
Di tempat yang berbeda
Ada seseorang yang sedang merencanakan hal - hal buruk kepada seseorang. Entahlah rencana apa yang akan di jalaninya!
"Ho ho ho!! Aku tidak akan membiarkan dirimu bahagia di atas penderitaan diriku ini.
Apa kau tau aku sangat - sangat menginginkan dirimu berada di genggaman ku lagi seperti dulu itu? Kau harus menjadi milik ku lagi, menjadi ATM berjalan ku lagi seperti masa lampau.
Aku tidak peduli walaupun kau sudah terikat hubungan pernikahan dengannya! aku tidak peduli itu! apa aku salah menginginkan dirimu, Bebs?!
Tidak! aku tidak salah! aku hanya ingin dirimu kembali padaku! aku hanya ingin kau menjadi milik ku lagi! aku hanya ingin kau selalu memenuhi keinginan ku seperti dulu lagi!
Aku mencintaimu! sangat - sangat mencintaimu!
Mungkin inilah saatnya Bebs, aku akan merebutmu kembali dari dia! aku akan merebut cintamu kembali seperti dulu itu! aku akan merebut mu hari ini juga!..." argumentasi orang itu bertanya dan menjawab sendiri dengan foto seorang pemuda yang ada di tangannya.
***
Setelah hatinya kembali tenang dan merasa kalau bebannya berkurang, Pemuda dengan profesi sebagai Dokter Bedah sekaligus Direktur di Rumah Sakit terbesar itu keluar dari ruangan istirahat miliknya.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat ketiga insan berbeda gender itu menoleh ke arah suara berasal, dan suara itu berasal dari pintu yang menandakan ada seseorang yang akan keluar dari balik pintu tersebut, dan benar saja!
Rifqy keluar dengan balutan T-sirt panjang berwarna hitam dan celana jeans yang melekat di tubuhnya. Dia lebih terlihat segar dari sebelum dia memasuki ruangan tersebut.
Ayah, Bunda dan juga Dimas bernafas lega telah melihat Rifqy kembali kepada mereka, setelah fikiran - fikiran jelek tentang pemuda itu di dalam otak ketiga orang itu berputar - putar terus - menerus seakan tak ingin berhenti.
Astagfirullah
Tanpa sadar ketiga orang yang saling menyayangi itu sama - sama mengucap istighfar seraya menggelengkan kepala untuk menetralkan dan menghilangkan fikiran jelek maupun buruk dari dalam otaknya yang muncul begitu saja, tanpa ada sahutan terlebih dahulu.
Dengan senyum tulus Rifqy berjalan ke arah Sofa kosong di dekat ketiga orang itu.
Bunda berpindah duduk di samping Putra Semata Wayangnya. "Gimana, sayang?" tanya Bunda dengan telapak tangan mengelus lembut bahu Rifqy.
Rifqy tersenyum tipis. "Bun, Rifqy udah agak tenang sekarang..."
"Bunda jangan khawatir lagi ya? dan jangan nangis lagi ya?" seraya menghapus cairan bening di pipi Bunda tersayangnya yang lolos saat sedang bertanya kepada Rifqy.
Bunda hanya bisa mengangguk dengan sekuat tenaga menahan sesak di dadanya karena melihat Putranya yang begitu amat tegar tapi sekarang seperti tak terurus.
"Percayakan dengan Allah, Boy!" timpal Ayah Rifqy dengan suara khas berat itu.
Rifqy hanya mengangguk sambil menunduk dalam.
__ADS_1
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi setelah ini?
Jujur saja dalam lubuk hati Rifqy yang paling dalam, Pemuda itu merasakan ketakutan yang selalu menghampiri otaknya dan entah kenapa perasaan Rifqy hari ini begitu kacau dengan tiba - tiba tak enak gitu! seperti ada sesuatu besar yang akan terjadi sesaat lagi.
Entahlah perasaan apa ini?
Yang jelas Rifqy hanya bisa berdoa, berdoa, berdoa dan berusaha sekuat tenaganya.
"Ya sudah sekarang kamu harus bertanggung jawab, Boy" ungkap Pria paruh baya dengan memainkan sedikit alisnya.
Itulah yang membuat Rifqy heran. "Maksud Ayah?" tanya Rifqy kemudian.
Seringai Ayah begitu jelas tercetak di bibirnya, lalu dengan gerakan cepat Pria paruh baya itu menunjuk ruangan yang berantakan dengan kedua ekor matanya dengan tajam.
Dari itu lah Rifqy langsung paham bahwa Ayahnya menyuruh Dia untuk membereskan ruangan ini karena memang Dia lah penyebabnya.
Rifqy mencebikkan bibirnya kesal. "Iya, oke Rifqy beresin ini semua." ujarnya pasrah.
Ayah Rifqy hanya membalas perkataan Rifqy dengan seringaian dan juga dua acungan jempol.
"Loh loh kok mukanya ditekuk gitu sih? kan ini kerjaan Rifqy! kenapa jadi kaya gitu?" kata Bunda dengan sedikit ledekan untuk putranya.
Dimas yang diam - diam mendengarkan hanya bisa mengantupkan bibirnya ke dalam menahan tawa yang sebentar lagi keluar.
Rifqy yang sedari tadi melihat Pemuda yang sudah dianggapnya Adik itu menahan tawa, langsung menatap tajam diiringi picingan matanya menatap Dimas.
"Lah apa? enggak apa - apa." balas Rifqy serah menggelengkan kepala cepat.
Rifqy hanya bisa mendengus mendengar jawaban yang tidak memuaskan. "Jangan berani - beraninya ya lo ketawain gua! awas lo!" ancam Rifqy yang malah membuat tawa Dimas pecah dengan sendirinya.
"Hahahahaha..." Dimas tertawa dengan memegang perutnya yang terasa keram.
"Lo!!!" pekik Rifqy yang mulai beranjak dari duduknya untuk membalas pemuda yang sedang tertawa itu.
"Eh, Sudah - sudah! kok malah berantem sih?..." tangan lembut Bunda menahan pergelangan tangan Rifqy yang ingin segera beranjak dari duduknya.
"Wlekkkk..." Ya, beginilah kalau sedang bersama, seperti kucing dan tikus tapi kalau sedang Berjauhan selalu bertanya 😂
"Lo!! awas lo ya?!" kecaman Rifqy dengan menunjuk pemuda yang lebih muda 1 tahun itu.
"Rifqy sudah dong!" tegur Bunda kepada putranya.
"Dia tuh!" balas Rifqy sembari mendengus kesal.
"Dimas...!" lembut tapi penuh penekanan di dalam panggilan itu, dan mau tak mau Dimas harus diam.
__ADS_1
"Ayo Rifqy sekarang bereskan ruangan ini! kamu juga Dimas!" sebelum Rifqy dan Dimas menjawab perintah Ayah mereka, alarm Rumah Sakit tiba - tiba berbunyi menandakan kalau ada keadaan darurat di salah satu Ruangan pasien, dan naasnya alarm hanya ada di ruangan VVIP yang ada di Rumah Sakit tersebut.
Tentu saja hal itu sangat mengagetkan Semua orang yang ada di ruangan itu.
Uwii Uwii Uwii (anggap saja begitu ya suara alarm nya 😂 Author gak ngerti suara alarm gimana ✌)
Rifqy yang mendengar hal itu pun langsung berlari keluar dari Ruangan pribadi miliknya. Dan saat sudah berada di luar ruangan Pemuda itu dikagetkan dengan beberapa Dokter dan juga Perawat yang masuk ke dalam Ruangan yang di peruntukan untuk Keluarga Rifqy dan tentu saja itu membuat jantungnya berdebar - debar serasa ingin copot dari tempat yang seharusnya.
"Syasya!!!" pekik Rifqy dan langsung berlari mengikuti Dokter dan Perawat yang baru dilihat oleh dia.
"Apa yang terjadi?!" suara bariton Rifqy di belakang sana langsung mengagetkan beberapa Dokter dan juga Perawat di dalam Ruangan tempat dimana wanita bercadar itu dirawat.
Hening
Hening
dan hening!
Tak ada yang mampu menjawab!
Tak ada yang berani untuk menjawab!
Mereka terlalu takut dengan Rifqy karena memang dia adalah Direktur di Rumah Sakit ini.
Mereka takut akan dipecat dari Rumah Sakit yang menjadi tumpuan hidup mereka dan keluarga nya kalau sampai ada kesalahan dalam jawaban yang diberikan, maupun tindakan yang akan dilakukan beberapa Dokter dan Perawat itu.
Tangan Pemuda berprofesi Dokter itu sudah mengepal dengan kedua rahang yang dieratkan sehingga menimbulkan suara gemertuk dan lihatlah mata tajamnya telah memerah menandakan kalau dirinya sedang marah.
"Jawab!!!" bentak Rifqy saat tak ada yang mau menjawab pertanyaan sederhana dari dirinya. Memang sederhana namun penuh arti di dalamnya. Kekhawatiran, emosi, marah, kecewa, sedih menjadi satu dalam pertanyaan itu hanya karena satu gadis yang sudah menduduki tahta di hatinya setelah Ibunya.
.
.
.
Bersambung...!
Hai readers terlope 😍 kita ketemu lagi nih 😊
Gegana nih Author gara - gara kagak nemu - nemu jalan cerita yang pas dan top markotop begono 😭
Maafin Author yang masih banyak kesalahan di cerita ini 🙏 dari alur cerita, tulisan maupun tanda bacanya 🙏
Jangan lupa dukung Author gaess 😘
__ADS_1
Happy Reading ❤