
"Ceritakan masalah mu dalam Do'a mu..
Biarkan langit yang menuliskan semua perjuangan mu..
Dan Semoga Allah mudahkan jalan keluar untuk mu!"
"Apakah Kamu percaya bahwa pertolongan Allah itu ada?
Jika iya. Maka janganlah Kamu pernah menyerah!"
(Adimas Prastyo)
❤***❤***❤
"Arghhhhh!!" teriakan frustasi dari Rifqy membuat Dimas yang ada di depan Ruangan tersebut, tepat setelah Dokter Nita keluar.
Dia langsung membuka pintu dan masuk ke dalamnya dengan tergesa-gesa.
Dia takut kalau Rifqy nekat malakukan apapun karena melihat keadaan Istrinya yang masih kritis di Ruangan IGD Rumah Sakit milik Ayah Rifqy.
Dimas menghampiri Rifqy. "Rifqy, ada apa?" tanya Dimas kepada Rifqy yang sedang terduduk lemah di lantai Ruang kerjanya
Bukannya menjawab pertanyaan dari Dimas, seorang Direktur Rifqy malah menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Hanya guncangan dari bahunya yang bisa orang lihat kalau Dia sedang menangis.
Entah apa yang di tangiskan olehnya? mungkin saja Dia sedang menangis karena kecewa! dan mungkin juga karena frustasi.
Dimas mengguncang bahu Rifqy "Rifqy, ada apa?" mengulang pertanyaannya yang tadi sempat Dia lontarkan
Dimas terkekeh. "Lo nangis?" nada bicaranya sudah bukan seperti tadi dengan nada yang penuh kekhawatiran, yang sekarang berbanding terbalik bertanya dengan nada seperti mengejek
Pemuda itu tak bergeming! masih sama seperti tadi! terduduk di lantai tanpa memikirkan pandangan orang lain. Apalagi jika bawahannya yang melihat, mungkin mereka akan mengira jika Rifqy sekarang ini sedang gila karena Istrinya.
Tapi itulah Rifqy! Dia tak mudah untuk memikirkan ucapan orang lain dan masuk begitu saja ke dalam hatinya. Itu tak akan mungkin.
Rifqy masih diam! seperti tadi!
Ya, inilah Rifqy! selalu menyimpan masalah yang sedang di hadapinya sendirian dalam hatinya. Dia tak terbiasa membaginya dengan orang lain, maupun Dimas atau Bundanya sendiri. Walau sebenarnya Bunda tampak sering memaksa Rifqy untuk bisa lebih terbuka dan selalu menceritakan apa yang sedang terjadi pada Putranya. Mungkin Rifqy akan lebih leluasa bercerita jika Dirinya memang sudah tak sanggup lagi untuk menyimpan masalahnya sendiri, tanpa memberitahu orang lain.
Seperti sekarang ini, Dia menyimpannya tanpa mau untuk menceritakan masalah yang sebenarnya walau itu kepada Dimas, Sahabat sekaligus Assistentnya. Masalah yang di hadapinya sekarang benar-benar akan membuat Dirinya hancur seketika. Masalah yang di anggap Rifqy mungkin masalah yang sangat berat! masalah yang lebih berat dari pada saat Dia kecelakaan beberapa waktu lalu. Tepatnya 1 tahun lebih yang lalu.
"Apa yang harus Gua lakuin, Mas?" pertanyaan yang semakin membuat Dimas bingung.
Apa ini? apa Dia salah bicara? atau bagaimana? bagaimana bisa Dia bertanya pada orang yang belum tau duduk permasalahannya dimana? begitulah pikir Dimas mendengar pertanyaan frontal yang keluar begitu saja dari mulut Rifqy. Dimas masih mencoba untuk mencerna dengan baik pertanyaan Sahabat baiknya itu.
Masih dengan wajah bingungnya. "Apa yang lo bicarain sih? Gua gak ngerti!" tanya Dimas yang belum bisa mencerna situasi yang terjadi
Pemuda itu tak menjawab. Ia hanya bisa menangis dalam diam tak bersuara, hanya guncangan kedua bahunya yang menandakan kalau Pemuda berusia 26 tahun itu sedang menangis sesegukan.
__ADS_1
Dimas yang melihat itu sangat terkejut.
Dia tak tahu harus mengatakan apa pada Rifqy. Ia berfikir kalau Dia akan mencoba untuk menggoda Rifqy.
"Hei! apa yang terjadi?" mengguncang bahu Rifqy yang terlihat bergetar saat di sentuh oleh telapak tangan Dimas. "Lo nangis?!" pekik Rifqy dengan nada yang sedikit mengejek dengan senyum sinis yang terpatri di bibir Dimas
"Hahaha..." Tawa Dimas pecah melihat pemuda dingin yang sudah di anggap kakaknya itu sekarang sdang menangis, dan entah karna apa itu?
Rifqy terlihat menyeka air mata yang sudah terlalu banyak keluar dari matanya dengan menggunakan ujung bahu yang masih terbalut dengan kemeja kemaren, saat Ia sedang berada di Rumah Sakit.
Dan Dia kembali lagi ke Rumah Sakit ini dengan menggunakan kemeja yang sama!
Hanya berbeda dari yang sekarang, karena yang sekarang sudah banyak bercak darah dari Istrinya sewaktu menggendongnya waktu perjalanan ke Rumah Sakit dan kemeja itu begitu lusuh! meski begitu kemeja yang di pakai Rifqy tetap mengeluarkan bau wangi yang berasal dari tubuh atletisnya.
Ya, Rifqy memang tak sempat untuk mandi bahkan hanya sekedar untuk mencuci wajahnya agar terlihat segar maupun berganti pakaian yang lebih pantas di gunakan untuk Direktur seperti dirinya. Dia tak ingin meninggalkan Gadis yang sekarang sudah sepenuhnya memenuhi ruang dari hatinya. Kalau bukan karena Dokter Nita yang memanggilnya untuk membicarakan hal penting dengannya, Dia tak akan mau untuk masuk ke Ruangan kerjanya.
"Gua emang gak berguna! Gua gak berguna! Gua gak becus jadi seorang Suami! Gua gak becus! Lo bodoh Rifqy! Lo bodoh! Gua benci dengan hidup Gua ini! Gua gak terima!" Gumam Rifqy pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dimas.
Rifqy memukul kepalanya dengan kepala tangan miliknya beberapa kali hingga membuat Dimas tercengang
"Hei! jangan bodoh!" seru Dimas sembari mencoba menghentikan tangan Rifqy yang masih ingin memukul kepalanya sendiri
"Gua emang bodoh!" balas Rifqy tanpa berhenti memukuli kepalanya
Dimas bingung harus berbuat apa?. "Qy, sebenarnya apa yang terjadi?!" teriak Dimas yang sudah hilang kesabarannya
PRANK
Dimas kaget melihat Rifqy membuang vas bunga yang berada di atas meja pasang dari sofa
Dimas menahan kedua tangan Rifqy agar tak berbuat hal yang bodoh lagi. "Apa - apaan Lo ini?! hah!"
Rifqy menghempaskan tubuh Dimas hingga membuat si pemilik tubuh tersungkur. Bukan Dimas namanya! kalau Dia tak bergeming. Tapi naas! sebelum Dimas bangun, Rifqy sudah memukulnya sampai membuat Dia tersungkur kembali dengan luka robek di bibirnya.
PRANK
BRUK
BRAK
SRET
BUK
BUK
BUK
__ADS_1
Semua barang yang ada di ruangan tersebut telah tamat riwayat nya!
Dari mulai Vas bunga kecil di atas meja sofa
Gucci besar
Buku-buku dan berkas file
Komputer
Rak buku yang telah ambruk ke lantai
Hordeng yang telah berserakan di lantai
Lemari benda - benda koleksinya telah tak berbentuk lagi, dengan isinya yang sudah tak tahu ada dimana
Kursi - kursi yang telah di layangkan ke sembarang arah
Dan tembok pun menjadi sasaran bagi kebringasannya.
Semua telah hancur! semua hancur seketika! Rifqy begitu emosi saat Dia mengetahui kenyataan pahit yang Dia tau dari Dokter Nita baru saja. Dia murka pada dirinya sendiri!
Dimas yang melihat kejadian itu hanya bisa diam di tempatnya tadi tersungkur karena pukulan Rifqy, Dimas tau kalau Rifqy sekarang sedang sangat emosi. Jadi Dia tak berani mengusik pemuda itu.
Terlihat dari nafas yang memburu, dada yang naik turun sesuai dengan nafas yang tidak beraturan karena menahan emosi, tangan yang terus bergerak untuk menghancurkan sesuatu yang ada di depannya tanpa peduli teriakan dari Dimas.
Dimas sangat khawatir!
Dia berusaha meraih Ponselnya untuk menghubungi Bunda Rifqy, tapi belum sempat Dia menghubungi nomer itu, ternyata! Dia melihat Bunda dan Ayah Rifqy sedang berjalan dari balik jendela luar Ruangan itu.
PRANK
Bunda dan Ayah Rifqy yang mendengar itu tanpa ba bi bu langsung masuk begitu saja. Bunda dan Ayah membelalakkan matanya melihat Ruangan yang sudah hancur lebur tak tersisa, mata Bunda beralih kepada Dimas yang sedang tersungkur di lantai dekat jendela dengan sudut bibir yang berdarah.
Lagi lagi Bunda terkejut melihat tangan Rifqy yang mengucur darah segar karna perbuatannya sendiri. Ya, Dia baru saja meninju kaca jendela yang tersisa dan yang belum hancur sebagai sasaran yang terakhir.
"Astagfirullah Rifqy! Dimas!..."
.
.
.
Bersambung...!
Jangan lupa dukung Author ya? 😊
__ADS_1