
"Kenapa kalian hanya diam saja?!" imbuh Rifqy yang mulai jengah dan geram dengan beberapa Dokter di depannya, rekan sekaligus bawahannya di dalam Rumah Sakit ini.
Masih dengan keadaan yang sama.
Tak ada yang bicara!
Dan tak ada juga yang bergerak untuk menangani gadis bercadar yang sedang membutuhkan bantuan dari kerusuhan seseorang yang sudah pergi menjauhi Rumah Sakit tersebut dengan tergesa - gesa.
Hingga tiba orang tua Rifqy dan Dimas di dalam Ruangan perawatan Bela, Istri Rifqy.
"Astaghfirullah, Rifqy!!" pekik Bunda lantang dengan suara menggema di dalam Ruangan Perawatan Keluarga Rifqy. Tangan kanannya membekap mulutnya dengan tangan kiri merangkul pundak Putranya di iringi tubuh yang luruh ke lantai kotak - kotak dalam Ruangan.
Rifqy yang melihat Bundanya seperti sedang syok langsung mengarahkan pandangannya ke arah Bundanya menatap nyalang.
"Istri kamu!" ucap Bunda sekali lagi dengan suara lirih, entah terlalu syok? atau entah tak memiliki tenaga lagi ketika melihat Menantu satu - satunya harus dalam keadaan seperti sekarang ini.
Pemuda keturunan Arab - Indo itu segera berlari ke arah ranjang Istrinya berbaring di iringi dengan meraih alat pendeteksi jantung untuk di pasang di telinganya dan di letakkan di depan dada gadis bercadar yang tak lain dan tak bukan adalah Istrinya sendiri.
Hening!
1 detik
3 detik
5 detik
"Kenapa kalian hanya diam saja?! bantu Saya! cepat!" seru Rifqy seraya memerintah Dokter dan juga Perawat yang ada di dalam Ruangan tersebut.
Dokter Nita yang ada di dalam Ruangan pun langsung membantu memeriksa keadaan Bela, Istri dari Direktur Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Sedangkan Bunda, Ayah Rifqy dan juga Dimas di perintahkan keluar dan menunggu di luar Ruangan.
Sumpah demi apapun! jantung ketiga insan berbeda gender itu berdegup dengan sangat kencang dan dengan perasaan tak karuan Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu berdiri dari tempat duduknya, Dia tampak berjalan membolak - balikan badannya di luar Ruangan seraya menggigit ujung kukunya khawatir sekaligus gugup yang ia rasakan.
Entah apa yang akan ia katakan kepada kedua Orang Tua dari Menantunya, yaitu Besannya sendiri? yang mungkin sekarang ini belum mengetahui keadaan Putrinya yang sedang terbaring sakit di atas ranjang Rumah Sakit.
"Bun, tenanglah!" kata Ayah pemuda keturunan Arab - Indo itu seraya tangannya memegang kedua bahu Istrinya agar mau duduk kembali.
Mau tak mau pun Bunda ikut duduk disana. "Gimana Bunda bisa tenang Yah, kalau keadaan istri Rifqy itu memprihatinkan setelah ada yang ingin berniat jahat kepadanya.
Bunda gak habis fikir siapa yang membunuh Menantu kita itu?"
__ADS_1
Dimas yang mendengar penuturan Ibu angkatnya itu pun langsung mengepalkan kedua tangannya merasa geram dengan orang yang berniat jahat kepada Kakak iparnya itu. Dalam hatinya ia berjanji akan mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Itu janji Dimas!
***
Di Sebuah Apartement Sederhana tapi terlihat mewah
Seseorang sedang merutuki kegagalannya karena rencana matang yang sudah ia rencanakan dari jauh - jauh hari ternyata gagal begitu saja hanya karena sebuah alat pendeteksi, bisa dikatakan Alarm darurat pendeteksi bahaya yang mengintai di sekitaran ranjang yang ditiduri itu.
Mungkin kalau ia tak lupa akan alat itu, detik itu juga sudah membuat gadis yang sedang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit itu semakin lemah akan obat pelemah jantung dan otaknya yang memang sudah ia suntikkan di dalam selang oksigen yang terhubung dengan hidung gadis itu.
Gadis itu berdecih kesal.
Ya, yang melakukan hal yang tak mencerminkan itu adalah seorang gadis. Memang gila! sungguh gila untuk seorang gadis!
"Sial! kalau bukan karena alat bodoh itu mungkin aku sudah membuat wanita sialan itu mati seketika karena obat pelemah yang memang terus aku suntikkan di dalam selang oksigennya selama setengah jam sekali. Karena alat bodoh itu, aku hanya menyuntikkan tiga seperempat nya dan masih ada seperempat lagi dari suntikan yang kelima.
Sial! benar - benar sial!" ultimatum gadis itu seraya membanting satu persatu barang yang ada di dekatnya.
Tapi beberapa saat kemudian gadis itu pun tertawa. "Aku memang tak berhasil sepenuhnya menyuntikkan obat yang kelima ke dalam tubuh gadis itu, tapi aku senang karena 4 suntikan sudah masuk ke dalam tubuhnya dan otomatis BOMMMM!!!
Jantungnya semakin lemah dan otaknya tidak akan berjalan normal dalam beberapa saat tanpa di jalani terapi pengobatan yang mendalam." kata - katanya terhenti karena tawa yang keluar dari bibir yang indah tapi siapa sangka kalau banyak keburukan disana.
Dengan perasaan kesal karena pekerjaannya belum tuntas terselesaikan, dia duduk di atas tempat tidur seraya menyenderkan badannya pada kepala ranjang.
Matanya menerawang jauh saat kejadian dimana dia melakukan hal yang bisa di bilang sangat keji dan dapat membuat dirinya sendiri masuk ke dalam sel penjara.
Memang hal itu sudah ia pastikan akan terjadi, tapi rencananya jauh lebih matang dari pada ketakutannya. Memang bisa di bilang gadis ini adalah gadis yang sudah gila hanya karena harta dan tahta.
Flashback On
Seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi, langsing, leher tegap, kulit putih, hidung mancung, dan garis wajah tirus seperti model terkenal saat ini sudah berpakaian rapi serba putih dengan memakai sepatu pantopel hitam yang sungguh pas di kaki jenjangnya dan topi putih kecil yang hanya di jepit oleh penjepit rambut di atas kepala rambut nya yang pedek sebahu.
Dia berjalan kedepan kaca besar yang berdiri tegap di dalam kamar Apartemen nya seraya menimbang - nimbang penampilannya saat ini.
"Perfect!" satu kata keluar dari bibir Gadis itu dengan senyum miring tersungging.
Setelah merasa dirinya telah siap maka dia melangkahkan kakinya keluar dengan tas selempang yang ia sampirkan di bahunya.
Dengan langkah gontai ia beranjak keluar dari Apartemen sederhana miliknya yang tak terlalu mewah dan berjalan menuju lift.
Tangan lentik nan putih miliknya menekan tombol angka 1 setelah memasukinya untuk turun ke lantai paling dasar di gedung ini.
__ADS_1
"Ke Rumah Sakit Kota ya Pak!" ucap gadis itu kepada Bapak Supir Taxi yang memang telah menunggunya sedari tadi, tepatnya memang gadis itu telah memesan Taxi online lewat aplikasi di Ponsel pintar miliknya yang tampak lumayan mahal.
Bapak Supir itu mengangguk. "Baik, Mbak." jawabnya kemudian.
Dengan pelan tapi pasti Pria paruh baya itu menghidupkan mobilnya dengan di ikuti melajukannya dengan perlahan membelah kota yang cukup cerah dari sinar matahari pagi yang menyehatkan badan.
Sampai di Rumah Sakit gadis yang berpakaian serba putih itu memasuki ruangannya, dia mulai bersiap untuk rencananya dari jauh - jauh hari.
Di mulai dengan memakai baju dan celana panjang yang tertutup ditambah dengan hijab segiempat untuk eksennya dan tak lupa kacamata dan juga masker agar wajahnya tak terlihat di dalam CCTV.
Benar - benar dia merubah penampilannya mirip dengan orang lain.
Saat telah siap, ia keluar dari ruangannya dengan menggenggam satu buah suntikan dan berjalan menuju ruangan keluarga yang mempunyai Rumah Sakit tersebut.
Senyum licik berkembang di bibirnya saat telah berada di Ruangan itu.
"Hai gadis bodoh!! apa kabar?" sapa dia dengan basa basi.
"Kau akan berakhir di tangan ku!" ucapannya benar - benar sangat membuat begidik ngeri.
Dengan perlahan tapi pasti, ia menyuntikkan obat ke dalam oksigen pasien yang sedang terbaring lemah itu.
Dan hal itu di lakukan sampai 5 kali setiap setengah jam sekali.
Sampai pada saat gadis yang sudah menyamar itu menyuntikkan obat yang kelima, ia tak sengaja menyenggol meja sehingga membuat alarm pendeteksi bahaya berbunyi begitu saja.
Maka sebelum ada orang yang melihat dia yang melakukan hal itu, gadis itu keluar lewat tangga darurat yang ada di Rumah Sakit tersebut, karena memang tangga itu tidak banyak orang yang melewati jadi untuk sementara ia akan aman.
Flashback Off
"Kalau aku tidak bisa memiliki dia maka tidak ada satu pun gadis yang boleh memiliki dia, termasuk kamu gadis bodoh!!" gumamnya dengan diiringi tawa iblis dari bibirnya.
"Tak apa untuk kali ini tak berhasil, tapi ini akan terus berlanjut sampai rencana ku melenyapkan mu berhasil dan membuat dia berpaling padaku setelah kau mati gadis bodoh!!"
.
.
.
Bersambung...!
__ADS_1