
...° { < ¥ > } °...
"Kenapa sih, Mbak?" Shifah agak nggak suka saat kakaknya itu memberikan tatapan seperti akan menyidangnya saja. Pokoknya wajah kakaknya itu nggak cocok kalau dibuat galak - galak begitu.
"Mbak mau nanya. Kenapa Jasmine bisa kayak gini? Padahal kan Mbak sudah bilang sama kamu buat jagain mbak Jasmine. Sesusah apa sih, Fah?" Shifah menundukan kepalanya saat tatapan Cessie berubah menjadi tajam saat menatapnya.
Shifah tahu kalau kakaknya itu marah padanya, sebab nggak becus ngejagain mbak Jasmine. "Sampurane, Mbak. Kula boten saged bener - bener njaga mbak Jasmine, Mbak." Jasmine yang melihat hal itu tak tinggal diam. "Sudahlah, Cess. Ini juga bukan salah Shifah. Ini murni karena kecerobohanku aja."
"Dah, jangan nangis, Fah." Shifah memang memiliki perasaan yang lembut. Sebab dia jarang sekali di bentak. Terlebih lagi selama tinggal bersama neneknya itu, Shifah selalu mendapatkan perlakuan yang sangat baik. "Ndak nangis kok, Mbak."
Cessie menatap adik sepupunya itu dengan tatapan sedikit bersalah. Tak seharusnya dia langsung menyalahkan adiknya atas kejadian yang menimpa Jasmine. Dihampirinya sang adik yang berada di sisi Jasmine.
"Maafin, Mbak." Shifah hanya mengangguk pelan begitu menerima pelukan dari Cessie. Dia juga tak mempermasalahkan ucapan Cessie tadi. Merasa suasana berangsur tenang, Jasmine merasa lega. Tapi ingatannya tertuju pada satu hal.
"Shifah, ponsel kakak dipegang sama kamu, kan?" Shifah yang masih dalam pelukan Cessie pun mulai mengurai pelukan itu. "Ponsel?" tanyanya ragu. Jasmine mengangguk, dalam hati berharap semoga ponselnya itu ada di tangan Shifah.
"Sebentar," Shifah langsung mengeledah tasnya dan mencari keberadaan ponsel Jasmine di tasnya. Begitu dapat, Shifah menyerahkan ponsel itu kepada Jasmine. Namun rautnya berubah menjadi kaku saat menyerahkan ponsel itu pada si pemilik.
Sebelum memberikan ponsel itu, Shifah lebih dulu berkata, "Mbak, boten angsal ngamuk kalihan kula ya, Mbak." Jasmine mengangguk sambil menerima ponsel itu dari tangan Shifah. Sejenak Jasmine diam begitu melihat keadaan ponselnya yang terlihat agak berbeda.
"Ini kenapa bisa gini, Fah?" Shifah langsung meminta maaf pada Jasmine. "Mbak, maafin Shifah nggak bisa jaga Hp ne Mbak. Nanging iku udu salahe aku, Mbak. Iku salahe nenek lampir 2 kae."
"Nenek lampir?" beo Jasmine dan Cessie berbarengan. Shifah pun mulai menjelaskan kejadian perkara ponsel itu dan pertemuannya dengan si Wilson itu.
[ Flashback. ]
Shifah yang berada di belakang Jasmine dan 2 penolong itupun semakin dibuat panik, dengan banyaknya tetesan darah yang tercecer di lantai. Sebuah tepukan membuat Shifah menoleh kearah belakang. Di dapatinya 2 orang yang sama saat di toilet tadi.
Ekspresi Shifah langsung berubah marah saat tas di tangannya langsung diambil paksa. "Apa - apaan sih?!" Shifah langsung mengambil balik tas itu. Tarikan itu membuat tas ditangan mereka berdua terlepas dan membuat semua isi tasnya berceceran di lantai supermarket.
"Masalahmu mbek aku ki opo toh. Ki tas e mbakyu ku loh, udu tasmu! Kowe pak nyolong, yo?!" sambil mengeram marah, Shifah mulai mengambil kembali barang - barang yang berserakan di lantai.
Baru saja akan mengambil ponsel milik Jasmine, Yoela langsung mencegah hal itu. "Balekno hp ku! " Yoela tak peduli. Dia masih mencari file rekaman di ponsel itu. Shifah tak tinggal diam, dia langsung merebut ponsel itu sembari mendorong Yoela.
__ADS_1
Yoela pun meringis begitu meraskan tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Mertha tak tinggal diam, dia ikut menarik tas yang kini berada dalam dekapan Shifah. "Argh, ki loro wehh," ujar Shifah saat merasakan sakit di rambutnya akibat jambakan dari Mertha.
Mertha tak peduli akan ringisan Shifah. Tujuannya hanya mengambil ponsel yang terdapat kunci kegagalan rencananya. "Siniin Hpnya!" Shifah kekeh untuk mempertahankan ponsel ini. Lagian ini milik Jasmine, bukan milik kedua nenek lampir ini.
Yoela yang melihat peluang itupun segera mengambil ponsel itu. Sayangnya akibat tarikan keduanya membuat ponsel itu terlempar sedikit jauh. "Maling!" teriak Shifah agar orang - orang mau menolongnya. Bahkan beberapa orang menjadikan ketiganya sebagai tontonan.
Baru saja Yoela ingin mengambil ponsel itu, sebuah tangan lebih dulu mengambilnya. Shifah masih memperhatikan ponsel itu yang kini berada di tangan pemuda yang dirasa pernah dia temui.
"Berikan ponsel itu padaku." ucap Yoela pada pemuda yang berada di depannya itu.
Shifah berusaha mengingat - ingat siapa nama pemuda itu. Hanya satu nama yang terlintas di benak Shifah. Tanpa keraguan, dia langsung berseru keras. "Mas Milson, Ojo di paringke Hp ne. Iku Hp-ne mbak Jasmine!"
Teriakan itu membuat pemuda tadi tak jadi memberikan ponsel itu pada Yoela yang sudah memintanya lebih dulu. Shifah melepaskan jambakan di rambutnya itu dan berlari mendekat kearah Yoela.
"Mas Milson, pundi Hp ne, badhe tak paringe ten mbak Jas..." pintanya pada pemuda yang ternyata adalah si Wilson. Yoela tak tinggal diam, dia langsung menyela perkataan Shifah. "Itu punyaku. Jadi berikan padaku."
Wilson menatap kedua gadis di hadapannya dengan bingung. "Jadi ponsel ini milik siapa?". Keduanya langsung berseru bersamaan. " Punyaku!".
Keributan yang sempat terjadi membuat pihak keamanan datang atas panggilan beberapa orang yang melaporkan ketiga orang ini. "Ada apa ini? Kalian telah membuat keributan yang membuat orang - orang merasa terganggu." tegurnya yang membuat Shifah dan Yoela tak jadi jambak - jambakan.
Tidak tahukah mereka, kalau dia tengah panik atas kondisi Jasmine saat ini. Bahkan dia sudah kehilangan jejak Jasmine. "Pak, ini itu Hpku. Kalau bapak berdua nggak percaya, bapak bisa cek sendiri."
"Tolong berikan ponsel itu padq kami." pinta security itu pada Wilson yang masih memegang ponsel itu. Diberikannya ponsel itu untuk membuktikan siapa yang berkata jujur dan siapa yang bohong.
Begitu layar menyala, terpampang foto Shifah dengan pakaian yang sama persis dengan yang dia gunakan saat ini. "Lihat kan, Pak. Wallpapernya saja foto saya. Jadi itu Hp saya, Pak. Mbaknya ini kau mau ngambil Hp saya, Pak. Tangkap saja, Pak. Kalau perlu laporin polisi saja."
Sungguh Shifah muak dengan Yoela dan Mertha karena membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini. Yoela yang tak ingin mengambil resiko pun mulai mengarang cerita. "Maaf, pak. Saya kira itu Hp saya. Soalnya saya lagi kehilangan Hp. Jadinya ya gini."
"Jadinya ya gini, Jadinya ya gini." sindir Shifah sambil mengulang kata - kata yang Yoela ucapkan. Yoela menatap tajam pada Shifah, namun tak berpengaruh pada Shifah.
"Baiklah, saya anggap ini hanya kesalahpahaman semata. Dan kalian jangan membuat keributan lagi, dimohon untuk pergi dari sini, karena sudah menyebabkan kegaduhan."
Tanpa permisi, Yoela menghampiri Mertha dan mengajaknya pergi dari sana. Shifah yang terlalu kesal pun berujar sinis. "Dasar wong edan!!" ucapnya yang tak memperdulikan keadaan sekitar.
__ADS_1
"Lain kali jangan membuat keributan lagi." Shifah hanya mengangguk sambil berterimakasih pada kedua security itu. Kini semua orang yang tadi menatap kejadian itu, mulai membubarkan diri. Shifah berjalan menuju tasnya yang teronggok mengenaskan di lantai.
Sembari menghembuskan napas lelah, Shifah mulai mengambil kembali barang - barangnya yang terlempar dari tasnya. Sangking fokusnya dia tak menyadari kehadiran Wilson yang tengah membantunya memungut barang - barangnya.
"Ini." Shifah mendongak saat di depannya terdapat tangan yang mengulurkan barang miliknya itu. "Matur nuwun, Mas." Shifah menerima barang itu dan memasukkannya kedalam tas. Matanya bergulir ke sekelilingnya untuk memastikan tak ada barang yang tertinggal.
"Kau mau kemana setelah ini?" Pertanyaan itu membuat Shifah ingat akan satu hal yang sempat dia lupakan. "Mbak Jasmine!" serunya kaget dengan panik dia bergegas menuju ke pintu utama untuk mencari keberadaan Jasmine.
Wilson tanpa sadar mengikuti langkah Shifah yang terlihat sangat panik itu. "Kau kenapa?" Wilson bertanya saat mereka tiba di pelataran supermarket. "Mbak Jasmine, mbak dibawa kemana, ya?"
Alis Wilson terangkat begitu mendengar nama mama sambungnya itu di sebut. "Maksudmu?, Memangnya dia kenapa?" Shifah mengambil tas belanjanya yang sempat dia taruh di sisi pintu supermarket. "Nggak ada waktu untuk menjelaskannya. Mas, tahu nggak rumah sakit terdekat dari sini?" Wilson hanya mengangguk pelan.
Tanpa permisi, Shifah langsung mengajak Wilson ke rumah sakit terdekat. Sebab kemungkinan Jasmine akan dibawa kesana. Itulah alasan kenapa Wilson ada di rumah sakit bersama dengan Shifah.
[ Flashback End ]
"Jadi gitu ceritanya, Mbak." Cessie menganguk sambil berpikir sejenak. "Lalu siapa 2 orang itu? Kau kenal dengan mereka?" Kali ini Shifah menggeleng tak tahu.
"Mereka itu si Yoela sahabatnya Aura dan si Mertha yang pernah datang ke rumah waktu itu." Cessie membulatkan matanya begitu Jasmine memberitahukan kedua sosok yang menjadi pemicu Jasmine sampai dirawat di rumah sakit ini.
Cessie mengeram marah, "Awas saja kalau ketemu mereka, aku balas." ujarnya sambil memberi gestur orang yang ingin memukul. "Shifah dukung, Mbak." Keduanya begitu kompak kalau masalah yang ada kaitannya dengan Jasmine.
Jasmine merasa bersyukur atas kebaikan sepasang saudara ini kepadanya. Disaat keluarga barunya tak menerimanya dengan baik. Mereka justru tanpa ragu memberikan bantuan dan tempat tinggal untuknya.
Wilson yang berada disana bisa merasakan kalau kedua perempuan itu begitu menyanyangi mama sambungnya itu. Haruskah Wilson mengucapkan Terimakasih pada mereka yang telah menjaga Jasmine dan tak meninggalkan Jasmine sendirian saat tertimpa masalah seperti ini.
Ruangan yang tadinya cukup hening, kini berubah menjadi lebih ramai akibat candaan dari Cessie dan Shifah yang berebut makanan di jam 3 pagi ini.
...OoOoOoOoOoO...
...Nantikan part selanjutnya, ya....
...Part ini hanya berisikan flashbackan saja....
__ADS_1
...Terimakasih #:)...