Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
Kemarahan yang Terpendam


__ADS_3

Sebuah ringisan terdengar kala seorang gadis tengah mengobati luka dileher milik adiknya itu. "Makanya jadi orang itu jangan pecicilan. Tahu sendiri kan apa akibatnya." Sedangkan yang di nasehati hanya memberikan tatapan malas.


"Seharusnya Mbak bangga sama aku. Gini - gini aku bisa membasmi kejahatan pelakor." Mendengar apa yang adikknya katakan, membuatnya mengernyit bingung. "Pelakor? memangnya dia siapa?"


Baru saja akan memberikan mengenai kejadian tadi siang, namun dihentikan oleh kakaknya yang lain. "Sudahlah jangan dibahas lagi. Lagian itu juga tak terlalu penting untuk dibahas." Shifah yang mendengar apa yang Jasmine katakan barusan, langsung menggeleng tak terima.


"Itu penting untuk dibahas, Mbak. Apalagi kalau ini menyangkut hubungan rumah tangganya Mbak Jasmine."


Cessie yang mulai penasaran pun, ikut nimbrung dalam obrolan keduanya. "Jadi siapa pelakornya? Terus gimans ceritanya bisa ketemu?" Shifah langsung menghadap kearah Cessie dan mulai me,nceritkan kejadian awal dia dan Jasmine ketemu Venson dan Mertha di mall.


Begitu selesai cerita. ekspresi Cessie berubah cerah. "Bagus, Dek. Kalau perlu tonjok ajak sekalian. Orang kayak begitu nggak bisa di biarin gitu aja. Entar jadi tambah ngelunjak dianya."


Kompak sekali kedua adik kakak ini dalam aksi melawan pelakor, ya. Berbeda dengan Jasmine yang hanya diam saja. Bahkan tak ikut nimbrung dalam obrolan keduanya. Dirinya hanya sedikit memikirkan kejadian tadi. Dimana suaminya sama sekali tak mengejarnya.


Padahal dalam hati, Jasmine berharap suaminya itu menyusulnya dan mulai menjelaskan semua kesalahpahaman yang dia lihat itu. Bolehkah, Jasmine kembali kecewa pada Venson. Bahkan tak ada satupun pesan yang Venson kirimkan kepadanya.


Lamunan Jasmine buyar saat Cessie bertanya padanya. "Apa? tadi kau bertanya apa?" Memang tadi Jasmine kurang fokus dalam mendengarkan obrolan keduanya. "Kau ngalamun, ya?" Jasmine menggeleng sedikit. "Nggak juga sih. Tadi kau nanya apa?"


"Aku tanya siapa nama pelakor itu? katanya dia orang yang sama saat kejadian waktu itu?" Jasmine paham akan maksud dari kata kejadian waktu itu. Itu menunjuk pada kejadian yang terjadi di kamar mandi mall. Bahkan Jasmine masih mengingat Bagaimana ketakutannya saat terancam kehilangan calon buah hatinya itu.


Awalnya Jasmine tak mau bilang, tapi desakan kedua orang ini membuat Jasmine menyerah dan memilih untuk memberitahu. "Dia bernama Mertha dan sudah beberapa kali aku bertemu dengannya saat tengah bersama Mas Venson."


Baik Cessie maupun Shifah mengangguk paham. "Memang pelakor ulung ternyata." gumam Cessie yang tentunya di dengar oleh keduanya. "Apa luka di lehermu itu di sebabkan olehnya, Dek?"


Shifah nampak berpikir sejenak. "Mungkin saja, Mbak. Tapi tadi siang nggak begitu kerasa. pas sampai sini baru terasa perih." Shifah memamg mendapatkan luka di tangan dan lehernya akibat perkelahian tadi. Walaupun secara keseluruhan tak begitu parah. Mungkin hanya meninggalkan goresan yang akan sembuh dalam beberapa hari.


"Nah sudah selesai." ucap Cessie yang barusaja kelar mengobati luka di leher adiknya itu. Mungkin luka itu tercipta akibat jarum pentul yang Shifah gunakan. Walaupun tak mengeluarkan banyak darah, tapi tetap saja akan terasa perih bisa terkena air.


"Makasih ya Mbakyu ku yang paling cantik." Cessie hanya bergumam singkat sebagai jawabannya. Dia membawa kotak p3k dan bekas kapas yang akan dia buang itu dapur, meninggalkan Jasmine dan Shifah di ruang santai.


Shifah menatap ragu pada Jasmine yang kini tengah menonton Tv. Beberapa kali dirinya membuka mulutnya, tapi di detik berikutnya dia kembali menutup mulutnya itu. Jasmine menoleh kearah Shifah. "Kau kenapa? Ada yang ingin di sampaikan ke Mbak?"


Setelah mengambil napas dalam, akhirnya Shifah mulai berani membuka pembicaraan yang sedikit sensitif bagi Jasmine. "Maaf, Mbak. Bukannya Shifah mau lancang atau ikut campur sama masalah Mbak Jasmine."

__ADS_1


Sejenak Shifah menghentikan ucapannya. "Tapi kalau boleh, Shifah mau nanya ke Mbak Jasmine. Kenapa Mbak nggak langsung melabrak suaminya Mbak dan si pelakor itu?"


Sejujurnya inilah yang sejak tadi Shifah pikirkan. Bukannya dia tidak ikhlas membantu Jasmine menumpas si Mertha. Hanya saja, akan lebih berhak kalau si korbannya lah yang langsung turun tangan. Istilahnya lebih afdolnya begitu.


Diamnya Jasmine membuat Shifah merasa tak enak hati. Dia bukannya kepo, hanya sedikit penasaran saja. Awalnya Shifah pikir kalau Jasmine akan marah padanya, terkait apa yang dia tanyakan itu. Tapi Jasmine hanya memberikan senyum tipis padanya.


"Mbak cuma nggak mau cari ribut atau jadi pusat perhatian. Lagian kan sudah ada kamu yang mau menolong Mbakyu mu ini." Diakhir kalimatnya, Jasmine sedikit terkekeh pelan.


Penjelasan itu tak membuat Shifah yakin 100℅ pada apa yang Jasmine katakan. Bukannya tak may percaya, hanya saja rasanya ada yanv kurang. "Tapi apa Mbak Jasmine nggak marah sama kelakuan suaminya Mbak?"


Ditanya seperti itu kekehan yang sempat Jasmine buat, memudar secara perlahan. "Kalau boleh jujur, tentu saja Mbak marah, Fah. Siapa yang tak marah melihat kedekatan suaminya dengan wanita lain. Mbak juga kecewa sama Mas Venson."


Dari apa yang Jasmine ucapkan, terdengar jelas bagaimana kesedihan bercampur kekecewaan yang Jasmine rasakan untuk suaminya itu. Dan Shifah menangkap hal itu dengan jelas. Seketika rasa bersalah hingga di hati Shifah, lantaran dia telah mengulik kehidupan kakaknya ini.


"Shifah minta maaf ya, Mbak. Shifah nggak ada maksud buat Mbak Jasmine sedih." sesalnya sambil memegang ujung bajunya itu. Jasmine menggeleng pelan. "Bukan salahmu, Fah. Lagian kan kamu pasti bertanya - tanya kenapa Mbak lebih memilih untuk diam, kan?"


Dalam hatinya Shifah mengangguk, namun saat di depan sang kakak dia hanya diam. Dirinya tak ingin kembali membuka luka di hati Jasmine yang mulai tertutup itu. Ingin sekali dia bertanya atas apa alasan kakaknya itu masih bertahan sampai sejauh ini.


Namun itu semua hanya tertelan di dalam mulutnya saja. Jasmine menatap Shifah dengan pandangan lembut. "Kamu masih ada yang mau di tanyakan sama, Mbak?" Sejujurnya Shifah ingin bilang Iya, namun dirinya tak bisa mengatakannya. Mengerti akan tatapan Shifah, Jasmine lantas menawarkannya kembali.


"Mbak kenapa nggak milih pisah saja sama suaminya Mbak? Kenapa juga Mbak masih bertahan disaat hanya Mbak aendiri saja yang mempertahankan rumah tangga kalian?"


Jasmine tentu sedikit kaget akan pertanyaan dari adiknya ini. Hening tercipta diantara keduanya. Shifah pikir Jasmine tak mau menjawab apa yang dia tanyakan, namun pikirannya itu ternyata salah.


"Masalah yang terjadi diantara Mbak sama Mas Venson, itu nggak sepenuhnya salah suaminya Mbak. Dan Mbak yakin masalah itu bisa berujung manis. Tinggal menunggu waktunya saja."


"Tapi, berada dalam ketidakpastian itu nggak mengenakan, Mbak. Shifah mau nanya, berapa lama Mbak harus menunggu waktunya itu tiba?" Jasmine hanya terdiam. "Bahkan Mbak sendiri tak tahu harus menunggu sampai berapa lama, kan?"


"Shifah bukannya tidak mendukung keputusan Mbak untuk menunggu dan bertahan dalam hubungan kalian." Napas Shifah tampak sedikit memburu. "Hanya saja, Shifah tak ingin Mbak terjebak dalam hubungan yang tak tahu mau diapakan lagi kedepannya."


Ekspresi Shifah sedikit berubah, bahkan wajahnya sedikit memerah. Tapi itu tak membuat dirinya lepas kendali. Jasmine membuang napas panjang. "Fah, kamu tahu. kan? Kalau perpisahan dalam rumah tangga itu memang di perbolehkan, hanya saja itu di benci olehNya. Mbak, nggak mau sampai itu terjadi."


Perlahan ekspresi Shifah berubah menjadi lebih tenang. "Ditambah lagi, Mbak saat ini sedang mengandung. Jelas sebuah perpisahan tak di perbolehkan untuk terjadi. Dan Mbak nggak akan setega itu untuk memisahkan antara anak dengan ayahnya."

__ADS_1


Penjelasan itu cukup mampu membuat Shifah menyalahkan dirinya sendiri, karena sempat perpikiran untuk menyuruh kakaknya itu pisah dari suaminya sendiri. Seketika rasa bersalah itu muncul di hati Shifah. Bukannya dia tak ingin Jasmine bahagia dengan suaminya. Hanya saja dia tak tega melihat hubungan mereka yang seolah tak menemukan titik terang.


"Shifah minta maaf atas ucapan Shifah tadi, Mbak. Shifah hanya tak mau melihat Mbak Jasmine terus di sakiti seperti ini. Shifah pengen Mbak Jasmine bahagia."


Jasmine tentu saja tersentuh atas apa yang barusan di ucapkan oleh Shifah. Dia tak menyangka kalau Shifah begitu peduli dan memikirkan akan kebahagiaannya. Direngkuhnya tubuh adik dari sahabatnya ini. "Shifah nggak salah. Wajar kalau Shifah punya pemikiran seperti itu. Apalagi Shifah hanya ingin melihat Mbak bahagia."


Shifah balas memeluk Jasmine, setidaknya itu ampuh meredakan rasa bersalahnya tadi. Keduanya saling berpelukan sambil tertawa kecil.


Disisi lain, terlihat seorang gadis yang tengah menerima sebuah panggilan telpon dari seseorang. Dari raut wajahnya saja sudah terlihat jelas keengganan saat mengangkat panggilan itu.


"Bagaimana kondisinya? Dia baik - baik saja, kan?" Walaupun enggan, gadis itu masih tetap menjawabya. "Tenang saja, dia baik - baik saja. Untungnya tak ada yang terluka parah. Kalau sampai ada, ku buat perhitungan denganmu!"


"Baiklah, tapi aku minta tolong jaga dia." gadis itu hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Respon itu tentu saja tak bisa di lihat oleh orang di seberang sana, sebab itu panggilan telpon biasa, bukan panggilan video.


"Tak ada yang ingin di bicarakan lagi, kan? Aku tutup telponnya." Tanpa menunggu jawaban, panggilan itu lebih dulu di putus oleh gadis ini.


Baru saja akan keluar dari dapur, ponselnya kembali berdering. Dengan malas dia mulai mengangkatnya, sebab dia pikir sang penelpon adalah orang yang sama yang menelponnya tadi.


"Aku mendapat laporan kalau gadisku terlibat dalam perkelahian, apa itu benar?" tanyanya to the point. Seketika rasa malasnya tadi berubah menjadi rasa amarah.


"Kau tak perlu ikut campur. Bukannya aku sudah bilang, jangan pernah mengawasi adikku. Ingat pada kesepakatan yang sudah kita buat! Jangan coba - coba mencari tahu tentang apapun yang berkaitan dengan adikku ini, Kau mengerti?!"


Nada penekanan ditiap kata - katanya itu tak membuat orang di seberang sana ketakutan. Justru orang itu malah terkekeh sinis. "Kalau kau kooperatif, mungkin aku tak akan bertindak sampai, calon istriku!"


Si gadis itu mengeram marah, tanpa membalas ucapan orang tadi. Dirinya lebih dulu mematikan sambungnya. "Awas saja kalau dia berani mendekati adikku. Jangan harap dia bisa hidup tenang!" geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


...OoOoOoOoOoO...


Hai, kangen aku Up nggak?


Segini dulu, ya. Adakah yang bisa menebak jalan cerita ini? Ooh, ya gadis itu siapa ya? dan kedua penelpon itu adakah yg bisa tebak?


...Selamat berteka - teki ria ;-),...

__ADS_1


...Bye Bye ^\=^...


__ADS_2