Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Fakta yang ada


__ADS_3

...OoOoOoOoOo...


Suasana meja makan saat ini sungguh terasa sangat berbeda dari yang sebelumya, itu yang Aura rasakan saat ini. Anggota keluarganya sudah lengkap, dimana ada sang ayah, kakak dan adiknya. Tapi entah kenapa pandangan Aura terus tertuju pada kursi kosong di depannya. Dimana biasanya disanalah Jasmine duduk.


Sejauh yang Aura rasakan, ada bagian dalam hidupnya yang terasa kurang. Dan Aura sedikit ragu kalau kekurangannya itu disebabkan oleh ketidakhadiran Jasmine disini. Dianggap menyesal, jelas saja dia menyesal. Namun sekali lagi, egonya memaksanya untuk mengabaikan hal itu.


Aura pikir dengan dirinya yang mengabaikan keraguannya itu, dirinya tak akan memikirkannya lagi. Namun bukannya terabaikan, perasaan sesak itu semakin hari membuatnya kepikiran. Ditambah lagi sikap kakaknya yang seperti menghindarinya.


Bukan tanpa alasan, Aura berpikir seperti itu. Sebab tak biasanya kakaknya itu mengabaikan sapaannya saat mereka bertemu. Namun pagi ini, kakaknya hanya melengos saat berpapasan dengannya. Sebenarnya kenapa kakaknya bersikap seperti itu. Apa jangan - jangan kakaknya sudah tahu yang sebenarnya.


Aura mengigit bibirnya gugup, perasaan itu muncul saat mata ayahnya menatap ke arahnya. Bahkan untuk menelan makannya pun, Aura dibuat kesusahan. "Kau kenapa, Ra?" Venson menatap putri satu - satunya itu dengan pandangan bertanya.


Aura menggeleng sambil menundukkan kepalanya. "Aura baik - baik saja." Venson masih menatap putrinya itu. Tatapan Venson nampak lain dari biasanya. Bukan tanpa alasan, Venson yakin kalau Aura tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan sepertinya Aura tetap berniat untuk menyembunyikannya.


"Aura sudah selesai, Yah. Aura pamit dulu, ya." ucap Aura sambil menyalimi tangan ayahnya itu. Aura sempat berpamitan juga dengan kakak dan adiknya, namun hanya adiknya yang menanggapi ucapannya. Sedangkan Jackson tak membalas apapun, jangankan memberi respon, menoleh kearah Aura saja tidak dia lakukan.


Aura menunduk sedih melihat sikap acuh Jackson padanya. Mana ada saudara kandung yang tahan diabaikan oleh saudaranya yang lain. Tentu saja Aura sedih, bagaimana pun Aura dan Jackson cukup dekat, begitu pun dengan Wilson. Aura berjalan dengan gontai kearah mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.


Sang supir dibuat heran dengan kelesuan nona mudanya itu. Tidak bisanya anak majikannya itu bersikap seperti itu. "Langsung ke sekolah, Pak." ucap Aura pada supirnya dan setelahnya dia tenggelam dalam lamunannya. Mobil itupun perlahan mulai melaju menuju ke sekolah.


...OoOoOoOoOo...


Suara kebisingan yang tercipta akibat jam kosong, tak membuat salah satu penghuninya ikut berbaur dengan temannya yang lain. Dirinya hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan sesekali dia menghela napas kasar, karena merasa apa yang dia pikirkan tak menemui jalan keluar.


Tepukan halus dia rasakan di bahunya, membuatnya menoleh menatap si pelaku. "Ada apa, Max?" tanyanya pada teman sekelasnya itu. Max duduk di samping gadis yang dia tepuk bahunya itu. "Seharusnya aku yang nanya begitu. Kau kenapa, Aura?"


Aura yang ditanya begitu sejenak diam. Dia ingin sekali bercerita, tapi dia masih bingung ingin membagi cerita ini pada siapa. Rasanya sangat sulit untuk percaya pada orang lain. Terlebih lagi, apa yang akan dia cerita berhubungan dengan keluarganya. "Aku tidak kenapa - napa." Aura memberikan sebuah senyuman kecil pada Max.

__ADS_1


Max sendiri ta begitu yakin akan jawaban Aura tadi. Apalagi dia kenal Aura sudah cukup lama. Mungkin bila dihitung, sudah sejak smp kelas 2. Sekarang mereka sudah duduk di sma kelas 3. "Kalau ada masalah, kau jangan sungkan untuk cerita padaku. Aku akan selalu berada di sisimu." Max memberikan senyum lembut yang membuat Aura sedikit tersipu melihatnya.


Sebenarnya Aura sudah menaruh hati pada Max, hanya saja dia tak yakin perasaannya ini berbalaskan. Terlebih lagi, Aura tak ingin Max menjauh darinya saat tahu kalau dia punya rasa pada Max. "Kau tak berkumpul dengan temanmu yang lain?" Aura menggeleng pelan.


Memang sejak tadi dia asyik dengan dunianya sendiri, membuatnya mengabaikan para sahabatnya itu. Mungkin saja mereka sedang berada di kantin, mengingat kali ini jam kosong hingga jam istirahat kedua. "Kau sendiri, kenapa tak bermain game bersama mereka?"


"Mau nemui bidadari," ujar Max yang malah membuat Aura tersipu mendengarnya. "Bohong banget," sahut Aura sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Aura tak ingin sampai Max melihat pipinya yang memerah.


"Ngapain bohong, coba tanya sama yang lain. Pasti mereka mengakui kalau kamu memang secantik bidadari." Aura semakin tersipu mendengar ucapan yang terdengar seperti gombolan di telinganya itu.


Keduanya kembali melanjutkan candaan mereka, bahkan sejenak suasana hati Aura yang semula murung dan penuh akan beban pikiran, kini mulai membaik. Aura bisa tertawa lepas tanpa memikirkan banyaknya masalah yang ada di hidupnya.


...OoOoOoOoOo...


Sejak berangkat ke kampus, Jackson sama sekali tidak fokus. Bahkan saat di kelas pun, dia sama sekali tidak menangkap materi yang diajarkan oleh dosennya. Pikiran masih tertuju pada fakta yang telah dia temukan. Dirinya hanya tak menyangka, kalau sebenarnya adiknya itulah yang menjadi dalang dari semua masalah di rumahnya.


Selepas matkul usai, Jackson langsung menuju kearah parkiran untuk mengambil motornya. Namun langkahnya terhenti saat salah satu temannya menyuruhnya untuk bergabung. "Kau mau kemana, Jack? Sini kumpul sama kita." Awalnya Jackson berniat menolak ajakan itu, namun ada keterkejutan yang Jackson rasakan begitu mendengar kabar yang dibawa temannya itu.


"Kau serius?" tanya Jackson yang tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh teman itu. "Iya, aku tidak bohong. Aku dapat kabar langsung dari sepupunya, katanya Ramos dipenjara atasan tuduhan pelecehan di bar."


Kabar itu membuat para teman Jackson heboh. Mereka tak menyangka kalau salah satu teman mereka ada yang masuk penjara. Apalagi kasusnya itu berkaitan dengan pelecehan. Jackson semakin penasaran siapakah korban dari Ramos.


"Terus korbannya siapa?" Si pembawa kabar itu menggeleng tak tahu. "Entahlah. Lagipula korban kasus seperti itu pasti dilindungi dan tidak diperkenalkan pada publik. Tapi kabar yang ku dengar, korbannya masih anak sma. Entah itu benar atau tidak, aku tidak tahu."


Jackson semakin dibuat terkejut begitu korban dari Ramos itu adalah anak Sma. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama, yang tak lain adalah adiknya sendiri. "Kau tahu dia ada di bui mana?" Jackson bertanya seperti itu untuk memastikan kebenaran dari apa yang dia pikirkan.


Setelah diberitahu, Jackson langsung pamitan pada kelima temannya itu. Langkahnya semakin lebar, begitu sampai di depan motornya. Tanpa ba bi bu lagi, Jackson langsung menuju ke tempat dimana temannya itu berada.

__ADS_1


...OoOoOoOoOoO...


Terdengar bunyi gembok dibuka, mampu mengalihkan ekstensi seorang pemuda yang tadi duduk di sudut ruangan. "Saudara Ramos, ada yang ingin bertemu dengan Anda." Pemuda tadi pun beranjak dari posisinya dan setelahnya membiarkan tubuhnya dibawa si polisi tadi.


Awalnya Ramos pikir yang datang mengunjunginya itu adalah orang yang ditunggunya. Namun ternyata sangat jauh dari apa yang dia perkirakan. Ramos duduk di depan seorang yang dia sangat kenal. "Waktu kunjungan Anda hanya 20 menit." Ucapan itu di angguki oleh orang yang datang berkunjung.


Setelah ditinggal, kini arah tatapan Ramos tertuju pada orang di depannya. "Untuk apa kau kesini?" tanyanya tanpa basa basi, sebab Ramos pikir kalau orang di depannya ini sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun sepertinya tebakanya meleset dari apa yang dia pikirkan.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Benarkah kau telah melakukan pelecehan itu?" Ramos hanya diam, tak memberi jawaban apapun pada orang di depannya ini.


Hening selama beberapa detik. Hingga Ramos tersenyum miring. "Kalau benar, kau mau apa?" tantangnya yang membuat orang yang tak lain adalah Jackson mulai mengepalkan tangannya. Namun raut wajahnya tak berubah, masih tetap datar seperti biasanya.


Jackson sebenarnya masih tak puas dengan jawaban singkat yang Ramos berikan. "Lalu siapa yang menjadi korbanmu itu." Ramos masih mempertahankan senyum miringnya itu, bahkan sekarang keluar kekehan dari mulutnya.


"Kenapa kau begitu penasaran. Memangnya kau pikir dia itu siapa?" Jackson tak ingin terpancing emosi dalam menghadapi Ramos kali ini. Kalau dibilang dekat, tidak terlalu. Tapi ditanya mereka temanan, jelas temenan. Bahkan dari masuk kuliah, mereka sudah jadi teman.


Namun sayangnya, hubungan pertemanan mereka cukup merenggangkan beberapa minggu belakangan. Dan alasan kenapa keduanya terkesan menghindar adalah tak lain karena adiknya, Aura.


...OoOoOoOoOo...


...Double Up yang ku janjikan....


...Segini dulu, lusa lanjut lagi up-nya....


...Jangan lupa like, ya 😊...


...Thank You💙💜 ...

__ADS_1


...( * OoOoOoOoOo * )...


__ADS_2