
Sudah satu pekan ini gadis bercadar yang sedang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit setelah kejadian percobaan pembunuhan dengan suntikan obat pelemah jantung dosis tinggi dan di campur dengan racun dari bisa ular yang di suntikkan di selang oksigen yang tersambung langsung ke tubuh gadis itu belum juga sadarkan diri.
Alat - alat Rumah Sakit masih melekat sempurna di bagian tertentu dari tubuh gadis bercadar yang tak lain dan tak bukan adalah Aulia Syasya Bela. Gadis yang biasa di panggil Syasya oleh Suaminya itu.
Sungguh miris bukan? oh siapapun itu tolong yang bisa membantu agar Gadis itu bisa bangun, maka Rifqy pasti akan sangat senang jika itu terjadi.
Sedangkan Rifqy sekarang lebih banyak diam dan menutup diri di Ruangan kerja Rumah Sakit Ayahnya yang sekarang ia tangani. Tak ada sepatah kata 'pun yang keluar dari mulut pemuda keturunan Arab - Indo itu. Hanya Dimas yang setia menemani Kakak angkat sekaligus Sahabat baiknya itu, walau Sebenarnya dirinya 'pun tak pernah dianggap oleh Rifqy sama sekali.
Sekali Dimas yang memulai pembicaraan maka Rifqy tak akan menjawab sama sekali. Jadi percuma saja!
Fikirannya terarah saat waktu dimana Istrinya hampir saja dilukai seseorang yang belum tahu siapa orangnya.
Flashback On
Dokter Nita, Dokter Rifqy dan 2 Perawat sedang memeriksakan keadaan Gadis bercadar yang sedang mengalami kejang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Syasya, Istri Rifqy.
"Direktur, jantung Nona Syasya melemah." Dengan wajah panik dan penuh kekhawatiran Dokter Nita mencoba memberitahu Rifqy.
Rifqy berdecak dengan wajah yang tak kalah khawatir.
"Cepat lakukan tindakan!"
"Baik."
"Ambil darah lalu cek di laboratorium!" ucap Rifqy setelah keadaan Istrinya stabil dan detak jantungnya mulai normal kembali.
"Baik."
"Sekarang!"
Setelah menunggu selama 1 jam akhirnya hasil LAB keluar.
Rifqy yang tidak sabar langsung meraih kertas itu.
Sungguh bak di sambar petir siang bolong saat membaca tulisan kecil yang berderet di atas kertas putih berlogo Rumah Sakit Ayahnya itu.
Rahang Pemuda keturunan Arab - Indo itu mengantup keras dengan suara gemertuk dari gigi putihnya, matanya memerah, dan tangannya mengepal kuat sampai kuku - kuku menancap di telapak tangan miliknya.
Lihat saja, aku akan balas orang yang berani menggangu milikku.
Siapa pun itu tidak akan bisa lolos dari ku!
Beraninya!! kurang ajar!! Batin Rifqy geram saat mengetahui bahwa darah Istrinya telah bercampur dengan Obat pelemah jantung dan juga bisa racun ular.
Flashback Off
__ADS_1
Dan selama 1 minggu telah banyak dilakukan tindakan agar Racun itu dapat keluar dari tubuh Bela.
Dimas sebenarnya jengah dengan Pemuda yang sedang duduk termenung di Kursi Kebanggannya itu. Sangat kesal sekaligus marah! untuk apa coba hanya duduk termenung tanpa melakukan apapun di dalam Ruangan?
Dimas hanya takut jika dia meninggalkan Rifqy sendiri di Ruangan kerjanya maka Rifqy akan melakukan hal konyol seperti waktu itu. Ingin membelah pergelangan tangannya hanya karena ingin urat nadinya terputus.
Pemuda keturunan Arab - Indo itu benar - benar frustasi saat mengetahui bahwa Istri yang sangat ia cintai kritis hanya karena suntikan cairan obat berdosis tinggi yang sudah di campur dengan bisa racun dari ular yang terkenal mematikan.
"Qy, lo harus makan!" titah Dimas dengan hati - hati pemuda itu meletakkan makanan untuk Rifqy di depannya.
Rifqy tak bergeming!
Tak menjawab ucapan Dimas maupun meraih makanan yang sudah di suguhkan oleh Adik sekaligus Sahabat baiknya itu.
Karena tak ada jawaban dari Rifqy, Dimas 'pun berinisiatif menyuapi Rifqy dengan makanan itu. Tapi diluar dugaan! Rifqy malah menepis sendok yang mengarah ke mulutnya hingga terjatuh dan melempar piring yang berisi makanan ke lantai sehingga membuat makanan itu berhamburan.
Dimas yang melihat itu langsung menatap Rifqy dengan tajam tapi Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu sama sekali tidak takut akan tatapan itu. Masa bodo! batin Rifqy mungkin saat itu.
"Lo emang udah gila, Qy!" seru Dimas seraya berkacak pinggang dan tangan kanannya mengusap rambutnya frustasi.
Rifqy tertawa miris. "Gua emang gila!" jawabnya masih betah duduk di kursi kebanggaan itu.
Dimas tampak menghembuskan nafasnya kasar. "Sadar, Qy sad..."
"Gua sadar!" sarkas Rifqy yang nampak tak suka dengan penuturan Dimas tadi.
"Kalo emang lo sadar sih!" skak mat! Dimas kembali berucap saat Rifqy akan menjawab. Dimas sangat tahu kalau Pemuda di depannya ini akan menolak untuk hanya sekedar makan satu sendok maupun dua sendok makanan.
Pemuda keturunan Arab - Indo itu memilih pergi keluar Ruangan daripada meladeni Sahabatnya. Dengan langkah gontai ia menaiki tangga yang menghubungkan dengan atap gedung itu. Tempat dimana Rifqy menghabiskan waktu akhir - akhir ini hanya untuk merenung.
Tatapannya lurus ke depan sana tanpa tahu apa yang ada di depan sana, tapi mampu membuat indra penglihatannya tak bergeming walau hanya sekedar melirik keadaan sekitar atap gedung.
***
"Gimana keadaan Rifqy, Nak? apa dia baik-baik saja? apa dia mau makan? dia gak marah-marah seperti tempo hari kan?" pertanyaan yang memberondong Dimas, pertanyaan yang mewakilkan kekhawatiran seorang Ibu kepada anaknya.
"Bun, satu-satu!" Ya, suara itu menyadarkan Perempuan paruh baya itu dan sepersekian detik menutup bibirnya.
"Ya seperti biasa, Bun. Belum mau makan tapi masih bisa mengontrol emosinya kok" jawaban Dimas mampu membuat hati Bunda Rifqy lega dan bisa tersenyum, walau hanya senyuman tipis yang timbul di kedua sudut bibir wanita yang sering dipanggil Bunda.
"Memang Rifqy sering marah-marah ya?" sekarang giliran Perempuan yang sedang duduk di samping ranjang lah yang menyahut. Ya, yang bertanya adalah Ibu gadis yang masih terbaring lemah di atas ranjang dengan setia menutup matanya.
__ADS_1
Masih belum mengerti dengan keadaan menantunya saat ini karena yang memberitahu dan yang menjemput dia dan Suaminya adalah Dimas. Bahkan sampai sekarang mungkin Rifqy belum tahu kalau Mertuanya sudah datang dan mengunjungi Bela.
"Semenjak Syasya masuk Rumah Sakit dan belum sadar sampai sekarang, Rifqy sering marah-marah tidak jelas bahkan sering menyalahkan dirinya sendiri atas dasar ketidak becusan dia sebagai Suami, begitu lah fikir Rifqy." jawab Bunda dengan tatapan sendu.
Ibu dan Ayah Bela yang mendengar penjelasan dari besannya hanya bisa mangut-mangut seraya kepalanya mengangguk beberapa kali.
"Saya tau mungkin ini berat untuk Nak Rifqy yang melihat Istrinya seperti ini, Saya mohon maaf selaku Orang tua Syasya karena sudah membuat Ibu, Bapak direpotkan seperti ini."
"Loh enggak Pak, saya harap jangan bucara seperti itu lagi.
Sudah kewajiban kami sebagai mertua Syasya melakukan yang terbaik untuk menantu kami." kini Ayah Rifqy lah yang bersuara.
"Emm..."
Suara gimana kecil yang terasa tak asing di telinga kelima orang berbeda gender itu. Dengan wajah kaget mereka mengalihkan pandangan kepada gadis yang memiliki suara.
Ya, yang memiliki suara adalah Bela, dia telah sadar. Oh ya ampun sumpah demi apapun mungkin kalau Rifqy tahu tentang ini ia akan langsung lari dan memeluk Istrinya begitu saja.
"Minum..." lagi - lagi suara itu membuat mereka kalang kabut untuk memberikan minuman untuk gadis itu.
"Syasya, ya ampun nak kamu sudah sadar?" Ibu Bela yang sudah sangat bahagia putri semata wayangnya sadar dari komanya, tak terasa air matanya menetes tanpa ia suruh.
Bela yang baru sadar menatap kelima orang di depannya dengan tatapan heran dan juga bahagia. Heran karena Memangnya dia ini kenapa sampai kelima orang ini wajahnya seperti khawatir dan bahagia karena bisa melihat Orang tua dan Mertuanya berkumpul.
Tapi...
Ada yang kurang.
Suaminya! iya Suaminya kemana? kenapa tak ada di sini? disaat dia sadar. Dia dimana? begitulah batin Bela seraya ekor matanya berusaha mencari keberadaan suaminya. Mungkin saja kan ada di belakang orang - orang ini? tapi nihil! suaminya tak ada.
"Kenapa Nak? Kamu cari Suami kamu ya?" tanya Bunda yang melihat wajah bingung dari Menantunya.
Bela tak menjawab, hanya tertunduk dalam.
"Dimas..."
"Siap, Bun!" Dibalas dengan senyuman oleh Bunda, Dimas ini tahu saja apa keinginan Bundanya.
.
.
.
Bersambung...!
__ADS_1
Banyak typo kayanya 😔 moon maap gaess kalo masih banyak typo nya 🙏