
Tanpa di sadari ada sepasang mata yang memperhatikan Bela dan Rifqy sedari tadi.
"Kamu sudah kembali nak!
terima kasih kamu telah berhasil mengembalikan sifat Rifqy yang dulu hilang. terima kasih." Gumam orang itu dalam hati
Sepasang mata yang melihat kebahagiaan kedua insan yaitu anak dan menantunya pun terharu, kedua bola matanya berkaca-kaca hampir meneteskan air mata tapi dia tahan karna tidak mau Rifqy dan juga Bela melihatnya menangis.
Ya, dia adalah Bunda Rifqy, yang ingin mengunjungi anak dan menantunya yang sudah beberapa waktu tak di lihatnya. Terakhir kali Bunda Rifqy bertemu dengan anak dan menantunya sore setelah acara resepsi pernikahan anak dan menantunya 7 hari yang lalu.
Pelan pelan dia menutup pintu kamar utama rumah Rifqy, agar tidak mengganggu kesenangan mereka.
Ceklekkk
(pintu terdengar tertutup)
Rifqy dan Bela yang mendengar pintu seperti sedang tertutup pun menoleh ke arah terdapat suara dan sesaat mereka saling pandang dan melempar sorot tatapan heran.
Bela mendelik. "Siapa tuh, kak?" Tanya Bela saat mata mereka saling pandang.
"Jangan - jangan hantu, kak?" ceplos Bela sesaat kemudian.
Rifqy terkekeh. "Ngawur kamu!" seraya menjawab
Bela mengerucutkan bibirnya yang tertutup oleh cadar. "Terus siapa, kak?" kata Bela yang sedikit bulu kuduknya meremang membayangkan ada hantu sedang memperhatikan mereka berdua. Ahh, gak mungkin! batin Bela mengelak.
Rifqy menggedikkan kedua bahu ke atas. "Gak tau, apa Bunda ya?" balik bertanya kepada Bela
Bela menggeleng
Rifqy bangun dari tidurnya. "Aku liat dulu ya?" lanjutnya lagi sembari berjalan meninggalkan Bela di dalam kamar sendirian.
Ihh, kok di tinggal sendiri sih! kan takut!. gumam gadis bercadar itu yang bangkit dari tidurnya dan menyusul sang suami yang sudah keluar dari kamar terlebih dahulu.
Rifqy keluar kamar menyusuri lorong di lantai 2 dan menuruni tangga, sebelum sampai di tangga bawah matanya sudah tertuju pada sosok yang sangat dia kenal, wanita yang sudah mengandung dan melahirkan dirinya Yah, wanita yang dia panggil Bunda.
Rifqy tersenyum bahagia. "Bunda?" panggilnya pada wanita paruh baya yang sedang duduk di soffa sambil membaca majalah.
Bunda menoleh. "Sayang!" Balas bunda
Dengan cepat Rifqy menuruni tangga dan langsung memeluk sang Bunda.
"Bunda, kapan dateng?" tanya Rifqy di sela-sela pelukan mereka.
"Belum lama sayang, Bunda gak mau ganggu kalian berdua yang kayanya sedang asyik gitu." Dengan senyum ramah.
"Bunda sama siapa? Ayah gak ikut? Bunda naik taksi ya? duduk bun!" tanya Rifqy dengan beruntun seraya menyongsong Bundanya untuk duduk kembali di soffa sebelah mereka.
"Bunda sendiri. Ayah gak ikut, Nak. Dan iya b
Bunda naik taksi." Bunda tersenyum lebar dengan perilaku Rifqy yang sudah seperti dulu lagi.
"Bunda?" panggil Bela yang melihat keberadaan mertuanya
__ADS_1
"Iya sayang, sini!" Memeluk menantunya dengan membelai kepala yang berbalut jilbab panjang tersebut.
Bela melepaskan pelukannya. "Bunda udah lama?" duduk di sebelah bunda.
Bunda menggeleng pelan
"Belum sayang" menyentuh dagu Bela lembut.
Ahh senang sekali Bunda melihat anak dan juga menantunya begitu antusias menanyakan dirinya. Dia sangat bersyukur melihat putra semata wayangnya yang sifat dan perilakunya telah kembali seperti sedia kala, sebelum dia di tinggalkan oleh sang mantan kekasih karena memilih pria yang lebih tajir dan sebelum dia mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama 2 hari.
"Bunda mau di buatin minum apa?" tanya Bela dengan senyum ramah di balik cadarnya.
"Apa aja deh" tak kalah ramah dengan Bela.
Bela langsung menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk mertua dan Suaminya.
"Boy, gimana udah rapi aja nih rumahnya?" tanya Bunda yang melihat keadaan Rumah rapi.
"Uhh cape bun" keluh Rifqy sembari menyenderkan badannya di sofa.
"Kenapa sayang?" tanya bunda penasaran.
"Yang ngebersihin sekaligus rapihin rumah ya Rifqy sama istri Rifqy, tadinya mau Rifqy panggil jasa kebersihan, ehh sama Bela gak boleh. Katanya selagi bisa di lakuin sendiri gak usah ngerepotin orang lain" Menjelaskan.
"Terus kamu mau aja? hem.." tanya Bunda menggoda.
"Iya lah bun, mana bisa Rifqy nolak permintaan istri Rifqy."
"Bunda apaan sih" ujar Rifqy yang menahan malu.
"Di minum Bunda, Kak!" Tutur Bela sambil meletakkan minuman dan cemilan buat mereka.
"Terima kasih ya, sayang"
"Sama-sama bunda"
Mereka hanyut dalam obrolan yang sesekali terdengar gelak tawa yang menggema di ruangan tersebut.
Selalu ada bahan obrolan yang asyik agar tidak jenuh.
"Gimana udah ada tanda-tanda kalo kamu hamil belum sayang?" Tanya bunda menggenggam tangan Bela
Bela terkejut dengan pertanyaan mertuanya, dia bingung harus menjawab apa. Sejenak dia diam.
"Bunda, kan pernikahan Rifqy dan Bela baru satu minggu, gak usah buru-buru lah, Bun." Rifqy lah yang menjawab pertanyaan Bundanya.
"Iya sayang, bunda berharap agar secepatnya kamu bisa mengandung anak Rifqy dan Bunda bisa gendong cucu" Senyum lebar Bunda tunjukan kepada Bela.
"Insha Allah bun" Jawab Bela lirih hampir tak terdengar.
"Rifqy 1 hari lagi Bunda dan Ayah akan ke Kalimantan nak, tepatnya besok pagi." Ucap Bunda memberitahu Rifqy bahwa mereka harus secepatnya ke Kalimantan.
"Kenapa gak lebih lama lagi sih Bun?" Tanya Rifqy.
__ADS_1
"Gak bisa Rifqy, karna pekerjaan Ayah gak bisa lama-lama di tinggal" Ujarnya.
"Baiklah bun, kalo itu mau Bunda dan Ayah. Rifqy dan Istri Rifqy disini akan selalu doain Bunda dan Ayah."
"Terima kasih ya sayang" memeluk anaknya.
"Sayang jangan lupa permintaan Bunda ya, Bunda harap kalo Bunda dan Ayah kembali lagi kesini kamu udah ngisi" menatap anak menantunya.
Perlahan Bela mengangguk mengiyakan
Bunda maaf, mungkin permintaan Bunda gak akan secepet itu terkabul. Maaf Bunda. Batin Rifqy
"Nak, Bunda minjem suami kamu sebentar ya? mau bicara penting" Meminta izin kepada Bela
"iya bun"
Membawa Rifqy jauh dari Bela
"Ada apa bun?"
"Ini" memberikan bingkisan pada Rifqy.
"Apa ini bun?" Tanya Rifqy heran.
"Itu ada lingerie buat istri kamu dan ini ada minuman yang bisa kamu dan Bela minum sebelum kalian melakukan hubungan suami istri" menunjukkan botol yang baunya menyengat.
"Eemmm, baunya gak enak banget, Bun?" Tanya Rifqy sembari menerima botol itu.
"Udah gak usah banyak protes, pokoknya bunda gak mau tau kamu harus pastiin kalo Bela harus minum ini sebelum kalian melakukan hubungan intim termasuk kamu" Ucap Bunda kekeh.
"Ya udah Bunda pulang dulu ya?" lanjutnya pamit pada Rifqy.
"Iya Bun"
"Sayang, Bunda pulang dulu ya?"
"Iya Bun, bunda gak nginep?" tanya Bela.
"Enggak sayang, bunda belum packing. Bunda pulang dulu ya?"
"Iya Bu" jawab mereka sembari mengantarkan Bunda sampai di depan pintu keluar.
"Kita tidur yuk?" Ajak Rifqy.
Mereka berdua pun tidur setelah merasakan lelah di tubuhnya.
.
.
.
Bersambung...!
__ADS_1