
"Hah hah hah..."
"Kenapa lo?" heran jelas heran! Rifqy yang sedang melamun dikagetkan dengan kedatangan Dimas yang seperti sedang dikejar - kejar setan saja.
Huhh
Dimas mencoba mengatur nafasnya sehabis berlari tadi menuju atap Rumah Sakit.
"Kakak Ipar... Huh..." ucapannya terhenti karena dia harus menghirup lebih banyak nafas karena memang telah habis selagi berlari. Entahlah!
"Kenapa Istri gua?" sarkas Rifqy dengan berjalan kearah Dimas lalu meraih kerah kemejanya.
"Kenapa istri gua?" suara Rifqy sudah naik oktaf dengan tangan yang belum terlepas.
"Aduh, lepas dulu Qy! gua gak bisa nafas." apaan ini? dia ingin memberitahu kabar baik tapi malah hampir end karena kekurangan nafas.
Rifqy berdecak kesal, bukannya menjawab tapi malah bertele - tele seperti ini tapi tak urung jua Rifqy melepas kerah kemeja Dimas yang dia tarik dengan kasar.
Dengan perasaan kesal Dimas merapihkan kemeja yang melekat di tubuhnya.
"Lo ya! gua kesini mau kasih kabar bagus, ehh lo malah kaya begini."
"Gak usah bertele - tela!" sambar Pemuda keturunan Arab - Indo itu dengan suara yang sudah meninggi. "Istri gua kenapa?" lanjutnya lagi dengan pertanyaan yang sama.
Dimas menyerah, ia tidak akan menang jika harus beradu argumen dengan Kakak angkatnya itu. "Oke oke, Kakak Ipar..."
"Dia bukan kakak ipar lo, Dimas" oh ya ampun! Pemuda ini benar - benar sensitif pantas saja! orang moodnya sedang tidak baik akhir-akhir ini.
Dimas hanya bisa mendengus sebal sebelum berucap kembali. "Kakak ipar udah sadar!" dan terucaplah kata - kata itu dari mulut Dimas.
"Ohh..." sahut Rifqy santai.
Tapi tunggu dulu! ada yang terasa berbeda dengan kata - kata itu.
1 detik
3 detik
5 detik
Bagaikan ada batu berat terangkat dari dalam dadanya yang sudah menyesakkan selama berhari - hari belakangan, kini Rifqy mendapat secercah harapan untuk Istrinya bisa sembuh dari segala penyakit jika sudah sadar dan tentu itu akan dia pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang adalah segera menemui wanita yang sudah membuatnya hampir gila dan mati rasa karena khawatir yang terlalu berlebihan. Ya ampun ๐คจ
"Apa?! lo gak bohong kan?" tangannya tidak tinggal diam, menggoyangkan bahu milik Dimas yang tanpa sadar terlalu kencang sehingga membuat sang empu meringis kesakitan.
Mata tajam itu menatap lawan bicaranya dengan berkaca - kaca hampir saja embun di dalam bola matanya meluncur dengan mulus kalau saja tangan kekar Rifqy tidak mengusapnya agar airnya hilang. Tak lupa juga kedua sudut bibirnya terangkat melengkung keatas membentuk senyuman yang begitu lebar menampilkan gigi putih berbaris miliknya.
__ADS_1
Cih
Dimas berdecih dalam hati seraya memutar bola matanya jengah begitu 'pun malas. Lihatlah teman- teman! Rifqy begitu bahagia mendengar kalau Istrinya sudah sadar, berbeda saat istrinya belum sadar kemarin-kemarin sudah seperti orang kehilangan kewarasannya ๐
Dengan wajah berbinar dan perasaan senang, pemuda itu berlari menuju ruangan dimana Istrinya dirawat tanpa memperdulikan Dimas yang sedang meringis kesakitan tepatnya di kedua bahunya. Karena apa? ya, karena tekanan telapak tangan Rifqy lah! apa lagi?! ๐ sabar ya babang Dimas ๐
Dengan masih mengelus - elus bahunya berharap sakitnya hilang, Dimas mengikuti langkah besar Pemuda yang dianggap Kakak itu seraya memandang Pemuda itu malas.
Bucin. Batin Dimas berteriak.
Terserah! bodo amat! Rifqy tidak perduli walau Dimas memandangnya dengan tatapan tak biasa, tatapan kesal, marah, jengah dan malas sekaligus. Yang terpenting sekarang Istrinya telah sadar dan pasti ia akan langsung memeluk tubuh yang sangat ia rindukan karena lama tak pemuda itu peluk
Dan benar saja!
Dengan gerakan cepat Rifqy membuka pintu masuk Ruangan dengan tergesa - gesa sehingga menimbulkan suara agak gaduh.
Tatapan itu tatapan yang sangat Rifqy rindukan, tatapan dari gadis yang sangat ia cintai, tatapan yang terdapat arti rindu di dalamnya, tatapan sendu, tatapan kebahagian sekaligus.
Langkah kaki lebarnya berjalan cepat kearah tempat dimana gadis itu berbaring dengan sedikit bersender yang sejak tadi tersenyum manis padanya.
Grap
Tubuh kekar nan tinggi tegap itu memeluk Gadis miliknya dengan sedikit erat.
Bela mengangguk mengerti. Gadis bercadar itu juga merasakan hal yang sama, merasakan rindu yang sangat mendalam.
"Sangat merindukanmu." imbuh Rifqy lagi yang semakin mengeratkan pelukan di tubuh Istrinya.
"I-iya, kak." sahut Bela dibalik pelukan Rifqy. "Tapi bisa kan pelukannya jangan kenceng-kenceng! aku gak bisa nafas." sumpah demi apapun, penuturan Bela mampu membuat semua yang ada diruangan tersebut kompak tertawa. Sikap mu itu bang - bang ! ๐
Malu!
Rifqy hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sangat malu. Apalagi disana ada kedua Mertuanya, dan apa ini? Rifqy sama sekali tak menyadari keberadaan kedua Mertuanya. Sungguh terlalu!
Matanya menjelajahi setiap ruangan seraya menatap satu persatu orang yang ada di dalamnya, dan glekk!
Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu bersusah payah menelan ludahnya yang seperti tercekat di tenggorokan karena ada tulang ikan yang nyangkut.
Matanya mengerjap sebelum tersadar dengan keadaan. "Ehh, Ibu Ayah!" cicit Rifqy kemudian seraya melangkah maju untuk menyalami tangan kedua Mertuanya itu.
Ayah dan Ibu Bela tersenyum penuh arti dengan kepala mengangguk menjawab panggilan Menantunya. Jelas mereka berdua sangat paham dengan keadaan Rifqy yang memang sedang bahagia - bahagianya maka dari itu tak menyadari keberadaan mereka yang sudah sedari tadi pagi ada di Ruangan tersebut.
"Eee... Ayah sama Ibu kesini sama siapa? maaf Bu Yah Rifqy..."
Ayah Bela menepuk pelan bahu menantunya agar tak meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Ayah sama Ibu mengerti, Nak. Jadi jangan merasa bersalah ya? Ayah dan Ibu kesini karena dapat kabar dari pemuda itu." menunjuk ke arah Dimas yang juga sedang menatap kebahagiaan mereka.
"Dan dia juga yang menjemput Ayah dan Ibu untuk datang ke Rumah Sakit, awalnya Ibu dan Ayah terkejut bukan kepalang kenapa Putri kesayangan Ayah sedang sakit tapi orang tuanya tidak ada yang di kabari, tapi setelah Ayah dan juga Ibu melihat sendiri keadaan Kamu saat Istrimu ini sedang tidak sadarkan diri maka Ayah Ibu bisa memaklumi mu, Nak.
Jangan seperti ini lagi ya! jika ada masalah pergilah ke Allah jangan malah marah - marah yang akan berujung merugikan diri sendiri. Sangat tidak berfaedah!"
Nasehat Ayah Bela seperti sindiran untuk Rifqy sendiri, karena bukan tanpa alasan Mertuanya bicara seperti ini.
Rifqy memang melakukan hal yang tidak berfaedah saat Istrinya sedang koma. Bukannya mendekatkan diri kepada sang pencinta dan yang mempunyai nyawa dari semua makhluk hidup yang ada di Bumi, ehh tapi Rifqy malah marah - marah dengan membanting semua barang yang ada di dalam Ruangan Direktur miliknya.
Rifqy tersenyum dan mengangguk tipis menjawab nasehat dari Ayah Mertuanya. Matanya mengarah pada Dimas dengan menggunakan isyarat alis yang dinaik-turunkan seperti sedang bertanya. Tapi Dimas seakan tak mau menjawab pertanyaan Rifqy, dia hanya menggedikkan bahu acuh.
Dasar!
Dimas hanya bisa terkekeh dalam diam saat melihat sendiri dengan mata kepalanya disaat Rifqy mendengus kesal karena tak mendapat jawaban, sebelum berbalik kepada Istrinya kembali.
Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu memegang tangan mungil Istrinya yang sedang terpasang alat infus disana, kemudian memberikan kecupan penuh cinta didahi Istrinya.
"Hemm... Ya ampun! disini masih ada orang Rifqy! ya sudah lah kami pergi dulu, kami kasih waktu untuk berduaan atas waktu yang tertunda ya?" Ya, Penuturan Bunda Rifqy memang membuat Bela tersenyum malu tapi tidak untuk Rifqy, dia hanya santai menanggapi godaan dari Bundanya.
"Ya ya ya." jawab Rifqy kemudian.
"Hei, dasar ya bocah nakal!" desus Bunda dengan terkekeh pelan.
Rifqy mendengus. "Bun, Rifqy bukan Bocah nakal lagi." elak Rifqy membela diri sendiri.
"Bagi Bunda kamu tetap bocah nakal Bunda dan Ayah."
"Ya, terserah!"
"Ayo kita keluar dulu, kasih waktu untuk mereka berduaan. Siapa tau kan kalau kita masuk nanti kita bisa dapet cucu nantinya!"
Hah
Rifqy tergelak dengan rahang seperti akan jatuh ke lantai saat Bundanya berani berucap seperti itu.
Apa - apaan Bunda ini? batin Rifqy seakan ingin meneriaki Wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu.
.
.
.
Bersambung...!
__ADS_1