Menikahi Duda Beranak 3

Menikahi Duda Beranak 3
23. Berkunjung


__ADS_3

Semuanya menikmati suasana alam dengan riang. Bahkan Aurora tengah meminta adik dan kakaknya untuk membantunya bersua foto. Sedangkan Jasmine dan Venson memperhatikan ketiganya tak jauh dari tempat mereka berada.


Masih dengan memeluk pinggang sang istri, Venson mulai berbisik. "Anak - anak terlihat gembira sekali."


Jasmine menoleh sejenak kearah sang suami dan tersenyum lembut. "Iya, bahkan rasanya aku baru pertama kali melihat mereka tersenyum selepas itu."


"Kalau gitu, kapan - kapan kita liburan bersama lagi. Dan kamu mau liburan kemana?"


"Terserah saja, Mas. Aku mah ikut apa kata anak - anak saja." Mereka berdua kembali menyaksikan ketiga anak mereka yang kini mulai beranjak dewasa.


"Anak - anak, sini." Panggil Venson kepada anak - anaknya itu. Ketiganya pun berjalan mendekat kearah Venson dan Jasmine berada.


Sesampainya disana, Venson langsung meminta anak - anaknya untuk ikut mengelilingi kebun teh yang ada di sekitaran mereka. Ketiganya nampak antusias, bahkan yang terlihat paling antusias adalah si Wilson.


Kini kelima orang ini mulai menjelajah di sekitar area perkebunan. Udara yang masih asri membuat beban pikiran menghilang begitu saja. Bahkan sejuknya angin semilir membuat Jasmine rileks.


"Dad. kita foto bareng, yuk." Ajak Aurora pada ayahnya. Venson menanggapinya dengan senyuman.


Kini kelimanya mulai bersua foto bersama. Walaupun awalnya Aurora engan bila Jasmine ikutan foto. Tapi akhirnya dia terpaksa setuju berkata perkataan ayahnya itu.


Kelimanya menikmati indahnya pemandangan dengan kebersamaan. Walaupun ketiganya masih sulit untuk menerima Jasmine, tapi hal itu tidak membuat merusak suasana yang ada.


Setelah merasa puas, kelimanya memutuskan untuk pergi destinasi lainnya yang belum pernah mereka datangi. Sebelum itu, mereka makan siang terlebih dahulu di salah satu tempat makan yang ada di Yogyakarta.


❤❤❤


Liburan dua hari itu telah usai. Dan kini kelimanya tengah berada di perjalanan untuk mengunjungi neneknya Cessie. Sebelumnya Jasmine sudah berjanji untuk mengunjungi neneknya itu.


Sampailah mereka dirumah neneknya Cessie. Rumah yang kental akan nuansa tradisionalnya. Bahkan bangunannya terbuat dari kayu jati asli.


"Assalamualaikum." ucap Jasmine ketika berada di depan pintu rumah neneknya Cessie. Dan tak perlu waktu lama ada sahutan dari dalam rumah.


Dan saat pintu terbuka, menampilkan sosok gadis berusia 16 tahunan. "Kak Jasmine." ucapnya yang terdengar kaget namun tercampur rasa senang itu.


"Apa kabar, Shifah?" Sedangkan yang ditanya bukannya menjawab malah segera memeluk Jasmine.


"Kenapa kakak kesini nggak bilang - bilang. Shifah kangen banget sama kakak." Jasmine tersenyum lembut sembari membalas pelukan itu.


"Maaf ya kakak jarang kesini. Kakak lagi banyak urusan di kota." Shifah mengangguk mengerti. Dia mulai melepaskan pelukannya setelah melihat keberadaan empat orang asing di belakang Jasmine.


"Mereka siapa, Kak?" Jasmine menoleh kearah tatapan Shifah yang tertuju pada keluarganya itu. Dengan polos dia menjawabnya. "Mereka adalah suami dan anak - anak kakak."


Mendengar jawaban itu, membuat Shifah terkejut. Dia tidak menyangka kalau Jasmine sudah menikah ditambah lagi sudah punya tiga anak.


Melihat keterkejutan Shifah membuat Jasmine terkekeh pelan. "Nanti kakak Jelaskan. Dan dimana nenek?"

__ADS_1


Setelah bisa menguasai keterkejutannya itu, Shifah langsung menyuruh kelimanya untuk masuk kedalam rumah. "Kakak dan yang lainnya tunggu disini sebentar, ya. Shifah mau panggilin nenek sebentar."


Setelahnya Shifah menemui neneknya untuk memberitahukan kedatangan Jasmine dan keluarganya itu. Tak perlu waktu lama, akhirnya sang nenek tiba di depan para tamunya itu.


"Ya Allah, Nak. Kenapa datang kesini nggak bilang - bilang dulu. Kan nenek bisa nyiapin makanan spesial untuk kalian."


Jasmine hanya tersenyum mendengar perkataan neneknya Cessie itu yang sudah dia anggap sebagai neneknya sendiri. "Nggak perlu repot - repot, Nek. Jasmine juga dadakan kesini."


Sembari menyalimi sang nenek, Jasmine menanyakan kabar. "Nenek apa kabar?" Nenek Asha tersenyum hangat sembari mengatakan dia baik - baik pada Jasmine yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri.


"Mereka ini?" Arah pandang nenek Asha tertuju pada keempat orang di depannya itu. Mengerti akan tatapan sang nenek, Jasmine langsung mengenalkan keluarganya itu.


"Iya, Nek. Mereka ini adalah keluarga baruku. Ini suamiku, Venson. Dan mereka bertiga adalah anak - anakku, Nek."


Asha tersenyum ramah pada keluarga baru cucunya itu. Dan dengan sopan, mereka berempat menyalami nenek Asha. Mereka semua terlibat obrolan yang cukup menyenangkan.


Disela obrolan, Aurora meminta izin untuk ke kamar mandi. Setelah itu Aurora pergi ke kamar mandi dengan diantar oleh Shifah.


"Kamar mandinya di sebelah sana, mbak." Tunjuknya pada pintu kamar mandi yang terletak di sudut rumah. Hanya dengan anggukan sekilas, Aurora langsung menuju ke kamar mandi.


Sedangkan Shifah mulai memasuk kedalam dapur yang terletak di sisi kanan dari kamar mandi. Aurora yang telah menyelesaikan urusannya, lansung keluar dari kamar mandi.


Dia sejenak berpikir apakah dia harus kembali kesana dan mendengarkan obrolan yang dia tidak mengerti sama sekali ataukah dia harus pergi. Sepertinya opsi kedua terdengar menyenangkan di benaknya.


Karena sangking terpakunya, membuat Aurora tidak menyadari keberadaan seseorang di belakangnya itu. Tepukan pelan di bahunya membuat Aurora kaget. Ditolehkannya pandangannya kebelakang untuk mengetahui siapa yang menepuk bahunya itu.


Dan ternyata, dia adalah si Shifah. "Mbak, kenapa ngalamun disini." ucapnya kepada Aurora.


Takut kalau disangka yang tidak - tidak, Aurora langsung menjawab bila dia ingin duduk di luar. Sedangkan Shifah langsung mengangguk begitu saja.


"Ini diminum dulu, Mbak." ujarnya sambil menyodorkan segelas teh manis hangat kepada Aurora. Dengan pelan aurora menerima teh itu.


"Ya, sudah mbak duduk saja disana. Saya mau metik sayuran dulu." Aurora hanya mengiyakan saja dan mulai berjalan menuju kearah lincak yang ada disana.


Dia duduk dengan tenang sembari memperhatikan Shifah yang tengah memetik sayuran. Namun tiba - tiba Shifah mengajaknya bicara membuatnya menanggapi ucapan Shifah dengan seadanya.


"Mbak umur berapa? Kayaknya mbak lebih tua dari saya."


"18 tahun."


Aurora dengan singkat menjawab pertanyaan itu. Tapi hal itu tidak membuat Shifah menghentikan pertanyaannya itu. "Jadi Mbak kelas berapa?"


"Kelas 3 Sma." Shifah hanya menganggukkan kepalanya di sela memetik sayur kangkung.


"Kalau saya kelas 1 Sma, Mbak." Aurora mengernyit akan ucapan Shifah barusan. Memangnya dia bertanya padanya. Kenapa dia memberitahukan dia kelas berapa padanya.

__ADS_1


"Memangnya aku bertanya?" gumam Aurora yang tidak kedengaran oleh Shifah.


Suasana keduanya mulai hening, sebab bila Shifah bertanya pada Aurora. Hanya jawaban singkat yang dia dapatkan dari mulut Aurora.


Tapi tiba - tiba Shifah melontarkan pertanyaan yang membuat Aurora kembali menatapnya. Dan kali ini Aurora terlihat serius dengan apa yang barusan Shifah katakan itu.


"Apa maksudmu perkataamu tadi?"


Sejenak Shifah menghentikan tangannya yang tengah memotong batang kangkung itu. "Maksud Shifah adalah Mbak beruntung memiliki ibu yang pengertian dan penyanyang seperti mbak Jasmine."


"Kenapa kau bisa bilang begitu?"


Shifah menatap sejenak kearah Aurora. Senyum manis di berikan pada Aurora yang kini tengah menatapnya juga. "Mbak Jasmine adalah tipe orang yang penyayang serta baik hati. Bukan hanya itu saja, tapi dia akan selalu melakukan hal yang terbaik untuk orang - orang yang dia sayangi."


Aurora mendengus pelan. "Kau bilang begitu karena dia orang terdekatmu. Jadi secara otomatis kau akan membelanya dan melebih - lebihkan dia."


Masih dengan senyuman, Shifah kembali meneruskan ucapannya sambil memotong batang kangkung. "Karena Shifah orang terdekatnya, makanya Shifah tahu bagaimana sifat asli dari mbak Jasmine."


"Asal kau tahu, tidak ada yang bisa mengantikan posisi ibuku. Mau sebaik dan sepenyayang apa dia yang pasti tidak akan ada yang bisa menandingi ibuku."


Terlihat jelas ada kilatan dimata Aurora ketika mengungkit kembali keberadaan ibunya yang sudah lama berpulang itu. Dan Shifah tidak lagi bertanya pada Aurora karena takut membuat Aurora tidak nyaman dengannya itu.


Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua. Sosok yang mereka bahas tenva berada dibalik pintu belakang rumah. Ya, sudah sejak tadi Jasmine mendengarkan obrolan mereka berdua.


Sejujurnya dia hanya ingin mencari keberadaan Aurora yang tak kunjung kembali dari kamar mandi. Tapi yang dia dapat adalah rasa penolakan dari Aurora terhadap kehadirannya sebagai ibu sambungnya itu.


Dengan senyum senormal mungkin, Jasmine mulai melangkah mendekati keduanya. "Kalian ternyata disini toh. Tadi nenek nyariin kalian berdua."


Suara itu membuat Aurora dan Shifah menatap kearah sumber suara. Dan di sanalah mereka melihat keberadaan Jasmine. Menyadari kalau Aurora tak akan menjawab ucapan Jasmine itu, Shifah langsung menyelesaikan urusannya.


"Iya, Mbak. Shifah dan mbak Aurora lagi mau masak tumis kangkung. Katanya mbak Aurora pengen ngerasain makan desa."


Mata Aurora melotot mendengar ucapan Shifah barusan. Padahal dia tidak ada niatan untuk makan - makanan itu. Dan sekarang, dengan entengnya Shifah bicara begitu.


Jasmine tersenyum kecil walapun dia tahu apa yang telah mereka berdua obrolkan. Hanya saja,  Jasmine lebih memilik untuk percaya saja. Toh dia tidak ingin hubungannya dengan Aurora kembali merenggang.


"Ya, sudah. Kita masak sama - sama. Lagipula ini juga sudah hampir petang. Dan sebentar lagi juga waktunya makan malam."


Kini ketiganya mulai masuk kedalam rumah dan memasak apa yang telah dipetik oleh Shifah tadi. Sebenarnya hanya Jasmine dan Shifah saja yang masak. Sedangkan Aurora hanya duduk sambil mengamati keduanya masak dengan raut bosan.


...(Lincak adalah tempat duduk dari bambu yang biasanya dibuat agak panjang dan lebar.)...


...❤  ❤  ❤...


...Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2