
Disebuah ruangan yang berada di lantai dua, terdengar suara 2 orang yang saling bersahutan. Sejak 9 menit yang lalu, keduanya membahas sesuatu yang penting.
"Jadi kapan rencana kita akan dieksekusi?"
Pertanyaan itu membuat senyum salah satu dari mereka terangkat sebelah. "Mungkin besok adalah yang tepat. Lagipula aku sudah tidak sabar menantikan kehancurannya."
"Kau benar, walaupun aku menyukainya. Tapi penolakan waktu itu tidak bisa aku terima begitu saja." ucapnya yang ikut tersenyum culas.
"Ya, lagipula sudah waktunya dia merasakan apa itu penderitaan yang sesungguhnya." Keduanya membagi senyum miring sambil membayangkan kalau rencana mereka akan berhasil.
...OoOoOoOoOo...
Sejak pulang dari rumah Cessie, Jasmine nampak begitu pucat. Sebenarnya bukan hanya dia saja, tapi Cessie juga. Alasan kenapa mereka bisa mendadak sakit itu sebab keduanya melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa mereka lihat.
Keduanya yang baru selesai bercerita berniat kembali kedalam rumah. Tapi mereka mendengar suara tawa yang tidak begitu nyaring. Begitu dicari keberadaannya, mereka malah menemukan sosok duduk diatas pohon sambil tersenyum kearah mereka.
Tentu saja itu membuat keduanya menjerit ketakutan. Bahkan kaki Jasmine rasanya begitu lemas untuk kembali ke rumahnya. Tapi dia tidak mungkin menginap dirumah orang lain tanpa seizin suaminya.
Begitu tiba di rumah, Jasmine agak mengerti begitu melihat keberadaan mobil yang asing di pandangannya. "Mungkin ada tamu," pikir Jasmine sambil melangkah menuju pintu utama.
Dibukanya pintu itu dan dirinya bisa melihat keberadaan tekan - teman Aura disana. Keempatnya mengalihkan pandangan mereka kearah sang pembuka pintu.
"Ooh. Ternyata ibu tirimu, Ra." ujar Siska pada Aura yang duduk di sebelahnya.
Aura tak menanggapi ucapan itu. Bahkan dia juga tak memperdulikan keberadaan Jasmine disana. "Biarin aja, aku nggak peduli." ujarnya sambil fokus pada ponselnya.
Jasmine menghela napas sabar. Dia meneruskan langkahnya untuk kembali ke kamarnya. Namun langkahnya kembali terhenti begitu mendengar pembicaraan mereka berempat.
"Nanti malam jadi kan kita ke party-nya William?"
"Tentu saja jadi. Kita kan sudah diundang. Masa nggak datang. Iya kan, Ra?" tanyanya meminta jawaban dari Aura.
Aura tak langsung menjawab, bahkan dia saat ini tengah memikirkan cara untuk ikut ke acara party itu. "Gimana, Ra? Kamu jadi ikut, kan?" tanyanya lagi.
"Ehm, oke aku bakalan ikut." balasnya sambil tersenyum kearah teman - temannya dan dibalas oleh mereka.
__ADS_1
"Yes, gimana kalau sekarang kita cari baju buat acara party nanti malem?" Pertanyaan itu dibalas anggukan oleh ketiganya. Kini keempatnya berdiri untuk menuju mall.
Tapi sebelum itu, suara Jasmine kembali terdengar. "Kalian mau kemana?" Pertanyaan itu membuat keempatnya menatap kearah Jasmine.
"Kenapa nanya - nanya?" balas Aura sinis. Ketiganya menatap datar kearah Jasmine. Jasmine sendiri tak memperdulikan tatapan teman - temannya Aura. Sebab yang saat ini jadi fokusnya adalah putrinya itu.
"Ini sudah sore dan kau mau pergi kemana? Kalau mas Venson nanya kah pergi kemana, aku harus jawab apa?"
"Jawab saja aku pergi kerumah temanku. Gitu aja repot." Aura memang berniat berangkat ke party dari rumah Yoela. Sebab dia tidak yakin kalau dirinya akan diizinkan oleh ayahnya pergi malam - malam begitu.
Jasmine menatap Aura lama, "Lalu kau akan pulang jam berapa?"
"Bisa nggak sih loe tuh nggak usah kepo. Lagipula aku ingin menginap dirumah temanku." balasnya sambil berlalu pergi tanpa memperdulikan panggilan Jasmine untuknya itu.
Jasmine menghela napas panjang. Jasmine tak habis pikir kalau Aura kasih belum bisa menerimanya. Padahal seingatnya dia sama sekali nggak pernah mengusik hidup Aura.
Kalau memang kehadirannya disini sangat mengganggu bagi Aura. Bisakah sedikit saja Aura bersikap baik dengannya. Kalau memang untuk menganggapnya sebagai ibu terasa sangat berat, Jasmine rela hanya dianggap teman oleh Aura.
Itu akan terasa membahagiakan buatnya daripada dianggap sebagai musuh seperti ini.
Jasmine memejamkan matanya sambil melangkah menuju ke kamarnya. Sepertinya dia butuh istirahat sebentar, karena kepalanya mendadak pusing memikirkan segala masalah yang menghampirinya itu.
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...
Bahkan dia berjalan mondar - mandir sambil mengenggam ponselnya itu. Dan tak lama ponsel di genggamannya itu bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Naki," gumamnya begitu melihat siapa yang tengah menelponnya itu.
Ditekannya tombol hijau untuk memulai obrolan. "Hallo, ada apa, Nak?" sapa Jasmine sambil menanyakan apa keperluan Naki menelponnya malam - malam begini.
"Apa? Bagaimana bisa? Aku tidak sedang bercanda, Kan?" ujar Jasmine kaget dengan berita yang diberikan oleh Naki itu.
"Baiklah, sekarang kau shareloc biar aku bisa segera kesana. Oke, kau tunggu disana dan jangan sampai kehilangan jejak." Ucapan itu mengakhiri panggilan mereka.
Jasmine langsung menyambar tas selempangnya serta jaketnya. Bahkan sangking buru - burunya dia sampai lupa menganti piyamanya dengan pakaian santai.
__ADS_1
Setelah diantar oleh supir keluarganya itu, kini Jasmine sudah sampai di depan lokasi yang di berikan oleh Naki tadi. "Bapak pulang saja, saya ada urusan sebentar. Dan tolong jangan beritahu Mas Venson kalau saya datang kesini ya, Pak." ucapnya diselingi dengan tatapan memohon.
Sang supir hanya mengangguk kaku mengiyakan ucapan Jasmine tadi. Walaupun sebenarnya dia penasaran kenapa nyonya datang ke tempat seperti ini di larut malam begini.
Setelah memastikan supirnya pergi, Jasmine langsung melangkah mendekati bangunan yang sering disebut surganya para lelaki.
Beberapa pasang mata menatap aneh kearah Jasmine yang saat ini berdiri diambang pintu dengan pakaian seperti itu. Namun sayangnya Jasmine tak memperdulikan keadaan sekitar, yang menjadi fokusnya adalah keberadaan Naki.
Dia melangkah mendekati pemuda yang duduk sambil membelakanginya itu. "Naki," panggilnya yang membuat sang empunya nama menoleh kebelakang.
"Duduk dulu, Mine." suruh Naki yang dituruti oleh Jasmine. "Jadi dimana kau melihat putriku?" tanyanya tak sabar.
"Arah jam 2." ujar Naki yang membuat Jasmine menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Naki. Bisa dia lihat keberadaan anaknya dan teman - temannya itu.
Dan sepertinya mereka memang sedang mengadakan party, terlihat beberapa orang menyalami satu orang pria yang berada tak jauh dari kelompoknya Aura berada. Dilihat dari posisinya saat ini, Jasmine bisa melihat beberapa kali Aura menolak minuman yang disodorkan oleh temannya itu.
Bisa Jasmine yakini kalau minuman yang mereka sodorkan itu mengandung alkohol. "Berapa lama kau lihat dia ada disana?" tanyanya pada Naki yang kini sibuk dengan ponselnya.
"Sejam yang lalu." Mata Jasmine melotot mendengar perkataan sahabatnya itu. "Kenapa kau baru ngabarin sekarang?" dengusnya yang membuat Naki tersenyum kikuk.
"Aku kira cuma salah lihat. Tapi ternyata memang benar dia anakmu itu." Jasmine tak lagi memperpanjang masalah itu. Kini eksistensinya kembali terarah pada Aura yang sibuk tertawa bersama teman - temannya itu.
Jasmine menatap jam yang ada di layar ponselnya. 00.54 itulah angka yang tertera di layar ponselnya. Jasmine kembali menghela napas begitu memikirkan kenapa Aura berubah jadi membangkang seperti ini.
"Eh, Jasmine lihat deh. Anakmu itu mau kemana?" Pertanyaan itu menyadarkan Jasmine dari lamunanya. Bahkan dia tak sadar sudah 10 menitan melamun seperti itu.
Jasmine menatap kearah posisi Aura tadi, tapi dia sudah tak melihat keberadaan Aura disana. Hanya ada 2 temannya yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri. Jasmine segera berdiri dengan panik. "Dia kemana, Nak?"
Naki juga ikut bangkit, dia menatap kearah tangga yang sempat dilalui oleh Aura tadi. "Tadi aku lihat dia sama temannya naik ke lantai atas."
"Kita susul." Setelah mengatakan hal itu, Jasmine dan Naki melangkah kearah tangga. Namun langkahnya terhenti begitu ada yang memanggil namanya.
"Jasmine"
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...
__ADS_1
...Kira - kira siapa yang memanggil Jasmine, ya? Ada yang tahu?...
...Happy nice day......