Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Berdoalah!


__ADS_3

"Kita tidak akan pernah tahu, bagaimana menyembah - Nya..


Sebelum kita mulai dengan, bagaimana mencintai - Nya.."


"Apakah engkau meremehkan suatu doa kepada Allah..


Apakah engkau tahu keajaiban dan mukjizat do'a?


Ibarat panah di malam hari, ia tak akan pernah meleset!


Namun ia punya batas dan setiap batas ada saatnya untuk selesai.."


❤***❤***❤


Dimas yang sedari tadi hanya menjadi penonton untuk ketiga insan berbeda usia dan gender itu yang sudah menganggap dirinya sebagai keluarga bernafas lega tapi juga bertanya - tanya, apa gerangan isi dari lembaran kertas di dalam amplop yang berlogo Rumah Sakit Ayah angkatnya itu?


Ya, Ayah Rifqy adalah Ayah angkat untuk Dimas sejak Orang tua Dimas meninggal karena kecelakaan 10 tahun yang lalu. Setelah kecelakaan maut yang menewaskan Orang tua Dimas, kedua orang tua Rifqy langsung mengangkat Dimas menjadi anaknya, yang memang sebelum itu sudah mereka anggap anak kandungnya sendiri. Begitupun Rifqy! ia sangat senang! karena teman masa kecilnya telah menjadi keluarganya sekarang, tepatnya adik angkatnya. Tapi jangan salah! Rifqy sama sekali tidak mau di panggil dengan embel - embel Kakak oleh Dimas yang bernotabene sebagai adik angkatnya, maka dari itu Dimas memanggil Rifqy hanya dengan sebutan nama saja karena memang sudah seperti itu sedari kecil saat mereka masih menjadi teman.


Oke! kembali ke sekarang!


Dengan langkah gontai, Dimas memberanikan diri untuk meminta amplop yang berisi kertas itu kepada wanita paruh baya yang sudah lama ia panggil Bunda, karena rasa penasarannya yang tinggi membuat dia semakin ingin tahu apa isi dari kertas yang sudah membuat Kakak angkatnya meluapkan emosinya kepada semua benda yang ada di dalam ruangan ini. Ya, memang dasarnya Dimas itu Kepoan dan juga ceplas - ceplos jadi ya begitulah! sedikit - sedikit ingin tahu! sedikit - sedikit ingin tahu! hadeh 😒 kepo tingkat dewa itu mah 😬


Dimas berjalan mendekati Bunda dengan sesekali meringis sakit gara - gara pukulan dari Rifqy tepat di wajah tampannya, setelah berada di depan Bunda Dimas mencoba untuk meminta izin membaca kertas dalam amplop tersebut, tapi gerakan tangan Dimas berhenti saat ingin meraih amplop itu karena Bundanya sudah terlanjur melihat luka menganga di dekat mata pemuda itu.


Bunda menyentuh luka Dimas dengan tangan kanannya hingga membuat si pemilik luka meringis kesakitan. "Aww shhhhtt!" pekik Dimas sambil memegang luka itu juga.


Rifqy dan Ayah yang mendengar ringisan seseorang, langsung berhambur menatap si pemilik suara.


"Damt it!" gumam Rifqy di dalam hati saat melihat luka di wajah Dimas yang pelakunya adalah dia.


"Coba liat Rifqy perbuatan kamu!" ucap Bunda dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


Bunda menatap netra mata dari pemuda yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Sakit ya, Nak? maafin Rifqy ya?" ucap Bunda yang merasa bersalah.


Rifqy langsung menunduk malu. "Maafin gua, Mas?!" lirih Rifqy hampir tak terdengar.


Dimas hanya tersenyum. "No problem, brother! I'm oke!" balas Dimas seraya menaik - turunkan alisnya.


Rifqy mendesah sebal melihat tingkah konyol dari adik angkatnya itu. "Dasar! kau pelawak atau Assistent ku?!" sahut Rifqy.


Dimas terkekeh di iringi ringisan. "Jelas saja aku ini Assistent mu! tapi juga ingin menjadi pelawak agar kalian bisa tersenyum, tidak menangis terus menerus." entah dari mana kata - kata puitis itu berasal? mungkin meluncur begitu saja dari mulut pemuda itu! Entahlah!


Kata - kata Dimas benar - benar membuat ketiga insan itu langsung tersenyum lebar sebelum mereka tertawa lebar.


"Hahaha!" Ayah, Bunda, Rifqy dan juga Dimas sama - sama tertawa karena ucapan Dimas yang begitu puitis tersebut, sampai membuat perut mereka sakit dan cairan bening mereka keluar kembali dengan sedikita di ekor matanya gara - gara terlalu lama tertawa lebar.


Saat mereka bertiga sedang tertawa geli mendengar ucapan puitis dari mulut Dimas, si pemuda yang ingin menjadi pelawak untuk keluarga angkatnya itu sedang membuka amplop berlogo Rumah sakit Ayah angkatnya yang memang sedari tadi sudah kepo.


Dimas menelan salivanya dengan susah payah saat menyadari sedang di tatap intens oleh ketiga orang di depannya, sorot mata yang mewakilkan pertanyaan dari ketiganya kepada Dimas, yaitu 'ada apa?'. Begitulah yang Dimas rasakan saat ini, takut dan juga cemas terjadi sesuatu kepada kakak iparnya yang sekarang sedang terbaring lemah di brangkar Rumah Sakit ruangan VVIP.


Dimas yang akhirnya mengerti dengan tatapan heran ketiga orang di depan matanya itu langsung menunjuk tinggi lembaran kertas beserta amplop yang ada di genggaman tangannya tersebut ke arah depan, agar mata ketiga orang berbeda gender itu mengerti akan apa yang membuat Dimas terpekik kaget.


Pemuda tampan keturunan Arab - Indo yang melihat Dimas menenteng lembaran hasil Laboratorium Istrinya, Bela. Tak terasa cairan bening mengalir kembali di ujung pelupuk matanya, mengingat kembali hal kelam beberapa jam lalu yang di beritakan oleh Dokter Nita, Dokter yang sudah beberapa lama ini menangani Istrinya tentang penyakit yang di deritanya.


Rifqy kembali menunduk, tak mau Bunda dan Ayahnya melihat kalau dia sedang menangis.


"Rifqy harus gimana, Bun?" tanya Rifqy dengan suara serak khas ingin menangis.


Bunda dan Ayah menatap Putranya yang sedang bertanya apa yang harus dia lakukan sekarang?


Pantas saja penampilan Rifqy seperti sekarang ini, rambut berantakan yang biasa ia sisir rapi dengan kemeja yang banyak bercak darah di sana yang biasa memakai pakaian rapi dan yang paling memprihatinkan kedua punggung tangan miliknya terluka karena perbuatannya sendiri. Ya, itulah yang ada di fikiran Bunda dan Ayah saat melihat penampilan Rifqy yang berantakan, tidak seperti biasanya yang rapi dan berkharisma itu.

__ADS_1


Bunda tersenyum miris. "Sini, Nak!" menyuruh Rifqy untuk mendekat ke tengah - tengah Bunda dan Ayah.


Rifqy mengangguk mengiyakan, lalu melangkah maju dan duduk kembali di sofa yang tepat di tengah antara Bunda dan Ayahnya.


"Rifqy, anak Bunda pasti kuat." ucap Bunda menyemangati Putra kesayangannya.


"Nak, jangan dulu memberitahu tentang masalah mu ini kepada siapapun! termasuk Bunda, Ayah dan Dimas. Ayah, Bunda dan Dimas adalah makhluk Allah dan kamu harus memberitahukan masalah mu ini terlebih dahulu kepada Allah Tuhan kita semua!" berbicara dengan nada yang lembut seraya menunjuk jarinya ke atas langit - langit.


"Sebelum kamu memberitahukan kepada Kami sebagai keluargamu!" imbuh Bunda tersenyum agar Rifqy juga bisa kuat dengan masalahnya ini


"Bunda kamu benar Boy! kamu jangan dulu memberitahu masalahmu kepada kami, beritahukan kepada yang di atas! Tuhan Semesta Pemberi Jalan Keluar dari masalah mu ini." Ayah ikut membenarkan ucapan Bunda, Istrinya.


Dimas mangut - mangut mendengar penjelasan dari orang tua angkatnya seraya ikut setuju.


"Berdoalah Boy!


Bersihkan dirimu, pakailah pakaian yang layak, ambil Wudhu, gelar sajadah ke arah kiblat, Sholat dan berdoalah!


Minta petunjuk sama yang menciptakan kita! Ayah yakin kau pasti bisa melewati masalah yang sedang menimpa mu ini, Ayah yakin kau pasti bisa untuk mencari jalan keluar yang tepat atas wanita yang kau cintai itu sesudah Bunda!" tersenyum seraya menepuk bahu Rifqy beberapa kali, guna memberikan semangat kepada putra semata wayangnya.


Rifqy mengangguk sambil tersenyum nanar.


.


.


.


Bersambung...!


Aku sedih deh 😥 view nya puluhan ribu orang tapi yang like cuma sedikit!! huhuhu 😭😭

__ADS_1


Like dong gaess 😩


__ADS_2