
Di saat Rifqy dan Bela sedang asyik mengobrol, Bapak Bela muncul
"Nak apa Bapak boleh ngobrol dengan nak Rifqy. Banyak yang ingin Bapak tanyakan kepada nak Rifqy?" tanya Bapak pada Bela
"Iya pak boleh" Jawab Bela
"kalo gitu Bela ke belakang dulu pak?" lanjut Bela pamit kepada Bapaknya, yang hanya di angguki oleh Bapak
"Nak apa Bapak boleh tanya sesuatu?" tanya Bapak Bela hati-hati
"Iya Pak tanyakan saja" sahut Rifqy
"Nak apa kamu benar-benar ingin menikahi anak Bapak?" tatapnnya mulai serius
"Iya Pak, Rifqy ingin menikahi anak Bapak karna Allah" Tegas Rifqy tapi pelan
Bapak hanya mengangguk mengerti
"Kamu tinggal dimana Nak?"
"Ada di kota XXX"
"boleh Bapak tau apa pekerjaan kamu?"
"Rifqy Dokter Ahli Bedah dan Spesialis Penyakit Dalam Pak dan Rifqy juga ada usaha sampingan" jawab Rifqy sambil tersenyum
"Begitu ya" ucap bapak sambil mangut-mangut mengerti
"Kapan Nak Rifqy bawa orang tua nya kemari untuk melamar anak Bapak?" tanya Bapak serius
"Insha Allah pak, jika Bela sudah mengambil keputusan untuk menerima Rifqy secepatnya Rifqy akan bawa orang tua Rifqy kesini untuk melamar Bela. Karna orang tua Rifqy juga gak disini pak"
"memang orang tua kamu dimana nak?"
"Mereka ada di Kalimantan Pak, Ayah mengurus Bisnisnya yang ada disana dan Bunda ikut menemani Ayah" Jawab Rifqy dengan wajah sendu
"Bisnis apa nak?"
"Bisnis Batu Bara Pak"
__ADS_1
Bapak diam tidak menanggapi nya lagi dan seketika itu Rifqy melihat perubahan wajah Bapak Bela
"Bapak kenapa?" Tanya Rifqy penasaran
"Apa kamu yakin ingin menikahi anak Bapak, kami hanya orang miskin, tidak pantas dengan mu nak?" Bapak Bela merendah diri
"memangnya ada apa pak?"
"Kamu orang kaya dan kami orang miskin. Kamu adalah Dokter sekaligus pebisnis, Ayah kamu mempunyai bisnis Batu bar di Kalimantan. sedangkan Bela hanya punya toko online dan Bapak hanya buruh pabrik dan Ibu hanya buruh cuci itupun dulu sebelum Bela tak mengizinkan kami Bekerja lagi"
"Pak orang tua saya tidak memandang harta dalam melihat seseorang. Dan yang terpenting Rifqy bahagia pasti mereka juga bahagia pak, asal yang Rifqy pilih adalah perempuan baik-baik"
"Dan insha Allah Bela adalah orang yang tepat untuk Rifqy Yang sudah Allah tunjukan lewat mimpi Rifqy pak. Bapak jangan khawatir ya pak? Rifqy ingin menikahi Bela karna Allah pak" lanjut Rifqy meyakinkan Bapak Bela
"Terima kasih nak? Bela sebelumnya belum pernah membawa laki-laki kerumah ini, dia hanya sekali membawa laki-laki dulu dan kami tak suka dengannya karna dilihat bukan orang baik-baik"
"Sama-sama pak, memang siapa laki-laki itu pak? maaf pak?
"Mantan Bela dulu waktu SMK tapi putus dan tak pernah kesini lagi. Setelah Bapak tau bahwa Bela telah putus dengan lelaki itu kami lega Nak, kami tak ingin Bela kenapa-kenapa"
"Iya pak Rifqy ngerti dengan kekhawatiran Bapak dan Ibu"
"Apa pak?"
"Saat pertama kali Putri kecil Kami terlahir kedunia, Dia menjadi simbol kebahagian bagi Kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara Kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai Kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seperti itu kewajiban orang tua.
Kami besarkan Dia dengan segenap jiwa dan raga. Kami didik dengan semaksimal mungkin ilmu yang kami punya. dan kami jaga Dia dengan kepenuh hati-hatian." Bapak menarik nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya
"Dia kini telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa bangga Kami memilikinya. Kami berfikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbesit dalam hati Kami untuk tetap menahannya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego Kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang dapat berpisah dari anaknya. Putri Kesayangannya.
Tapi...." Ibu Bela yang mendengar ucapan Bapak tak mampu menahan air matanya, yang akhirnya luntur juga
"Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana Kamu datang untung meminangnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan setelah Ijab Kabul nanti, Kau-lah yang nanti harus menjaganya. Menggantikan Kami.
Mari ikatlah tanganmu kepadanya."
"Tolong! jangan beratkan hatinya, karna sebenarnya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami untuk mengabdi kepadamu. Seperti halnya anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya, pun demikian dengannya. Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, Tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong Kami di masa tua."
"Kami akan menikahkanmu dengan anak gadis kami dan memberikan kepadamudengan cuma-cuma, Kami hanya mohon untuk Dia selalu Kau jaga dan Kau bahagiakan.
__ADS_1
Jika Kau tak berkenan akan kekurangannya, ingatkanlah Dia dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti Dia, sekali lagi, jangan sakiti Dia!"
"Suatu saat Dia menangis karna merasa kasihan dengan Kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah Engkau? Wahai calon menantuku, bahwa Kau pun memiliki orang tua, pun demikian dengan istri mu ini. Disaat Kau perintahkan Dia untuk menemani orang tuamu disana. Pernahkah Kau berfikir? betapa luasnya hati istrimu? Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada di samping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka. Sedang kami tahu, betapa sedih Dia karna dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karna semua untuk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan Dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada Kami dari jauh. Jujur, sedih hati Kami saat jauh darinya. Namun apa daya Kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, Kau lebih berhak atasnya daripada Kami, orang tuanya sendiri nanti.
"Maka hargailah Dia yang telah rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah Dia yang telah membuat keputusan yang sedemikian sulit. Maka sayangilah Dia atas semua pengorbanannya yang hanya dengan dirimu. Begitulah cantiknya putri kami. Semiga Kau menyadari betapa berharganya calon istrimu itu, jika Kau menyadari."
"Tolong jaga anak Bapak ya? dia sudah sangat menderita karna terlahir dari keluarga miskin seperti kami. Dia selalu menuruti apa mau kami dan dia juga yang sudah membangun rumah ini dengan kerja keras nya selama ini. Tolong jaga anak Bapak baik-baik nak, Dia mempunyai sifat keras kepala dan kekanak-kanakan. Jika kamu sudah menjadi suaminya bersabarlah dengan sifatnya itu"
"Insha Allah pak Rifqy akan jaga anak Bapak? Bapak jangan khawatir ya. Rifqy akan selalu ingat pesan Bapak"
Keheningan menyelimuti ruangan itu tak ada pembicaraan lagi
Rifqy melihat arloji di tangannya dan menunjukan jam 21.30
"Pak sudah malam kalo begitu Rifqy pamit pulang dulu pak?" Pamit Rifqy kepada Bapak Bela
"Buru-buru sekali Nak, sebentar ibu panggilkan Bela" Ibu menjawab
"Bu gak usah takutnya udah tidur Bela nya"
"Assalamualaikum pak bu" Rifqy menyalami tangan orang tua Bela
Rifqy berjalan keluar menuju mobil nya
setelah berada di mobil. Rifqy langsung pulang kerumahnya
Sesampainya Dirumah Rifqy langsung beranjak kekamar untuk merebahkan tubuhnya yang mulai lelah.
"Alhamdulillah akhirnya aku malam ini bisa tidur dengan nyenyak" Gumam Rifqy memandangi langit-langit kamarnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya
Tak lama kemudian Rifqy tertidur
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...!