
( * * * )
Kedatagan Wilson keapartemannya Shifah tak membuahkan hasil. Sebab dirinya tak bisa menemukan siapapun di dalam apartemen itu. Sebelumnya Wilson sudah mencoba menghubungi Shifah, namun sama sekali tak diangkat. Bahkan terhitung setengah jam dirinya menunggu di depan pintu apartemen.
Setelah meminta nomor pin apartemen ini pada mamanya, Akhirnya Wilson bisa masuk kedalamnya. Namun yang dia dapati hanya suasana kosong tak berpenghuni. Dia tak melihat keberadaan Shifah ataupun orang lain di dalam apartemen ini.
Pikiran Wilson mulai cemas lantaran semalam Shifah megiriminya pesan berisikan ucapan terimakasih dan permintaan maaf. Sejujurnya pesan itu baru Wilson baca saat subuh tadi. Sebab pesan yang Shifah kirimkan itu dikirim pukul 00.45. Jam segitu dia sudah terlelap dalam mimpi.
Jujur Wilson takut kalau Shifah lagi - lagi mencoba menghindarinya. Ditambah lagi, hal yang di minta belum juga diiyakan oleh Shifah. "Kau pergi kemana?" gumamnya sambil berjalan keluar dari apartemen itu.
Saat dia tiba diluar, dirinya tak sengaja berpapasan dengan ibu penguhuni apartemen sebelah. Dan ibu tersebut memberitahukan pada Wilson kalau penghuni apartemen yang baru Wilson datangi itu baru saja pergi ke bandara.
Setelah mendapat info tersebut, Wilson segera bergegas menuju ke bandara. Dalam hati dia sudah deg - degan berprasangka kalau seadainya Shifah memamg berniat menghindarinya. Selama perjalanan menuju ke bandara, pikiran Wilson begitu tak tenang.
Baru saja sampai di bandara, Wilson langsung berlari menuju ke pintu masuk bandara. Namun dia malah berpapasan dengan kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Jackson. Kakaknya itu sempat menanyakan alasannya berada disini. Tapi Wilson tak mengatakannya secara gamblang.
Pada akhirnya kedua kakak beradik itupun saling kerja sama untuk mencari seseorang yang ingin mereka temui. Butuh waktu 15 menit, hingga keduanya menyerukam dua nama yang berbeda.
"Cessie!"
"Shifah!"
Langsung saja Wilson dan Jackson menghampiri pujaan hati mereka. Jackson bahkan dengan berani langsung memeluk tubuh Cessie. Wilson bisa melihat tatapan terkejut dan terluka dari mata Shifah begitu menatap tindakan berani kakaknya itu.
Wilson sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Shifah yang kini mulai mengalihkan pandangannya dari Jackson dan Cessie yang masih berpelukan. Namun sayangnya, mata Shifah malah bertatap dengan mata yang dia coba dia hindari.
Wilson menatap dalam kearah mata Shifah yang saat ini sedang bertatapan dengannya. Namun hal itu tak berlangsung lama, sebab Shifah lebih dulu menghindari tatapannya. Wilson baru saja ingin mendekat kearah Shifah, namun terhenti atas tindakan nenek Asha yang memarahi kelakuan kakaknya yang dengan seenak jidatnya memeluk cucunya itu.
Omelan itu baru terhenti saat pengumuman keberangkatan penerbangan mulai terdengar. Bahkan nenek Asha mulai berpamitan pada Jackson dan dirinya yang sebenarnya ingin mencegah ketiganya agar tidak pergi.
Lagi - lagi tindakan kakaknya itu patut diacungi jempol. Dan Wilson bersyukur atas tindakan tak kenal malu dari kakaknya itu, bisa menghentikan niatan ketiganya untuk pergi. Sebenarnya bukan ketiganya, melainkan yang pergi itu hanya Nenek Asha dan Cessie.
__ADS_1
Berkat aksi Jackson tadi, dia berhasil bicara empat mata dengan Shifah. Sedangkan Jackson sendiri kini sedang mengurus tiket untuk menyusul nenek Asha dan Cessie yang ingin refreshing ke kota Yogyakarta.
Kini Shifah dan Wilson sudah berada disebuah cafe yang tak begitu jauh dari bandara tadi. Tadi Wilson sempat meminta izin pada nenek Asha, supaya Shifah tak ikut ke Yogyakarta. Akhirnya beliau mengizinkan Shifah untuk menetap sementara disini.
"Apa maksud dari pesan yang kau kirimkan semalam itu adalah ini. Kamu berniat kembali ke tempat asalmu lagi?" Shifah tak mampu menatap kearah Wilson. Dia memang tak melihat kearah matanya, namun dia bisa merasakan kekecewaan dari ucapan Wilson tadi.
Sebelumnya mereka berdua sepakat untuk tidak saling menghindar. Namun Shifah sendiri tak sanggup kalau harus menyakiti orang sebaik Wilson. Dia tak mau memberi harapan palsu yang malah akan menambah luka di hati Wilson.
Perasaannya pada kak Jack belum juga luntur dari hatinya. Agak susah dia menghilangkan perasaannya itu. Jelas saja, Jackson itu cinta pertama Shifah. Mana bisa semudah itu dia move on. Bahkan Shifah tak bisa menjamin apakah dia bisa move on dari Jackson.
"Tidak bisakah kau memenuhi permintaanku itu? Apa begitu sulitnya untukmu?" tanyanya lagi. Tatapannya masih menatap lekat kearah Shifah.
Sebelum menjawb pertanyaan itu, Shifah menyiapkan hatinya terlebih dahulu. Entah kenapa perasaannya menjadi sesak, tanpa dia tahu apa alasannya. "Bukan maksudku untuk bersikap jahat padamu, Wil. Tapi..."
Wilson masih menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Shifah. "Tapi aku hanya tak ingin menambah luka dihatimu, sebab aku tak tahu sampai kapan perasaan ini akan selalu ada." ujarnya dengan nada lirih.
Sejenak Wilson mengambil napas panjang. Bisa dia rasakan dadanya berdenyut nyeri mendengar kejujuran Shifah tadi. "Tidak bisakah kau memberiku kesempatan. Kalau kau masih keberatan dengan 3 permintaanku itu. Cukup 1 saja pun tidak apa - apa."
...• Bersikap biasa, sama seperti sebelumnya....
...• Tidak menciptakan jarak ataupun dilarang saling menghindar satu sama lain. Serta,...
...• Melalukan 3 kali kencan dalam kurun waktu yang telah di tentukan....
Hanya sebatas itu dan seperti begitu berat untuk Shifah lakukan. Buktinya sampai hari ini, Shifah masih belum mengiyakan permintaannya tadi.
"Apa perasaanku itu begitu membebanimu, sampai - sampai kay terus menghindariku?" Wilson sendiri hanya merasa kalau apakah perasaannya ini begitu menganggu bagi Shifah, sampai - sampai Shifah berniat pergi tanpa bilang apa - apa padanya.
Shifah tertegun begitu mendengar perkataan itu. "Bukan seperti itu." elaknya agar Wilson tak semakin salah paham kepadanya. "Lantas kenapa? Apa alasannya?" Tanpa sadar ucapan Wilson barusan terdengar sedikit menekan dan menuntut jawaban.
Shifah tak langsung memberikan jawaban yang mana malah membuat hati Wilson semakin terluka. "Kalau memang itu sangat menganggumu. Lupakan semuanya. Anggap saja perasaan itu tak pernah ada."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Wilson beranjak dari posisinya dan berlalu pergi meninggalkan Shifah yang entah kenapa merasa sesak dan perlahan air mata mulai turun membasahi pipinya. Nafasnya terdengar tersengal di beberapa saat.
"Bukan seperti itu. Aku hanya tak ingin lebih menyakitimu. Masa mudamu masih sangat panjang, aku tak ingin kau terlalu berharap padaku yang belum tentu bisa membahagiakanmu."
( * * * )
Kesalah pahaman yang tercipta itu berlanjut hingga berbulan - bulan lamanya. Bahkan sikap Wilson sedikit berubah darinya. Tentu saja Shifah menyadari hal itu. Bahkan sejak dia kembali ke kota asalnya dengan sang nenek. Wilson sama sekali tidak memberikan kabar sama sekali.
Tentu saja Shifah merasa ada yang hilang. Mencoba menepis segala kemungkinan kalau kini dirinya lah yang memiliki rasa terhadap Wilson. Bolehkah Shifah merasa menyesal telah menyia - nyiakan cinta Wilson.
Ataukah memang perasaan Wilson kepadanya hanya cinta monyet saja. Buktinya sudah hampir 2 tahun, tak ada kabar darinya. Seharusnya Shifah sadar kalau mencintai anak dari keluarga Klein, tqk begitu baik untuk hatinya.
Disinilah Shifah berada. Diacara pernikahan kakaknya dengan Jackson. Shifah sudah tak lagi memiliki perasaan pada Jackson. Sebab perasaannya kini berlabuh pada Wilson. Namun sejak dia datang keacara pernikahan ini, dirinya sama sekali berbicara dengan Wilson.
Malahan Shifah sempat melihat kalau Wilson datang dengan seorang gadis cantik yang terlihat serasi dengannya. Tatapan mata Wilson dan Shifah bertemu, namun itu hanya sekejap sebab Wilson lebih dulu memutuskan kontak mata mereka.
"Ayo," ajak nenek Asha pada Shifah yang hanya berdiri di tempat. Shifah pun mulai mengandeng tangan nenek Asha menuju ke panggung pelaminan. Sebab akan diadakan sesi foto bersama para keluarga.
Dan entah kenapa, posisi Shifah berdiri tepat disamping Wilson. Jujur dia begitu gugup, namun arah matanya tertuju pada gadis di samping Wilson. Perasaan sesak menghampiri dirinya. Shifah menebak kalau hubungan Wilson dan gadis itu sudah dalam tahap lanjut.
Buktinya gadis itu juga ikutan foto di sesi foto keluarga ini. Perlahan mata Shifah terlihat berkaca - kaca. Namun sekuat mungkin dia mencoba terlihat baik - baik saja. Arahan dari sang fotografer yang menyuruh untuk merapatkan barisan, membuat tubuh Shifah tak memiliki jarak dengan Wilson.
Posisi itu tentu saja tak menguntungkan bagi Shifah sendiri. Bahkan kalau dilihat sekilas, tubuhnya nampak berada dalam pelukan Wilson. Walaupun tak benar - benar dalam posisi berpelukan. Mata Wilson bergulir kearah Shifah yang tingginya hanya sebatas dagunya.
Sebuah senyum tertarik di bibir manisnya, menciptakan lengkungan yang memiliki makna tersembunyi. Setelah sesi foto berakhir, cepat - cepat Shifah memberi jarak dengan memundurkan langkahnya kebelakang.
Wilson tentu saja melihat dan merasakan kalau Shifah sejak tadi tak menunjukan gelagat rileks. Namub hal itu tak mengusik hati Wilson. Dia hanya bersikap biasa saja. Seolah tak ada hal yang berarti.
( * * * )
Apakah Wilson sudah tak lagi menyukai Shifah? Dan hatinya sudah bsrpaling pada gadis lain?
__ADS_1
...Entah lah, terkadang perasaan sulit untuk di tebak....