Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Nasehat Sang Bunda


__ADS_3

"Iya, Ayah tahu kalau Rifqy ini anak Ayah dan lagi pula Boy ini anak Bunda juga. Ya gak, Boy?" potong Ayah Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu seraya merangkul pundak pemuda yang biasa ia panggil "si Boy"


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu hanya mendengus kesal.


Dasar Ayah dan anak sama saja huh. ucap wanita paruh baya itu dalam hati.


Yang tadinya ingin meluapkan emosinya dengan si putra semata wayangnya jadi tidak berselera untuk marah - marah lagi. Ia kesal dengan si anaknya ditambah si suaminya!


Bibirnya mengantup, malas berbicara!


Giginya masih bergeletup, menahan amarah yang malah semakin memuncak melihat pemandangan di depannya.


Ayah dan Anak malah cekikikan! tak tahu apa ya kalau Wanita paruh baya ini sedang menahan emosi yang semakin memuncak melihat tingkah yang terlihat begitu menjengkelkan.


Tangannya mengepal kuat, hingga kuku - kuku lentiknya mungkin menembus kulit yang bisa menimbulkan warna putih pucat disana.


"Diam!" seru Bunda yang semakin tak tahan hingga membuat Pria paruh baya dan pemuda keturunan Arab - Indo itu tersentak kaget sampai - sampai wajah lucunya keluar.


Ya apa lagi sekarang?


Bela hanya bisa menahan senyum geli melihat pria berbeda usia jauh itu menampilkan ekspresi yang konyol.


Mulut menganga dengan mata kosong yang kadang sesekali mengedip - ngedip disana.


"Rifqy!"


"Eh iya, Bun." sahut Rifqy cepat seperkian detik sesudah tersadar dari keterkejutannya.


Netra mata Bunda mengunci netra mata Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Putranya sendiri.


"Bunda mau ngomong sesuatu." raut wajah Bunda ini sungguh tak bisa dibaca oleh Rifqy.


Rifqy mengangguk mengiyakan tanda setuju.


"Ayo ikut Bunda!" dengan sepatu heels yang tidak terlalu tinggi yang bunyinya tak tuk tak tuk, Bunda terlebih dahulu meninggalkan Rifqy yang masih saja mematung disana.


"Boy!"


"Emmm..." Rifqy tersadar saat merasakan tepukan pelan di bahunya dengan panggilan khas dari Ayahnya.


"Bunda mu sudah keluar. Ayo ikuti dia!


Kalau tidak..."


"Kalau tidak apa, Yah?" dasar kepo!


"Yaaaa..."


"Gak apa - apa." suara berat yang dihasikan dari kekehan nampak keluar dari bibir sang Ayah membuat Rifqy nampak berdecak sebal.


***


"Ayah keluar dulu ya, Nak?" Sang mertua berpamitan kepada Bela dan di balas anggukan dengan senyuman yang tercetak jelas dari balik cadar milik gadis itu.


***


Sedangkan di dalam ruangan Orang nomer 1 di Rumah Sakit tersebut ada dua orang yang terlihat sedang membicarakan hal yang mungkin saja penting dan mungkin saja tidak.


"Apa maksudmu, Rifqy Al-furqan?!" tanya sang Bunda dengan nada bicara yang cukup tinggi kepada Putranya.


Pemuda Tampan keturunan Arab - Indo yang disebutkan namanya itu nampak mengerutkan dahinya bingung.


"Ya apa, Bunda? Rifqy enggak ngerti." jawab Rifqy kemudian masih dengan tatapan bingung dan tidak mengertinya.


Perempuan paruh baya itu tersenyum sinis kepada Putranya sendiri.


Ya Tuhan.


"Bunda sudah tahu yang sebenarnya antara Kamu dan Menantu Bunda." berkata dengan kedua tangan dilipat depan dada seraya membelakangi Rifqy.


"Menantu Bun..."


"Iya lah! siapa lagi kalau bukan Syasya!" lihatlah seorang Bunda membentak Putranya sendiri karena terlalu mencintai Menantunya.


"Memang ada apa dengan Kami berdua, Bun?


Enggak ada apa-ap..."


"Enggak ada apa-apa bagaimana? Hah?!" Untuk yang kedua kali Bunda memotong ucapan Pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Putranya sendiri.


"Apa sih maksud Bunda? Rifqy bener-bener enggak ngerti." masih bingung untuk mencerna setiap ucapan yang keluar dari bibir Bunda dan dirasa menyudutkan dirinya.


"Bunda jangan buat Rifqy bingung. Kalo Rifqy punya salah ya Bunda bilang dimana letak kesalahan Rifqy." Lanjut Rifqy meminta Bundanya untuk berterus terang saja.


"Ya Allah?! Rifqy?!"


"Iya, Bunda ini Rifqy."

__ADS_1


"Cukup Rifqy! Bunda ingin Kamu jujur sama Bunda." kata Bunda seraya mendudukkan tubuhnya yang samping di atas sofa.


Langkah gontai Rifqy mengikuti Sang Bunda dengan duduk di sofa yang sama.


"Rifqy udah jujur sama Bunda."


"Belum." Jawab Bunda cepat.


"Oke, oke! sekarang Rifqy harus jujur tentang apa, Bun? hem..." Ya beginilah seharusnya berbicara dengan kaum hawa, harus selalu lemah lembut dan pastinya harus selalu mengalah 😄


Perlahan tapi pasti tubuh Bunda memutar untuk bisa menghadap kearah Putra semata wayangnya.


Netra matanya mengunci netra mata milik Pemuda bernama Rifqy itu.


"Janji akan jujur sama Bunda." disetiap katanya mengisyaratkan kalau Rifqy tidak boleh menyembunyikan sesuatu, apapun itu.


Rifqy mengangguk mengiyakan dengan senyum yang tercetak di bibir manisnya.


"Apa Rifqy..."


"Emmmm..."


"Kenapa, Bun?" tanya Rifqy penasaran sesaat Bunda menghentikan ucapannya.


Hembusan nafas kasar nampak keluar dari hidung Perempuan paruh baya yang nampak gelisah.


"Rifqy, jujur sama Bunda."


"Emm.." dengan kepala mengangguk beberapa kali.


"Rifqy, apa benar kamu... kamu... kamu..."


"Iya, Bun kenapa Rifqy?"


Perempuan paruh baya itu diam.


Bunda diam, bibirnya keluh, dadanya sesak merasakan kenyataan bahwa putranya ternyata.


1 detik.


3 detik.


5 detik.


Pemuda tampan keturunan Arab - Indo itu nampak setia menunggu hal penting yang tak kunjung keluar juga.


"Qy, apa benar kalau kamu belum pernah menyentuh Menantu Bunda."


Deg


Deg


Deg


Darimana Bunda tau?


Seperti ada hantu yang mengejar dirinya hingga membuat ia berlari ratusan mil, jantung Rifqy terasa berdetak lebih kencang mendengar ucapan Bunda yang memang benar adanya.


Senyum yang tadinya tercetak di bibir Pemuda itu, sekarang nampak luntur.


Wajahnya suram, tidak seceria tadi sewaktu ia mendengar kabar bahwa Istrinya telah sadar.


"Kenapa kamu diam?" pertanyaan yang menyiratkan perintah untuk menjawab.


Sekarang Rifqy yang diam, tidak mampu menjawab pertanyaan dari perempuan yang melahirkannya.


"Jawab!!" bentak Bunda.


Rifqy mengangguk mengiyakan seraya memenjamkan matanya.


"Astagfirullah..." pekik Bunda dengan tangan menutup mulutnya tidak percaya.


Perempuan paruh baya itu nampak kaget untuk kedua kalinya, walaupun ia sudah tahu kenyataan yang menyakitkan ini dari sang menantu, tapi ia tetap saja tidak percaya disaat hal tersebut keluar sendiri dari bibir Putranya.


"Apa mau kamu sekarang?!"


Diam.


"Hemm... Apa?"


Masih diam.


"Apa, Rifqy Al-Furqan?!"


Tetap diam, tidak menjawab.


"Kalau kamu tetap seperti ini dan tidak bisa berubah, lebih baik lepaskan Syasya!"

__ADS_1


JUDEERRR


Seperti tersambar petir di siang bolong, Rifqy benar - benar tidak percaya akan ungkapan perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Matanya menatap netra mata Bunda dengan tatapan tidak percaya.


Wajahnya terasa lebih suram dari sebelumnya.


Nafasnya nampak memburu, menahan sesak di dalam dadanya.


Tidak, itu tidak mungkin.


Dan itu tidak akan terjadi. Ucap Rifqy sepersekian detik kemudian setelah ia sadar dari keterkejutannya.


"Bunda ngomong apa sih?"


"Kamu pasti mengerti apa yang Bunda ucapkan. Jadi..."


Kepala Rifqy nampak mengeleng beberapa kali. "Rifqy enggak mau dan itu enggak akan terjadi, Bunda." potong Pemuda keturunan Arab - Indo tersebut.


"Rifqy mencintai Syasya sebelumnya, sekarang dan in syaa Allah sampai nanti." lanjut Rifqy dengan nada suara yang melemah dan semakin melemah.


"Kalau Rifqy mencintai menantu Bunda ya Rifqy harus bisa memberikan nafkah dia..."


"Udah, Bun." jawab Rifqy frustasi.


"Lahir dan batin!"


Benar, lahir dan batin. batin Rifqy berkecamuk.


Tangan lentik milik Bunda yang nampak mulai berkeriput itu memegang kedua pundak milik Rifqy, memaksa untuk menghadap kearah dirinya.


"Nak, nafkah itu bukan hanya untuk lahir tapi juga ada nafkah batin."


"Kalo kamu memang mencintai Syasya, kamu harus bisa memberikannya nafkah lahir dalam bentuk uang untuk keperluan dia, mulai dari make up, Gamis, Hijab dan keperluan dia yang lain. Sedangkan nafkah batin kamu harus bisa membahagiakan dia bukan hanya di ranjang tapi juga kaya perhatian, morning kiss, ucapin kata - kata romantis, panggil dia dengan sebutan sayang..."


"Bun, Rifqy kan gak bisa romantis." keluh Rifqy kepada sang Bunda.


"Eh eh ehh, Bunda belum selesai ngomong tau." tangan Bunda menarik daun telinga Rifqy sampai membuatnya kesakitan.


"Aww, Bun sakit.."


"Heleh, laki kok tukang ngeluh. Makanya kalo Bundanya lagi ngomong itu jangan dipotong - potong melulu!


Emangnya omongan Bunda ini Ayam atau Bebek gitu main potong - potong aja."


"Iya, iya Rifqy ngerti, Bun. Tapi Rifqy belum siap Bun." jawab Rifqy enteng.


"Kalo belum siap kenapa kemaren itu ngebet banget untuk nikah." Skak Mat!


"Kenapa diam? gak bisa jawab kan?"


"Bunda gak mau tau pokoknya kamu harus bisa, dan Bunda tau kok pasti kamu bisa" ucap Bunda lagi dan sekarang diselingi dengan tawa cekikikan.


"Emm... Rifqy akan coba nanti."


Mata Bunda memicing. "Kok nanti?" jawabnya kemudian.


"Bunda, Syasya lagi gak fit masa mau Rifqy ajakin hal begituan, ahhh Bunda mah..


Udah lah, Rifqy mau ketemu Istri Rifqy dulu."


"Hem hem hem.. jadi ceritanya Bunda ditinggal ini"


"Salah siapa lama."


"Eh, udah pinter jawab ya sekarang."


"Lah emang Bunda lama. hihi"


"Rifqy!!!"


"Kabur..."


.


.


.


Bersambung...!


Hai hai hai ketemu lagi kita 😊


Udah lama ya Rifqy dan Bela gak jumpa kalian 😅 Author sibuk di dunia nyata jadi udah beberapa bulan gak update 😣 Ini Author sempetin buat Up deh.


Mon map ya kalo masih banyak kata yang kurang pas dan mon map kalo masih ada tempo 🙏 😉 see you 🤗

__ADS_1


__ADS_2