Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Dia Kembali


__ADS_3

"Lo kenapa lagi Qy, tadi baru aja lo senyum-senyum sendiri ehh sekarang udah murung aja kaya gitu?" tanya Dimas lagi yang menyadari perubahan wajah senyum menjadi murung


Rifqy menggeleng lemah. "Emmm Gua cuma lagi mikirin istri gua aja, Mas" jawab Rifqy tak bersemangat.


"Kenapa lagi Istri lo?" tanya Dimas lagi kepada Rifqy kala itu.


Tampak pemuda yang sedang duduk di kursi kebanggaannya menarik nafas dengan membuangnya kasar.


"Sebenernya hari ini itu Dia Ceck Up dan Gua udah tau itu, walau Gua tau juga bukan dari Dia sih. Lo tau kan informasi tentang dia pasca operasi 7 bulan lebih yang lalu? itu juga kan lo yang cari informasinya.


Gua langsung intrograsi Dokter Nita kala itu, dan dengan berat hati Dokter Nita harus bilang semuanya sama gua, termasuk janji temu dia sama istri gua hari ini.


Tapi yang bikin Gua heran tuh, kenapa juga Dia gak kasih tau Gua tentang masalah ini?! kadang Gua ngerasa kalo Gua itu gak ada artinya apa-apa buat Dia, Mas.


Gua bingung harus bersikap apa sama dia, dia nampak apik nyembunyiin sesuatu yang mungkin pikir dia kalo gua sampe tau maka gua akan khawatir banget sama dia." jawab Rifqy dengan wajah yang lesu.


Memang Rifqy mengetahui bahwa hari ini adalah Cek Up untuk Bela, istrinya. Tapi bukan dari mulut gadis itulah yang keluar untuk memberitahu, melainkan dari Dokter Nita yang menangani Bela selama ini, walau harus dengan sedikit ancaman akan menghentikan jam kerjanya kalau Dokter Nita tak memberitahu dirinya.


Sebenarnya ada rasa kecewa ketika Istrinya itu tidak bisa lebih terbuka kepadanya, tapi apa boleh buat? inilah yang terjadi saat ini, Mungkin gadis bercadarnya itu belum bisa jujur di hadapannya, namun Rifqy akan tetap menunggu dimana Bela akan menceritakan semua masalah dan keluh kesannya selama ini.


"Ngomong apa sih Lo Qy? Gua yakin kok mungkin aja Istri Lo belum siap aja untuk cerita ke Lo, secara kan Dia nikah sama Lo juga mendadak. Lo dateng tiba-tiba langsung aja mengkhitbah Dia, jelas aja lah Dia butuh waktu untuk menyesuaikan semua ini. Udahlah Qy, Lo positif thingking aja gak usahlah mikir yang macem-macem" Jelas Dimas yang mampu sedikit membuat Rifqy terlihat lega.


"Iya juga sih, Gua cuma kadang ngerasa gak di butuhin aja sama Dia, makanya mungkin Gua mikirnya yang aneh-aneh" sahut Rifqy setuju dengan ucapan Dimas, sahabatnya itu.


Dimas menepuk pelan bahu Rifqy beberapa kali. "Nah, gitu dong?! Lo harus terus berjuang. supaya apa?! supaya Istri Lo bisa lebih ngerasa kalo Lo itu memang terbaik buat Dia di bandingkan orang lain" Ujar Dimas terus memberikan semangat kepada atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Udah sana Lo kerja lagi, Lo tadi ngapain masuk ruangan Gua?" tanya Rifqy menyadari bahwa Dimas masuk bukan untuk mendengar curhatan pria itu.


"Oh iya, Gua hampir lupa. Ini ada data Perawat baru yang baru masuk 1 bulan yang lalu" jawab Dimas menjelaskan tujuan apa dia masuk ke ruangan Bosnya.

__ADS_1


Rifqy menyengit. "Siapa? kok gua gak tau? dan kenapa baru sekarang?" tanya Rifqy penasaran.


"Qy, Gua harap Lo bisa terima ini Perawat walau Lo kenal sama Dia." Kata Dimas gugup segugup - gugupnya.


Menaikkan satu alis kanannya. "Memangnya kenapa?" Rifqy balik bertanya pada Dimas karna bingung apa maksud dari pemuda itu.


"Lo liat aja Qy datanya" titah Dimas dan langsung di turuti oleh Rifqy dengan anggukan kepala.


Rifqy mulai membuka map hijau yang berisi data Perawat baru Rumah Sakit Ayahnya itu.


Lama Dia mencerna isi data itu, keningnya mulai berkerut mendapati nama yang sangat Dia kenal, nama yang tak asing lagi buat Dia, nama yang begitu familier di otak maupun hatinya.


Rifqy menatap tajam Dimas, dan yang di tatap hanya pura-pura memalingkan wajahnya karna takut kena amuk orang yang ada di depannya itu.


Tampak membating map yang berisi data seorang perawat baru. "Apa-apaan ini? sejak kapan dia kerja disini?!" kata Rifqy bertanya kepada Dimas


"Sebenernya apa Mas? Hah! Lo tau 'kan kalo Dia yang udah bikin Gua kaya gini" Sumpah demi apa? Dimas belum pernah melihat Rifqy menatapnya seperti tatapan mematikan itu.


Dimas susah payah menelan ludahnya


"Qy, dengerin dulu?" berusaha untuk bisa menenangkan Bos sekaligus Sahabatnya itu.


Pemuda itu tampak marah, rahangnya nampak berbunyi gemertuk dari kedua susi gigi yang menyatu dengan paksa. "Diem Lo!" titah Rifqy sambil menunjuk Dimas dengan jari telunjuknya.


Mau tidak mau Dimas 'pun diam seribu bahasa, tidak berani bicara. Jangan 'kan untuk bicara dan membela diri untuk menatap sahabatnya yng sedang marah 'pun tidak berani, Dia hanya bisa menunduk takut. Tangannya bergetar hebat, dahinya berkeringat dingin, jarinya saling bertautan merasakan aura dingin serta panas yang berasal dari Rifqy.


"Jelasin!" kata Rifqy meminta penjelasan


"Jadi gini..." Dimas mulai bercerita bagaimana pertemuannya dengan orang yang sangat familier dan sangat di kenali oleh Rifqy bisa masuk apalagi bekerja jadi perawat di Rumah Sakit Ayahnya.

__ADS_1


Dimas bilang kalo waktu itu Dia tidak sengaja bertemu dengan Dia di dalam Rumah Sakit ini, saat itu memang Dia sedang membutuhkan pekerjaan, dan kalau pada saat itu Dimas tidak mau membantunya maka Dia akan menggoreskan pisau lipat kecil yang memang sudah di siapkan orang itu di dalam tas ke pergelangan tangannya, jadi mau tidak mau Dimas memberi pekerjaan di dalam Rumah Sakit Ayah sahabatnya itu.


"Damt it...!!!" umpat Rifqy sambil terus mengacak-acak rambutnya kasar


"Maaf Qy? Gua bener-bener gak ada pilihan lain saat itu. Gua bener-bener minta maaf?" Ucap Dimas memohon maaf dengan sorot penuh penyesalan


Rifqy menghembuskan nafasnya kasar "Sudahlah! Dia memang tidak pernah berubah" sahut Rifqy setelahnya. Rifqy tau kalau Dimas tidak bersalah, nama yang sangat familier itu memang tidak pernah berubah, selalu seenaknya melakukan apa yang ia inginkan.


Tok Tok Tok


Saat perdebatan ada suara pintu di ketuk hingga membuat dua pria itu saling pandang lalu menoleh ke arah pintu yang di ketuk


"Biar Gua yang buka" ujar Dimas berjalan untuk membukakan pintu


Mata Dimas langsung membulat setelah melihat siapa yang mengetuk pintu, susah payah dia menelan ludahnya yang seakan tercekat di tenggorokan


****** Gua, matilah Gua!! Umpat Dimas pada diri sendiri, merasa sangat gugup di hadapan Rifqy


"Apa kabar Bebs?" ucap wanita itu setelah menyelonong masuk begitu saja tanpa rasa salah dan berdosa


"Kauuu!..."


.


.


.


Bersambung...!

__ADS_1


__ADS_2