Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa wanita ini ada di rumahnya? Sedang apa dia disini? Ataukah dia itu rekan bisnis suaminya? itulah yang menjadi fokus pikiran Jasmine saat ini.


"Mas Venson," panggil Jasmine agar suaminya itu mau menatapnya. Setelah mata mereka bertemu pandang, Jasmine kembali bertanya. "Mas, ini ada apa? Kenapa dia bisa ada di sini? Memangnya dia siapa?" tanya Jasmine pada sang suaminya.


Venson dan si wanita itu hanya menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Begitu mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jasmine, Venson mengulas senyum miring di bibirnya. Bahkan respon Venson hanya sebatas itu saja, padahal dia sudah lebih dari dua minggu tidak bertemu dengan Jasmine. Walaupun hanya sekali saja dia sempat mengangkat telepon dari istrinya itu.


"Dia ini adalau tamuku. Memangnya apa urusannya denganmu?" Jasmine hanya menggeleng pelan. Di kepalanya penuh akan pikiran mengenai siapa wanita itu, apakah dia itu memang teman atau rekan bisnis suaminya?.


Jasmine menghampiri suaminya yang masih dalam posisi duduk, Jasmine berniat untuk menyalimi dan mencium tangan suaminya sebagai salam namun Venson sama sekali tidak mengulurkan tangannya bahkan dirinya sempat menepis tangan Jasmine yang hendak meraih tangannya.


Jasmine tentu saja tersentak dengan respon yang diberikan oleh Venson kepadanya. Jasmine pikir suaminya itu masih marah karena masih beranggapan kalau Jasmine telah lalai dan menyebabkan Aura hampir saja celaka. "Mas, bisa kita bicara sebentar?" pinta Jasmine kepada Venson.


Venson menatap kearah Jasmine dengan pandangan menilai. "Bicara apa?" Jasmine tak langsung menjawab. Namun tatapannya bergulir kearah wanita tadi. Venson juga mengikuti arah pandangan Jasmine yang kini tertuju pada wanita disampingnya ini.


Dari tatapan matanya saja, Venson sudah mengetahui kalau Jasmine ingin mengatakan hal yang serius. Namun sayangnya Venson tak peduli. "Memang sepenting apa hingga kau ingin bicara berdua saja denganku? Bicarakan saja disini atau tidak usah sama sekali."


Ketegasan dalam ucapan yang dilontarkan oleh Venson membuat Jasmine mau tak mau harus mengatakannya disini. "Baik, kalau itu yang Mas mau." Jasmine tampak merogoh isi tasnya dan mengeluarkan suatu surat yang tertera namaa rumah sakit pada kepala surat tersebut. "Ini, Mas." Jasmine menyodorkan surat itu yang diterima dengan perasaan malas oleh Venson.


Venson mulai membuka isi surat itu dan membacanya. Namun ekspresi sama sekali tidak berubah, bahkan setelah dia selesai membaca tiap bait terakhir di surat tersebut. "Lalu kenapa kau tunjukkan surat ini padaku?" Sekali lagi respon yang ditampilkan oleh Venson saat ini bukanlah respon yang Jasmine harapkan.


Padahal sejujurnya Jasmine sudah berharap kalau suaminya itu akan sangat excited dengan isi surat itu. Tapi sepertinya berbeda jauh dengan apa yang diharapkannya. "Mas tidak senang?"


Venson menanggapi pertanyaan itu dengan tawa sumbang, "Untuk apa aku senang?" Pertanyaan tadi di balas pertanyaan oleh Venson. Mata Jasmine membulat tak menyangka, "Tapi aku hamil, Mas? Kenapa Mas terlihat biasa - biasa saja?" Sungguh Jasmine sangat tidak mengerti kenapa suaminya itu tak menampilkan ekspresi gembira atau memang seperti ini respon para suami yang mendengar berita kehamilan istrinya.

__ADS_1


Tentu saja Jasmine mencoba untuk berpikir positif. "Mungkin Mas Venson bersikap begini, karena sebelumnya dia sudah mempunyai tiga orang anak. Jadi nambah satupun tidak menambah rasa excited dibenaknya."


"Saat ini aku sedang mengandung anakmu dan ini sudah memasuki bulan ke-12 dari masa kehamilanku." jelas Jasmine sambil mengelus perutnya. Ada rasa gelayar menyenangkan hati yang dirasakan oleh Jasmine ketika mengingat dirinya tengah berbadan dua.


Rasanya sungguh tak bisa dijabarkan dengan kata - kata. Jasmine begitu bahagia, penasaran dan ada sedikit rasa takut, membayangkan dirinya akan melahirkan nanti. Pokoknya perasaan umum yang sering dirasakan oleh ibu hamil. Kini juga tengah dirasakan oleh Jasmine.


"Kau yakin kalau itu adalah anakku, bukan anak pria lain?" tanyanya dengan sinis.


...Deg...


Perasaan tersayat dirasakan oleh Jasmine, begitu mendengar ucapan yang seperti tuduhan ditelingganya itu. Sungguh dia tidak menyangka kalau suaminya itu akan menuduhnya seperti itu.


...❄❕❄❕☀❕❄...


...-------( *  _  * )------...


...Selamat Pagi, Siang, Sore dan Malam🙋...


...Next partnya sedang dalam proses. Jadi harap sabar menanti. Bila sudah, waktunya, pasti bakal aku Up......


...So, makasih telah membaca part ini. Kalau bisa kasih vote dan komen untuk part ini. ...


...Terimakasih😍...

__ADS_1


...-------( *  _  * )-------...


__ADS_2