
"Mimpi memang hanyalah Bunga Tidur!
Yang ku harap sekarang ini hanya lah mimpi ku yang tak tertidur di siang hari."
.
.
(Aulia Syasya Bela)
❤***❤***❤
"Tunggu dul..." Dimas mencoba menghentikan Bela untuk masuk, tapi kata-katanya seakan terhenti saat melihat Bela membeku di tempat, tidak maju dan tidak mundur juga. Bela melihat semua yang ada di depan mata kepalanya sendiri.
DEG...
Bela terpaku
Lidahnya seakan kelu tak bisa berbicara, Badannya seakan kaku tak bisa untuk di gerakkan, langkahnya terhenti. Di pandangi wajah Rifqy dan perempuan yang sedang bersama suaminya bergantian dengan tatapan kosong dan ada kekecewaan, kemarahan di dalam sorot mata itu. Seorang suaminya sendiri bercumbu mesra di hadapannya dengan perawat perempuan dari Rumah Sakitnya sendiri.
Hatinya begitu sakit melihat ini semua, rasa cinta yang sudah tumbuh seakan ingin sirnah begitu saja, melihat keadaan ini rasanya Ia ingin menangis dan menjerit menumpahkan kekesalan dan keluh kesahnya di hatinya,tapi Dia tak bisa.
"Siapa Dia...?" Gumam Bela saat sadar dari lamunannya.
Di lihat Suaminya mendorong Perawat itu sampai perempuan itu terjatuh dan segera Rifqy berdiri membelakanginya.
Rifqy sama sekali tak sadar kalau istri yang di cintainya telah melihat semuanya, Rifqy tak sadar kalau Bela ada di belakangnya menatapnya tajam dengan sorot kemarahan terpendam yang seakan siap untuk Dia luapkan sehabis ini.
Melihat keadaan Bela yang terlihat marah. Dimas bergumam "Mati lah riwayat Gua" sambil menepuk jidatnya beberapa kali sembari mengutuki kebodohannya yang telah begitu saja mengijinkan Bela masuk.
"Bodoh.. bodoh.. bodoh..!! Rifqy tengok ke belakang, ****** Lo!? siap-siap Lo kena murka dari istri yang belum pernah Lo sentuh sama sekali itu, dan sekarang Dia liat Lo mesra-mesraan di depannya sama perempuan. Bodoh tengok bodoh!!" Umpat Dimas dengan sumpah serapahny kepada Rifqy, yang hanya bisa di bilang bergumam. Ingin sekali Dimas meneriaki Rifqy dengan kata-kata itu tapi nyalinya menciut setelah merasakan hawa dingin dan panas bercampur dalam ruangan menjadi satu.
"Pergi Sher!! Kau sungguh keterlaluan!! Kau melewati batas Mu!!" Seru Rifqy kepada gadis yang bernama Sherly itu. Suaranya telah naik 1 oktaf hingga membuat Bela terlonjak kaget.
"Bebs Aku..." Sherly tak bisa menyelesaikan kata-katanya.
"Cukup Sherly!!! kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi semenjak Kau pergi meninggalkan Aku. Keluar!!!" bentak Rifqy seraya berbalik dan mendapati Bela telah ada di ruangannya. Seketika matanya membulat seakan akan lompat dari dalam sana.
__ADS_1
Rifqy menelan salivanya, melihat di mata Bela, istrinya ada sorot kekecewaan, sakit yang mendalam dan kemarahan dari dalam sana. Apa mungkin Syasya melihat semuanya? ohh ya ampun begitulah pikir Rifqy.
Rifqy mercoba berjalan mendekati Bela perlahan tapi pasti seraya berkata "Sayang, ini gak seperti yang Kamu lihat. Aku.. Aku..." kata-katanya terhenti saat melihat Bela menjatuhkan Ponsel miliknya dan berlari keluar dari ruangannya.
"Syasya tunggu!! Syasya.." teriakan Rifqy yang tak di hindahkan oleh Bela.
Bela terus saja berlari sampai di depan Lift, Dia langsung masuk.
Di dalam Lift Bela menangis sesegukan, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya "Hiksss Hiksss kenapa Kamu lakuin ini sama Aku Kak?! Kenapa?! Hikss Hiksss" Bela terduduk lemas di lantai seolah tak mampu menopang berat badannya, Memeluk lututnya dengan kepala di antara kedua pahanya. Bela terus meratapi nasibnya yang seakan tak mengijinkan Dia untuk bahagia walau hanya sebentar dengan orang yang di sayangnya.
Pikirannya menerawang di kejadian tadi di ruangan saat Dia melihat Perempuan tadi mencium suaminya secara mendadak
"Jadi Dia Kekasih Kak Rifqy?! Dia Kekasihnya dulu?! Dia lebih dulu daripada Aku?! Dia orang yang di cintai suami ku?! apa Kak Rifqy belum bisa melupakan Dia dan belum bisa untuk mencintai Ku?! Hikss Hikss kenapa Kamu lakuin ini Kak?!" tangisnya pecah ketika memikirkan itu semua, membuat kepalanya sedikit sakit. Memang saat tadi Cek Up Bela di larang untuk terlalu stres dan memikirkan sesuatu, Bela harus bisa mengontrol emosinya agar sakit di kepala tidak kambuh kembali karna memang sudah 5 kali panggilan Dokter untuk Cek Up yang Dia abaikan.
Ting
Setelah pintu lift terbuka Bela langsung bangun, dengan cepat Dia berlari melewati lorong demi lorong Rumah Sakit menuju luar gedung karna di depan telah ada mobil Grab menunggunya yang sempat Dia pesan di Aplikasi.
*****
Setelah kepergian Bela, istrinya. Rifqy menyalahkan apa yang telah terjadi barusan
"Keluar dari sini!!!" seru Rifqy yang di tujukan pada Sherly berbarengan dengan mengayunkan tangannya ke pintu keluar ruangan
Tapi Sherly tak bergeming sama sekali, Dia mengira kalau Rifqy menyuruh Dimas keluar tapi dugaannya salah saat Rifqy membentaknya sekali lagi
"Sherly Mustika!!! keluar!!" Bentak Rifqy dengan melototkan matanya sembari tangan kirinya di pinggang dan tangan kanannya mengusap kasar wajah sempurna tak ada cacat itu.
"Aku?!" Beo Sherly sambil menunjuk diri sendiri dengan jari telunjuknya
"Ya" jawab Rifqy singkat
"Aku gak mau" elak Sherly
"Dimas?" Rifqy memanggil Dimas mengisyaratkan sesuatu, dan yang di panggil 'pun tau apa yang harus di lakukan nya
"Baik" sahutnya
__ADS_1
"Ayo Sherly, keluar dari ruangan ini!" titah Dimas yang tak ingin di tolak oleh Sherly
"Dimas, tolong Aku. Dimas Kamu yang selalu dukung Aku dari dulu, tolong jangan paksa Aku keluar dari sini. Aku merindukan Dia, Aku sangat merindukan Dia. Aku ingin kembali kepadanya" mohon Sherly yang kekeh tak ingin keluar dari dalam
"Itu dulu Sherly, Aku mendukung Mu karna memang Rifqy mencintaimu. Tapi sekarang Cintanya hanya untuk Istrinya, jadi Aku akan mendukung orang yang di cintai sahabat Ku! Ayo keluar dari sini sekarang juga" Dimas menarik tangan Sherly menyeretnya keluar dari sana
"Dimas, Aku akan buat perhitungan kepada Mu!!!" teriak Sherly membabi buta setelah Dimas berhasil mengeluarkannya.
"Bos, apa yang ingin lo lakuin sekarang?" tanya Dimas setelah masuk kembali ke ruangan Rifqy
Huhhh
Rifqy menghembuskan nafasnya kasar agar hati dan fikirannya tenang, Dia bisa menerka-nerka kalau Bela pasti marah dengan apa yang di lihatnya tadi.
"Entahlah" jawab Rifqy dengan tatapan kosong memandang jendela luar gedung
"Gua takut Dia salah paham sama Gua Mas. Gua takut Dia ninggalin Gua, Gua gak siap untuk itu. Ini yang Gua khawatirin Mas, kalo itu Cewe kerja di sini, di Rumah Sakit ini. Racau Rifqy dengan menunjuk-nunjuk lantai yang ada di bawah. Tak terasa air matanya lancang keluar dari pelupuknya dan dengan cepat Dia seka.
"Qy, Gua harap Lo bisa selesain masalah ini dengan kepala dingin. Jangan sampe pas nanti Lo susul istri Lo ke Rumah, waktu Dia lagi marah-marah jangan sampe Lo ikutan emosi juga. Sebisa mungkin Lo harus tenangin Istri Lo! apapun kemarahan Istri Lo saat itu. Lo ngerti kan Qy kalo cewe itu maunya di lembutin? Lo ngerti kan apa maksud Gua?" nasehat Dimas yang di berikan pada Rifqy sebagai Sahabat. Dimas menepuk-nepuk bahu Rifqy untuk menguatkan
"Susul gih Istri Lo! Lo jelasin tuh sama Dia! biar gak salah paham" lanjut Dimas seperti memerintah yang hanya di angguki oleh Rifqy
Rifqy segera menyusul Istrinya dengan mobil. Dia melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, karna memang jalanan masih lengang, agar cepat sampai.
*****
Sedangkan Bela di dalam mobil terus menangis sampai supir Grab yang mengemudi tak berani menanyainya, Dia tak mau ikut campur dalam urusan penumpangnya.
Aku harap ini hanya Mimpi di siang hari Ya Allah 🤲🏻 batin Bela memohon
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1