Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Taman Kota


__ADS_3

Assalamualaikum...


.


Tak ada manusia yang sempurna.


Namun, seseorang akan terlihat sempurna ketika kamu mencintainya dengan tulus ❤


.


Benar?


" Jangan pernah menjelaskan dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tak butuh itu dan yang membencimu tak percaya itu."


.


(Ali bin Abi Thalib)


❤***❤***❤


Note : Typo Bertebaran. Maaf 🙂


-------


Hari menjelang siang, waktu menunjukan pukul 11.00 WIB.


Matahari hampir di atas kepala setiap orang yang berjalan di bawah terik matahari di atas yang sana nan jauh, panasnya yang menyengat dapat membuat kulit orang menganga, mengelepuh dan kering, bahkan bisa jadi menghitam 😅


Rifqy dan Bela masih setia di dalam Rumah Makan yang mereka tempati sekarang untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga yang mereka rasakan sedari Bandara tadi.


Setelah merasa kenyang, Bela mencuci tangan nya dengan air cucian atau bisa di sebut air kobokan di dalam mangkok yang telah di sediakan oleh pelayan pada mereka tadi, begitu juga dengan Rifqy, dia melakukan hal yang sama seperti Bela.


Bela memberikan tisu yang tak jauh dari jangkauannya kepada sang suami yang mungkin susah untuk meraihnya, dengan segera Rifqy menerima tisu yang di berikan Bela dan langsung mengelap tangannya yang basah agar cepat kering.


Bela dan Rifqy sama-sama menyeruput minuman yang belum habis untuk menghilangkan rasa haus dan menghilangkan makanan yang mungkin masih nyangkut di tenggorokan 😂


"Habis ini mau kemana?" Tanya Rifqy yang masih asyik dengan minuman penutupnya.


Bela menatap Rifqy intens lalu menggeleng pelan


"Mau kemana emang?" Tanya Bela balik.


menggedikkan kedua bahu ke atas. "Ya, kemana gitu." Sahut Rifqy.


"Gak tau" Ucap Bela acuh.


"Ya udah aku bayar makanan dulu di kasir ya? kamu tunggu disini sebentar, oke?" menyatukan Ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O


Bela mengangguk mengiyakan


Setelah membayar makanannya Rifqy menghampiri Bela yang masih setia menunggunya duduk sambil memainkan ponsel miliknya.


Rifqy menghampiri Bela. "hayu urang kaluar ti dieu, kuring parantos mayar kanggo tuangeun (ayo kita pergi dari sini, aku udah bayar makanannya)" Ucap Rifqy menggunakan bahasa yang kental khas Sundanya seraya mengulurkan tangan seakan memberi isyarat bahwa Bela harus menggandengnya.


"Hahhhh" Bela melongo mendengar kata-kata Rifqy yang bicara padanya dengan bahasa Sunda yang tak ia mengerti sama sekali. Ya, iyalah nggak ngerti! orang Bela keturunan Jawa sedangkan Rifqy keturunan Sunda Arab, tapi tetap kental bahasa Sundanya.

__ADS_1


Rifqy terkekeh melihat ekspresi Bela yang sedang melongo itu.


"Baiklah, ayo kita pergi?" Masih menahan tawanya yang mungkin sebentar lagi pecah.


Bela meraih tangan Rifqy. "Kamu ngomong apa tadi?" menatap Rifqy dengan tatapan mengintimindasi.


Menggeleng. "Enggak" Jawab Rifqy santai.


"Ihhh, nyebelin!" Melepaskan tangannya dari gandengan Rifqy dengan kasar, seraya mengerucutkan bibirnya dan melipat tangan di depan dada.


"Baiklah tuan putri, aku cuma ngomong 'ayo kita pergi aku udah bayar makanannya' gitu doang sayang" mencubit hidung kecil Bela yang masih tertutup rapi oleh cadar.


Bela merengut. "Ihhh sakit tau!" sangkas gadis bercadar itu yang ngambek sambil berjalan cepat dan masuk ke mobil dengan sedikit membanting pintu mobil saat menutupnya


Rifqy geleng-geleng kepala melihat perlakuan Bela seperti anak kecil yang sedang ingin di manja - manja. Lalu dia masuk ke dalam mobil, Menghidupkan dan menjalankan mobilnya dengan pelan.


Pemuda tampan itu menoleh menatap istrinya. "Marah?" menggoda Bela dengan mencolek pipi rada tembem.


Bela hanya diam dan pandangannya menuju ke arah luar jendela


"Jangan marah!" memohon dengan muka yang di buat memelas mungkin


Ayo, keluarkan jurus andalan mu Rifqy!


Tersenyum seimut mungkin. "Please!" Memainkan sedikit Pup Eyes jurus andalan yang menjadi senjata mujarapnya.


"Apaan sih kak?" menahan tawa melihat ekspresi Rifqy yang begitu menggemaskan.


"Nah, gitu dong senyum, kan cantik kalo senyum." Ucapan Rifqy seketika membuat pipi Bela merah merona seperti kepiting rebus menahan malu.


"Jangan seneng dulu, pokoknya 5 hari berturut-turut aku mau kak Rifqy temenin aku jalan-jalan! titik gak pake koma. dan gak mau tau pokoknya" Ujar Bela lantang


"Kalo gak mau aku ngambek lagi." lanjutnya


Rifqy terperangah mendengar istrinya berbicara dengan sangat lantang. "Baiklah, aku temenin." Sahut Rifqy mengalah


"Beneran?" dengan mata berbinar.


Rifqy mengangguk mengiyakan


Menjulingkan matanya. "Gak bohong kan?" menunjuk jari nya ke Rifqy


Rifqy menggeleng dengan cepat. "Emangnya mau jalan-jalan kemana?" Tanya Rifqy terheran - heran.


Bela mengulum senyum sesuatu. "Kemana aja" Jawab Bela antusias


"Ke Saudi mau?" celetuk Rifqy lagi yang seketika membuat Bela kaget


Bela menatap Rifqy tak percaya


"Iya itu pun kalo kamu mau" kata Rifqy yang langsung fokus kembali memandang ke arah depan


"Ihh mentang-mentang!" cibir Bela dengan senyum mengejek


Pemuda itu nampak menaikkan satu alisnya. "Kenapa?" Tanya Rifqy bingung

__ADS_1


"Orang Saudi mah bebas" merentangkan kedua tangannya dari atas ke bawah dengan selebar - lebarnya.


Rifqy terkekeh. "Kamu mau kemana geh?"


Bela nampak menunjuk tempat yang di inginkannya dengan jari telunjuk


"Taman Kota?" Tanya Rifqy dan di balas anggukan oleh gadis yang sedang duduk di sebelahnya.


Rifqy tersenyum. "Oke, lets go kita ke sana." turun dari mobil dengan di ikuti Bela di belakangnya.


"Mau naik Bianglala" Tanya Rifqy kepada Bela


Bela menggeleng. "Takut" jawab Bela lirih


"Apa? takut? haha...


kamu takut naik itu?" Rifqy terkekeh sembari menunjuk Bianglala besar yang sedang tidak beroperasi.


"Gak lucu!" sahut Bela dengan nada ketus.



Bela langsung pergi meninggalkan Rifqy dan duduk di pinggiran tepi pagar Bianglala


Rifqy yang memang suka diam-diam memotret Bela pun langsung meraih ponsel yang ada di sakunya, Ia mencari aplikasi kamera di Smartphone canggihnya itu untuk mengabadikan moment di depan itu. Tak sedikitpun momentnya bersama dengan Bela ia sia-siakan begitu saja.


Di saat Rifqy baru memotret 1 gambar, ternyata Bela telah memanggilnya untuk segera mendekat.



"Kak, sini !" tutur Bela dengan melambai - lambaikan tangan seraya menatap Rifqy yang sedang bermain dengan Smartphone miliknya itu.


"Iya" Sahut Rifqy


Dengan perlahan tapi pasti Pemuda keturunan Sunda Arab itu berlari menghampiri gadis bercadar yang sedang memanggil namanya. Suaranya begitu pelan tapi bisa mengobrak - abrikkan hati tanpa tau apa alasannya! mungkin karena Dia telah mencintai gadis itu makanya hatinya terasa ser - seran dan jantungnya serasa berdentum dengan kencang, seperti genderang yang sedang perang.


.


.


.


Bersambung...!


like 👍


Comment 💋


Vote 👌


Rate 🌟🌟🌟🌟🌟


Favorit ❤


Gak maksa kok ☺

__ADS_1


__ADS_2