Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

"Ketika ada sesuatu yang hilang dalam diri kita, bersabarlah..


Jika itu memang milik kita, Insha Allah akan kembali..


Jika tidak, Allah akan ganti dengan yang lebih baik lagi.."


"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS Insyirah 5)


"Berfikir positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu." (Ali bin Abi Thalib)


❤***❤***❤


Manusia tak hanya merasakan kebahagiaan saja dalam kehidupan ini. Terkadang kesedihan pun sering kali tiba-tiba datang dan membuat perasaan menjadi gelisah dan gundah gulana.


Pastinya tidak ada orang yang ingin merasa sedih. Namun terkadang masalah memang datang secara tiba-tiba dan membuat hari-hari menjadi sepi dan terasa suram. Risalah Tuhan atau perkataan orang saleh dengan kebijaksanaan yang luar biasa, bisa menghadirkan kekuatan tersendiri bagi yang mempercayainya. Masalah apa pun yang di hadapi jadi terasa kecil dan tak ada artinya.


Orang beriman yakin jika masalah yang datang merupakan bentuk ujian dari Tuhan.


"Barang siapa bersabar dengan ujian yang di alami, maka akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah."


Namun sebagai manusia wajar saja jika perasaan bersedih sering berlarut-larut ada dalam hati ketika cobaan itu di anggap berat.


Ayah dan Dimas yang tahu bahwa Rifqy sedang menangis dalam diam di dekapan tubuh seseorang yang ia sebut Bunda hanya bisa menghela nafas berat, karena memang inilah yang bisa mereka lakukan.


Selama hidup berdampingan dengan pemuda keturunan Arab - Indo itu, Rifqy memang menjadi pribadi yang sangat tertutup kepada orang lain. Jangankan kepada orang lain kepada Ayah dan Dimas pun sangat tertutup yang sebagai Ayah dan juga Sahabat. Hanya dengan Bunda dan Mbok Inah lah Rifqy mau untuk berbagi keluh kesah jika memang ia tak mampu lagi untuk memikul beban berat sendiri dalam pundaknya.


Ayah ikut mendudukkan tubuh tinggi tegapnya di sofa samping Rifqy dan juga Bunda yang sama - sama sedang menyalurkan kasih sayangnya dari pelukan itu.


Tangis pilu terdengar lirih dari mulut Putranya saat Ayah sudah duduk di sampingnya, memang terdengar sangat memilukan bagi Ayah yang memang tidak pernah melihat Putra yang sangat ia sayangi serapuh dan selemah seperti sekarang ini. Bagaikan ada puluhan jarum besar yang menusuk hati seorang Ayah saat mendengar dan melihat tangis pilu dari Putranya di ikuti dengan tangis pilu juga dari Istrinya.


2 orang yang sangat ia sayangi dan cintai sama - sama sedang menyalurkan kasih sayang juga keluh kesah dari masalah yang di hadapi ini dalam satu pelukan hangat yang sangat bisa untuk melegakan hati siapa saja yang melihatnya. Sungguh pemandangan yang mengharukan bagi orang yang tidak tahu apapun dari kejauhan juga pemandangan yang sangat memilukan bagi orang terdekat yang mendengarnya.


Sumpah demi apapun!

__ADS_1


Cairan bening yang sudah Ayah tahan dari tadi kini telah terlepas juga dari jeratan pelupuk mata besar milik Ayah, cairan itu sudah luluh lantah menggenangi pipi Ayah dengan rahang yang sedikit berbulu tebal itu. Seorang Ayah dan juga Suami sangat tidak bisa melihat Anak dan Istrinya menangis pilu di hadapannya. Tangisan itu seperti magnet yang ikut membuat mata besar milik Ayah ikut berair dan ikut terlepas dari matanya hanya karenanya.


Tangan besar milik Ayah berusaha meraih bahu Rifqy seraya menepuk pelan sampai beberapa kali sebagai semangat dan juga support seorang Ayah kepada Anaknya.


Rifqy yang merasakan tepukan pelan dari tangan yang ia kenali langsung berbalik dan menatap netra mata khas timur tengah yang sangat ia rindukan, dengan sekejap mata tubuh pemuda tampan dan tubuh pria paruh baya itu sudah menyatu dalam dekapan kehangatan yang sama seperti tempat Bunda sebelumnya.


Rifqy berusaha untuk tak menangis di dalam dekapan Ayahnya.


Tapi nihil! air mata itu terus mengalir tanpa mau berhenti.


Terima kasih, Ya Allah!


Engkau telah memberikan kedua orang tua yang sangat menyayangi dan mencintai ku dan kedua orang yang ada di saat aku sedang merasakan kegundahan seperti sekarang ini.


Mungkin memang aku harus bercerita kepada Ayah dan Bunda, agar aku bisa lebih tenang dan mungkin saja Ayah maupun Bunda bisa memberikan pendapatnya dan memberikan solusi dari masalah yang aku hadapi sekarang. Gumam Rifqy di batin saat sedang di pelukan sang Ayah.


Rifqy melepaskan diri dari dekapan tubuh kekar sang Ayah, ia segera menyeka air matanya yang memang telah menganak di pipinya dengan telapak tangan, bahkan terlihat jelas kalau ia sehabis menangis melalui matanya yang memerah.


Bunda meraih bahu Putranya dengan kedua tangan. "Kenapa, Nak?" tanya Bunda yang melihat anaknya sudah lebih tenang dari sebelum mereka masuk ke dalam ruangan yang memang sudah berantakan ini.


Rifqy tak bergeming, ia sama sekali tak mau menjawab pertanyaan dari Bundanya tentang dirinya kenapa.


Ayah mengacak - acak rambut Rifqy beberapa kali karena gemas, ia tau kalau Putra semata wayangnya ini masih belum bisa untuk menceritakan perihal ada apa dengannya?.


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya seorang Ayah kepada Anaknya seraya menepuk bahu sang anak pelan.


Mungkin memang aku harus menceritakan sekarang kepada Ayah dan Bunda, perihal apa yang terjadi kepada ku dan juga kepada Syasya. Batin Rifqy.


Rifqy tampak menarik nafas pelan dan menghembuskan lewat mulutnya dengan kasar, ia mencoba untuk menenangkan gejolak aneh yang sekarang sudah mulai menggerogoti hatinya lagi.


"Apa yang harus Rifqy lakukan Bun, Yah?


Rifqy bingung?" kata Rifqy yang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.

__ADS_1


Ayah dan Bunda saling pandang dalam diam, sebelum menatap Putranya yang memang penampilannya sudah berantakan dari tadi.


"Memang apa yang terjadi, Boy?" Ayah yang bertanya dengan menyangkutkan panggilan kesayangannya kepada Rifqy sedari kecil. Ya, Boy! itulah panggilan sayang seorang Ayah kepada Anaknya sedari kecil.


Pemuda yang di panggil Boy mengedipkan matanya, ia berusaha menghilangkan rasa panas di netra matanya karena terlalu lama menangis.


"Syasya, Yah!" singkat, padat dan jelas namun kedua orang tuanya telah mengerti maksut dari arah pembicaraan Rifqy saat ini.


Ya, sekarang Ayah dan Bunda tahu perihal apa yang membuat Putranya madah - marah seperti seorang yang frustasi dalam hidup.


Bunda tersenyum seraya menatap Ayah yang juga tersenyum tanpa tau apa arti dari senyum itu.


"Memang apa yang terjadi dengan menantu Bunda yang cantik itu, Sayang?" mencoba bertanya hati - hati dengan suara lemah lembut khas milik Bunda.


Rifqy tampak berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati meja kerja miliknya dan membuka laci itu seraya meraih amplop putih berlogo Rumah Sakit milik Ayahnya yang tadi sempat Dokter Nita berikan kepadanya.


Rifqy berbalik dan memberikan amplop itu kepada Bundanya. "Bunda bisa baca sendiri." cicit Rifqy yang membuat dahi Bunda dan Ayahnya berkerut.


Kedua paruh baya itu nampak bingung, mereka saling memandang sebelum Ayah mendekat dan membuka Amplop putih berlogo Rumah Sakit miliknya.


Saat telah terbuka lebar isi dalam amplop itu, Bunda tampak kaget dan terkejut begitu pun dengan Ayah yang memang tahu betul arti dari lembar hasil Laboratorium Rumah Sakit.


"Rifqy harus bagaimana, Bun Yah?" pertanyaan Rifqy menyadarkan kedua paruh baya yang sedang terkejut itu dan sekarang beralih menatap Putranya.


.


.


.


Bersambung...!


Mohon dukungannya 😊

__ADS_1


__ADS_2