
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
"Terimakasih tuhan telah menitipkanku terhadap malaikatmu yang kusebut Bunda."
"Pelukan seorang ibu akan terus bertahan lama bahkan setelah di lepaskan."
"Rasa yang paling nyaman adalah ketika berada di pelukan sang Bunda."
❤***❤***❤
Rifqy yang mendengar perkataan perempuan yang sering ia sebut Bunda soal bagaimana keadaan Istrinya sekarang, langsung merosot lemah seperti tak mampu berdiri dengan lutut yang bertumpu di lantai dan kedua tangan saling bertautan ia letakkan di belakang kepala seraya menunduk dalam dan lebih dalam lagi karena di tekan oleh kedua tangan yang saling bertautan di belakang lalu ia kepalkan.
ia frustasi !
ia sangat frustasi !
Entah apa yang harus Dia lakukan sekarang?
Entah mengapa jalan yang Dia tempuh serasa sangat berat!
Dia marah! dengan dirinya sendiri
Dia kecewa! bukan kecewa dengan keadaan tapi kecewa dengan dirinya sendiri yang tak mampu menjaga wanita yang telah menjadi istrinya.
Dia menyesal!
__ADS_1
Dia Emosi !
Dia kalang - Kabut!
Dia kalut dengan keadaan yang sekarang!
Kenapa harus sampai seperti ini?
Ohh ya ampun!
Apa yang harus Aku lakukan sekarang?
Ya Allah hamba harus bagaimana? hamba bingung! berikan petunjukmu Ya Allah! hanya Engkau yang tau jalan keluar yang sedang hamba hadapi, hanya Engkau yang tau jalan apa yang harus hamba tempuh sekarang, hanya Engkau yang dapat membantu kekalang - kabutan hamba, hanya Engkau yang Maha Mengetahui semua hal yang tidak hamba ketahui. Hamba mohon Ya Allah? hamba berharap kepada-Mu..
Berikan petunjuk dan jalan keluar yang dapat hamba lakukan Ya Allah 🤲🏻
Batin Rifqy berdoa seraya meminta petunjuk dan jalan keluar masalah yang sedang di hadapi, yang sedang ia pikul ini.
Bunda, Ayah dan juga Bunda sangat terkejut! kenapa lagi ini anak? begitulah pikiran Ayah Rifqy yang melihat putranya tertunduk lemah, merosot di lantai.
Ia seperti sedang menangis tak bersuara atau lebih di kenal menangis dalam diam!
Entah apa yang di tangiskan Rifqy? keadaan wanita yang sekarang ia cintai masih terbaring di atas brangkat Rumah Sakit yaitu Istrinya yang baru dia nikahi hampir 2 bulan atau karena sikap kasar dan tidak sopan Dia kepada Bunda dan juga Dimas, sahabat yang sudah Ia anggap adik kandungnya sendiri? Entahlah! hanya Sang Maha Kuasa dan makhluknya yang mempunyai masalah, ya, Rifqy yang mengetahui itu semua.
Bunda berharap Rifqy tak melakukan hal bodoh seperti itu lagi! ya sama - sama doakan saja ya?
Dengan telaten Bunda tampak menuntun putranya perlahan tapi pasti untuk duduk di soffa yang masih belum di jungkir - balikkan oleh Rifqy karena kemarahan, dan sang pemilik badan hanya bisa menurut saja karena sudah sangat lemah. Ya, hanya soffa lah yang tersisa di dalam ruangan yang masih utuh.
Sekarang bukan barang - barang yang ada di ruangan ini yang di permasalahkan oleh Ayah, Bunda dan juga Dimas, melainkan keadaan Rifqy yang sedang kalang - kabut seperti orang stress yang kehilangan kewarasan karena hal yang sangat ia sayangi.
Bunda dan Ayah takut, marah, kecewa dan juga bingung atas sikap Rifqy yang tiba - tiba marah tidak jelas dan membanting semua barang yang ada di Ruangan tersebut. Apalagi posisi Ayah dan Bunda sekarang baru saja datang ke Rumah Sakit milik mereka dan juga tempat dimana menantunya di rawat, istri dari Rifqy. Jadi sama sekali Orang tua itu tak tahu menahu, ralat belum tahu dan belum mengerti!
Setelah duduk Bunda tak bertanya apapun itu kepada Rifqy. wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu langsung mendekap tubuh kekar milik anaknya ke dalam pelukan hangat seorang Ibu kepada anaknya, dan dengan senang hati Rifqy membalasnya. Ia (Rifqy) menenggelamkan wajahnya ke dada sang Bunda yang sangat ia sayangi. Sumpah demi apapun! posisi seperti inilah yang di inginkan dan di butuhkan oleh Rifqy sebagai bentuk kasih sayang dan support dari sang Bunda menurut Rifqy.
Seketika tangis Rifqy pecah begitu saja saat ia dalam pelukan Bundanya, ia menangis dalam diam. Hanya getaran tubuhnya dan bahu yang naik turun yang dapat di rasakan sang Bunda kalau anaknya ini sekarang sedang menangis karena rapuh, Bunda tahu kalau Rifqy sedang menumpahkan beban yang selama ini di pikul dari satu kata yaitu tangisan. Bunda juga sangat yakin kalau Rifqy sedang butuh support dan pengertian dari orang - orang yang menyayanginya, maka Bundalah yang akan menjadi orang pertama untuk memberi support dan juga kasih sayangnya yang akan ia tumpahkan kepada Rifqy, putra semata wayangnya.
__ADS_1
Pelukan hangat dari sang Bunda dapat membuat Rifqy sedikit lega, ia telah menumpahkan segala keluh kesahnya, emosinya, bebannya, kekecewaannya, dan juga kemarahannya dengan tangisan dalam pelukan perempuan paruh baya yang sering ia sebut Bunda.
Bunda akan selalu ada untuk mu Sayang!
Bunda akan menjadi orang pertama yang dapat men-support mu di saat masa - masa sulit seperti ini, Bunda akan selalu membuat mu mengerti Nak akan kehidupan yang kejam ini. Bunda sekarang mengerti kenapa kau seperti ini, Bunda tau kalau kau sedang mengkhawatirkan seorang wanita yang telah menjadi istri mu itu. Bunda akan selalu mendukung apa yang kau anggap benar, Nak! Bunda sayang sekali dengan mu..
Melihat putranya sedang menangis rapuh seperti ini, tanpa terasa membuat air mata Bunda juga luluh keluar dari persembunyiannya. Susah payah ia menahan tangisan ini agar tak keluar, tapi nihil ! air mata itu sudah jatuh mengaliri pipi mulus dari sang Bunda. Rifqy menangis diam dalam pelukan hangat Bunda, dan sang Bunda juga ikut menangis melihat sisi rapuh dari putranya. Sungguh ia sudah lama tak melihat sisi rapuh ini keluar lagi dari diri Rifqy, sejak saat kecil ia kehilangan Kakek dan Neneknya.
Bunda mengelus rambut Rifqy yang sudah tak terurus lagi dengan kelembutan, seakan dari tangan itu lah sang Bunda menyalurkan kasih sayangnya. Di ikuti tangan kanan Bunda mengelus bahu kanan Rifqy yang nampak bergetar agar sang anak tahu bahwa sang Bunda akan selalu ada untuknya disaat susah dan terdapat masalah seperti sekarang ini.
Rifqy mendongak. "Terima kasih, Bunda." cicit Rifqy yang langsung di balas anggukan dan senyuman tulus dari Bundanya.
Rifqy menenggelamkan lagi wajahnya ke dalam dekapan Bunda. Entah seperti apa sekarang baju yang di pakai perempuan paruh baya itu! yang pasti sudah basah dengan air mata dari Rifqy.
Tapi bagi Bunda itu tak masalah! yang terpenting putranya telah lega dengan menumpahkan segala beban dan keluh kesahnya saat di dalam dekapan sang Bunda.
Rifqy sangat beruntung!
Sangat sangat Beruntung!
Karena mempunyai Bunda yang ada di saat ia butuh dan ada di saat ia rapuh seperti ini.
Dan ada Ayah, Dimas yang juga sangat menyayangi dirinya.
Air mata itu seakan tak ingin berhenti saat berada di dekapan sang Bunda, serasa ada magnet yang kuat menariknya untuk tetap keluar dari persembunyiannya, walau telah Rifqy tekan untuk tak keluar. Tapi nihil ! semuanya sia - sia saja.
.
.
.
Bersambung...!
Like like like 😊
__ADS_1
Mohon dukungannya 🙏