Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Ada apa?


__ADS_3

Sedetik kemudian Bela menggeleng cepat membuat Bunda Rifqy tambah curiga dan tak percaya akan ungkapan sang Menantu.


"Gak papa kok, Bun." Matanya memandang arah luar jendela saat ia mengucapkan itu.


Tangan yang terlihat sudah mulai mengeriput itu tampak menggenggam tangan Bela lembut. "Bunda cuma tanya kenapa kamu bilang seperti itu, Nak? hem?"


Bela menggeleng sebelum menunduk kembali.


"Apa ada masalah?" dengan telaten Bunda bertanya.


Menggeleng lagi tanpa mengatakan sepatah kata 'pun.


"Apa kalian sudah periksa ke Dokter?" Dokter? iya Dokter!


Tapi itu tak akan mungkin. Karena memang Bela dan juga Rifqy belum pernah yang namanya berhubungan yang layaknya suami - istri lakukan.


Sebagai seorang Istri, Bela 'pun menginginkan hal itu tapi tak mungkin kan ia memulainya terlebih dahulu. Ia hanya menunggu Suaminya yang menginginkan.


Lagi - lagi hanya gelengan yang diberikan Bela untuk jawaban.


"Apa kalian tidak ingin memeriksakannya?"


Masih keukeuh dengan gelengan kepala dengan mulut bungkam.


"Kenapa?" tanya Bunda heran.


Bela tersenyum tipis. "Gak apa - apa, Bun." jawab Bela kemudian.


"Lalu ada apa sebenarnya?" masih belum puas dengan jawaban Bela yang hanya menjawab dengan gelengan dan kata 'gak apa - apa' sedari tadi.


Bela menggeleng lagi. "Gak apa - apa kok, Bun." gugup? tentu saja gugup. Itulah yang dirasakan oleh gadis bercadar yang suka sekali dipanggil 'Syasya' hanya oleh Keluarga dan Sahabat saja.


"Apa ada masalah pada rahim kamu?"


Bela sempat kaget dengan pertanyaan sang Mertua yang langsung menanyakan tentang itu. Tapi Bela tetap menggelengkan kepala sebagai jawaban, seperti tadi.


"Terus kenapa? apa Rifqy, anak Bunda yang bermasalah?"


Menatap lekat pada bola mata Bunda dengan tangan yang diibaskan ke kanan dan kiri berkali - kali seraya menggeleng lagi dan lagi.


"Oh, atau kalian belum siap ya? karena masih muda."


Tapi sekarang gelengan lirih lah yang direspon Bela.


"Apa karena..."


Bela diam, menunggu apa yang akan Bunda ucapkan lagi.


Lama hening!


Tak ada yang Bunda ucapkan sepatah kata 'pun dari bibir Bunda Rifqy.


Ya Allah apa benar kalau Putra ku...?


Tidak! tidak itu tidak mungkin kan? pikiran Bunda melayang sejauh itu, otaknya berfikiran yang aneh - aneh akan Putra semata wayang yang sangat ia sayangi itu.


Tapi ia tak boleh se'udzon terlebih dahulu sebelum menanyakan langsung kepada Anak maupun Menantunya.


"Karena apa, Bun?" cicit Bela yang penasaran.


"Karena..." lagi - lagi ucapannya terhenti.


Bela masih diam. Melihat mata Bunda dari suaminya berkaca - kaca membuat dahinya menyengit membentuk banyak lipatan.


Tangannya menyentuh lengan Bunda Rifqy yang mungkin masih menahan tangis dan sesak.

__ADS_1


Dengan mata berlinang, Wanita paruh baya itu membalas tatapan dan genggaman tangan dari sang Menantu.


"Apa karena Rifqy belum... belum... belum pernah menyentuh kamu, Nak?" lolos sudah.


Deg


Deg


Deg


Bagai seperti habis berlari berpuluh - puluh mil, jantung Bela terasa berdetak lebih kencang daripada biasanya.


Tangan mungil miliknya tanpa disadari meremas dada yang terasa seperti berdenyut. Bibirnya masih bungkam, belum mau mengeluarkan sepatah kata 'pun. Bibirnya kelu, seakan tak bisa ia gerakkan.


Tak terasa keringat dingin mulai mengalir di dahinya, hingga membuat tangan di bawah selimut yang sedang saling meremas bergetar.


Entah apa yang harus ia katakan?


Entah apa yang harus ia lakukan sekarang?


Entah apa? apa dan apa?


Gadis bercadar itu bingung, dan juga takut.


Bingung harus menjawab apa? dan takut akan kemarahan Wanita paruh baya ini kepada Putranya, yaitu Suami Bela.


Satu hal yang Bunda Rifqy sadari. Dengan diamnya Bela maka ia telah mendapat jawabannya sendiri, ia telah menyimpulkan, bahwa apa yang dikatakan dirinya tadi itu memang benar adanya. Walaupun Bunda Rifqy tahu bukan dari bibir Bela sendiri yang mengucap tapi dari gelagat aneh dan kegugupan gadis di depannya ini.


Itu sudah membuktikan! dan itu sudah menjawab semua keraguannya!


Selesai sudah! apa yang ia khawatirkan selama ini ternyata benar terjadi.


Ia malu! sungguh malu.


Mata Bela mengerjap beberapa kali. "Bunda a-aku..."


"Dengan diamnya kamu maka secara tidak langsung bahwa kamu sudah menjawab semuanya, Nak.


Keraguan Bunda terjawab sudah.


Kekhawatiran yang Selama ini Bunda takutkan ternyata benar terjadi.


Kekhawatiran akan sifat ia yang tak ingin memaksa walau bagaimana 'pun kamu ini seorang Istrinya. Itulah Rifqy! ia tak akan memaksa walau sebenarnya ia menginginkannya." kata - kata Bunda Rifqy benar membuat mata Bela langsung menatap lawan bicaranya.


"I-ini..."


"Jangan mencoba untuk membela Putra Bunda yang salah, Nak!


Jangan pernah kamu bela kesalahannya lagi!


Jangan kamu benarkan kesalahannya yang sungguh keterlaluan itu!


Dasar keras kepala!


Menyebalkan!


Tidak tahu malu!


Bunda sendiri saja malu!


Dia yang memaksa untuk meng-khitbah kamu tapi setelah kamu menjadi miliknya, dia malah menganggurkan kamu seperti ini." Bunda tampak mendengus sebal, akan sikap Bela yang masih mencoba untuk membela Putranya itu. Dasar menyebalkan.


Menghela nafas berat, sungguh dada wanita paruh baya itu serasa sesak seperti ada yang menindih.


"Seharusnya dari awal Bunda memaksa kalian untuk mempunyai anak, dengan embel - embel 'ingin seorang cucu' biar apa? kamu tahu supaya apa?" lanjut Bunda yang masih menampakkan emosinya dan Bela hanya menggeleng lagi, lagi dan lagi.

__ADS_1


"Supaya dia bisa memberikan hak mu saat itu juga! biar kalian sama - sama memberi hak batin masing - masing.


Kamu memberinya hak batin dan dia memberikan nafkah batin!


Bunda sebagai perempuan juga tahu kalau kamu itu menginginkan seorang anak, iya kan?"


Bela mengangguk membenarkan.


"Tapi seorang anak tidak akan terbentuk tanpa proses, Syasya!


Bunda benar - benar tidak habis fikir dengan pemikiran gilanya itu.


Dia rela menahan hasratnya karena tidak ingin memaksa kamu. Dan kamu rela menunggu tapi yang ditunggu tak kunjung mengerti akan keinginan kamu ini.


Lihat saja kalau dia kembali ke Ruangan ini akan Bunda bejek - bejek dia dengan tangan Bunda sendiri." Tangannya tidak tinggal diam, mengepal sempurna ia gerak - gerakan seperti sedang mengulek bumbu saja.


"I-iya, Bun Syasya tahu. Tapi..."


"Tapi apalagi?" bibirnya mencebik.


Belum sempat gadis bercandar itu menjawab, suara dencitan pintu terbuka mengalihkan pandangan mata kedua wanita sesama gender itu.


Mata tajam milik Bunda langsung menusuk kedalam bola mata Rifqy saat pemuda itu tidak sengaja menatap mata wanita paruh baya yang sering ia panggil 'Bunda'.


Beralih menatap Istrinya, sorot mata itu seakan bertanya 'Ada apa?' tapi gadis bercandar itu hanya menunduk tanpa menjawab.


Dengan langkah cepat Bunda berjalan menuju Putra semata wayangnya yang sedang berdiri terdiam.


PLAK


Mata Pemuda keturunan Arab - Indo membulat mendapat surprise berupa tamparan panas di pipi kirinya, tangannya terulur untuk mengelus pipinya agar bisa sedikit saja menghilangkan rasa sakit.


Bela juga sama tampak kaget dengan apa yang dilakukan Mertuanya, ia tak menyangka kalau hanya karena masalah kecil tapi tampak Bundanya besar - besarkan.


Dahi Laki - laki paruh baya yang ada di belakang Rifqy 'pun mengkerut dalam, Ayah Rifqy terperajat kaget mendengar suara tamparan yang berasal dari dalam Ruang Rawat Istri Anaknya. Yang tambah membuat dia semakin kaget dengan pemandangan kalau yang ditampar ternyata Rifqy, Putranya sendiri dan itu ditampar oleh Istrinya.


Ada apa? tanya Ayah Rifqy yang hanya terucap didalam hati.


"Bunda ada apa?" tanya Rifqy terheran - heran dengan membalas tatapan mata tajam milik wanita yang sudah mengandungnya.


"Kamu bilang kenapa?!" Suaranya sudah naik satu oktaf, menghadapi Putra semata wayangnya yang susah sekali diatur.


"Ya kenapa? Bunda tiba - tiba tampar Rifqy tanpa sebab. Wajar dong kalau Rifqy tanya kenapa."


"Diem kamu!! sudah berani menjawab ya kamu." nyalinya seakan menguap entah kemana mendengar ucapan wanita yang sangat ia sayangi. Hanya Ayahnya yang dapat menyelamatkan dirinya. Iya, Ayah!


"Bun, tenang! ada apa?" tangan lembut milik Suami dari wanita paruh baya yang sedang emosi itu nampak merengkuh bahunya.


Berusaha mengatur nafas agar emosinya sedikit berkurang, tapi nihil! itu tidak berguna sama sekali.


"Anak kamu ini..."


.


.


.


Bersambung...!


Up lagi nih 😉


Jangan lupa like, koment, vote dan ratingnya 😊 Oh iya jangan lupa tambahkan ke favorite ❤


Follow me 👇

__ADS_1


IG : sabelatasya


__ADS_2