Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Menginginkan Anak


__ADS_3

Setelah kepergian sang Suami yang ia ketahui dari dencitan pintu yang tertutup, Bela yang memang sebenarnya berpura - pura memejamkan matanya memilih untuk berusaha duduk dan bersender di ranjang putih Rumah Sakit.


Cukup lama ia merenung!


Sampai ada sebuah suara deringan Ponsel yang menyentakkan lamunannya.


Tangan putih nan mulus yang mungil milik Bela terulur untuk meraih Ponsel yang berdering cukup lama tersebut.


Dahinya berkerut saat tidak mengetahui siapa yang menelponnya.


Siapa? pertanyaan yang mungkin hanya ditujukan oleh dirinya sendiri, karena memang hanya dia yang berada di dalam Ruangan. Entah ada dimana semua orang? Orang tua termasuk Mertuanya yang memang hari ini belum terlihat menjenguk Bela.


Satu gesekan warna hijau keatas sudah dipastikan membuat dirinya mengangkat satu telfon masuk di Ponsel miliknya.


"Assalamualaikum?" satu kata yang tak pernah lupa Bela berikan sesaat sesudah mengangkat sebuah telfon dari siapapun termasuk Customer dan Reseller bisnis Online miliknya.


"Wa'alaikummussalam! Sya ya ampun!" suara cempreng menyambut suara sapaan Bela membuat Bela seketika menjauhkan Ponsel yang ia pegang dari telinga.


"Silvia?" satu kata yang dituju untuk bermaksudkan memastikan siapa gerangan.


"Iya! ih kamu mah lupa ya? baru juga ketemu udah lupa aja sama suara aku yang merdu ini." Suara merdu dari mananya?


Bela terkekeh. "Suara cempreng kali." membenarkan apa yang salah.


Dibalik Ponsel Silvia memberengut kesal. "Kamu mah jujurnya minta ampun sampe gak bisa banget buat aku seneng dengan kebohongan 1 aja." mengucapkan sambil terkekeh.


"Ya gak baik kan kalo aku bohong tapi nyakitin kamu." Bela tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Aaaa Syasya!"


"Iya iya, maaf deh cabat aku." suara lembut milik Bela tampak mengalah karena tak ingin berdebat. "Ada apa menghubungi ku?" tanya Bela kemudian.


Silvia, sahabat Bela hanya mendengus saat mendengar sahabatnya sendiri bertanya kenapa hanya karena dia menghubunginya.


"Jadi gak boleh nih silvia nelfon Syasya?"


Bela terkikik dalam diam. "Boleh lah." jawab Bela singkat.


"Kita kan udah lama gak cerita-cerita."


"Cerita - cerita?" beo Bela.


"Iya..."


"Curhat kali." tawa Bela yang dibalas kekehan oleh Silvia.


"Iya, curhat." ucap Silvia membenarkan.


Bela hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Sya tau gak aku seneng banget pas aku tau kalo aku ini lagi hamil." ungkap Silvia.


Bela hanya diam menunggu curahan apa lagi yang akan Sahabatnya ini sampaikan.

__ADS_1


"Waktu aku nikah dulu, aku sempet pesimis Sya karena memang udah 3 tahun kan aku nikah tapi belum juga dikasih kepercayaan yaitu sebuah nyawa di dalam rahim aku." Bela mendengar jelas helaan nafas di sebrang sana.


"Udah berkali - kali aku cek kesehatan dari aku maupun Suami aku ke Dokter. Tapi hasilnya sama! aku subur dan suami aku juga subur. Mungkin belum dikasih ya?"


"Hemm..." hanya deheman jawaban Bela untuk Silvia yang ada di sebrang sana.


"Dulu juga udah berkali - kali aku sama suami di PHP in dengan aku yang sering banget telat dateng bulan tapi giliran di tespack hasilnya negatif." ada nada kesal bercampur dengan nada kecewa.


"Sampe aku bener - bener putus asa waktu itu tapi suami terus aja nguatin dan nyemangatin aku."


"Kamu beruntung dapet Suami seperti Dhoni, Sil..."


"Iya, beruntung banget, Sya!" potong Silvia begitu saja tanpa mau mendengar ucapan Bela lebih jauh.


"Terus gimana kamu tau kalo kamu itu lagi hamil?" rasa penasaran menghinggap begitu saja.


"Tanda - tanda kehamilan itu aku tau dari mbah google... Hehehe." terkekeh diakhir kalimat.


"Itu mah dari dulu kali. Silvia mah apa - apa harus pake mbah Google." ada nada mengejek disana.


"Waktu itu Aku mual - mual setiap pagi selama 3 hari, juga mual saat mencium bau - bau menyengat gitu.


Tingkah aku berubah drastis yang Suami aku rasain, Aku yang tadinya suka parfum Suami ehh sekarang malah mual, aku yang tadinya suka masak sekarang males banget, dan yang paling aneh nih makanan yang gak aku suka tapi malah aku tuh pengen banget, kaya nyidam gitu.


Akhirnya karna banyak pertimbangan, aku sama suami putusin untuk ke Dokter Kandungan, walaupun aku males banget pas Orang tua dan Mertua aku nyuruh ke Dokter."


"Kenapa?" tanya Bela heran.


"Ya, iya lah males! takut bikin kecewa keluarga lagi pas tau kalo aku gak hamil. Tapi ternyata..."


Silvia mengangguk di sebrang sana. "Iya, aku seneng banget tau Sya!"


"Syukurlah." dengan helaan nafas Bela menjawab.


"Kamu belum ada program hamil gitu, Sya?" tanya Silvia.


Bela tampak tersenyum kecut, tentu saja hanya dia yang melihat. "Aku nikah baru mau 2 bulan, Sil. Jadi nanti dulu lah!"


"Kenapa?"


"Alami aja!" Silvia tergelak dengan ucapan Bela.


"Iya deh." timpal Silvia.


"Eh, Sya nanti lagi ya? suami aku udah masuk kamar. Nanti aku hubungi kamu lagi. Okey! Bye.." Belum sempat Bela menjawab ternyata telfonnya telah dimatikan secara sepihak.


Dengan helaan nafas Bela menggelengkan kepala, ternyata sifat Sahabatnya ini masih sama, lupa mengucapkan salam saat telah berakhirnya percakapan.


"Wa'alaikummussalam." gumam Bela menjawab sendiri salam yang diucapkan di dalam hati untuk mewakili Sahabatnya yang lupa mengucap salam.


"Selamet buat sahabat ku yang udah dikasih kepercayaan untuk bisa ngerasain bagaimana rasanya akan menjadi Ibu, aku harap kamu baik - baik di sana, aku harap kamu dan juga janin mu sehat selalu, aku harap kamu bisa menjaga kepercayaan Allah pada sesuatu yang ada di dalam rahim kamu.


Aku seneng kalo kamu seneng." lirih Bela yang masih memandang Ponsel yang baru saja dia pakai untuk berbicara pada Silvia, sahabat lamanya.

__ADS_1


Ponselnya ia letakkan kembali di atas meja nakas yang ada di samping ranjang berseprai putih itu.


"Seneng kali ya kalo misalnya ada janin di dalam rahim aku?" imbuh Bela membayangkan jika kata - katanya menjadi kenyataan, dengan bibir tersenyum seraya tangannya mengelus perutnya yang tampak rata.


Tapi entah kenapa senyum manis yang berkembang di bibir Bela tiba - tiba pudar saat mengingat akan sesuatu.


Bela menghela nafas kasar. "Itu gak akan mungkin!"


"Memangnya kenapa gak mungkin?" tiba - tiba suara wanita paruh baya yang diketahui sebagai mertua, membuat Bela terperajat kaget.


Memang Mertua Bela sudah ada di depan pintu masuk Ruang Perawatan Bela, saat Bela sedang asyik bercengkrama dengan seseorang di Ponsel. Semua percakapan juga raut wajah yang ditunjukan oleh Menantunya dapat ditangkap secara langsung oleh indra penglihatan dari wanita paruh baya yang diketahui sebagai Bunda Rifqy, sekaligus Mertua Bela.


Sempat kaget saat Bela mengatakan kalau dirinya tak akan mungkin bisa hamil, maka dari itu ia langsung saja masuk ke dalam Ruangan perawatan Bela.


"Emmm... Bunda!" cicit Bela langsung saja menunduk, tak berani menatap Mertuanya.


Perlahan tapi pasti Bunda Rifqy tampak berjalan mendekati Bela dengan sorot mata yang tak bisa diartikan.


"Iya, ini Bunda! kenapa?"


Bela menggeleng pelan. Gadis bercadar itu tak tahu harus menjawab apa pertanyaan yang dilontarkan oleh Mertuanya.


"Tatap mata Bunda, Sya!" lembut tapi penuh penekanan dari cara bicaranya.


Mau tak mau Bela harus mengangkat kepalanya yang menunduk, perlahan ia menatap bola mata wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi samping ranjang tempatnya tidur. Bola mata lembut tapi penuh dengan sorot yang menandakan seperti pertanyaan dan menuntut penjelasan.


Ya Allah hamba harus menjawab apa? bantulah hamba! batin Bela seakan ingin berteriak kencang merasakan sesak yang mulai menggunung di dalam dadanya.


Otak kecilnya mulai berputar, bekerja untuk mencari kata - kata apa yang pas untuk ia ucapkan kepada Mertuanya. Kata - kata yang jangan sampai menyinggung siapapun itu! Mertua maupun Suaminya.


"Jawab, Sya!" sentak Bunda Rifqy hingga membuat Bela terperajat.


"Emmm. Bunda Aku..."


.


.


.


Bersambung...!


Hello hay 😊 salam cinta dari Author ❀


Hayo siapa nih yang masih nungguin cerita dari Akak Rifqy dan Syasya Bela?


Yang masih boleh acung ya 🀭


Makasih yang udah nungguin cerita ini untuk up 🀩


Makasih juga yang udah baca πŸ€—


Makasih untuk likenya πŸ™„ walaupun viewsnya banyak tapi like dikit 😬

__ADS_1


Mon maap ya Authornya banyak nuntut πŸ™jangan di ambil ati yang suka aja mohon bantuannya πŸ™


__ADS_2