
POTRET KEHIDUPAN
Memang begitulah kehidupan, kadang hal yang sudah kita yakin seutuhnya justru bisa jadi yang paling meragukan pada akhirnya.
Begitupun dengan life purpose yang selalu kita ikhtiarkan setiap harinya. Bisa jadi mulus-mulus, retak-retak bahkan hancur sekalipun.
Tapi bukan itu intinya,
Adalah bagaimana peran kita sebagai abdi yang ada di bumi dengan berjalan meski tertatih tapi tetap mencintai takdir walaupun tak habis fikir.
Bukan Tuhan yang salah..
Tapi kita yang lemah..
Bukan kehidupan yang pilu..
Tapi peka kitalah yang tak paham bahasa rindu..
Tuhan menguji, bukan karna kita manusia yang butuh di pintarkan..
Tapi karna Tuhan ingin, kita menjadi hamba yang lebih banyak mengikhlaskan, apa yang terjadi..
.
.
(Rifqy Al-Furqan)
❤***❤***❤
"Oke, cerita aja!" sahut Bela.
"Jadi....." kata-kata nya terjeda dengan sengaja Rifqy berhenti karna dia ingin agar Bela memohon untuk meneruskan ceritanya.
"Jadi apa?" Tanya Bela yang mulai penasaran.
Mungkin udah terpancing hihihi. Batin Rifqy tertawa cekikikan.
"Ayo cerita lagi! Katanya mau cerita kok malah diem aja sih Kak?!" Bujuk Bela yang seakan makin penasaran dengan cerita Rifqy yang terhenti entah karna apa.
Rifqy masih diam
Tak bergeming dan tak ada tanda-tanda juga kalau bibirnya akan bergerak.
"Kak, ihhh kok diem aja sih katanya mau cerita" teriak Bela di telinga Rifqy sambil memukul lengannya, tentu saja itu tak terasa bagi pemuda itu.
Rifqy menghela nafas. "Masa ngomong sama suami kaya gitu sih?! gak sopan ckckck" pura-pura kesal dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bela mendengus kesal. "Iya deh, maaf" Jawab Bela seraya meminta maaf.
__ADS_1
"Emm.." ragu
"Kak Rifqy ku Sayang! ayo dong cerita lagi, kan katanya tadi mau cerita? yakan?" Berpura-pura manja dengan bergelayut di lengan Rifqy sambil tersenyum menunjukan senyum paling manis kaya gula aren agar Rifqy luluh dan mau mulai bercerita.
Rifqy menoleh pada istrinya dan tersenyum melihat tingkah manja istrinya
"Gitu kan cantik" Puji Rifqy sambil mencubit pelan hidung Bela yang mungil sedikit mancung.
Bela merengut. "Aww sakit tau" Gerutu Bela mengusap hidungnya yang sedikit merah karna kelakuan Rifqy.
Rifqy terkekeh. "Iya maaf, kan pelan" Sahut Rifqy
"Aku cerita ya?"
"Hemm" deheman yang menjadi jawaban Bela saat ini.
Wajahnya mulai serius. "Dulu pas masih di kampung, Bunda dan Ayah masih belum sesukses sekarang ini. Waktu itu Ayah dan Bunda ngajak Aku ke pasar malam..." Ucap Rifqy memulai ceritanya terpotong oleh kata-kata Bela.
"Pasar malam ?" tanya Bela antusias.
Rifqy mengangguk.
Seketika Rifqy langsung mengingat masa lalunya bersama Ayah dan Bundanya
"Malam merangkak makin larut saja.
Bela masih setia mendengarkan
"(Rifqy pokoknya gak mau naik, Bunda sama Ayah kalo mau naik ya naik aja) ucapku memarahi Ayah dan Bunda karna telah jauh-jauh mengajakku ke pasar malam hanya untuk naik Bianglala.
(Kenapa gak bilang dari awal?) kataku lagi
(Kalo Bunda bilang dari awal sebelum berangkat, kamu gak akan ikut) Jawab Bunda masih dengan dengan muka memelas agar aku mau naik Bianglala.
(Ya jelaslah Rifqy gak mau, kan Bunda tau kalo Rifqy takut ketinggian) ucap ku karna memang waktu itu aku masih kecil dan takut banget sama yang namanya tinggi-tinggian"
Rifqy berhenti sejenak
"Kenapa kok takut ketinggian?" tanya Bela seperti dengan nada mengejek
"Gak tau takut aja kayanya" Jawab Rifqy
"(Beneran gak mau naik nih? enggak mau di coba dulu?) Tanya Bunda lagi masih mencoba membujuk ku
(Iya di coba dulu Qy, inget kata Ayah laki-laki itu harus kuat dan gak boleh takut kaya gini.
Kerna kalo kamu udah besar nanti kamu akan jadi pemimpin dalam keluarga kecil kamu, jadi kalo kamu takut gimana kamu bisa jaga dan lindungi keluarga kamu nanti) Ucap Ayah meyakinkan dengan menepuk-nepuk bahu ku pelan. Tapi tetep aja aku masih takut
(Kalo Rifqy takut mau bilang apa Ayah? kalo Rifqy pingsan di atas sana gimana?) tanya ku pada Bunda sambil menunjuk pada Bianglala di depan kami.
__ADS_1
Bukannya gimana-gimana ehh Ayah dan Bunda malah tertawa denger aku bilang kaya gitu" Ucap Rifqy dengan muka di tekuk.
"Prrrmmppppp hahahhahaha" Tawa Bela lepas mendengar cerita Rifqy.
"Ihh" seketika menoleh pada Bela yang tertawa dengan kerasnya.
"Hahaha ya gak mungkin lah pingsan hahaha" Bela terkekeh mendengar kata pingsan dari mulut Rifqy.
"Kalo mau coba sendiri sana" Ucap Rifqy pura-pura kesal padahal mah senang lihat Bela bisa tertawa lepas seperti sekarang ini.
Akhirnya kamu bisa tertawa juga. Gumam Rifqy dengan memandang Bela.
"Ya udah gihhh cerita lagi" Menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa.
"(Baiklah Rifqy kita beli kue kesukaan kamu dulu ya? biar takut kamu hilang) canda Bunda karna muka takut ku terasa lucu menurut Bunda sama Ayah dan aku langsung jalan menuju jajanan kesukaan aku di sebrang jalan.
(Kue sogokan ya bun?) Tanyaku pada Bunda
(Bukan sogokan dong.. tapi kue permintaan maaf) jawab Bunda yang waktu itu kami udah ada di depan penjual Kue jajanan pasar.
(Jangan salahin Rifqy kalo Rifqy mau beli kue yang banyak) akhirnya aku tersenyum lagi mendengar mau beli jajanan kue kesukaan aku.
Dan seperti yang aku bilang tadi, aku pesen 20 buah kue yang hampir aku makan di pasar malam itu juga, kalo Bunda gak ngajak aku pulang aku bisa nambah lagi.
Ketika aku jalan mau pulang dan masih makan kue tiba-tiba aku inget kata-kata Ayah tadi
(Mau naik Bianglala?) tanya ku memandang Bunda dan Ayah yang waktu itu masih melongo tak percaya dengan perkataanku. Aku mendekati Bianglala dan memberanikan diri menaiki Bianglala. Memang Bianglala di pasar malam waktu itu tidak sebesar yang ini tapi tetap aja tinggi.
Aku genggam tangan Ayah aku naik ke Bianglala, dengan senyum kecut bercampur takut aku mencoba tertawa kecil.
Saat aku udah berhasil naik tapi saat itu aku liat anak kecil lebih kecil dari ku yang dengan senangnya naik Bianglala dan saat itulah aku berkata pada diriku
I could be anything in the world
But tonight I want to be her
(Saya bisa menjadi apa saja di dunia
tapi malam ini aku ingin menjadi dia)"
Dengan tersenyum dan memandang Bela Rifqy mengakhiri ceritanya yang lucu sekaligus menantang itu dan di balas senyum manis dari Bela.
.
.
.
Bersambung...!
__ADS_1