
Mengapa lelah?
Sementara Allah selalu menyemangati dengan Hayya 'Alash Shalaah dan Hayya Alal Falaah.
Bahwa jarak kemenangan hanya berkisar antara kening dan sajadah.
❤***❤***❤
"Astagfirullah Rifqy! Dimas!..." tanpa berfikir terlebih dahulu atau apa pun itu Bunda telah berlari kearah Dimas dan juga Rifqy yang memang jarak mereka berdua tak begitu jauh dari pandangan matanya.
"Apa yang terjadi Dimas?" Bunda membantu Dimas untuk bisa berdiri seraya menanyakan apa yang terjadi sebenarnya saat ini?.
Dimas menggeleng lemah. "Dimas gak tau Bun! tau-tau Rifqy udah kaya begini.
Semua yang ada di Ruangan ini jadi sasaran amukannya dia termasuk Dimas, Dimas juga gak tau dia kenapa.
Dimas udah berusaha untuk ngendaliin emosi dia tapi gak bisa, yang bisa ngendaliin emosi dia cuma Bunda dan juga istrinya." jawab Dimas dengan nafas yang masih terengah-engah karena tonjokan dari Rifqy yang begitu kuat di bibirnya sampai Ia terjatuh ke lantai.
Bunda meringis melihat luka di bibir Putra angkatnya itu yang mengeluarkan darah segar yang begitu berbau amis. "Apa ini sakit nak?" tanya Bunda sambil menyentuh luka itu.
"Aww" Dimas meringis kesakitan saat Bunda menyentuh bibirnya yang terluka.
Bunda mendekati Rifqy. "Kamu kenapa sih nak? hemm?" menyentuh bahu Rifqy dengan memaksa agar Putranya sudi untuk menatap matanya.
Bukannya menjawab Rifqy malah mengguncang bahunya agar tangan Bunda bisa terlepas dan benar saja Dia langsung menjauh ke pojok tembok Ruang kerja miliknya.
BUK
BUK
BUK
Terdengar suara dari tembok yang di tonjok dengan tangan.
__ADS_1
Bunda sangat terkejut dengan perlakuan Rifqy yang sama sekali belum pernah di lakukan oleh Putra semata wayangnya itu. Perempuan paruh baya berusia hampir kepala 5 itu melihat Putranya sedang melampiaskan emosi dengan memukuli tembok Ruangan Kerja milik Suaminya dahulu, yang sekarang pun telah di amanahkan kepada Putra semata wayangnya.
Dan lihatlah sekarang! Ruangan seorang 'Direktur Utama' di sebuah Rumah Sakit terkenal di kota ini yang tadinya bersih, saat ini telah hancur! semua hancur! seketika itu juga! dan pelakunya adalah tak lain dan tak bukan pemuda yang memiliki luka di kedua punggung tangannya dengan mengalir darah segar yang berbau amis menyengat disana, siapa lagi? kalau bukan Rifqy Al-Furqan!.
Sesegera mungkin Bunda menahan tangan Putra yang sangat Ia sayangi dengan memeluk badan yang lebih tinggi dari dirinya. Tapi apalah daya Bunda! Dia tak bisa menandingi kekuatan Rifqy yang kuat itu, apalagi sekarang Rifqy sedang marah dan sedang tak bisa untuk mengontrol emosinya. Jadi Rifqy sudah seperti singa yang lapar ingin memakan mangsanya, kemarahannya begitu nyata di depan mata tapi entahlah! Bunda, Ayah dan Dimas bahkan tak mengerti kenapa Rifqy melampiaskan emosinya seperti ini.
Yang mereka tau, Rifqy adalah orang yang paling bisa untuk menekan emosinya yang terkadang sudah memuncak pun Ia akan berwudhu dan sholat agar dapat meredakan emosi dalam dirinya.
Rifqy menghempaskan tangan Bunda yang memeluk tubuhnya dari belakang. "Lepas Bun!" sentak Rifqy yang masih terus meninju tembok yang tidak bersalah.
Ayah menghampiri istrinya sesaat setelah Bunda terjungkang ke belakang. "Bun, Bunda gak apa - apa kan?" tanya Ayah seraya membantunya berdiri.
"Bunda gak apa - apa kok, Yah!" jawab Bunda dengan senyum yang terlihat sangat di paksakan.
Ayah menatap nyalang ke arah Rifqy. "Kamu apa - apaan sih boy? ada masalah? hem?
Kalo ada masalah bilang! jangan lampiaskan kemarahan kamu kepada orang lain yang tidak tahu apa - apa. Dan apa - apaan ini?! ruangan kerja tapi sudah seperti kapal pecah yang terguncang di lautan karena badai topan menerjang!" bentak Ayah yang sangat geram dengan sikap ke tidak gunaan anaknya entah karena masalah apa?.
Rifqy bergeming, dia menghentikan aksi tonjok - menonjok temboknya tapi tetap menoleh pun Ia tak sudi.
kemana sikap sopan santun kamu kepada orang yang lebih tua dari pada kamu?! apalagi wanita ini adalah Bunda kamu! wanita yang sudah mengandung dan melahirkan kamu!" Seraya menunjuk istrinya yang mulai terisak dengan ekor matanya.
Pria paruh baya itu menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar. "Kemana sikap ramah kamu selama ini?!
kemana sikap kamu yang bisa dengan mudah menekan emosi kamu?! walau Ayah tau kalau kamu pernah menjadi seorang anak berandalan! tapi yang Ayah tau kamu paling tidak bisa membentak ataupun berani berlaku kasar kepada wanita yang kamu panggil Bunda.
Ini adalah kali pertama kamu membentak dan berbuat kasar kepada Bunda mu! dan Ayah harap ini akan menjadi sikap kasar dan tidak sopan kamu yang terakhir!
Ayah dan Bunda cukup kecewa dengan semua ini nak! K-E-C-E-W-A!!"
Sungguh ini adalah perlakuan Rifqy yang pertama kali membentak Bundanya, apalagi dia sampai berani untuk mendorong wanita paruh baya yang sudah mengandung selama 9 bulan lebih dan melahirkannya dengan pertaruhan nyawa. Tapi Rifqy belum sadar sepenuhnya kalau dia sudah berlaku tidak sopan dan kasar kepada orang tuanya terutama wanita yang dia panggil Bunda.
"Kemana sikap dan perilaku kamu yang selama ini sudah Ayah dan Bunda ajarkan kepada kamu?!
__ADS_1
sikap sopan santun!
sikap tegas tapi tetap tidak menindas!
sikap bertanggung jawab kamu!
sikap ramah tamah kamu!
sikap kamu yang paling bisa untuk menekan emosi kamu yang sudah memuncak!
sikap yang selalu lari mencari air untuk berwudhu dan melakukan sholat agar dapat meredakan emosi dari dalam diri kamu!
sikap yang tidak ingin menggunakan kekerasan saat ada masalah!
lalu apa ini?! hah?!
Kamu mau buat Ayah jantungan dengan keadaan ruangan kerja kamu yang seperti kapal pecah dan terutama keadaan kamu yang sungguh memprihatinkan dan tidak mencerminkan kalau kamu adalah Direktur utama dari Rumah Sakit ini!
Apa kata bawahan kamu nanti! kalau sampai mereka melihat maupun mendengar kamu marah - marah tidak jelas seperti ini sampai melempar semua perabotan yang ada disini untuk menjadi pelampiasan emosi sesaat mu! untung saja ruangan ini kedap udara dan hanya bisa di akses oleh 5 orang saja yaitu kamu, Dimas, Ayah, Bunda dan juga Istri kamu!
Sadar nak! sadar!"
"Kalau kamu ada masalah, Bunda dan Ayah berharap kamu bisa untuk beritahu kami! kamu ini orang tua mu nak! kamu bisa ceritakan pelan - pelan masalah kamu yang mungkin kamu mengira ini masalah yang gawat, iya kan?
Ayo nak! Ayah dan Bunda siap untuk mendengarnya jika memang kamu sudah tidak kuat lagi untuk menanggung beban yang berat untuk kamu pikul sendirian, Ayah dan Bunda siap untuk menjadi pelampiasan dari cerita masalah kamu. Ayah dan Bunda siap! iya kan Bun?" akhir kata Bunda menatap wajah istrinya yang sudah menganak karena terlalu banyak air mata yang keluar
"Iya, Yah. Ayo nak cerita! ada apa sebenarnya? kenapa kamu sampai seperti ini? kenapa kamu sampai menghancurkan benda - benda tidak bersalah itu? kenapa kamu sampai melukai diri kamu sendiri seperti ini? kenapa nak? lalu bagaimana dengan keadaan Istri kamu, menantu kesayangan Bunda nak?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...!