
...❄❕❄❕☀❕❄❕❄...
Plakk!!
Suara tamparan yang terdengar begitu keras, mampu membuat seluruh orang yang masih berada disana menjadi bergidik nyeri.
"Apa yang kau pikirkan, huh?! Dimana otakmu itu? Kau pasti sengaja melakukan semua ini untuk mengagalkan rencana pertunanganmu itu, kan?"
Amukan dari ayahnya tak membuat Cessie takut. Bahkan dia dengan berani menatap balik mata sang ayah yang kini menyorotinya tajam. "Dasar anak tidak tahu diuntung! Aku sudah menyiapkan semua ini untuk pesta pertunanganmu. Tapi kau malah mengacaukan semuanya!".
Cakra menatap anak tunggalnya itu dengan ekspresi marah yang begitu ketara. Cessie hanya diam tanpa memberikan komentar apapun. Lagipula siapa yang bilang kalau dia tengah mendengarkan ayahnya. Ucapan ayahnya tadi hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kirinya. Istilahnya sama sekali tak ada artinya baginya.
"Jawab aku, Cessie Ardhinata!" bentaknya tak main - main.
Cessie memberikan tatapan malas pada sang ayah yang telah terprovokasi oleh perkataan Dewo. Sebenarnya masalah tentang cuplikan tadi ada sangkut pautnya dengannya. Sejujurnya Cessie yang memberi ide untuk Venson menampilkan rekaman bukti itu di acara ulangtahunnya.
Saran itu sempat ditolak oleh Venson, karena dia tak mau membuat kacau di pesta orang. Lagian rencananya dia akan membuka kedok Mertha dan Yoela tepat di hari jadi perusahaanya. Dan itu hanya 4 hari lagi.
Namun Cessie bilang itu terlalu lama dan memaksa Venson agar segera membuka kedok si nenek lampir itu. Pada akhirnya Venson setuju dan terjadilah apa yang barusan dilihat dan di dengar oleh semua tamu undangan sekalian.
Sayangnya saat mereka sedang membahas kapan waktu yang tepat untuk pemutaran video itu, ucapan mereka telah di dengar oleh Dewo yang memang sejak awal telah menaruh curiga pada kedatangan Venson di pesta ini.
Dewo pun tak tinggal diam, dia berniat memberitahukan rencana itu pada Cakra lebih awal. Namun gagal karena acara lebih dulu di mulai. Dia baru bisa memberitahukannya, saat para tamu. undangan dimohon untuk pulang.
Jelas saja Cakra begitu marah mengetahui kalau kegagalan pada acara inti ini disebabkan oleh putrinya sendiri. Padahal tadinya baru saja akan masuk ke inti acara, namun malah gagal terlaksana.
Sebenarnya inilah alasan Cessie meminta Venson membuka kedok Mertha di pestanya yaitu untuk mengagalkan acara pertunangannya dengan Dewo. Dia tak ingin Shifah sampai tahu, kalau dirinya akan di jodohkan dengan Dewo.
Sebenarnya Cessie berniat untuk tak mengundang adik sepupunya itu, kalau Venson tidak mau mengikuti sarannya. Dan besar kemungkinan Shifah pasti akan kecewa padanya, bila dirinya tahu kalau kakaknya ini akan di jodohkan dengan Dewo.
Namun karena Venson setuju atas idenya, jadi Cessie tidak memberitahukan pada Shifah kalau saat ini ada perayaan pesta ulangtahunnya. Dalam hati Cessie menghela napas lega karena adikknya tak akan tahu persoalan perjodohan yang akan mengikatnya dengan si Dewo itu.
"Aku sudah bilang pada Anda, kalau aku tidak mau di jodohkan dengannya. Tapi kenapa masih di paksa!" geram Cessie karena paksaan yang terus dilakukan oleh kedua keluarganya.
__ADS_1
Namun Cakra tetap tak peduli akan penolakan yang terus di lontarkan oleh anaknya itu. "Mau tidak mau, kau harus menikah dengan Dewo. Ayah sama sekali tak menerima penolakan."
Tatapan kecewa hadir di hati Cessie. Sekali lagi, ayahnya sendiri tak mau mendengarkan apa yang dia inginkan. Hidupnya sudah cukup banyak diatur, kini orangtuanya kembali memakskan kehendak mereka terhadapnya.
"Apa, Mbak Jasmine mau nikah sama Mas Dewo?" Kalimat pertanyaan itu keluar dari mulut seseorang yang berada tak jauh dari perdebatan tadi. Cessie menatap kaget pada siapa yang berdiri beberapa meter di depannya ini.
Orang tadi tak lain adalah Shifah yang baru datang bersama dengan Jackson. Awalnya Shifah tidak tahu perihal pesta ini, tapi dirinya di beri tahu oleh Jackson dan mereka berdua berniat membuat kejutan untuk Cessie.
Namun sepertinya malah Shifah yang menerima kejutan itu. "Mbak, bener apa yang dibilang sama Om?" Cessie tak sanggup untuk menjawabnya, sebab itu pasti akan melukai hati adikknya ini.
Tatapan mata Shifah mengisyaratkan kekecewaan. Entah bagaimana perasaan saat ini yang jelas dia sama sekali tidak setuju dengan rencana omnya itu yang ingin menikahkan Cessie dengab Dewo.
Shifah berjalan menuju kehadapan om dan tantenya. "Om dan Tante, Shifah mohon jalan paksa Mbak Jasmine untuk menikah dengan mas Dewo. Shifah mohon Om dan Tante membatalkan rencana kalian itu."
Ada alasan kenapa Shifah tak mau kalau kakaknya itu sampai menikah dengan Dewo. Bukan karena Shifah itu suka pada Dewo, tapi ada masalah yang terjadi antara Shifah dengan Dewo. Dan masalah itu hanya Shifah, Cessie, Dewo dan Tuhanlah yang tahu.
Kemarahan Cakra semakin meningkat kala mendengar apa yang Shifah katakan barusan. "Memangnya kenapa kalau aku ingin anakku menikah dengan pilihanku?" Shifah meneguk ludahnya susah payah.
Sebenarnya dia bisa saja menyebutkan alasannya. Tapi itu sama saja dengan membuka luka lama di hatinya. Bahkan masa lalunya akan terkuak dan Shifah tak ingin mendapatkan pandangan buruk dari orang terdekatnya.
Shifah benar - benar tak mau kalau Cessie sampai terjebak dalam hubungan dengan Dewo. Sebab Dewo tak sebaik yang orang lain pikirkan. Sonya maju selangkah mendekati Shifah. "Memangnya kau tahu apa tentang kebaikan putriku?".
Pandangan Sonya terhadap anak adik iparnya itu semakin menajam. Sonya memang tidak suka dengan Shifah dan kedua orangtuanya itu, karena merekalah hidup Sonya dan Cakra jadi berantakan.
Shifah tak cukup bodoh untuk tidak mengetahui kalau om dan tantenya itu tidak suka terhadapnya. Namun yang Shifah bingungkan adalah apa kesalahan yang telah dia buat pada orangtuanya Cessie?.
Shifah baru akan kembali buka suara, namun dihentikan oleh Sonya. "Lebih baik kau diam. Jangan pernah memgurusi urusan kami. Memangnya kau pikir dirimu itu siapa? Kau hanya pihak luar di keluargaku!"
Kalimat menohok itu telah sampai ke hati Shifah. Ini bukan kali pertama dia mendapatkan lontarkan kalimat seperti itu. Tapi tetap saja dia merasa sedih.
"Sonya! Jaga ucapanmu itu!" bentak nenek Asha kepada menantunya itu. Sudah sejak tadi dirinya menahan emosi atas kalimat yang telah anak dan menantunya itu katakan. Terlebih atas perjodohan paksa yang ingin mereka lalukan kepada Cessie.
Nenek Asha menatap tajam anak dan menantunya itu. "Aku pikir setelah aku kembali kesini, kalian bisa sadar dan berubah menjadi lebih baik lagi." Sejenak Nenek Asha menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Tapi ternyata aku salah. Kalian berdua masih sama seperti dulu. Tetap egois dan suka menyalahkan orang!" lanjutnya dengan tatapan kecewa yang tersirat dalam matanya.
Namun Cakra sebagai anaknya, tak menyadari tatapan itu. "Asal kau tahu, kalau keluargamu lah yang membuat kami jadi mengabaikan Cewek. Harusnya kau cukup sadar diri untuk tidak menambah beban keluargaku!"
Shifah dibuat bingung atas pertanyaan dari tantenya itu. "Maksud tante apa?" Sonya menatap lurus kearah keponakannya itu. Baru saja dia akan bicara, Nenek Asha lebih dulu memotongnya.
"Jangan membahas apapun yang tak ada kaitannya dengan masalah hari ini." Sebenarnya nenek Asha berniat menghentikan niatan dari menantunya itu yang ingin membuka cerita luka lama.
"Kalau saja orantuamu tidak berhutung sebanyak 1,5 M, pasti semua ini tak akan terjadi!"
Mata Shifah melebar mendengar nominal hutang orangtuanya itu. "1,5 M? Sebanyak itu, Om?" Sungguh terkejut mendengar hal itu. "Iya, sebanyak itu. Bahkan hutang itu berbunga sampai 4,5 M." jelas Cakra pada Shifah.
"Kalau kau bisa lunasi hutang itu, maka Cessie tidak jadi aku jodohkan dengan Dewo."
Dari pernyataan itu berarti yang mendasari perjodohan Cessie dan Dewo hanya sebatas pelunas hutang. Walaupun dalam benak Cakra memang dia berniat menjodohkan putrinya dengan Dewo untuk melebarkan bisnisnya.
Shifah menatap kakaknya dengan pandangan bersalah. Dalam hati dia merutuki ketidaktahuannya mengenai hutang orangtuanya itu. Cessie sendiri juga tak menyangka kalau orangtuanya kekeh menjodohkannya dengan Dewo lantaran hutang orangtuanya Shifah.
Perdebatan itu terus terjadi, bahkan keluarga Venson masih ada disana dengan formasi lengkap. Kelimanya natap bingung dan terkejut atas perkataan kepala keluarga Ardhinata itu.
"Om, Shifah mohon jangan paksa Mbak Cess buat nikah sama Mas Dewo. Masalah hutang biar Shifah yang bayar. Om Shifah mohon." pinta Shifah pada omnya itu.
Cakra terkekeh mendengar kalimat yang Shifah ucapkan. "Kau yakin mampu melunasi semuanya? 4,5 M itu banyak. Mau dapat uang dari mana, kalau kau sendiri masih anak sekolah dan tidak bekerja."
"Kau bisa melunasi semuanya, asalkan kau mau menikah denganku." Semuanya berbalik menatap kearah orang yang barusan bersuara itu.
...##########...
Hai semuanya, Apa kabar kalian?
Semoga baik - baik terus, ya.
Masih belum bisa kasih Up yg banyak, soalnya masih dalam kondisi kurang fit. Doakan saja cepat sembuh, biar nanti bisa cepat Up juga.
__ADS_1
...Terimakasih yg sudah baca dan ngasih like :-)...