Menikahi Gadis Penolongku

Menikahi Gadis Penolongku
Bandara


__ADS_3

Setelah menunggu 5 jam lamanya, akhirnya Adzan Subuh 'pun tiba juga.


Ayah dan Bunda Rifqy segera menunaikan kewajiban mereka yaitu Sholat Fajar serta tak lupa juga untuk Sholat Subuhnya.


Ayah yang menjadi Imam dan Bunda Rifqy yang menjadi makmum di belakang.


Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Bunda segera memasak sedikit makanan untuk sarapan mereka agar bisa mengganjal perut di pagi hari sebelum melakukan penerbangan udara ke Kota tempat tinggal Putra dan juga menantunya.


Memasak adalah termasuk hobbi Bunda Rifqy selama ini, Bunda tak pernah mengijinkan anak dan juga menantunya untuk memesan makanan dari aplikasi-aplikasi canggih saat ini jika ada dirinya, Bunda baru bisa mengijinkan jika memang keadaannya sedang genting atau darurat saja.


Bunda dan Ayah telah berada di meja makan untuk menikmati sarapan yang telah di masak oleh Bunda. Dengan perlahan tapi pasti Bunda menyendokkan nasi di ikuti oleh lauk-lakunya ke dalam piring Ayah yang ada di depannya.


"Yah, kita harus cepat!


kita akan ke Rumah Sakit kan? anak dan menantu kita lagi butuh Bunda." Bunda yang sedari tadi mengomel saja dan lihat ini sudah berapa kali saja kata-kata itu di ucapkan dirinya hingga membuat Ayah Rifqy jengah. Ayah Rifqy memutar bola matanya malas seraya menyuapkan makanan dari sendok pertama ke mulutnya.


Terus mengomel. "Ayah! Ayah, mendengar Bunda atau tidak sih?" mengintimindasi Ayah Rifqy yang terus saja diam, tak menjawab apa yang Bunda telah ucapkan, walau sebenarnya Dia mendengar tapi ya mau bagaimana lagi telinganya seperti sudah mulai panas mendengar ocehan Bunda yang tiada berujung itu.


Bunda mencubit lengan Ayah Rifqy dan menyimpan tangannya di pinggang seperti berkacak pinggang


"Awww.. Sakit Bun!" keluh Ayah Rifqy yang meringis kesakitan karna perbuatan Bunda


Bunda Rifqy melengos. "Salah sendiri! Ayah tidak mendengarkan Bunda" Bunda melipat tangannya di depan dada seraya mengerucutkan bibirnya


Ayah menghela nafas kasar


"Bunda, Ayah dengar tapi sudah dong, jangan bicara itu melulu.


Jangan marah lagi ya?" mencoba untuk membujuk Bunda agar tidak marah lagi


Bunda Rifqy kaget saat tubuh Ayah Rifqy sudah menempel di belakang punggungnya. Lebih tepatnya Ayah memeluk tubuh Bunda dari belakang. Lihatlah lihatlah umur mereka sudah menua dan lebih dari kepala 5 tapi kelakuan seperti anak muda yang sedang di mabuk asmara saja. 😆


"Ehh..." Bunda yang risih berusaha untuk melepaskan dekapan itu dari tubuhnya, tapi nihil ! Ayah semakin erat memeluk tubuh yang di dekapnya dan membenamkan kepalanya di sela-sela tengkuk Bunda


Bunda menggeliat seperti ulat keket "AYAH!!!" teriak Bunda Rifqy yang merasa geli saat Ayah menggesek dagu yang bertumbuh banyak bulu ke tengkuk Bunda


"Ayah ini apa-apaan sih! udah tahu menantu sama anaknya dalam keadaan genting saat ini, ini malah main-main kaya begini! udah sana risih tau!


Kita harus cepat ke Bandara Ayah! kalau tidak Kita akan terlambat dan akan lama lagi menunggu Pesawat selanjutnya" pekik Bunda yang membuat Ayah langsung menjauh dari Bunda


"Iya, iya Ayah makan nih" ya, ya memang harus mengalah kan?


Memang seperti itu, lelaki harus selalu mengalah dan perempuan akan selalu menganggap dirinya adalah benar juga tak bisa untuk Dia mengalah dan di kalahkan 😜


"Sudah cepat, Bunda juga mau makan ini !" melahap makanan dengan cepat tapi tetap berhati-hati


Ayah Rifqy melongo melihat kejadian di depannya itu. "Bunda hati-hati ! tidak biasanya Bunda makan seperti itu"


"Diam Ayah!" seru Bunda yang kesal dengan sikap santai Ayah dari anaknya itu, seperti tak punya rasa kepedulian.


Selesai menghabiskan makanan, mereka segera balik ke kamar untuk berganti pakaian dan bersiap-siap untuk ke Bandara Tjilik Riwut sebuah Bandara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia.

__ADS_1


"Ayah cepat!!" teriak Bunda dengan sesekali melihat arloji mahal di lengan kirinya


Ayah memutar bola mata malas. "Iya" jawab Ayah Rifqy tak kalah berteriak karna memang keadaan yang jauh. Dari kamar ke Ruang tamu.


"Cepat sedikit Ayah! kita nanti bisa terlambat" Bunda terus saja mengomeli Ayah tiada henti


"Iya Bunda, sabar du..."


"Mau sabar bagaimana lagi?


Ayah ini ya ! santai sekali rasanya seperti tak punya rasa kepedulian tahu tidak ! anak dan menantu kita lagi butuh kita sekarang ini jadi jangan macam-macam" Bunda menuding wajah Ayah dengan jarinya.


Dan lihatlah ini! pertengkaran, pertengkaran dan pertengkaran lagi, sampai bosan.


"Iya Bunda" Bunda yang tidak sabar langsung menarik tangan Ayah Rifqy seraya menyeretnya keluar Rumah


"Ayah ayo cepat!


Mana Pak Darto, Yah?" melirik Ayah Rifqy yang sedari tadi diam di karenakan malas menyahuti


"Ayah!!"


"Iya Bun, Ayah dengar.


Mungkin di depan sana, Ayah belum bertemu" seraya menunjuk depan Rumah dan benar saja Pak Darto sedang mengelap Mobil majikannya karna memang sehabis di cuci oleh Dia.


"Pak Darto?!" panggil Bunda


Bunda tersenyum "Iya Pak, selamat pagi juga" ucap Bunda dan apalagi ini Si Tuan Besar hanya mengangguk dengan wajah datarnya


"Pak, ayo antarkan kami ke Bandara sekarang!


Kalau Kami akan terlambat."


"Baik Nyonya.


Silahkan Tuan, Nyonya!" membukakan pintu untuk Nyonya dan Tuan Besarnya


Pak Darto pun juga masuk, Dia mulai menghidupkan mobil dan langsung menjalankannya menuju lokasi yang di tunjuk Nyonya Besarnya


"Pak cepat ya?


Anak Saya sedang membutuhkan Kami" terus saja Bunda ini mengomel tiada henti


"Bun, sudah biarkan Pak Darto fokus menyetir" sambar Ayah yang sudah jengah dengan omelan istrinya


"Diam Ayah!"


"Memang ada apa dengan dengan Ruan Muda, Nyonya?" Pak Darto mencoba untuk bertanya dengan hati-hati, meskipun terlihat sangat lancang


"Istrinya sedang berada di Rumah Sakit dan Kami harus bisa menenangkan anak Kami yang kata Dimas sudah seperti orang tak bernyawa" Bunda terlihat seperti merasakan apa yang di rasakan Rifqy, Putranya.

__ADS_1


Suasana seketika menjadi canggung, Bunda yang sudah meneteskan air matanya berusaha untuk kuat demi Putra semata wayangnya. Ayah mencoba untuk menenangkan Bunda dengan merekuh tubuh Bunda ke dalam dekapannya.


"Maafkan kelancangan Saya Nyonya.


Saya telah bertanya hingga membuat Nyonya bersedih. Maafkan Saya" Pak Darto bersuara dengan mencoba untuk meminta maaf atas kelancangannya


"Tak apa" duduk tegap dengan menyeka air matanya dengan telapak tangannya


****


Sampailah mereka di Bandara yang ada di Kalimantan Tengah


"Tuan Nyonya, kita sudah sampai di Bandara" ucap Pak Darto dengan sopan


"Terima kasih Pak Darto" sahut Bunda


"Pak, bisa bantu Kami untuk membawa kopernya ke dalam" ucap Ayah yang menimpali


Pak Darto mengangguk. "Dengan senang hati Tuan" membuka bagasi mobil dan mengeluarkan dua koper besar milik si Nyonya dan Tuan Besar.


"Pak, tolong bilang kepada Istri Bapak untuk menjaga Rumah kami dan tolong Kau bantu istrimu ya?"


"Baik Pak"


"Kami percaya padamu!" kata Ayah sebelum meninggalkan Pak supirnya


Pak Darto tersenyum kemudian mengangguk. "Hati-Hati Nyonya, Tuan!" Pak darto berteriak karna memang majikannya telah menjauh


****


Dan disinilah sekarang Nyonya dan Tuan Besar tadi


Berada di dalam Pesawat yang akan membawa mereka ke Kota Putra semata wayang dan juga Istrinya


Pesawat itu mulai melaju dengan perlahan tapi pasti mengudara


"Semoga Kau tak apa-apa Nak!


Anak dan menantu ku"


.


.


.


Bersambung...!


Halo teman-teman jangan lupa like, koment yang membangun dan vote sebanyaknya ya?


Dan jangan lupa klik tombol hatinya ❤

__ADS_1


Terima kasih 💞


__ADS_2