
...❇ ❇ ☀ ❇ ❇...
Setelah adegan manis tadi, kini Venson sudah diperbolehkan untuk pulang. Dan kini keduanya sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Venson. Jasmine juga sudah memberitahu kepulangan Venson pada Aurora yang saat ini tengah ada di sekolah.
Setelah sampai di depan gerbang, para satpam yang melihat kedatangan tuan mereka itupun segera membuka pintu. Barulah mobil yang di tumpangi oleh Venson itu bisa masuk kedalam rumah.
Jasmine langsung turun. Sambil membantu Venson turun dari mobil. Walaupun sudah membaik, tapi kondisi tubuh Venson masih lemas dan perlu istirahat yang cukup.
"Hati - hati," ucap Jasmine sambil memegang lengan Venson agar tidak jatuh.
Venson tersenyum tipis begitu melihat respon Jasmine yang begitu peduli terhadapnya. Hatinya berdesir namun terasa sangat menyenangkan. Tak lama pintu utama rumah ini terbuka, menampilkan 5 orang pelayan yang berbaris rapi di depan pintu.
Walaupun bukan seperti yang ada di drama, namun kehadiran 5 pelayan ini mampu membuat Jasmine cukup terperangah. Dirinya tidak menyangka kalau keluarga ini memiliki banyak pelayan.
Sekali lagi kenyataan seolah menamparnya. Bahwa sang pemilik rumah ini bukanlah orang sembarangan. Walaupun Jasmine tidak tahu pasti berapa banyak aset kekayaan yang dimiliki oleh pria di sampingnya itu.
Sejujurnya Jasmine juga tidak sepenasaran itu sampai harus mengetahui berapa banyak harta yang dimiliki oleh Venson ini.
"Selamat datang, Tuan." Sapaan itu kembali menyadarkan Jasmine dari lamunannya tadi.
Dengan pelan dan berhati - hati, Jasmine menuntun Venson untuk menuju kamarnya. Dengan di bantu arahan dari kepala pelayan. Akhirnya kini Jasmine telah selesai mengantar Venson sampai ke kamar miliknya itu.
"Istirahatlah." ucap Jasmine sambil membenarkan selimut yang menutupi kaki Venson itu.
Venson yang sudah dalam kondisi bersandar di kepala ranjang itupun mulai mengernyit, begitu menyadari kalau Jasmine berniat pergi.
"Kau mau kemana?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Jasmine yang baru beranjak 30 cm dari posisinya tadi.
Jasmine berbalik menatap Venson. "Aku ada urusan yang harus diselesaikan. Jadi aku harus segera pergi."
Venson menggeleng pelan. "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." ujar Venson sambil meraih tangan Jasmine. Berusaha mencegahnya pergi dari kamarnya ini.
Helaan napas panjang keluar dari celah bibir Jasmine. Jasmine tidak bisa lama - lama ada disini. Dirinya harus berangkat kerja. Sudah 2 kali dirinya absen dari kerjaannya tanpa kejelasan.
Walaupun Jasmine kenal dengan sang pemilik tempat dia kerja. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya izin tidak masuk begitu saja.
"Maaf, untuk kali ini saja. Aku benar - benar harus pergi. Besok sore aku akan menemuimu kembali. Bagaimana?"
Venson masih belum menyetujui kalau Jasmine harus pergi. "Kali ini saja, ya." Dengan raut memelas, Jasmine mencoba untuk membuat Venson mengerti keadaanya.
__ADS_1
Dan sepertinya jurus itu mampu membuat Venson goyah. Dengan berat hati, Venson mengangguk kepalanya, pertanda dia menyetujui Jasmine untuk pergi.
Baru saja ingin tersenyum, tapi mendadak terhenti karena perkataan Venson selanjutnya. "Tapi, lain kali aku tidak akan izinkan kau pergi dariku. Cukup ini jadi kali terakhir kau pergi tanpa di dampingi olehku."
Tak ingin memperpanjang urusan, Jasmine lebih memilih menganggukkan kepalanya. Toh sepertinya urusannya dengan keluarga ini akan cepat selesai. Tentu saja setelah Venson sembuh dari amnesianya.
Dan paling penting, berhenti menganggapnya sebagai kekasihnya itu. Lagipula, Jasmine tak berniat terjebak terlalu lama dengan keluarga kaya ini.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Jasmine mengucapkan hal itu bukan semata - mata sebagai salam. Tapi sebagai kode agar genggaman di tangannya itu bisa terlepas.
Dan sepertinya kode itu tidak tertangkap seperti yang diinginkan oleh Jasmine. Buktinya bukan dilepaskan. Tapi malah semakin erat di pegang.
"Eh, bagaimana aku bisa pergi kalau kamu masih memegang tanganku." Venson langsung tersenyum kikuk begitu mendengar ucapan yang Jasmine lontarkan itu.
"Ah, itu." Pipi Venson sedikit memerah karena malu. Bagaimana bisa dirinya mempermalukan dirinya di depan kekasihnya itu.
"Aku pamit pergi, ya." Kali ini Jasmine benaran pergi meninggalkan Venson untuk berangkat kerja.
Sedangkan Venson saat ini tengah merutuki dirinya sendiri atas insiden tadi. "Bisa - bisanya," gumam Venson yang diakhiri kekehan itu.
...❇ ❇ 💖 ❇ ❇...
Jasmine baru saja selesai bekerja. Kini dirinya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Tapi saat akan melewati gang yang di himpit bangunan tinggi. Samar - samar Jasmine mendengar suara gedebag - gedebug beberapa kali.
Selama ini, Jasmine jarang mendengar suara tukang bangunan yang bekerja di malam hari. Sebab, perenovasian hanya dilakukan sejak pagi hari sampai jam 5 sore.
Diliputi oleh rasa penasaran yang tinggi, Jasmine mencoba untuk mencari dimana suara itu berasal. Namun setelah berjalan beberapa langkah ke gang itu, Jasmine mendengar suara tawa yang menggema dari arah dalam gang ini.
Hal itu semakin membuat Jasmine penasaran sekaligus merinding. Takutnya, yang ada di dalam gang sana itu adalah waktu yang tidak berwujud.
Kalau sampai itu benar, maka bisa dipastikan Jasmine tidak akan memilih jalur ini untuk ia lewati selepas selesai bekerja.
Namun langkah Jasmine langsung terhenti begitu telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Dimana sumber suaranya itu berasal dari dalam gang.
Segera saja Jasmine menyembunyikan diri di balik tumpukan batu bata yang lumayan tinggi itu. Sehingga tubuhnya tidak terlihat oleh sang pemilik langkah tadi.
Suara langkah serta gema tawa terdengar di telinga Jasmine. Dan jasmine sadar kalau suara itu timbul bukan hanya dari satu orang saja. Melainkan ada banyak orang.
Dan benar saja, tiga orang kaki - laki berjalan meninggalkan gang itu sambil tertawa puas. Entah apa yang sedang ketiganya itu tertawakan. Yang jelas itu seperti pertanda baik.
__ADS_1
Setelah memastikan ketiga laki - laki itu pergi, Jasmine segera berdiri dari posisinya. Niatnya dia ingin pergi dari sana. Toh yang menjadi rasa penasarannya tadi juga sudah terjawab.
Tapi suara rintihan kesakitan dari dalam gang membuat Jasmine mengurungkan niatannya. Sekali lagi, rasa penasaran yang lebih besar dari yang tadi, muncul kembali.
Jasmine juga sempat berpikir 'untuk apa anak smp seperti mereka ada di gang seperti ini. Dan di waktu yang bukan jam bermain mereka.'
Tapi yang menjadi rasa penasaran Jasmine saat ini bukanlah hal itu. Melainkan asal suara rintihan itu. Dengan memantapkan hati dan pikiran. Jasmine perlahan melangkah menuju kearah sumber suara.
Samar - samar, dirinya bisa melihat sosok yang dalam keadaan cukup mengenaskan tengah bersandar pada tembok di ujung gang ini.
Walaupun begitu, Jasmine tidak bisa melihat wajah sosok itu, karena posisi sosok itu yang terus menunduk sambil memegangi perutnya.
"Kau manusia, kan?" Pertanyaan itu datang dari mulut Jasmine. Ucapan itu membuat sosok tadi sedikit mendongakan kepalanya menghadap kearah sumber suara.
Akhirnya Jasmine bisa sedikit melihat rupa dari sosok di depannya itu. Dari segi wajah yang dia lihat, Jasmine merasa agak familiar. Namun dia tidak begitu yakin akan hal itu.
"Kau baik - baik saja?" Pertanyaan retoris kedua yang hari ini Jasmine ucapkan, setelah yang pertama menanyakan apakah dia manusia atau bukan.
...Sungguh kocak kau, Mine....
Jasmine melangkah mendekat kearah laki - laki yang dia perkirakan berkisar umur 14 tahun ini. "Adik, mau kakak bantu berdiri? Seperti kau agak kesulitan untuk berdiri."
Orang tadi tak menjawab, melainkan masih memegangi perutnya. Bahkan beberapa bagian wajahnya mencetak memar biru yang tergolong tidak sedikit.
"Adik, ma--"
"Hei, kau kenapa?!" Jasmine merasa shock begitu laki - laki ini pingsan di depannya. Rasa khawatir dan cemas melingkupi hatinya.
Khawatir akan kondisi si sosok ini. Dan cemas, kalau seadanya terjadi apa - apa pada sosok ini. Maka Jasmine adalah orang pertama yang pasti akan dituduh menjadi penyebab dari kondisi anak ini.
"Hei, bangunlah. Jangan pingsan disini. Kalau kau pingsan disini, aku tidak akan kuat membawamu ke rumah sakit." Jasmine yang sudah terlanjur panik, kembali melontarkan kalimat absurd yang biasanya datang secara mendadak seperti ini.
Jasmine mengecek napas anak ini dengan cara mendekatkan jarinya di dekat hidung anak ini. Menyadari adanya hembusan itu, membuat Jasmine sedikit bernapas lega. Setidaknya dia tidak akan di tuduh menjadi dalang pembunuhan.
Dengan bersusah payah, akhirnya Jasmine membawa laki - laki ini dengan di papah. Walaupun terlihat masih anak smp, mengingat seragam anak ini memanglah seragam sekolah menengah pertama.
"Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Itu adalah ucapan Jasmine di sela memapah laki - laki ini.
...❇ ❇ 🍁 ❇ ❇...
__ADS_1
...Siapakah anak laki - laki itu?...
...❤...