Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
15. Pasutri Baru


__ADS_3

...🍁 Selamat Membaca ❤  🍁...


Akhirnya hari yang di nantikan oleh Venson dan Jasmine tiba juga. Kini keduanya baru saja melangsungkan pernikahan mereka. Tentunya dengan suasana khidmat dan dihadiri oleh beberapa keluarga inti saja.


Pernikahan ini ternyata juga membuat para keluarga besar Venson kaget. Sebab Venson bilang ingin menikah ketiga H-3. Dan Jasmine baru tahu kalau ternyata orangtua Venson berada di negara orang.


Sedangkan saudara bahkan sepupu kebanyakan Venson berada di luar kota. Makanya mereka dibuat terkejut ketika tahu, kalau pernikahan Venson tinggal menghitung hari. Bahkan orangtua Venson mengambil penerbangan VIP untuk bisa sampai kemari tepat waktu.


Kalian tahu, gimana respon ketiga anak Venson? Mereka terpaksa, ingat terpaksa menyetujui pernikahan ini. Lantaran ayah mereka sampai memohon pada ketiganya.


Selain itu juga ada rahasia diantara ketiganya dengan Jasmine, tanpa sepengetahuan dari Venson. Kesepakatan itu dibuat beberapa hari sebelum pernikahan ini dilaksanakan.


"Selamat ya, Nak. Kalian berdua akhirnya menjadi suami istri." Ini adalah ucapan ibu dari Venson yang saat ini telah menjadi ibu mertuanya Jasmine.


"Terimakasih, Ma." jawab Venson sambil memeluk mamanya itu. Saat ini memang hanya sekedar acara inti saja, tapi setelah ini acara resepsi baru akan dilakukan.


Pandangan ibu Venson terarah pada Jasmine yang tampak cantik di samping Venson itu. Dipeluknya tubuh Jasmine sambil mengucapkan beberapa patah kata.


"Selamat, Nak. Semoga kedepannya kalian berdua hidup bahagia."


"Iya, Ma. Terimakasih doanya. Dan terimakasih juga, Mama dan Papa sudah merestui pernikahan kami ini." Airmata kebahagian tercurah dari bola mata Jasmine.


Awalnya dia sempat takut kalau seandainya orangtua dan keluarga Venson tidak menerimanya. Walaupun tidak semua menerimanya. Setidaknya ibu dan ayah mertuanya mau menerimanya sebagai anak menantu.


"Anak - anak mari sini." Panggilan dari kakek mereka, mau tak mau dituruti oleh ketiganya. Kini ketiganya naik keatas panggung yang sudah di dekor dengan indah.


"Kita foto bersama." Sebenarnya Aurora sangat malas sekali berfoto bersama dengan Jasmine di dalamnya. Apalagi posisinya saat ini berada di samping Jasmine dan sang Nenek.


Hal itu semakin memperparah keadaan moodnya saat ini. Selama sesi foto berlangsung, dia hanya tersenyum paksa di depan kamera. Kalau bukan suruhan kakeknya, Aurora lebih baik pulang daripada berdiam diri disini lebih lama.


Segala rentetan acara sudah mereka selesaikan. Bahkan saat ini Jasmine sudah berada di kamar hotelnya dengan sang suami. Tubuhnya terasa pegal akibat terlalu banyak berdiri ketika menyalami suara tamu undangan.


Jasmine memang tahu kalau suaminya itu adalah orang penting. Tapi dia hanya tidak menyangka kalau yang akan datang sebanyak itu. Dari banyaknya tamu yang datang, Jasmine hanya kenal beberapa orang saja. Itupun karena dia sempat bertemu ketika diajak pergi oleh Venson saat menghadiri acara kolega bisnisnya itu.


Teman - teman Jasmine yang datang hanya dari rekan kerja dan teman sekolahnya dulu. Itupun tak lebih dari 10 orang. Dan sisanya tentu saja tamunya Venson.


Di Pernikahannya ini, keluarga Jasmine datang. Bahkan Bu Lia menangis haru ketika menyaksikan acara pernikahan anaknya itu. Selain Bu Lia, adik - adiknya yang lain juga hadir. Mereka terlihat bahagia sekali melihatnya menikah.


Pokoknya hari ini adalah hari terbahagianya Jasmine selama dia hidup. Melihat senyum dan tawa dari ibu dan adik - adiknya itu adalah hal terindah bagi Jasmine.


Meninggalkan ingatan akan hal tadi. Kini Jasmine dibuat gugup dengan keberadaan sang suami yang tengah berada dikamar mandi itu.


Baru saja dibicarakan, sosok Venson baru saja keluar dari dalam kamar mandi, meninggalkan tetesan air dari rambutnya itu. Jasmine meneguk lidahnya susah payah.


"Kau tidak bersih - bersih dulu?" Pertanyaan itu membuat Jasmine buru - buru menuju ke kamar mandi. "Ini juga mau bersih - bersih."


Venson tersenyum gemas melihat tingkah Jasmine yang terlihat jelas tengah gugup itu. Sungguh, wajah gugup Jasmine tadi sangat manis di pandangannya.


"Jangan lama - lama. Aku menunggumu." Perkataan barusan membuat tubuh Jasmine menegang. Dia sangat gugup saat ini. Perasaan gugup sejak tadi tak mau hilang dari darinya.


Selama hampir lebih dari 60 menit Jasmine berada di kamar mandi. Tapi Jasmine baru sadar kalau dia lupa membawa pakaian ganti. Sebab tadi dia buru - buru ke kamar mandi. Tapi membawa pakai ganti.


Lalu sekarang ini bagaimana nasibnya. Masa dia harus keluar dengan keadaan telanjang. Kalau harus pakai gaunnya tadi, itu butuh waktu lama.


Masih berkutat dengan pikirannya, Jasmine di kagetkan dengan suara milik suaminya itu. "Sayang. Kenapa kau lama sekali didalam sana? Kau baik - baik saja, kan?"

__ADS_1


"Iya, aku baik - baik saja." jawab Jasmine dari dalam kamar mandi.


"Lalu kenapa belum keluar juga?"


Klek


Jasmine membuka pelan pintu kamar mandi itu. Tapi hanya bagian kepalanya saja yang terlihat. Sedangkan badannya masih tersembunyi di balik pintu.


Venson menatap bingung dengan tingkah istrinya itu. "Kau kenapa?"


Sebelum menjawab pertanyaan itu, Jasmine lebih dulu menunduk malu. "Sebenarnya aku punya sedikit masalah disini."


"Masalah apa?"


"Sebenarnya aku lupa membawa pakaian ganti." Jujur, Jasmine sangat merasa malu saat ini. Sedangkan Venson malah tertawa pelan begitu melihat wajah istrinya yang memerah karena malu.


"Jadi karena itu, makanya kau sangat lama di dalam kamar mandi." Venson masih tertawa.


Setelah menghentikan tawanya, Venson memandang lembut kearah Jasmine. "Oke, kamu tunggu sebentar. Biar aku yang ambil pakaianmu dulu."


Tak begitu lama, Venson sudah kembali dengan satu pasang pakaian tidur. "Ini, kau langsung pakai. Biar tidak kedinginan."


"Terimakasih." Setelah mengatakan hal itu, Jasmine segera menutup kembali pintu kamar mandi. Dan langsung memakai pakaian yang di berikan suaminya tadi.


Tak menunggu lama, Jasmine sudah keluar dari dalam kamar mandi. Ternyata pakaian tidurnya itu sama dengan pakaian milik suaminya itu.


"Duduk sini." Venson menepuk pelan bagian ranjang di sebelahnya. Mengisyaratkan untuk Jasmine agar segera tidur di sampingnya.


Sebenarnya Jasmine sangat gugup saat ini. Tapi dia juga tidak bisa menolak perkataan suaminya itu. Akhirnya Jasmine duduk disamping Venson yang kini memusatkan pandangannya kearah Jasmine.


"Kau pasti gugup, ya?" Dengan pelan Jasmine mengangguk. Venson terkekeh pelan melihat wajah Jasmine yang tersipu malu itu.


Jasmine mendongak pelan menatap mata Venson yang tak mengisyaratkan kebohongan sama sekali. Sejujurnya Jasmine juga tahu kalau sekarang ini dia itu sudah milik suaminya.


Bahkan jika Venson memintanya sekarang, Jasmine pun akan memberikannya. Namun pikirannya kembali mengingat isi perjanjian yang telah dia dan ketiga anak tirinya itu buat beberapa hari yang lalu.


Jauh di lubuk hati Jasmine, dia tidak ingin memilik hubungan yang seperti ini. Di satu sisi, dia bahagia telah menemukan seseorang yang menganggap penting dirinya. Bahkan mencintainya sedalam ini.


Tapi secara tidak langsung, ada perjanjian yang mengikat Jasmine untuk tidak melibatkan perasaanya dalam hubungannya dengan Venson. Padahal perasaan itu mulai hadir di hati Jasmine.


"Aku hanya sedikit gugup, Mas." Panggilan itu Jasmine sematkan pada Venson atas kemauan Venson sendiri. Katanya agar lebih romantis.


Setitik rasa kecewa dihati Venson. Tapi dia tidak akan memaksa Jasmine untuk melakukan 'itu' saat ini.


"Baiklah, sekarang kita tidur. Aku tahu kalau kamu pasti sangat lelah hari ini."


Jasmine mengangguk sambil merapatkan posisinya agar berada dalam pelukan sang suami. Dia tahu, kalau suaminya itu mungkin merasa kecewa. Tapi Jasmine juga tidak bisa melanggar isi perjanjian itu dalam waktu dekat ini.


Sebab, keluarga pantinya yang menjadi taruhannya kalau dia melanggar. Dan hal itu tentu saja bukan keinginan Jasmine untuk terjadi.


"Maaf, Mas." gumammya yang begitu lirih. Tapi tentu saja Venson mendengar hal itu. Dieratkan pelukan itu sebagai jawaban tak tersirat darinya atas gumaman Jasmine tadi.


...♨ ♨ ♨...


Sepasang suami istri yang baru saja menikah itu kini melangkah menuju ke restoran yang ada di hotel ini. Sebab agenda mereka hari ini dimulai dengan sarapan bersama keluarga besarnya.

__ADS_1


Jasmine menatap kesal kearah sang suami yang tampak terkekeh sejak tadi itu. Bayangkan, pagi - pagi Jasmine sudah mendapatkan kejutan berupa bercak kemerahan di sekitaran lehernya.


Belum lagi di area bibirnya yang sedikit membengkak. Begitu Jasmine tanya pada sang suami apa yang telah dia lakukan padanya. Jawaban dari mulut Venson membuat Jasmine mendengus.


Bisa - bisanya, Venson hanya menjawab "Itu kejutan manis dariku untuk istriku tercinta."


Mana bekasnya terlihat jelas lagi. Dan lagi, pakaiannya tidak ada yang bisa menutupi secara sempurna bagian lehernya itu. Itulah yang membuat Jasmine berdecak kesal akibat ulah Venson.


"Jangan marah - marah begitu. Nanti aku makin cinta sama kamu loh." Goda Venson sambil mencubit pelan pipi Jasmine.


Sedangkan Jasmine meliriknya dari ekor matanya. "Jangan ngegombal, Mas. Masih pagi loh ini." Venson kembali tersenyum sambil merangkul bahu Jasmine agar semakin mendekat ke arahnya.


Kini tibalah pasutri itu di restoran hotel. Terlihat beberapa keluarga inti sudah duduk di bangku yang telah di siapkan. Sedangkan beberapa keluarga besar belum semuanya datang.


"Selamat pagi semuanya." Sapa Jasmine yang masih di rangkul oleh Venson itu.


"Pagi juga anak mama. Sini kalian duduk." Balasan itu berasal dari mamanya Venson yang bernama Maria.


Jasmine membalasnya dengan senyuman dan menempati kursi yang kosong. Dan ternyata yang masih kosong itu ada di dekat Jackson dan Aurora.


Venson mengiring Jasmine agar duduk di samping Aurora. Sedangkan dirinya di samping Jackson. Jadi posisi duduknya itu melingkar. Dan posisi Jasmine dan Venson itu diapit oleh Aurora dan Jackson.


Sejenak Aurora menatap malas kearah Jasmine yang duduk di sebelahnya itu. Ingin rasanya dia pindah ke tempat lain. Tapi dia rasa itu bukanlah pilihan yang tepat. Sebab nantinya malah dia yang di tanya - tanya oleh opa dan omanya itu.


Acara makanpun berjalan dengan lancar. Di keluarga Venson sendiri memang diterapkan selama makan dilarang untuk bicara. Makanya sejak acara makan di mulai, semuanya fokus dengan makanan mereka masing - masing.


Karena sudah selesai makan, barulah mereka bisa saling bercakap - cakapan. Sejenak Aurora menatap kearah Jasmine. Namun dia mempertajam pandangan begitu tak sengaja melihat bercak kemerahan di leher Jasmine.


Aurora mendengus sinis. "Sekalinya penipu ya tetap penipu." Gumaman itu terdengar di telinga Jasmine. Dia segera menoleh kearah Aurora, karena Jasmine tahu itu suara Aurora.


"Kenapa?" Tatapan bertanya di layangkan oleh Jasmine. Tapi bukannya menjawab, Aurora malah kembali mendengus.


"Kau, sekalinya penipu tetap akan jadi penipu."


"Maksudmu." Keduanya berbicara pelan. Dan untungnya semua yang ada di meja ini tengah fokus berbincang - bincang. Jadi mereka pasti mengira kalau Jasmine dan Aurora pasti tengah berbincang juga.


"Kau masih ingat dengan perjanjian kita, kan? Atau jangan - jangan kau sudah lupa."


"Aku ingat. Lantas apa masalahnya?"


Aurora tak membalas. Tapi arah matanya menunjuk kearah leher Jasmine. Jasmine yang sadar akan arah pandang Aurora pun segera menjelaskan.


"Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kami tidak melakukan hal 'itu'."


"Lalu itu apa?" Nada bicara Aurora mulai terdengar sinis membuat Jasmine menghela napas panjang.


"Ini itu ...." Jasmine sendiri juga bingung harus menjelaskannya dari mana. Lagipula ini semua yang melakukan adalah Venson. Bahkan dirinya sendiripun tak tahu.


"Ck, Memangnya aku terlihat peduli. Sekalinya pembohong tetap saja pembohong."


Aurora menarik kursinya kebelakang. Hal itu membuat keluarganya menatap ke arahnya. Mengerti akan tatapan itu, Aurora pun buka suara. "Aura permisi ke kamar dulu. Mau beres - beres."


Setelah mengatakan hal itu, Aurora berlalu pergi menuju ke kamar hotelnya. Semua keluarganya tak mencegah. Sebab hari ini memang rencananya mereka semua akan kembali pulang ke rumah.


Jasmine yang masih memperhatikan Aurora pun mulai menghela napas. "Kenapa sulit sekali meyakinkan dia." batinnya sedih.

__ADS_1


...❤ ❤ ❤...


...🍁 Terimakasih sudah menanti cerita ini💖🍁...


__ADS_2